Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Membandingkan Singapura dan Batam Mengelola Sampah (1)

Warga Disiplin, 2 Petugas Tangani 2.000 Rumah

SULTAN YOHANA – SOCRATES, Singapura

Tidak mudah mengurus sampah. Apalagi, di kota metropolis seperti Batam yang menghasilkan 850 ton sampah setiap hari. Meski sudah melakukan swastanisasi sampah sejak 2009 dan gagal, soal sampah belum tuntas teratasi. Singapura, tetangga Batam, cerdas mengelola sampah dan budaya hidup bersih warganya.

socrates-selasa-23-april-2013-suprizal-tanjung-8 image

Socrates di Graha Pena, Batam Kota, Batam, Selasa (23/4/2013). F Suprizal Tanjung

Tiap siang, Ismaeel dan rekannya petugas dinas kebersihannya Singapura, mengendarai gerobak mesin datang ke void deck atau lantai dasar flat atau apartemen. Dengan cekatan, ia menurunkan satu dari enam tong sampah raksasa berukuran 2 meter dan setinggi 1 meter dari gerobak.

Lubang sampah yang menyatu dengan apartemen itu dibuka, lalu tong sampah yang sudah penuh dikeluarkan dan diganti dengan yang kosong. Rekannya, langsung mengepel air atau kotoran yang tercecer di lantai, saat Ismaeel mengangkat tong penuh sampah itu ke gerobak.
Tak lebih dari tiga menit satu tong sampah selesai diganti. Lalu, gerobak motor itu kembali bergerak, mencari lubang sampah lainnya di deretan apartemen yang menjadi tanggungjawab mereka berdua. 

”Tiap hari kami harus mengambil sampah di 13 blok di Ang Mo Kio,” kata Ismaeel kepada Batam Pos, pekan lalu.

Ang Mo Kio adalah salah satu distrik bagian utara Singapura. “Tiap tempat lubang sampah kami ganti sekali dalam sehari,” tambah pria yang mengaku berasal dari Bangladesh, dan sudah 10 tahun bekerja sebagai petugas kebersihan di Singapura itu.

Bagaimana Singapura mendisain sistem pembuangan sampah rumah tangga mereka, yang sebagian besar penduduknya bertempat tinggal di flat-flat atau apartemen belasan tingkat?  Pemerintah Singapura cukup cerdas mengelola  tempat pembuangan sampah rumahtangga di rumah susun,  agar efisien dan memudahkan warganya membuang sampah.

Keterbatasan lahan memang telah memaksa Pemerintah Singapura sejak tahun 1970-an, merancang pembangunan pemukiman penduduknya di rumah-rumah susun. Lubang pembuangan yang membujur ke atas mulai dari lantai teratas hingga terbawah, adalah sistem awal dari serangkaian proses pembuangan sampah yang efisien. Lubang ini, menyatu dengan rumah, terletak di dapur, dan terintegrasi pada setiap rumah selajur.

Warga yang ingin membuang sampah, tinggal membuka lubang sampah di dapur mereka, lalu  melempar sampah di situ. Sampah akan meluncur turun. Di dasar lubang, sudah dipasang tong sampah sebesar 2 x 2 meter, yang tiap hari diganti oleh petugas kebersihan seperti Ismaeel itu tadi.

Sistem ini, menihilkan tong sampah di depan rumah warga, sekaligus tidak perlu membuat petugas kebersihan turun-naik mengambil sampah.Yang juga sangat efisien, adalah sistem lanjutan dari proses pembuangan sampah hingga ke tempat pembuangan akhir.

Hanya butuh dua orang untuk mengkover sampah basah di 13 blok, yang dilakukan si Ismaeel dan kawannya tadi. Sebagai gambaran, satu blok apartemen, rata-rata terdiri dari 12 lajur rumah. Berarti, ada enam lubang sampah di setiap blok. Setiap blok tingginya berbeda, tapi umumnya antara 11 hingga 20 lantai.

Dengan gerobak mesin sederhana yang tak memakan banyak energi, petugas kebersihan seperti Ismaeel mengumpulkan sampah, lalu dibawa ke tempat pembuangan sementara. Di setiap kawasan, ada satu tempat pembuangan sementara (TPS).

Saat Batam Pos melihat salah satu TPS tempat Ismeel bekerja, sama sekali tidak terlihat bahwa gedung kotak berukuran sekitar 15 meter persegi itu adalah TPS. Sangat bersih dan tidak berbau. Nyaris tidak ada ceceran sampah di sana. Tidak pula terlihat pemulung berkeliaran. Hanya ada Ismeel dan rekannya petugas kebersihan.

Sampah-sampah basah yang baru dikumpulkan Ismeel di tong sampah, langsung dimasukkan mesin pres. Begitu selesai, sampah yang sudah dipres kemudian disusun sedemikian rupa. Menunggu truk utama pengangkut sampah datang.

Truk pengangkut sampah, yang tak perlu buang solar untuk keliling kompleks sebagaimana yang biasa terlihat di Batam, kemudian membawa sampah yang sudah dipres, ke tempat pembuangan akhir. Di proses pengangkutan akhir ini, belum pernah terdengar cerita sampah bertebaran di jalan saat dibawa truk.

Jika rata-rata satu blok rumah susun terdiri dari 150 rumah, hanya butuh dua orang petugas untuk memungut sampah basah di 2.000 rumah tinggal di Singapura. Itupun keduanya tidak harus naik turun truk, mengeluarkan energi luar biasa untuk memunguti tong sampah. Lubang sampah yang ada di setiap flat, serta gerobak bermotor mesin kecil yang bisa menjangkau blok-blok terpencil sekalipun, juga TPS, adalah kunci dari sukses sistem pengelolaan sampah Singapura, hingga menjadi salah satu kota paling bersih di dunia!

Penanganan  sampah di Singapura, dikelola bersama antara swasta dan pemerintah. Ismaeel dan rekannya, tercatat sebagai pegawai yang digaji town council, sebuah struktur kemasyarakatan setingkat kelurahan. Selain mengurusi sampah, town council juga secara langsung mengurusi segala macam masalah dan keperluan warga Singapura.

Masalah seperti fasilitas umum, taman bermain anak, lift di rumah susun, tempat parkir, atau perbaikan-perbaikan fasiltas umum; hal-hal seperti ini yang diurusi langsung oleh petugas town council. Sementara, untuk urusan pengangkutan sampah hingga ke tempat pembuangan akhir, pengelolaanya diserahkan ke pihak swasta.

Ismaeel memang hanya mengurus sampah basah. Lalu, bagaimana dengan sampah kering atau barang-barang bekas bahkan perabot-perabot berukuran besar yang tak mungkin dibuang lewat lubang sampah?

Di sinilah kesadaran masyarakat Singapura agar menjaga kebersihan tempat tinggal mereka diuji. Di setiap rumah susun, pihak town council telah menyediakan sebuah tong sampah besar khusus untuk sampah-sampah kering yang bisa didaur ulang. Juga tempat menaruh barang-barang besar yang memang akan dibuang warga Singapura, seperti kulkas, televisi, maupun perabot rumahtangga seperti tempat tidur.

Sejak dari rumah, penduduk Singapura dibiasakan untuk memilah-milah sampah mereka. Nyaris tiap rumah punya dua sampah, satu sampah basah; dan satunya lagi sampah kering yang bisa didaur ulang. Sementara sampah basah akan masuk lubang sampah, sampah daur ulang harus dibawa turun sendiri oleh warganya dan dibuang ke tong sampah khusus daur ulang. Di Ang Mo Kio misalnya, setiap bulan pihak town council membagikan tas plastik raksasa di pintu rumah masing-masing warga, yang bisa digunakan untuk menaruh sampah daur ulang.

Pemilahan serta pengelompokan tempat sendiri bagi sampah daur ulang, akan memudahkan kerja pemulung. Barang-barang yang sekiranya masih berharga seperti printer, koran, baju, komputer, maupun televisi; dipungut dan dikumpulkan pemulung. Barang-barang yang masih punya nilai jual ini, kemudian dikumpulkan, dipacking, untuk kemudian diekspor ke beberapa negara penerima.

Bangladesh, India, dan sebagian negara Afrika, adalah beberapa negara yang menerima barang-barang bekas dari Singapura. Barang-barang bekas ini juga kerap lolos ke Indonesia, terutama di Batam, meski pemerintah Indonesia telah mengeluarkan larangan impor barang bekas. Pemulung di Singapura, menjadi salah satu bagian penting untuk menjaga Singapura tetap bersih.

Selain mempekerjakan petugas kebersihan seperti Ismaeel, pihak town council juga mempekerjakan beberapa petugas kebersihan lainnya seperti penyapu koridor, pengelola taman, atau pendorong tong sampah daur ulang. Sebagian pekerja adalah warga negara Singapura yang telah pensiun dan masih ingin terus beraktifitas.

Meski sistem pengelolaan sampah di Singapura sudah sedemikian baik, namun kunci Singapura bisa menjaga kebersihan mereka, terletak pada mental warganya. Sadar bahwa kebersihan adalah salah satu hal terpenting untuk sebuah negara sekecil Singapura, pemerintah jauh-jauh hari telah “mendoktrin” warganya untuk menjaga kebersihan. Salah satunya, dengan menjadikan  pelajaran “menjaga kebersihan” sebagai salah satu pelajaran utama di Sekolah Dasar.  (bersambung)

February 5, 2014 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

3 Comments »

  1. Terimakasih infonya

    Comment by jdmanik | April 16, 2014 | Reply

  2. salut… semoga kita juga bisa.🙂

    Comment by Halimah Tuliper | August 21, 2015 | Reply


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: