Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Membandingkan Singapura dan Batam Mengelola Sampah (2-habis)

Swastanisasi Harus Jalan, Jadikan TPA Tempat Wisata

SULTAN YOHANA – SOCRATES, Batam

Batam memang bukan Singapura, yang sebagian penduduknya tinggal di flat atau apartemen, sementara warga Batam tinggal di perumahan dan ruko. Namun, tak ada salahnya belajar ke Singapura, mencontoh pengelolaan sampah yang baik dan sederhana. Swastanisasi sampah yang pernah gagal, harus menjadi pelajaran yang berharga.

socrates-selasa-23-april-2013-suprizal-tanjung-8 image

Socrates di Graha Pena, Batam Kota, Batam, Selasa (23/4/2013). F Suprizal Tanjung

Sampah yang menumpuk di depan rumah dan tidak terangkut mobil sampah, adalah masalah yang paling sering dihadapi warga Batam. Apalagi, sebagian besar atau 60 persen adalah sampah plastik, yang sulit untuk dihancurkan. Keterbatasan armada dan petugas kebersihan, adalah soal lain yang membuat masalah sampah di Batam makin runyam.

Melihat kebersihan Singapura, meskinya Batam berkaca dan menjadi inspirasi menata Batam.  Apalagi, warga kelas menengah ke atas, pengusaha, para pejabat Batam, pasti pernah ke Singapura. Mulai dari pelabuhan, bandara, jalan-jalan, pusat pertokoan hingga ke perumahan di Singapura tampak bersih. Singapura tidak hanya bersih di atas (jalan-jalan, taman, perumahan) juga di bawah (rute Mass Rapid Transpor di bawah tanah yang menghubungkan seluruh Singapura).

Para pejabat kita sering mengidentikkan kebersihan dengan piala Adipura, yang merupakan lambang  kebersihan sebuah kota di Indonesia. Kota yang layak dapat adipura adalah yang bebas dari sampah dan bersih, rindang, teduh dan hijau serta drainase yang bebas dari gulma dan sedimentasi. Batam pernah dapat piala Adipura dan pernah pula mendapat julukan kota terkotor.

Swastanisasi sampah yang dimaksudkan agar ratusan ton sampah warga Batam itu bisa tertangani, yang dimulai sejak 1 April 2009 yang dimenangkan oleh PT Surya Sejahtera, dan setahun kemudian mengundurkan diri, sampah kembali dikelola Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Batam. Padahal, kontrak kerjanya 25 tahun.

Siapa sangka, sampah juga memiliki nilai ekonomi dan bisnis yang tinggi. Sampah bisa diolah dan dimanfaatkan menjadi pupuk kompos, gas methane dan air lindi atau pupuk cair. Sedangkan sampah baru menghasilkan recycling plastic, besi dan kayu, composting serta gas methane. Pada akhirnya, akan menghasilkan keuntungan dalam bentuk retribusi atau royalti. Sehingga, Pemko Batam selain tidak lagi dipusingkan urusan sampah, malah bisa menjadi pemasukan baru bagi daerah.

Namun, yang terjadi, jauh panggang dari api. Aroma kolusi, ekonomi biaya tinggi karena harus membentuk panitia khusus, tender dan sebagainya, meruap di antara bau busuk sampah. Kini, Pemko Batam kembali menggelar tender untuk merancang, membangun, membiayai dan mengoperasikan Infrastruktur Pengolahan Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan (Proyek).

Pemko Batam  merencanakan membangun infrastruktur yang dapat mengolah sampah minimal 1.000 ton sampah per hari dengan teknologi waste to energy (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) berupa incinerator. Perkiraan nilai proyek adalah sebesar Rp 1,5 triliun. Nilai yang cukup besar untuk membuat Batam bebas sampah.

Saat ini, ada tiga kota di Indonesia tengah memersiapkan konsep kerjasama pemerintah-swasta (KPS) dalam pengelolaan sampah, yakni Batam, Padang dan Medan. Yang pertama menerapkan KPS persampahan adalah Surabaya yang memilih menggunakan teknologi gasifikasi, yakni menyerahkan pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) kepada pihak swasta yang memanfaatkannya untuk menghasilkan gas.

Singapura, selain sistem dan manajemen pengelolaan sampah yang baik, juga didukung dengan sikap mental dan budaya hidup bersih warganya. Singapura yang begitu bersih diawali oleh penegakan hukum yang tegas dan konsisten. Istilah kerennya: law enforcement. Penegakan hukum ini yang memaksa warganya dan siapa saja, tidak boleh membuang sampah sembarangan.

Bandingkan dengan Batam. Lihatlah perilaku warga yang masih suka membuang sampah sembarangan. Alangkah capainya melihat seorang petugas kebersihan, berseragam hijau kuning dengan kantong plastik besar di tangannya memungut sampah dari pinggir jalan. Sementara, orang seenaknya membuang sampah dari kendaraan. Mulai dari puntung rokok, plastik, tisu, kertas koran dan botol minuman.

Tugas Pemko Batam, selain menyiapkan sarana dan dan prasarana pengelolaan sampah, tak kalah pentingnya adalah mendorong bahkan memaksa warga Batam untuk hidup bersih dan mengelola sampah sejak dari rumah.

Jika sulit meniru Singapura, belajarlah ke Surabaya. Terobosan yang patut diacungi jempol adalah program Surabaya Green & Clean sejak 2005 kerjasama antara Pemko Surabaya, Unilever dan Jawa Pos. Program ini berhasil mengubah wajah Surabaya yang panas dan gersang serta kotor, menjadi kota yang hijau dan nyaman. Surabaya menyabet berbagai penghargaan nasional dan interbasional. Antara lain, Asean Environt Sustainable City atau penataan lingkungan terbaik, Smart City Award dan Penghargaan Langit Biru.

Surabaya berhasil mendorong semua lapisan masyarakat untuk terlibat langsung menata lingkungannya sampai ke tingkat RT dan RW. Ini lantaran masyarakat masih memiliki ikatan emosional sebagai komunitas di komplek perumahan dan budaya bergotong royong yang masih terpelihara. Hanya saja, perlu stimulan dan pendorong secara terus menerus yang dilakukan Pemerintah Kota Batam.

Malah, wali kota Surabaya Tri Risma Harini, sebelum terpilih menjadi wali kota, pernah menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan Kota Surabaya hingga tahun 2010. Di masa kepemimpinannya di DKP, bahkan hingga kini menjadi Wali Kota Surabaya, ibukota Jawa Timur itu menjadi lebih asri dibandingkan sebelumnya. Lebih hijau dan lebih segar.

Ia membangun dan memugar taman yang dulunya mati, menjadi asri. Ia juga membangun pedestrian bagi pejalan kaki dengan konsep modern. Surabaya tiga kali meraih Adipura.  Selain itu, kepemimpinan Tri Risma juga membawa Surabaya menjadi kota yang terbaik partisipasinya se-Asia Pasifik tahun 2012 versi Citynet atas keberhasilan pemerintah kota dan partisipasi rakyat dalam mengelola lingkungan.

Pada Oktober 2013, Kota Surabaya di bawah kepemimpinannya memperoleh penghargaan tingkat Asia-Pasifik yaitu Future Government Awards 2013 dua bidang sekaligus yaitu data center dan inklusi digital menyisihkan 800 kota di seluruh Asia-Pasifik.

Sudah saatnya pula, Pemko Batam memberdayakan petugas kebersihan kota dan para pemulung, yang mau berkotor-kotor mengais sampah, baik di jalanan maupun di perumahan, mengumpulkan sampah dan barang bekas.

Sebab, jika diatur dengan sungguh-sungguh, mereka akan menjadi pasukan yang andal membebaskan Batam dari sampah. Tidak seperti selama ini, dicurigai memulung sebagai kedok untuk mencuri. Di beberapa komplek perumahan, sering ditemui tulisan: pemulung dan maling dilarang masuk.

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur, yang dijadikan pembuangan sampah, yang digunakan sejak tahun 1997, sebenarnya di bagian bawah dialasi dengan sejenis karpet tebal, sehingga cairan yang berasal dari sampah basah, bisa dimanfaatkan untuk pupuk cair. Harap dicatat, usia masa pakai TPA terbatas. Diprediksi, sebuah TPA hanya mampu bertahan selama 30 tahun. TPA tidak hanya menjadi timbunan sampah, tapi juga menghasilkan gas metan, lindi dan sampah plastik.

Singapura selangkah lebih maju. Sebuah pulau di bagian selatan Singapura, Pulau Semakau, dipilih sebagai tempat pembuangan akhir sampah-sampah masyarakat Singapura. Lahan seluas 350 hektare di pulau itu, diklaim mampu menampung  63 juta meter kubik sampah. Uniknya, sejak 2005 TPA di Pulau Semakau dibuka untuk umum, sebagai salah satu daya tarik wisata, terutama wisatawan yang ingin belajar soal ekologi. ***

February 5, 2014 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: