Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Di Balik Layar Festival Sungai Carang (1)

Dari Kapal Hias, Helikopter, dan Pesawat Tempur

SOCRATES, Tanjungpinang

(Wakil Direktur Utama Batam Pos)

SUNGAI adalah sumber kehidupan dan  peradaban. Dari sungai suatu kelompok berkembang, menjadi kampung, negeri dan bandar yang ramai. Agaknya, seperti itulah berkembangnya Sungai Carang, lalu meredup dan dilupakan orang. Bagaimana lika-liku festival ini dipersiapkan dalam tempo dua bulan dan diharapkan menjadi ikon baru Kepri di masa datang?

socrates-selasa-23-april-2013-suprizal-tanjung-8 image

Socrates di Graha Pena, Batam Kota, Batam, Selasa (23/4/2013). F Suprizal Tanjung

Nama Sungai Carang nyaris dilupakan orang. Ada juga warga yang menyebut sungai ini Ulu Riau atau Riau Lama. Padahal, fakta dan bukti sejarah peran sungai yang melintasi Tanjungpinang itu, tak terbantahkan. Festival Sungai Carang berhasil mengingatkan orang peran strategis sungai ini di masa silam.

Selain tertera dalam peta Belanda, sampai hari ini, sungai itu masih menjadi tempat lalu lalang kapal barang, bongkar muat ikan sampai lalu lintas boat pancung kampung dari hulu hingga hilir sungai tersebut. Saya dan kawan-kawan dari Batam, baru tahu Sungai Carang saat diajak menyusuri sungai ini oleh Chairman Riau Pos Grup, Rida K Liamsi bersama sejarawan Aswandi Syahri, yang paham sejarah Sungai Carang.

Bagaimana agar nama Sungai Carang terangkat ke permukaan?
Gagasannya adalah sebuah festival, yang meriah, semarak dan melibatkan masyarakat. Rapat-rapat pun digelar, baik di Batam maupun di Tanjungpinang. Selain festival ini belum pernah diselenggarakan, waktu sangat terbatas. Lima tenaga desain grafis segera bekerja menciptakan logo, yang mengalami revisi sampai 23 kali!

Yang agak sulit, menerjemahkan gagasan besar itu secara kongkrit dalam bentuk kegiatan rangkaian festival.
Rangkaian kegiatan FSC diplot diawali dengan karnaval sungai, melukis 230 meter, membaca gurindam XII oleh 230 orang, pawai alegoris, parade drumband dan senam sehat dan ditutup dengan upacara peringatan hari jadi Tanjungpinang ke 230. Sehingga, FSC perdana ini berlangsung selama tujuh hari. Karnaval sungai yang direncanakan diikuti 230 kapal, berubah menjadi 44 kapal. Namun, setiap kapal ada yang berisi 23 orang, ada yang berisi 10 orang sehingga total penumpang kapal 2 kali 230 orang, yakni kapal 10 kampung dan kapal bertema tokoh sejarah Melayu Riau.

Kapal utama, dipastikan ikut beberapa hari menjelang acara. Yakni sebuah kapal model phinisi kapasitas 400 ton milik pengusaha Tarempa. Kapal dengan merek dinding Kumala Indah itu, dihias menjadi kapal Bulang Linggi, yang membawa 10 pulut kuning dan 230 bunga telor, lambang harapan masa depan yang dikawal 44 mahasiswa sebagai simbol generasi masa depan. Kapal yang sandar di depan Pulau Bayan itu lalu dihias. Kayunya keras sehingga susah dipaku. Malah, pakunya jatuh ke laut.

Menghias 23 kapal sejarah juga tidak semudah yang dibayangkan. Selain angin cukup kuat, kapal bisa oleng karena hiasannya ketinggian. Yang menarik, warga Kampung Bulang bersemangat menghias kapal mereka, diiringi musik. Kami panitia, berdebar-debar, apakah karnaval sungai ini bisa terlaksana, sesuai rencana. Ratusan umbul-umbul sudah terpasang. Termasuk spanduk sepanjang 100 meter yang membentang di sisi kiri jembatan. Insiden kecil terjadi saat sekelompok orang yang tidak berkenan dengan acara itu, melarang memasang umbul-umbul.

Hari yang ditunggu pun datang. Satu demi satu, kapal hias datang. Meski formasi peserta pawai sudah ditentukan, tidak mudah mengatur kapal di sungai itu. Saya lalu naik perahu dayung, mencoba menyusun formasi pawai. Rencananya, di depan ada kapal pandu yang menentukan kecepatan, kapal dari 10 kampung, lalu kapal sejarah dan diikuti kapal SAR dan kapal lainnya. Lantaran sebagian kapal muatannya ibu-ibu dan wanita, kesulitan datang saat mereka mau ke toilet. Untunglah, ditemukan solusinya. Ibu-ibu tadi dinaikkan ke kapal KPLP yang memang ada toiletnya, lalu kembali naik ke kapal hias.

Arus laut yang kuat  sehingga  makin sulit mengatur kapal peserta karnaval. Saat bersamaan, pilot helikopter AU yang membawa banner FCS menelepon, kapan harus terbang dan melintas di jembatan. Diusahakan, saat pawai sungai dilepas, heli terbang. Masalahnya, angin juga bertiup kencang. Yusuf Hidayat, satu-satunya fotografer yang ikut terbang di heli, mengaku pusing. Setelah para tetua adat menabur beras kuning, karnaval sungai pun dimulai. Saat bersamaan, helikopter dan pesawat Nomad TNI AU terbang rendah di permukaan sungai.

Dua mobil pemadam kebakaran, serentak menyemprotkan air sehingga menjadi konfigurasi lengkungan dari dua sisi sungai. Namun, musibah terjadi. Slang air berkekuatan tinggi itu terlepas sehingga mencelakakan seorang petugas pemadam kebakaran. Saya yang berdiri di atas kapal Citra Nusa sebagai kapal pandu,  tak kuasa menahan rasa haru. Acara yang disiapkan siang malam itu, akhirnya terlaksana juga. Apalagi, menyaksikan ribuan orang berdiri melepas pawai dari jembatan Engku Putri.

Sebanyak 230 pelajar SD, SMP, dan SMA menabuh kompang bertalu-talu. Masyarakat Tanjungpinang pun berbondong-bondong menyaksikan pawai sambil melambaikan tangan. Begitu pula anak buah kapal yang sandar di sepanjang sungai. Suasana sungguh kolosal. Saat kapal hias bergerak di bawah jembatan, helikopter pun melintas membawa banner dan pesawat tempur jenis Nomad terbang rendah di atas sungai.

Ternyata, tidak mudah mengatur pawai kapal hias itu. Selain arus dan angin yang kencang, jarak dari jembatan ke pelabuhan Sri Bintan Pura hanya 20 mil laut, sehingga perkiraan kapal merapat meleset. Padahal, sudah diagendakan ada prosesi mengarak pulut kuning dan bunga telor jam 14.00 sampai ke Gedung Daerah yang dikawal 44 mahasiswa. Di pelabuhan, bakal disambut 23 pesilat dan barisan 230 anak SD berpakaian Melayu dengan bunga manggar. Meski saya sudah berteriak-teriak dengan mengaphone agar peserta pawai jangan terlalu cepat, sia-sia saja karena suara saya lenyap ditelan angin. Sinyal telepon pun hilang-hilang timbul.

Penampilan kapal hias dari kampung-kampung itu memang menarik dan warna- warni. Ribuan warga Tanjungpinang menyambut di tepi laut. Namun, perkiraan kedatangan lebih cepat dari rencana. Skenarionya, kapal hias merapat di Ocean Corner dan kapal utama di dermaga Sri Bintan Pura dan disambut 230 barisan anak SD berpakaian Melayu dengan bunga manggar. Namun, tak semua kapal hias bisa merapat karena ombak kuat dan angin kencang. Peserta memilih sandar di pelantar I.

Saat bersamaan, Bulang Linggi juga sudah datang, lebih cepat dari rencana semula. Satu-satunya cara, kapal utama jangan sandar dulu, menunggu rombongan penyambut siap. Saya menelepon Khairudin nahkoda Bulang Linggi, agar jangan merapat dulu. Kapal itu lalu berputar di depan Pulau Penyengat menunggu sesaat. Barulah setelah Gubernur datang, barisan bunga manggar dan pesilat siap, kapal pun merapat.

Bunga telor diarak turun kapal oleh 44 mahasiswa dengan gagah. Lalu, pesilat menyambut Gubernur sebelum melangkah ke Gedung Daerah. Barisan anak SD berpakaian Melayu dan memegang bunga mangar berwarna-warni, menambah semarak arak-arakan itu.

Bunga telor dan pulut kuning itu, lalu diserahkan Gubernur Kepri kepada perwakilan sepuluh kampung. Sore itu juga, secara simbolis dibuka pameran kuliner Melayu di Ocean Corner dan pameran dokumentasi sejarah perjuangan Raja Haji Fisabilillah di Anjung Cahaya.

Karnaval Sungai Carang lalu disambut oleh rangkaian kegiatan Semarak Tanjungpinang yang digelar Dinas Pariwisata Pemko Tanjungpinang dan Lentera 2014 yang ditajaDinas Pariwisata Pemprov Kepri. Mulai dari panggung  kesenian, fashion carnaval hingga jodet Dangkong dari Lingga dan puncaknya sebanyak 5.000 lentera beterbangan di langit Tanjungpinang. Suasana Tanjungpinang sungguh semarak, dari pagi hingga malam detik-detik pergantian tahun baru 2014.

Hari kedua, dilanjutkan dengan karnaval melukis 230 meter oleh 230 orang pelajar se Tanjungpinang, bertema Sungai Carang dan sudut kota Tanjungpinang, dari pagi sampai sore.
Lukisan itu lalu digulung dan diserahkan ke Kepala Musium Tanjungpinang. Ternyata, ada juga lukisan abstrak yang cukup bagus yang dihasilkan dan bagaimana pelajar mengekspresikan dirinya sebagai warga Tanjungpinang.

Hari ketiga, digelar acara membaca Gurindam XII oleh 230 pelajar yang tampil mengesankan. Yang menarik, ada yang membaca diiringi musik, sambil bermain congkak serta diiringi marawis. Gurindam yang sarat dengan pesan moral, tidak hanya sekadar teks, tapi bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hari keempat, pawai alegoris perjuangan pahlawan nasional Raja Haji Fisabilillah yang diikuti ratusan mahasiswa se Tanjungpinang, juga berjalan meriah dan khidmat. Apalagi, saat bendera perang RHF yang mengalahkan belanda tanggal 6 Januari 230 tahun lalu dan kemudian diperingati sebagai hari jadi Kota Tanjungpinang dikibarkan, menimbulkan suasana haru dan patriotik. Parade drumband yang diikuti tujuh sekolah dengan jumlah peserta 450 orang, juga berlangsung meriah dan menarik perhatian warga Tanjungpinang. Atraksi paramotor membawa banner FSC di tepi laut, juga menjadi perhatian warga.

Malam penutupan FSC di hari keenam  juga berlangsung semarak. Diawali dengan penampilan gurindam dari tiga sekolah, parade musik senja dan konser Sekolah Tinggi Seni Riau, membawakan lagu-lagu Melayu, tampil mengesankan. Diselingi dengan lelang foto yang dibawa model berpakaian unik, foto eksotisme Sungai Carang dibeli Gubernur Kepri, Divre Pekanbaru dan tamu dari Negeri Sembilan, Malaysia.

Puncak acara penutupan ditandai dengan bersulang air selasih, minuman khas Melayu, tembakan meriam dan pistol suar yang memancarkan seberkas sinar merah ke langit Tanjungpinang oleh Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah.
Hari keenam, Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan, larut dalam kegiatan senam sehat bersama ribuan warga Tanjungpinang. Lalu menanam secara simbolis 230 pohon pelindung di tepi laut, melepaskan 230 ekor merpati dan berdialog dengan ribuan mahasiswa tentang entrepreneurship, berkaitan dengan ulang tahun kota Tanjungpinang.
Meski persiapan hanya dua bulan, berkat kerjasama dengan Pemprov Kepri, Pemko Tanjungpinang, dan Batampos Grup, serta ribuan pelajar dan masyarakat Tanjungpinang, Festival Sungai Carang berlangsung sukses dan meriah.
Mimpi besar Chairman Riau pos Grup Rida K Liamsi, Gubernur Kepri HM Sani dan Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah, Kepri punya even kolosal yang menjunjung sejarah dan tradisi Melayu, akhirnya terwujud. Penulis novel Timeline Michael Crichton mengutip Edward Jonston menyebutkan, orang yang tidak tahu sejarah, berarti tidak tahu apa-apa. (bersambung)

April 15, 2014 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: