Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Fasli Djalal: Ironi, Dokter Indonesia Belajar pada Muridnya

Kuliah Umum di Universitas Batam (Uniba)

Oleh SUPRIZAL TANJUNG, Batam

DOKTER di Indonesia banyak dan pintar-pintar. Tapi kenyatannya, dokter kita malah belajar kepada murid-muridnya di luar negeri.

uniba-fasli-djalal-jt-6-januari-2012-f-suprizal-tanjung-8

Prof DR Dr Fasli Jalal MSc Sp Gk memberikan Kuliah Umum dengan tema Pembentukan Karakter Building di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), Uniba, Batam, Jumat (6/1/2012) pukul 09.30 WIB. F Suprizal Tanjung

Judul tulisan di atas sengaja saya tulis untuk mengetuk hati dan pikiran kita semua, terutama para medis di Indonesia. Sakit, kecewa, dan marah? Manusiawi bila perasaan itu datang dalam hati kita.

Universitas Batam (Uniba), Kamis  28 April 2011. F Suprizal Tanjung image

Aktivitas di kampus Universitas Batam (Uniba), Kecamatan Batam Kota, Kota Batam, Kamis (28/4/2011). F Suprizal Tanjung

Namun, apa yang mau dikata, bila informasi dan kenyataan tersebut terlontar dari bibir Mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) RI, Prof DR Dr Fasli Jalal MSc Sp Gk (6 Januari 2010 hingga 19 Oktober 2011) saat memberikan Kuliah Umum dengan tema Pembentukan Karakter Building pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) di kampus Uniba, Jumat (6/1/2012) pukul 09.30 WIB.

Fasli Jalal kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, Indonesia, 1 September 1953 (58 tahun) dengan jelas menyatakan ‘’kegeramannya’’ terhadap dunia pendidikan dan juga kesehatan di Indonesia. Hal itu jelas tidak mengada-ada dikemukakan Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Alumni Universitas Andalas (IKA Unand) yang terpilih dalam Musyawarah Besar (Mubes) Sabtu (3/12/2011) di Pasang, Sumbar. Fasli yang menggantikan Mendagri Gamawan Fauzi ini menjabat untuk periode 2011-2016.

Fasli dimulai dengan kalimat bahwa ada sebagian dari bangsa Indonesia yang berobat ke Singapura, Malaysia, Thailand, dan lainnya. Mereka menganggap, berobat di luar negeri lebih baik secara kualitas dan kuantitas.

Untuk meraih prestasi dan nama baik seperti dokter dan rumah sakit di luar negeri, dokter-dokter Indonesia berbondong-bondong studi banding dan belajar ke dokter-dokter di luar negeri.

(Ini apa betul studi banding? Atau hanya sekadar bisa jalan-jalan melihat negara orang lain ketika sedang menjabat sebagai dokter di rumah sakit negara (pegawai negeri? Red)

‘’Untuk diketahui, beberapa dokter di Singapura, Malaysia, Thailand dan lainnya, ternyata kuliah dan lulus dari perguruan tinggi di Indonesia. Ilmu kedokterannya didapat dari Indonesia. Ini membanggakan, sekaligus memprihatinkan,’’ tegas Fasli.

Fasli jelas kecewa namun dibungkus dan dilontarkan dalam kalimat yang santun dan menahan emosi. Ini artinya dokter Indonesia belajar dengan murid-muridnya sendiri. ‘’Ironi. Tahun 1970-an, Malaysia banyak pemuda-pemudi Malaysia belajar ke Indonesia dan mendatangkan banyak guru dari Indonesia ke negara mereka. Kini sudah melesat meninggalkan sang,’’ sebutnya.

Kenyataan lain tambah Fasli, dokter-dokter yang praktek dan bekerja di rumah sakit di luar negeri, seperti di Singapura, malah berasal dari Indonesia. Kenapa dokter Indonesia praktek di luar negeri? Kenapa rumah sakit di Indonesia tidak memberikan kualitas pelayayan seperti negara asing?

Lantas apa kelebihan dokter di negara lain? Menurut Fasli, dokter di negara lain sangat sopan dan memberikan keramahan yang tinggi kepada pasiennya. Pasien yang sudah pusing karena sakit, tidak dibuat pusing lagi dengan kelakuan dokter/ paramedis yang tidak simpatik. Sikap simpatik tidak hanya diberikan kepada pasien kelas atas (yang mampu membayar kamar dan obat mahal), untuk pasien ekonomi (miskin), sikap petugas medis di sana tidak berubah.

Ini tentu berbeda dengan sebagian besar sikap petugas medis Indonesia (dokter, perawat, petugas rumah sakit/ puskesmas). Para medis Indonesia sangat sangat ramah, dan cenderung menjilat-jilat, ketika menghadapi pasien kalagan berduit (orang kaya). Sikap kasar, memandang enteng, remeh, dan hina diberikan kepada pasien yang miskin harga, dan miskin pergaulan. Pasien miskin tidak dianggap sebagai manusia.

Menurut penulis, ada oknum para medis yang sangat memandang hina pasien, misalnya pasien yang berobat menggunakan kartu Jamsostek. Padahal, pasien (karyawan sebuah perusahaan, red) juga membayar sebelum berobat ke rumah sakit tertentu (rujukan, red).

Dikatakan Fasli, di luar negeri pasien hanya satu kali, dan tidak berulang-ulang mendaftarkan nama alamat dan lainnya ke rumah sakit. Dokter asing menjelaskan kepada kepada pasiennya, apa jenis obat yang harus dibeli, berapa harga obat, dan berapa lama berobat. Semua dijelaskan secara terperinci tanpa ada yang ditutupi. Ini dilakukan agar pasien puas dan tidak (merasa) ditipu.

Berdasarkan pengalaman penulis. Ada dokter yang memberikan rontgen terus kepada pasiennya. Warga gempar. Setelah ditelusuri, sang dokter mau mencari dana untuk mengganti uangnya untuk membeli alat rontgen tadi.

‘’Apa susah bersikap dan bertindak seperti dokter di negara asing tadi? Jadi. Dokter kita bukan tidak pintar. Tapi kemampuan di luar pendidikan akademis itu yang harus dicari, ditambah dan diberikan kepada pasien. Saya yakin, mahasiswa dan calon dokter dari Uniba bisa bersikap profesional seperti dokter dari Negara Asia Tenggara tadi,’’ harap Fasli.

Fasli melanjutkan, Uniba mempunyai kesempatan besar untuk menghasilkan dokter berkualitas. Hal ini ditunjang, dengan fasilitas lengkap, relatif banyaknya dosen, dan ada 12 profesor di universitas kebanggaan warga Kepri ini.

Dengan sistem pendidikan yang sudah mengacu kepada standar kompetensi, dokter lulusan Uniba akan bisa mengisi kebutuhan dokter sekarang dan nanti di Kepri atau se Indonesia.

‘’Malah pada tahun 2025 nanti, kebutuhan 2,3 juta dokter se Indonesia, kiranya bisa diisi lebih banyak dokter dari Uniba,’’ papar Fasli Djalal saat memberikan Kuliah Umum dengan tema Pembentukan Karakter Building pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) di kampus Uniba, Jumat (6/1/2012) pukul 09.30 WIB.

Hadir di kuliah umum tersebut ektor Uniba Prof DR Ir Muhammad Jemmy Rumengan SE MM, mantan Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) X Sumbar Prof Novirman Jamarun, Dosen Uniba Bambang Satriawan SE MSi, Dekan FK Uniba Dr Muharso,  Dosen Uniba Ir Eddy Indra MSi, dan lainnya.

Fasli yang menjadi Ketua Tim Penjamin Mutu Uniba itu menambahkan, kebutuhan dokter, tidak hanya datang dari Indonesia. Jepang, Belanda, dan negara di Eropa lainnya. Permintaan juga datang dari kawasan Asia Tenggara seperti Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam, Brunei, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Timor Leste juga membutuhkan dokter Indonesia untuk praktek di Negara mereka. Sementara, dokter-dokter dari Negara Asia Tenggara tapi pun bisa masuk dan praktek di Indonesia. Ini terjadi dengan dibukanya kran kebebasan masuknya dokter antar negara di Asia Tenggara tahun 2015 nanti.

Kesempatan memang besar, kata Fasli. Tapi, tantangan juga besar. Kalau dokter Uniba (Indonesia) tidak memiliki kelebihan dibandingkan dokter dari negara di Asia Tenggara tadi, maka dokter Indonesia tidak akan terpakai karena kalah bersaingi kualitas.

Fasli mengingatkan, untuk berhasil dan sukses sekarang dan nanti, mahasiswa harus menguasai 100 persen ilmu pengetahuan. Dimana 20 persen diperoleh dari bangku kuliah, dan 80 persen lagi dari luar, misalnya dari kemampuan berkomunikasi, punya leadership, bisa berbahasa Inggris, ramah, sopan, produktif, punya harapan (bekerja), punya harapan sukeses, dan lainnya.

Semua itu kata Fasli, bisa didapat dengan ikut organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Resimen Mahasiswa (Menwa), magang, dan lainnya. Mahasiswa jangan hanya terpaku kepada pendidikan dari bangku kuliah saja. Cari ilmu dan pengetahuan sebanyak-banyaknya di luar melalui internet, bertanya ke senior/ dosen, dan lainnya.

‘’Jika sudah menjadi dokter, beri hal terbaik untuk pasien,’’ papar Fasli.  ***

Advertisements

August 28, 2012 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: