Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Raja-Raja Pagaruyung dan Keanehan Rumah Gadang Bundo Kanduang

Benda Pusaka Tetap Dirawat

Oleh : Muhammad Subhan

14-Aug-2007, 19:34:58 WIB – [www.kabarindonesia.com]

Rumah Gadang Bundo Kanduang Batu Basurek Gudam Pagaruyung di Tanah Datar, adalah situs yang paling berharga dalam sejarah Minangkabau. Konon kabarnya, raja-raja Minangkabau (Pagaruyung) yang memerintah negeri ini turun dari rumah gadang itu setelah dilewakan menjadi raja. Namun sayangnya, cagar budaya itu nyaris tak terawat.

Rumah Adat -rabu-8-juni-2011-f-suprizal-tanjung-74-image

Miniatur rumah adat Minangkabau di Golden Prawn, Bengkong Laut, Batam, Rabu (8/6/2011). F Suprizal Tanjung

Reporter KabarIndonesia, Muhammad Subhan, yang sempat mengunjungi Rumah Gadang Bundo Kanduang itu beberapa waktu lalu menuliskan catatannya buat pembaca.

RUMAH gadang itu tidak terlalu luas. Mungkin, hanya sekitar 3 x 6 meter. Di dalamnya memiliki tiga ruang. Tidak lumrah seperti rumah gadang lainnya di Minangkabau. Ruang depan seperti serambi. Ada pintu kayu dibagian kanan serambi rumah itu. Di bawahnya ada tangga batu.

Dinding-dinding kayu bagian dalam dilapisi kain berupa warna. Namun dominan warna kuning. Tonggak-tonggak rumah itu pun sudah terlihat sangat tua. Juga dilapisi kain. Kusam dimakan usia. Rumah itu beratapkan seng.

Tak banyak yang dapat dilihat di sekeliling rumah itu pada malam hari. Namun, di dalam rumah gadang itu tertata rapi sejumlah benda-benda pusaka. Di ruang bagian dalam berbentuk singgasana terletak sebuah kotak kayu berdinding kaca. Di dalam kotak itu terdapat sebuah dulang besar terbuat dari kuningan milik Bundo Kanduang. Di atas dulang berjejer beberapa buah keris pusaka. Tak bergagang, dan dilapisi kain berwarna kuning.

Di bawah kotak kaca itu juga terletak perkakas-perkakas yang berusia tua. Ada tempat sirih, lampu minyak, guci, pisau, kain songket, dan sejumlah perkakas lainnya. Di bawah kotak kaca tempat dulang itu juga ada dua buah Alquran tua yang bertuliskan tangan. Tak berkulit sampul.

Sementara, di tiang-tiang penyangga rumah itu berdiri terikat tombak-tombak pusaka. Di tonggak-tonggak tempat tombak-tombak itu berdiri tertulis nama “Tombak Giwang Linggar Jati”, “Tombak Giwang Teratai Putih”, dan “Tombak Kijang Sakti Kenanga Putih”.

Sementara, di sudut dinding rumah gadang itu terpajang beberapa buah foto. Satu foto menyebutkan tempat makam Bundo Kanduang di Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan. Sedangkan di sebelah foto makam Bundo Kanduang, ada foto-foto penghulu, namun tak bernama.

Hadrianto Sutan Pamenan (35) didampingi kakaknya Harmaini (47), adalah pewaris Rumah Gadang Bundo Kanduang itu. Menurut Hadrianto berdasarkan cerita orangtua dan neneknya, tahun 1804 rumah gadang itu pernah terbakar. Dulu rumah gadang itu memiliki 13 ruang. Dan, di tahun 1950 rumah gadang itu dibangun kembali dengan tujuh ruang.

“Namun karena nenek kami tinggal sendirian ketika itu, jadi rumah ini tidak terawat dan hancur satu-satu hingga menjadi tiga ruang,” ujar Hadrianto.

Tidak jauh di depan rumah gadang itu, terdapat Batu Basurat (Batu Basurek) dibuat Raja Alam Minangkabau Adityawarman yang memerintah sekitar abad ke 14 (1339-1375) seolah menjadi saksi bisu mengokohkan keberadaan Rumah Gadang Bundo Kanduang. Namun sayangnya, jalan kabupaten seolah memisahkan antara rumah gadang dan situs Batu Basurat.

Kunjungan-kunjungan wisatawan pun nyaris lupa menyinggahi Rumah Gadang Bundo Kanduang karena lebih konsentrasi mengunjungi Batu Basurek. Namun beberapa di antara pengunjung asal Malaysia , kata Hadrianto, ada juga yang ingin melihat isi Rumah Gadang Bundo Kanduang.

“Namun kami sampaikan beginilah kondisi rumah gadang ini. Tua dan sudah rapuh. Kadang kami malu sendiri pada para pengunjung karena kondisi rumah ini,” ujar Hadrianto dengan mata berkaca-kaca.

Menurutnya, selama ini belum ada upaya pemerintah daerah setempat untuk melakukan pemugaran rumah gadang itu. Bahkan setiap tahunnya Pemda tetap memungut Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari ahli waris Rumah Gadang Bundo Kanduang itu. Padahal, tempat mereka tinggal, dan juga situs Batu Basurat, adalah cagar budaya yang harus dijaga dan dipelihara.

“Memang jumlah biaya PBB tidak seberapa, tapi inikan situs budaya milik pemerintah daerah juga yang harus dilestarikan. Tapi kami tak ingin mempersoalkan hal itu,” ujarnya.

Ketika KabarIndonesia berkunjung, untung saja hari tidak hujan. Jika hujan, kata Hadrianto, air hujan akan merembes masuk ke dalam rumah gadang itu. Atap sudah banyak yang bocor. Sementara, pihak ahli waris dengan segala keterbatasan, sampai saat ini belum mampu melakukan pemugaran maupun renovasi.

“Saya terkenang, ketika saya masih kecil dulu, di sekitar rumah ini banyak sekali benda-benda sejarah. Tapi sekarang sudah banyak yang hilang,” katanya yang mengaku menyesal atas hilangnya sebagian benda-benda pusaka peninggalan Bundo Kanduang itu.

Berkomunikasi dengan Leluhur

Adalah Harmaini (47), kakak Hadrianto, satu-satunya keluarga ahli waris Rumah Gadang Bundo Kanduang di Gudam yang bisa berkomunikasi dengan para leluhurnya. Sejak kecil, banyak sudah keanehan yang dirasakan wanita paruh baya itu. Namun semua sudah menjadi kelumrahan dalam kehidupannya sehari-hari.

Menurut Hadrianto, sejak kelas 4 sekolah dasar kakaknya Harmaini sudah betah tinggal dan merawat Rumah Gadang Bundo Kanduang itu. Ketika usia sekecil itu pula Harmaini pernah hilang dua kali, satu ketika ia berada di dalam kelas sekolahnya dan satu kali lagi hilang ketika ia di pasar.

“Orang sekampung sibuk mencari, namun akhirnya ia (Harmaini) ditemukan di dalam rumah gadang,” ujar Hadrianto.

Bahkan, ketika orang-orang terlelap tidur di malam hari, Harmaini sering terbangun sendirian dan berada di dalam Rumah Gadang Bundo Kanduang itu untuk berkomunikasi dengan para leluhurnya. Tak pernah ia merasa takut. Dan Harmaini mengaku ada sesuatu yang ghaib menuntun dirinya.

Cerita tentang kelebihan yang dimiliki Harmaini itu pulalah, hingga akhirnya orang kampung tahu dan mengenal Harmaini sebagai orang pintar. Banyak yang datang kepadanya berobat dan banyak pula yang sembuh. Namun, ia mengaku tak pernah mencari pasien dan hanya membantu jika orang minta tolong saja.

“Sebab yang menyembuhkan itu hanya Allah. Dan saya, begitu juga leluhur saya, hanya perantara saja,” ujar Harmaini.

Menurutnya, Bundo Kanduang Minangkabau sebenarnya adalah bernama Siti Halimah yang beristana di Rumah Gadang Bundo Kanduang di Gudam Pagaruyung Tanah Datar. Semua benda-benda pusaka itu adalah milik Bundo Kanduang Siti Halimah. Dan, Bundo Kanduang Siti Halimah bermakam di Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan.

“Makam itu saat ini dijaga oleh Mande Rubiah yang juga ahli warisnya di Lunang,” ujar Harmaini.

Saat ini yang sangat menyedihkan keluarga ahli waris Rumah Gadang Bundo Kanduang, adalah tidak pernahnya mereka dilibatkan dalam berbagai rapat ataupun musyawarah dalam nagari. Tidak tahu mereka apa alasannya. Tapi yang jelas, keluarga ahli waris Rumah Gadang Bundo Kanduang ini sangat memahami tentang sejarah Minangkabau sebenarnya. ***

URUTAN RAJA RAJA ALAM MINANGKABAU

(Versi Ahli Waris Rumah Gadang Bundo Kanduang)

1. Pasamaian Koto Batu Digalundi Nan Baselo (Pariangan) di bawah kekuasaan Raja Maha Diraja/Mulyawarman Maha Dewa

2. Kerajaan Bunga Setangkai (Sei Tarab) di bawah kekuasaan Suri Maharaja III

3. Bukit Batu Patah (Pindahan dari Bunga Setangkai) di bawah kekuasaan Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang. Datuk ini digelari dengan Datuk Suri Yang Maha Diraja dan memegang Langgam (tingkatan) yang tujuh.

Pemerintahannya dari abad ke 5 sampai abad ke 14 (1339). Datuk Katumanggungan Beraja Kedaulat dan Datuk Perpatih Nan Sabatang Beraja Kemufakat. Pemindahan Kerajaan Bunga Setanggkai ke Bukit Batu Patah adalah atas Mufakat. Datuk Katumanggungan berlaraskan ke Koto Piliang (Koto Pilihan) dan Datuk Perpatih Nan Sabatang Berlaraskan Bodi Chaniago (Budi dan Karajo). Sesudah itu ditanam badan yang akan menjalankan pemerintahan tapi belum ada badan hukum.

4. Adityawarman memerintah pada abad ke 14 (1339-1375). Sebelum datang Adityawarman telah disusun Langgam Nan Tujuah, maka kerajaan Batu Patah diturunkan ke bawah yang bernama “PAGARRUYUNG”. Langgam Nan Tujuh terdiri dari: 4 (empat) Balai Keatas (legislatif); Padang Datar, Mandahiling, Nan Ampek, Nan Sambilan. 3 (tiga) Balai Kebawah (Raja-Raja): Raja Alam di Gudam, Raja Ibadat di Kampung Tangah, Raja Adat di Balai Janggo (Balai Penjagaan)

5. Sulthan Alif Khalifatullah yang awalnya bernama Anggawarman (1581-1583), sudah ada berbau Islam

6. Raja Yang Dipertuan Muningsyah I (1583-1625)

7. Dangtuangku, Bundo Kanduang, Sulthan Rumanduang (1625-1683)

8. Muningsyah II (1683-1725)

9. Yang Dipertuan Perkasa Alam Muningsyah III/Sulthan Abdul Djalil (1725-1864)

10. Yang Dipertuan Hitam Sulthan Syair Alam Bagagarsyah (1864-1883), merupakan Raja Minangkabau yang terakhir. Raja ini ditangkap dan diasingkan ke Batavia oleh Belanda, kemudian meninggal dan dimakamkan di Mangga Dua Keramat (1932) lalu dipindahkan ke Kalibata (1972)

Keterangan Foto Hadrianto Sutan Pamenan, salah seorang ahli waris Rumah Gadang Bundo Kanduang dengan latarbelakang benda-benda pusaka di dalam rumah gadang itu.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Email: redaksi@kabarindonesia.com
Big News Today..!!! Let’s see here http://www.kabarindonesia.com

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=26&jd=RUMAH+GADANG+BUNDO+KANDUANG+DI+GUDAM+PAGARUYUNG%3A+Benda+Pusaka+Tak+Terawat%2C+Ahli+Waris+Tetap+Bayar+PBB&dn=20070814114732

Advertisements

May 27, 2012 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: