Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Di Balik Layar Festival Sungai Carang (2-habis)

Luncurkan Sungai Carang River Cruise

SOCRATES, Tanjungpinang

(Wakil Direktur Utama Batam Pos)

Nama Sungai Carang  kembali bergema dan gaungnya mulai terdengar ke seantero Kepulauan Riau, Riau hingga negeri jiran. Festival Sungai Carang direncanakan menjadi festival tahunan dan kalender pariwisata, lalu apa nilai tambahnya bagi Kepri di masa datang?

socrates-selasa-23-april-2013-suprizal-tanjung-8 image

Socrates di Graha Pena, Batam Kota, Batam, Selasa (23/4/2013). F Suprizal Tanjung

Festival Sungai Carang sebagai event berbasis sejarah dan budaya Melayu, bertumpu pada partisipasi sosial. Mulai dari pelajar sampai mahasiswa hingga masyarakat luas. Peran sejarah Sungai Carang, eksistensi kerajaan Riau Lingga dan Johor, tokoh-tokoh sejarah yang menorehkan jejak dan kebesaran kebudayaan Melayu, mengobarkan semangat kemaritiman, berhasil membetot perhatian generasi muda.

Dalam catatan penggagas festival Sungai Carang, Rida K Liamsi, setidaknya ada tujuh keberhasilan yang dicapai kegiatan ini. Yakni, berhasil membangkitkan semangat generasi muda mencintai dan melestarikan budaya Melayu dan mengobarkan semangat kemaritiman. Berhasil menjadi event yang bersifat massal dan kolosal sebagai ikon baru pariwisata dan membuka peluang berkembangnya ekonomi kerakyatan.

Festival Sungai Carang mampu membangkitkan kebersamaan dan harmoni masyarakat serta berhasil membangun sistem informasi kepariwisataan yang lebih modern, dengan memanfaatkan teknologi multi media seperti website http://www.festivalsungaicarang.com, surat kabar, radio dan televisi hingga penyebaran brosur dan pengumuman melalui megaphone keliling kampung. Lagu Pulau Bintan pun menjadi offisial song festival ini.
Jumlah peserta cukup fantastis dan mampu melibatkan ribuan orang.

Jumlah total pelajar dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi yang tercatat sebagai peserta aktif adalah sebanyak 1.780 orang. Dan jumlah masyarakat yang terlibat sebagai peserta sebanyak 600 orang. Sehingga total jumlah peserta Festival Sungai Carang mencapai 2.380 orang. Ini belum termasuk penonton dan masyarakat yang menyaksikan acara ini.

Setidaknya, bagi ribuan peserta itu tadi, nama Sungai Carang tersimpan dalam ingatan sebagai festival pertama yang digelar berlatar sejarah dan budaya. Setelah festival kolosal ini digelar, lalu apa berikutnya? Apakah hanya akan menjadi kalender wisata tahunan selama sepekan, lalu hari-hari berikutnya dilupakan?

Mari kita bayangkan ini, seperti dicetuskan Rida K Limasi, budayawan, seniman, wartawan dan usahawan yang dibesarkan di Tanjungpinang itu.  Sebuah kapal wisata, berlayar mulai dari Anjung Cahaya sampai ke Kota Rebah, menikmati matahari senja, nyanyian hutan bakau, lalu singgah di restoran terapung menikmati juadah atau kuliner Melayu.

Penumpang kapal wisata itu, –bisa turis domestik atau mancanegara– lalu diajak mengunjungi tapak sejarah Melayu, menyuguhkan diorama atau sinopsis kebersaran kerajaan Riau Lingga, yang memiliki akar sejarah sampai ke semenanjung Malaysia, mengunjungi pusat-pusat kuliner dan kota Tanjungpinang. Sehingga, ekonomi kreatif masyarakat Tanjungpinang bisa bergerak dan hidup.

Sejak awal, kerangka bisnis festival Sungai Carang sudah diangankan. Misalnya, mendorong ibu-ibu menjual makahan khas Melayu. Dengan modal terbatas, ibu-ibu rumah tangga didorong membuat 23 jenis makanan dan minuman khas Melayu. Pembelinya pun disiapkan, yakni ribuan pelajar yang diberi kupon belanja. Maka, saat festival Sungai Carang berlangsung, makanan khas yang jarang ada di pasaran, diserbu pengunjung yang ingin mencicipi.

Dari Batam Pos Grup sendiri, menyediakan paket iklan khusus yang hanya terbit selama seminggu. Seorang pengusaha yang memanfaatkan paket iklan khusus ini selama tiga hari berturut-turut mengatakan, dampak iklan tersebut luar biasa.

‘’Wah, saya tak menyangka. Telepon saya berdering terus melihat ilkan satu halaman berwarna itu. Selain harganya murah, pengaruhnya besar sekali,’’ katanya.

Panitia juga menyediakan beragam pernak-pernik Festival Sungai Carang. Mulai dari kaos, topi, payung, slayer, pin, hingga bendera yang dijual kepada masyarakat. Selain laku, ternyata ada warga Bandung yang sedang berlibur di Tanjungpinang memborong kaos, topi  dan payung.

‘’Untuk oleh-oleh,’’ katanya, tersenyum. Aneka souvenir dan merchandise itu, berwarna khas Melayu: merah, kuning dan hijau.

Awalnya, selain melibatkan masyarakat Tanjungpinang secara massal, ada keinginan untuk melibatkan sepuluh kampung dalam berbagai kegiatan selama festival berlangsung. Sebab, selain lebih meriah, lebih mudah dibranding dan dikemas dalam paket wisata budaya. Setiap kampung satu kegiatan budaya  unggulan.

Kota Piring sebagai pusat pemerintahan dan komando Perang Riau, dijadikan lokasi pembukaan festival Sungai Carang dan sekaligus peletakan batu pertama pembangunan replika istana Kota Piring. Menurut sejarah, istana Kota Piring dibangun tahun 1777 oleh Raja Haji Fisabilillah. Istana ini tergolong indah dan unik karena dindingnya dihiasi dengan pinggan (piring) dan beberapa bagian dilapisi cermin dan tiangnya berbalut tembaga.

Sehingga, saat terkena cahaya sinar matahari siang atau sinar rembulan di malam hari, istana ini seperti memancarkan cahaya berkilau. Saking banyaknya piring di istana yang juga menjadi kediaman Raja Haji Fisabilillah ini, maka istana ini terkenal dengan nama Istana Kota Piring. Dari istana inilah Raja Haji Fisabillah mengomandoi Perang Riau yang terkenal itu melawan Belanda dan berhasil menenggelamkan kapal Belanda tanggal 6 Januari 1784 yang kemudian dijadikan sebagai hari jadi kota Tanjungpinang.

Di sepuluh kampung dari hulu sampai hilir Sungai Carang, diimpikan akan hidup oleh berbagai kegiatan. Di Kampung Melayu misalnya, dipusatkan sebagai ajang festival kesenian tradisional seperti lomba tari Melayu, joget Dangkong dan sebagainya. Di Kampung Bulang, ada bazar dan lomba kuliner  makanan Melayu antar RT/RW.

Sedangkan di Tanjungunggat digelar pesta permainan rakyat seperti gasing, layang-layang dan panjat batang pinang. Di Kampung Bugis ada lomba perahu layar dan dayung sampan, sedangkan di Penyengat digelar lomba baca Gurindam XII dan syair. Penutupan festival diselenggarakan di Plaza Raja Haji Fisabilillah.

Mari kita bayangkan sebentar. Betapa akan hidup suasana sepuluh kampung di Sungai Carang yang tidak hanya bernilai historis, tetapi juga berdampak sosiologis dalam bentuk harmoni hubungan sosial antar masyarakat serta ekonomis, sebagai upaya peningkatan ekonomi kerakyatan.

Saya membayangkan, suatu saat nanti, jembatan Engku Putri yang megah itu, dicat warna merah, kuning dan hijau. Lalu, kebiasaan warga akan berubah, tidak lagi membuat rumah membelakangi Sungai Carang, tapi menjadikan sungai bersejarah ini halaman depan dan berandanya.

Bagaimanapun, Festival Sungai Carang 2014 berhasil meletakkan kerangka bisnis Tanjungpinang masa depan. Selain tetap jadi kenangan, Sungai Carang bisa menjadi gaya hidup baru warga Kepulauan Riau, khususnya sektor pariwisata dan hiburan. Harap dicatat, Kepulauan Riau memiliki 2.408 pulau dan 95 persen lautan.

Saat penutupan Festival Sungai Carang, 5 Januari 2014, dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Batam Pos Multi Karya, PT Tanjungpinang Makmur Bersama serta Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Tanjungpinang. Tujuannya adalah, kerjasama pengelolaan  dan pengembangan paket wisata Sungai Carang.

Perusahaan bersama yang digagas itu namanya Cahaya Sungai Carang, kerjasama antara PT Batam Pos Multi Karya dan PT Tanjungpinang Makmur Bersama yang akan mengelola paket wisata Sungai Carang. Gayung pun bersambut. Sebuah perusahaan tour and travel Mahanta Karya atau dikenal dengan Emka Tour yang berpengalaman sebagai tour operator dan event organizer serta PT Prima Buana Gema Bahari akan bekerjasama mengelola paket wisata Sungai Carang.

Bos Emka Tour Sapril yang mengelola bisnis pariwisata sejak 11 tahun lalu, berupaya mengenalkan berbagai destinasi wisata baru di Tanjungpinang dan Kepulauan Riau. Namun, sebagian besar wisatawan yang datang menyelipkan acara wisata dalam kegiatan kunjungan kerja.

‘’Kunjungan wisatawan yang paling utama adalah ke Pulau Penyengat. Ada beberapa obyek wisata baru yang kita kenalkan seperti ke Pulau Kuku di Anambas melihat kehidupan pengungsi Vietnam yang lebih duluan ada dibanding di Pulau Galang, Batam,’’ ujar Sapril.

Selain itu, juga ada wisata ke Pulau Mapur di Bintan dengan paket snorkling dan Pesta Gonggong di Busung, turis bisa cari gonggong dan memasaknya sendiri. Permah juga diadakan Tour de Benan di Lingga.

Sementara itu, PT Prima Buana Gema Bahari, pemilik kapal juga berminat mengembangkan kapal pesiar yang dirancang untuk wisata bahari seperti kegiatan memancing, snorkling, diving bahkan bisa untuk meeting dan wedding. Interior dan eksterior kapal tersebut juga dirancang untuk kapal wisata. Selain rute Sungai Carang, kapal ini juga bisa digunakan untuk wisata antar pulau.

Bagaimana dengan paket wisata kapal pesiar Sungai Carang? ‘’Wisata sungai ini akan menjadi magnet baru wisatawan yang diokombinasikan dengan kunjungan ke Penyengat. Di negara lain, river cruise sangat diminati,’’ kata Sapril, optimis.

Sebagai provinsi bahari, Kepulauan Riau sangat layak memiliki kapal pesiar sungai.
Di dunia, hanya ada tujuh kapal pesiar sungai yang terkenal. Yakni, Viking River Cruise yang berlayar di sungai Rhine, The River Saigon di Vietnam, Uniworld River Cruises yang melayari tiga negara di Eropa sekaligus, Avalon Scenery di Perancis, Noble Caledonia Cruises di Rusia, Sanctuary MS Yangzi Explorer di China dan Orient Pandaw di Serawak, Malaysia. Negeri jiran ini juga memiliki Melaka River Cruise.

Sangat pantas, Kepulauan Riau memiliki kapal pesiar sungai. Dan Insya Allah, dalam waktu dekat akan diluncurkan kapal pesiar Sungai Carang Cruise, menjelang pelaksanaan Festival Sungai Carang 2015.

Kendati tantangan terbesar menggelar acara pada bulan Desember adalah musim hujan, ombak  dan angin yang kuat, bukan tak mungkin Festival Sungai Carang digelar dari sore hingga detik-detik pergantian tahun. Kapal-kapal hias dengan lampu warna-warni, sinar laser dan obor di pinggir sungai, bisa jadi Sungai Carang akan lebih hebat daripada sungai Huang Pu di Shanghai. ***

April 16, 2014 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: