Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Ismail Manakib, Mantan Tentara Berusia 96 Tahun

Hafal Puluhan Surat, Ingatan Tetap Tajam

Oleh SUPRIZAL TANJUNG, Batam

CUKUP jarang orang sekarang ini berusia sampai 96 tahun (pada November tahun 2015). Salah satunya adalah Ismail Manakib. Di usia senja-nya itu, dia taat beribadah, masih hapal puluhan surat dan ayat Alquran. Hebatnya, ingatannya masih kuat seperti orang kebanyakan.

SAMSUNG DIGITAL CAMERA

Ismail Manakib. F Suprizal Tanjung

Harusnya kita, orang-orang muda, malu kepada kakek Ismail. Dalam usia senjanya, dia rajin beribadah. Sementara kita, orang muda, sombong. Merasa umur akan panjang. Jadi malas beribadah. Ya kalau umur panjang. Kalau umur pendek, cepat mati bagaimana? Sementara amal ibadah tidak ada, atau kurang. Sangat rugi. Kita harus melalui perjalanan panjang (di alam kubur sampai padang masyar), tapi bekal tidak ada atau kurang. Masya Allah.

Bagi warga Seitering atau sering disebut Melchem Kaveling, Kelurahan Tanjungsengkuang, Kecamatan Batuampar, Batam, sosok Ismail yang kerap dipanggil kakek ini sudah tidak asing lagi. Dia adalah imam di Masjid Nurul Huda.

Meski sudah tua. Semangatnya tidak kalah dengan anak muda. Suka bercanda. Kadang memekik kalau ada yang tidak pantas. Tak segan tertawa lepas. Jika ada Ismail, suasana pun jadi ramai dan hidup.

Ketika berbicara dengan Suprizal Tanjung, Jumat (4/12/2009), Ismail dengan lancar menceritakan masa lalunya. Dia lahir pada 28 Oktober 1919 lalu. Soal usia, Ismail lebih tua dua tahun daripada mantan Presiden kedua RI, Soeharto yang lahir pada 8 Juni 1921 dan meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008 pada umur 86 tahun.

Anak kedua dari tiga bersaudara kandung dari pasangan Manakip dan Hasyimah ini mengawali pekerjaan sebagai tentara pada tahun 1945 hingga 1955. Dengan pangkat Kopral dengan gaji Rp 108 per bulan.

Kemudian, antara tahun 1955 sampai 1970 ada enam kawannya yang dibantu mendapatkan dana pensiun sebagai veteran. Sebagai tanda terimakasih, sang kawan pun tak lupa dengan jasa Ismail. Sayangnya, meski bisa membantu enam kawannya mendapatkan pensiun, Ismail tidak mendapatkan uang pensiun sejak 1955 hingga sekarang.

”Itu mungkin sudah takdir. Saya tidak mengurusnya. Saya tidak kecewa. Lagipula, rezeki tidak hanya dari satu sumber. Allah itu kaya dan saya masih tetap mendapatkan rezeki hingga sekarang,” papar Ismail di rumahnya di Seitering atau Melchem Kaveling, Kelurahan Tanjungsengkuang, Kecamatan Batuampar, Batam.

Ismail yang saat itu sedang membaca Tafsir Rahmat oleh H Oemar Bakri menambahkan, tahun 1996 dia bersama istrinya Siti Rokoyah datang ke Batam. Tak lama, dia pun diangkat oleh masyarakat di Seitering sebagai pengurus Musala Nurul Huda. Pekerjaan sebagai pengurus dan imam musala tetap dilakukan di tengah kekurangan dan kesederhanaan tempat ibadah.

Kegigihan bapak enah anak ini mengumandangkan azan, menjadi imam, sampai mengaji setiap ada waktu, telah mengundang simpati masyarakat sekitar. Orang tua yang sudah (maaf, red) bungkuk ini masih mampu datang ke musala. Ismail juga hapal puluhan surat-surat pendek Alquran. Hapal berbagai doa.

Semangatnya memakmurkan tempat ibadah tidak pernah kendur. Warga Melchem pun tak mau kalah dengan Ismail. Tak mengherankan, musala Nurul Huda yang sangat sederhana pada 1996 itu tetap ramai. Musala Nurul Huda itu juga menjadi saksi, kegigihan Ismail dan masyarakat dalam membangun rumah ibadah. Dari musala kecil, kini sudah berdiri masjid Nurul Huda, megah di perumahan ini.

Dalam hidup, Ismail mencintai istri, tapi lebih mencintai Allah. Ini bisa dibuktikan dimana perjuangan tentara yang kini berjuang di jalan Allah itu tidak goyah meski istrinya Siti Rokoyah meninggal pada tahun 2006 lalu.

Ismail mengaku, kecintaannya dan niatnya meramaikan masjid adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah. Di samping itu, dia juga ingin balita, remaja, anak-anak muda, dan masyarakat sekitar tetap cinta kepada Masjid, Alquran, Nabi Muhamad dan Allah.

”Saya bersyukur. Di usia sekarang ini masih diberikan ketajaman pikiran, kuat ingatan, dan kesehatan oleh Allah. Ini rezeki dan patut disyukuri,” papar Ismail yang mengaku tidak mempunyai resep makanan khusus atau doa khusus sehingga diberi umum panjang. ***

May 19, 2012 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: