Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Karena Telkomsel, Firaun Bertobat, Patuhi Ajaran Nabi Musa

HUT ke-13 Telkomsel Leading in Service

Oleh SUPRIZAL TANJUNG, Batam

RAJA Firaun kaya raya, berwajah ganteng. Otaknya pintar serta kaya ide. Sayang, mata hati buta.

Ironinya, dia kurang ajar kepada bangsanya. Puncak kekurangajarannya, dia memposisikan diri sebagai Tuhan. Tapi, karena PT Telkomsel dengan produk Telkomsel seperti Halo, SimPATI, As, Telkomsel Flash, dia tobat nasoha.

Mencengangkan. Firaun yang keras hati itu, menangis sejadi-jadinya. Dia malu, lalu minta maaf dan mempercayai ajaran Nabi Musa AS. Allahu Akbar. Raja zalim ini mengakui Allah SWT sebagai Pencipta seluruh isi alam ini. Ini, lantaran dia telah datang ke Indonesia dan merasakan keunggulan Telkomsel.

Dan, ketika pulang kampung, dia memerintahkan seluruh rakyat Mesir menggunakan produk Telkomsel. Semua sebagai wujud rasa terima kasih dirinya, telah mendapat ilmu dan pelajaran berarti dari Telkomsel dan rakyat Indonesia.

Kok bisa? Bisa saja. Jarum sejarah memang tidak bisa diputar. Namun, andaikata saja Firaun hidup di zaman sekarang dan jalan-jalan ke Indonesia, saya percaya, kekafiran Firaun bisa diminimalisir. Perlahan-lahan, dengan teknologi Global Mobile System (GSM) milik Telkomsel, ditambah dengan berbagai feature fasilitas dan kecanggihannya, Firaun bisa disadarkan dari kekhilafan akbarnya.

Bisa? Tentu saja. Luas wilayah negara Mesir sekitar 997.739 km persegi. Penduduknya hanya 77.505.756 berdasarkan sensus tahun 2005, dengan kepadatan penduduk 77 jiwa/km persegi.

Sedangkan Indonesia total wilayahnya 1.904.556 km persegi. Jumlah penduduknya lebih dari 234.693.997 berdasarkan sensus tahun 2007, dengan tingkat kepadatan 123,23 jiwa/km persegi.

Dengan luas Indonesia 1.904.556 km persegi saja, si market leader seluler Indonesia, tahun 2008, mampu membangun 22.000 Base Tranceiver Station (BTS). Jumlah ini 148 kali lipat dari BTS yang dibangun pada kelahirannya 1995 lalu. Pertama hadir, Telkomsel hanya membangun 149 BTS.

Meski sudah memiliki 22.000 BTS, Telkomsel yang Leading in Service ini masih merasa belum maksimal. Apalagi di usianya yang ke-13 ini. Naluri bertempur dan habis-habisan di sektor komunikasi ini, diapresiasikan lagi dengan rencana membangun 5.000 BTS baru di tahun 2008. Total nilai ivestasi Rp14 triliun. Sebelumnya, sejak 1996 sekitar 32 ibukota provinsi di Indonesia telah menikmati jaringan. Tahun 2005, seluruh kecamatan di Indonesia telah telah merasakan sinyal Telkomsel.

Kembali ke Mesir, untuk 22.000 BTS saja, Telkomsel mampu menginvestasikan Rp1.571 triliun. Berarti, untuk 26 provinsi di Mesir, Telkomsel hanya membutuhkan Rp785 tiliun saja untuk 11.000 BTS. Saya percaya, dengan segala kelebihan teknologi, kelebihan Sumber Daya Manusia (SDM), Telkomsel tidak akan keberatan mengeluarkan dana membangun jaringan seluler terbesar di negeri Sungai Nil ini. Tanpa mengabaikan usaha bernilai profit, kehadiran Telkomsel di Mesir juga untuk beramal beribadah kepada Allah.

Adanya Telkomsel di Mesir, diharapkan akan membantu para tokoh dan pemuka agama untuk mentauhidkan Firaun. Padang pasir tandus, bukan lagi halangan untuk berdakwah. Upaya pertemuan antara kalangan agama dengan masyarakat Mesir bisa direalisasikan dengan cepat.

Makin murahnya harga handphone, kini sudah dapat Rp350 ribu per unit, plus starter pack kartu SimPATI dan AS, dan Halo, diprediksi seluruh warga Mesir akan memegang handphone. Tidak perlu kredit. Masa, untuk Rp600 ribu saja per bulan, kita bisa mengeluarkan uang untuk rokok, sementara untuk handphone tidak. Apalagi warga Mesir terkenal kaya.

Jika Firaun masih bersikeras tidak percaya kebesaran Allah SWT, dia silahkan mengakses Telkomsel Flash dengan akses internet s/d 3,2 Mbps. Lokasi akses dapat dilakukan dimana saja dalam jangkauan jaringan HSDPA/3G/EDGE/GPRS Telkomsel.

Untuk sementara waktu, bagi saya, Telkomsel Flash adalah keunggulan Telkomsel di persaiangan dunia seluler. Lewat Telkomsel Flash yang hadir sejak April 2007 itu, dia bisa men-download informasi di berbagai website. Baca, bagaimana dasyatnya gempa di Manado, Sulawesi Utara, banjir di Provinsi Riau, Jakarta. Juga ada 2.600 orang tewas pada tragedi runtuhnya World Trade Centre, yang ditabrak pesawat pada Kamis 11 September 2001 lalu. Jika memang di Tuhan, coba batalkan berbagai bencana tadi.

Masih belum lengkap, dengan Telkomsel Flash dan fasilitas roaming internasional murah milik Telkomsel, dia bisa menanyakan kepada dunia, kebenaran kejahatan Al Capone, dan Hitler. Juga menanyakan tentang dasyatnya azab Allah terhadap umat Nabi Luth, umat Nabi Nuh. Meski ingkar, umat tadi tidak memposisikan diri sebagai Pencipta.

Firaun pun bisa men-download website tentang Presiden Irak, Saddam Hussein tewas digantung Sabtu, 30 Desember 2006 lalu. Jika dia memang Tuhan, dimana letak tanggungjawab dia sebagai pemilik alam semesta. Kok dia tidak bisa mengajak umatnya Irak dan Amerika Serikat untuk berdamai dan berbuat kebaikan? Kok, ajakan Nabi Musa untuk mentauhidkan Allah malah ditentangnya? Harusnya dia malu, tak bisa berbuat apa-apa untuk kedamain dunia.

Harusnya pula, dengan kekayaan Firaun dan warganya yang bernama Qorun, bisa memberikan manfaat kepada dunia. Misalnya, mereka bisa berkolaborasi membangun jaringan telekomunikasi, BTS, atau berbagai investasi lain untuk Telkomsel. Membantu masyarakat Indonesia yang terkena dampak negatif kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Sayang Firaun dan Qorun pelit. Ini terpatri dalam Alquran Surat Al-Qoshosh ayat 78.

Ini bertolakbelakang dengan upaya Telkomsel yang tidak berhenti membantu masyarakat Indonesia. Kini, puluhan ribu penumpang kapal laut, bisa berkomunikasi, berbisnis, bersilaturahmi, dengan anak, istri, suami, teman, relasi bisnis, dan pimpinan yang berada di darat. Ustad dan kiai bisa mengatur jalannya pendidikan di pesantren lewat produk Telkomsel, meski sedang di laut lepas.

Komunikasi di laut lepas ini terjadi karena adanya teknologi Telkomsel berkonsep Remote Solution System (RSS), yang menggunakan GSM Pico Internet Protocol (IP) via Satelite IP. RSS ini merupakan teknologi GSM IP permaka di Indonesia, bahkan dunia. RSS yang digelar melalui program Telkomsel Merah Putih ini sebagai solusi layanan komunikasi dan informasi di daerah terpencil dan wilayah laut.

Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriaharja usai peresmian jaringan RSS di atas kapal Labobar, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu 7 Juni 2008 lalu menyebutkan, ”Pelni bisa memberikan layanan tambahan ke ratusan hingga ribuan penumpangnya berupa layanan telekomunikasi seluler. Hanya perlu waktu mempersiapkan semuanya agar berjalan lancar. Kebanyakan waktu itu dipergunakan untuk mempersiapkan re-engineer berupa BTS, tracking, TRX, power supply, dan lainnya. Total dana yang dihabiskan untuk perangkat di satu kapal sekira Rp2 miliar,” ujar Kiskenda Suriaharja.

Masih kurang cukup? Firaun pun bisa menaiki satu dari 33 kapal Pelni. Bersama 28.000 penumpang dalam satu kapal Pelni, raja Mesir itu bisa menyaksikan keindahan 17.500 pulau di Indonesia. Berbagai suku, berbagai agama di Indonesia, tapi rakyatnya tetap damai dan rukun. Komunikasi menjaga perdamaian tetap bisa dilakukan di atas laut lepas.

Firaun bisa bercermin, lewat seluler para perwira TNI saling berkomunikasi, mengatur lima ribu tentara pada Latihan Gabungan (Latgab) di Bandara Hang Nadim Batam, pada Selasa (10/6) lalu. Dari berbagai kasus, para jendral di Indonesia berkomunikasi lewat handphone untuk mengatur keamanan di negara (Indonesia) yang masuk daftar berpenduduk terbanyak di dunia ini. Kekuatan TNI tidak untuk menzalimi bangsa lain apalagi bangsa sendiri. Beda dengan Firaun yang menzalimi bangsa Bani Isael.

Selagi berada di Indonesia, Firaun bisa melihat bagaimana bangganya orang Indonesia melihat Panglima TNI, Jendral Djoko Santoso yang mengomandoi 361.823 tentara (TNI Angkatan Darat 276.953 orang, TNI Angkatan Laut 57.197 orang, dan TNI Angkatan Udara 27.673 orang). Mereka mahir menggunakan senjata moderen, seperti pistol, senapan mesin, granat, tank, basoka, kapal laut canggih, kapal selam, komputer dan pesawat F16. Mereka semua punya handphone. Sebagian mereka pelanggan Telkomsel. Tapi, mereka tidak menyebut dirinya sebagai Yang Maha Perkasa.

Firaun harusnya malu. Dia dan tentaranya yang hanya punya pedang, tombak, panah, alat pelontar batu dalam berperang. Lebih tidak membanggakan lagi, beberapa tentara Firaun itu buta huruf. Firaun tidak bisa mencerdaskan bangsanya. Sementara Telkomsel telah melahirkan berbagai terobosan seperti RSS tadi, sebagai kado peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Jadi, sudahlan bodoh, tetap bersikeras minta disebut Tuhan. Betul kata orang. Dasar, Firaun itu bodoh dan picik!

Lewat kartu Telkomsel (Halo, SimPati, AS), Firaun dapat melihat, banyak orang Indonesia makin pintar karena menggunakan komunikasi Telkomsel. Belajar berbagai ilmu pengetahuan bisa lewat Telkomsel Flash. Transaksi perdagangan tidak lagi melihat barang langsung. Mengetahui hasil satu produk cukup lewat seluler, atau melihat langsung dari fasilitas Three G (3G0 Telkomsel.

Orang Indonesia sudah banyak yang kaya, seperti Abdul Latief, Lim Sie Liong, HM Yusuf Kalla, Abu Rizal Bakrie, Rachman Halim, R Budi Hartono, Putera Sampoerna, Eddy William dan lainnya. Mereka rata-rata menggunakan kartu Telkomsel sebagai jembatan bisnis. Mereka level orang kaya dunia, bukan level orang kaya Mesir. Tapi, mereka tidak minta disembah. Mereka semua orang beragama.

Jika masih betah di Indonesia, Firaun tentu makin terkejut melihat, bagaimana kini, Telkomsel telah menguasai pangsa pasar seluler lebih dari 50 persen. Atau, lebih dari 80 juta orang dari 250 juta penduduk Indonesia menggunakan produk Telkomsel.

Telkomsel ada di hati penduduk Indonesia. Telkomsel telah menjadi Leading in Service. Sementara, Firaun hanya ada di hati para istri dan ribuan prajuritnya yang buta kebenaran. Telkomsel tetap dicintai lewat kesadaran masyarakat (pelanggan, red), bukan karena pemaksaan militer seperti Firaun.

Idealnya, Firaun introspeksi. Kehadiran fungsi dan feature Telkomsel, membuat bangsa Indonesia makin bersyukur. Kita makin khusuk beribadah. Ekonomi meningkat, pendidikan, perbankan, industri pesawat, makin lancar lewat Telkomsel. Ustad, kiai, pendeta makin lancar berdakwah karena produk Telkomsel.

Sementara, Firaun hanya diberi sedikit harta dan pengetahuan, alam yang gersang, tentara sedikit, hanya punya teknologi membuat batu bata, kereta perang, tombak, panah dan pedang. Kok tetap sombong dan takabur?

Saya yakin, jika Firaun tak bosan keliling Indonesia, dia bakal mendapat banyak hidayah. Klimaksnya, dia meraung-raung mengakui keesaan Allah. Ini tentu lebih baik, daripada kini, dia meraung-raung di alam barzah dan hari pembalasan nanti. Ironinya, di ujung hayatnya, dia tidak bertobat kepada Allah, dan meyakini ajaran Nabi Adam, Nabi Musa AS, dan nabi-nabi sebelumnya.

Nasi sudah jadi bubur. Firaun tidak bisa kembali ke zaman kini. Dia telah menjadi mumi dan bisa dilihat di Museum Cairo Mesir, setiap saat. Raja ingkar itu tidak pernah merasakan kecanggihan Telkomsel. Tidak melihat kekayaan dan kepatuhan orang Indonesia terhadap Allah.

Berbahagialah, karena hanya kita menikmati berbagai kelebihan Telkomsel. Lewat nikmat ini, janganlah kita tidak taat kepada Allah, tidak berbuat jahat kepada alam dan manusia. Serta, tidak mengabaikan ibadah. Apalagi tidak mensyukuri apa yang telah diberikan Pencipta kepada kita di negeri tercinta ini. Amin.***

July 17, 2012 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: