Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Rao, Pasaman di Sumatera Barat

Rao adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, Indonesia. Kecamatan ini terdiri dari dua nagari dan 18 jorong. Sebelumnya kecamatan ini bernama Rao Mapat Tunggul, yang kemudian dipecah menjadi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Rao dan Kecamatan Mapat Tunggul. Sejak era Reformasi, kecamatan Rao dimekarkan kembali menjadi Kecamatan Rao, Kecamatan Rao Utara, dan Kecamatan Rao Selatan.

Batas wilayah

Utara kecamatan Rao Utara
Selatan kecamatan Duo Koto dan kecamatan Rao Selatan
Barat provinsi Sumatera Utara
Timur kecamatan Rao Selatan dan kecamatan Rao Utara

Sejarah

Dalam konsep budaya Minangkabau, Rao merupakan wilayah rantau Minang di utara. Daerah ini menjadi bagian Kerajaan Pagaruyung sejak abad ke-16, yakni dengan ditempatkannya salah seorang raja yang bergelar Yang Dipertuan Padang Nunang.[1] Pada masa kepemimpinan kaum Paderi, Rao merupakan salah satu pusat pengajaran Islam di Sumatera Tengah, khususnya untuk ilmu logika (mantiq) dan ma’ani.[2] Sejak kekalahan pasukan Paderi pada tahun 1838, Rao menjadi bagian kolonial Hindia-Belanda dan dimasukkan ke dalam karesidenan Padangsche Benedenlanden yang berpusat di Padang. Namun pada tahun 1891, pemerintah Hindia-Belanda menggabungkan Rao ke dalam wilayah residen Padangsche Bovenlanden yang berpusat di Bukittinggi.

Pada tahun 1840, Rao merupakan salah satu wilayah penghasil kopi di pantai barat Sumatera. Untuk itu maka pemerintah kolonial segera membangun sekolah (1845) dan jalur komunikasi jalan darat dari Air Bangis ke Rao (1850-an).[3] Sejak kemerdekaan Indonesia, Rao menjadi bagian Kabupaten Pasaman yang berpusat di Lubuk Sikaping.

Penduduk

Orang Rao merupakan kelompok masyarakat Minangkabau, yang menganut sistem matrilineal, hidup bersuku-suku, dan berpenghulu. Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat ini menggunakan Bahasa Minangkabau dialek Rao, yang mirip dengan logat Lima Puluh Kota, Batusangkar, dan Kampar.

Rao menjadi daya tarik masyarakat Luhak Nan Tigo, sejak ditemukannya tambang emas di daerah ini. Sejak itu maka berbondong-bondong, orang-orang dari Agam dan Lima Puluh Kota untuk bermukim disini. Pada pertengahan abad ke-18, banyak masyarakat Rao yang bermigrasi ke Tapanuli Selatan untuk menjadi guru dan pedagang. Mereka juga menyusuri Sungai Rokan dan Kampar, untuk pergi merantau ke Riau dan terus ke Malaysia. Di Malaysia, sebagian besar mereka bermukim di Negeri Sembilan, Pahang, dan Perak. Gopeng, salah satu kota kecil di Perak, merupakan tempat yang banyak dihuni para perantau asal Rao. Di Malaysia, masyarakat Rao dikenal sebagai Orang Rawa (Rao dalam Bahasa Minangkabau berarti Rawa).

Selain kepindahan masyarakat Rao ke negeri luar, wilayah ini juga banyak dihuni oleh etnis dari Tapanuli. Pada masa Perang Paderi, para pedagang Minang banyak yang membawa etnis Batak ke wilayah Rao. Selain untuk memperkuat barisan Paderi, kepindahan mereka juga untuk mengisi tenaga kerja di wilayah ini. Di masa kolonial Hindia-Belanda, banyak masyarakat Mandailing yang bermigrasi ke Rao. Tujuan mereka untuk mempelajari agama Islam dan menghindari zending Nasrani yang sedang marak di Tapanuli Utara.[4] Di tahun 1952, gelombang perpindahan orang-orang Tapanuli ke Rao kembali terjadi. Namun kali ini perpindahan mereka dikarenakan alasan politis. Dimana pemerintah Sumatera Barat, menolak ditempatkannya para transmigran asal Jawa dan lebih memilih mendatangkan masyarakat Minang dari kabupaten lain, serta orang Mandailing dari Tapanuli Selatan.[5]

Tokoh

Seperti wilayah lainnya di Sumatera Barat, Rao juga banyak melahirkan tokoh-tokoh terkemuka yang sukses di Indonesia dan Malaysia. Keberhasilan masyarakat Rao dikarenakan adanya pendidikan agama yang diusahakan oleh kaum Paderi dan kemudian pendidikan sekuler oleh pemerintah Hindia-Belanda di abad ke-19. Berkat pendidikan, banyak di antara mereka yang menjadi ulama, pejuang, politisi, dan sastrawan. Antara lain ialah Tuanku Rao, Rashid Maidin, Yusuf Rawa, Asrul Sani, dan Hussamuddin Yaacub.

Advertisements

October 15, 2012 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: