Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Festival Malamang & Marandang se-Kepri Pecahkan Rekor Muri

Buat 3.685 Lamang, Habiskan 2,5 Ton Ketan

BUNDO Kanduang Batam memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) kategori pembuatan lamang (lemang) terbanyak di acara Festival Malamang dan Marandang di area parkir Kepri Mall, Batam, Provinsi Kepri, Minggu (23/3/2014).

minang-marandang-9-des-2012-minggu-f-suprizal-tanjung-5 image

Para Bundo Kanduang (ibu-ibu) membuat randang saat Festival Randang se Batam, di Kepri Mall, Batam, Minggu (9/12/2012). F Suprizal Tanjung

Jusmaniar, 47, memegang bilah bambu sepanjang kira-kira 60 sentimeter di tangan kanannya. Bilah bambu berisi lamang, makanan dari beras ketan, itu disandarkan ke sebuah kayu. Di bawahnya, bara api dengan kepulan asap putih membakar bilah bambu tersebut.

Festival Merandang dan Melamang

IBU-IBU anggota Bundo Kanduang memasak lamang di Kepri Mall, Minggu (23/3/2014).  F. Cecep Mulyana

Ia membolak-balik bilah bambu itu. Selesai dengan satu bilah bambu, tangannya beralih ke bilah bambu lain. Begitu warnanya kecokelat-cokelatan, ia mengangkat bilah bambu itu dan meletakkannya ke meja di samping kirinya. “Ini sudah masak,” katanya.

Jusmaniar kemarin memang sedang memasak lamang. Namun, dia bukan memasaknya di rumahnya, tapi memasak di lapangan parkir Kepri Mall.

Ada sekitar seribu perempuan lain di area parkir itu, semuanya memasak. Ada yang memasak lamang, sebagian memasak rendang.

Mereka hadir di sana dalam acara Festival Malamang dan Marandang, sebuah acara memasak lamang dan rendang massal yang digelar oleh Bundo Kanduang.  Bundo Kanduang mengerahkan sekitar seribu orang, dari sepuluh kecamatan di Batam. Mereka membuat 3.685 lamang yang menghabiskan 2,5 ton beras ketan dan 2 ribu kilogram kelapa.

“Sebenarnya kami targetkan 4 ribu lamang, tapi kami juga sudah perkirakan bakal ada yang gak jadi,” ujar Ketua Panitia Acara Dra Hj Elmawati, didampingi Ketua Bundo Kanduang Batam Hj Betty Asmery, saat itu.

Dikemas dalam format festival budaya, acara ini mampu menyedot perhatian sekitar 2 ribu warga Minang di Batam. Bahkan, tak sedikit pengunjung yang berasal dari suku lain ikut tumpah ruah di acara yang direncanakan bakal digelar menjadi acara tahunan tersebut.

“Ke depan kami berencana acara semacam ini tak hanya berisi budaya Minang, tapi budaya nasional karena Batam itu multietnis,” kata wanita yang juga menjabat Sekretaris Umum Bundo Kanduang Batam tersebut.

Yang istimewa, acara memasak lamang dan rendang itu memecahkan rekor Muri. Jusuf Ngadri, Manager Muri, mengatakan pemecahan rekor lamang sebelumnya pernah diadakan di Tebing Tinggi Sumatera Utara pada Juli 2013 lalu. Bedanya, kata dia, pemecahan rekor di sana untuk banyaknya varian rasa lamang yang mencapai 96 rasa dari 2.112 lamang.

“Kalau sekarang kan pecah rekor untuk jumlah lamang terbanyak,” ujarnya.

Pada saat penjurian, kata Jusuf, pihaknya sempat menggugurkan sebanyak 16 lamang karena dinilai tak bisa dimakan. “Yang 16 buah tadi hangus, itu dianggap gak jadi lamang,” katanya.

Hanya saja, sambung dia, pihak peserta kemudian melengkapi dan memasak lagi sebanyak 31 lamang sehingga total di penjurian akhir  mencapai jumlah 3.685 lamang.

Kegiatan malamang (membuat lamang) itu juga dihelat berbarengan dengan lomba marandang (membuat rendang), lomba fotografi, dan juga fashion show busana khas Minang.
Wakil Wali Kota Batam Rudi yang juga hadir pada saat penyerahan piagam Muri mengatakan pihaknya menyambut baik kegiatan festival budaya semacam itu.

“Bagi warga Minang yang ada di Batam, acara ini bagus karena adat dan budaya itu tak boleh dilupakan,” ujarnya di depan ribuan peserta dan pengunjung.

Dari pelbagai suku dan etnis berbeda di Batam, Rudi ingin agar kota ini makin kaya dengan ragam khasanah budaya berbeda tapi tetap dalam satu kesatuan yang rukun dan damai. “Yang membangun Batam ya kita semua, dari semua suku,” katanya.

Di tempat yang sama, Ketua Komite IV DPD RI, Zulbahri yang ikut hadir pada acara itu mengatakan festival Malamang dan Marandang merupakan upaya untuk melestarikan kebudayaan Sumatera Barat yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional.

“Untuk masyarakat Batam, budaya-budaya daerah yang ada di Batam hendaknya menjadi budaya nasional dan pemerintah daerah harus mengakomodir itu,” katanya.

Bahkan, kata dia, para wakil rakyat di pusat juga tengah menggodok undang-undang tentang kebudayaan nasional untuk menjaga dan melestarikan kekayaan nasional tersebut. (rna)

Advertisements

March 24, 2014 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

1 Comment »


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: