Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Minang Saisuak, Memori Palayangan Lintas Sumatera (1970-an)

Sarana Trasportasi Orang Minang saat Pergi dan Pulang Merantau

SUDAH beberapa kali rubrik Minang Saisuak menurunkan foto-foto klasik tentang sarana transportasi yang digunakan oleh orang Minangkabau pergi dan pulang dari rantau pada era 1970-an dan 1980-an. (lihat misalnya edisi 18 Mei dan 8 Juni 2014).

40f58dce972321351db40c65bacdbf76_minang-saisuak-memori-palayangan-lintas-sumatera-c-1970-an

Bus ANS hidung datar yang sangat populer di tahun 1970-an dan 80-an naik di atas Pelayangan Pulau Punjuang. Di seberang sana tampak pula beberapa bus yang sedang antre menunggu giliran untuk diseberangkan.

Dan juga sudah beberapa kali rubrik ini menurunkan foto-foto klasik mengenai pelayangan yang merupakan salah satu sarana transportasi yang penting di masa lampau untuk menyambungkan jalur jalan darat yang terputus karena terhadang aliran sungai-sungai besar (lihat edisi 8 Juli 2012 & 24 Februari 2013).

Foto kenangan kita kali ini, yang muncul pertama kali di laman Facebook (FB) Lamiak Vannhalen, mengabadikan sebuah pelayangan di Sumatera. Menurut wartawan senior harian Singgalang, Sawir Pribadi St. Soelaiman, pelayangan ini adalah Pelayangan Pulau Punjuang yang digunakan untuk menyeberangi Sungai Kampar yang cukup lebar itu. Foto ini mungkin dibuat pada pertengahan 1970-an.

Pelayangan (palayangan dalam bahasa Minangkabau) adalah sarana penyeberangan yang digunakan untuk menyeberangi sungai-sungai yang relatif besar di Sumatera. Kata itu tampaknya derivasi dari kata layang, yang dalam konteks ini mungkin maksudnya adalah melayang di atas permukaan air (sungai). Seperti terlihat di foto ini, pelayangan biasanya dibuat dari susunan papan dari kayu yang kuat yang ditaruh bersusun di antara dua buah sampan besar. Fungsinya adalah untuk menggantikan jembatan yang karena alasan keuangan dan teknologi belum bisa dibangun oleh pemerintah.

Pelayangan Pulau Punjuang adalah salah satu palayangan yang harus ditempuh oleh kendaraan umum antar provinsi yang melayani trayek Sumatera Barat dan kota-kota rantau orang Minang di bagian selatan Sumatera hingga ke Jakarta. Pelayangan-pelayangan lain yang selalu terkenang dalam ingatan para perantau Minang generasi zaman itu antara lain adalah Pelayangan Siak-Perawang dan Pelayangan Rantau Berangin.

Dalam foto ini terlihat bus ANS hidung datar yang sangat populer di tahun 1970-an dan 80-an sedang bertengger di atas Pelayangan Pulau Punjuang. Di seberang sana tampak pula beberapa bus yang sedang antri menunggu giliran untuk diseberangkan. Foto ini tentu dapat membangkitkan kenangan para perantau Minang yang merintis karier perantauan mereka di tahun 1970-an sampai awal 1980-an. Belum diperoleh informasi berapa ongkos untuk menyeberangkan sebuah bus dengan memakai jasa pelayangan.

“Wah, saya teringat pada tahun 1974 ketika mau pergi ke Yogya, saya naik kendaraan ini dan menyeberang dengan menggunakan pelayangan. Di saat itu kalau mau ke Jakarta dari Padang, kita naik pelayangan sebanyak 3 kali, kalau ndak salah. Waktu itu, saya naik ANS Mercy yang di dalamnya sangat sempit. Sungguh perjalanan yang berat, bisa 2 hari 2 malam, itu kalau normal. Kalau terjebak lumpur alamat akan lebih lama lagi di jalan, karena jalan belum diaspal. Mellihat gambar ini, teringat masa lalu,” kenang perantau Minang, Ivan St. Maradjo Bunsu di laman FB Lamiak Vannhalen.

Perantau senior, Andris Syahroeddin menulis di laman fb hamba: Sebelum bus ALS, ANS, dan lain-lain. muncul sebelum tahun 1974, sarana transportasi primadona yang dipakai oleh para perantau Minang adalah kapal, seperti Kapal Koan Maru, Belle Abetto, dan Batang Hari. Semua berangkat dari Teluk Bayur, sehingga memunculkan lagu Teluk Bayur-nya Erni Djohan.

Image tentang rantau terus berubah mengikut modernisasi moda transportasi. Kini para perantau naik “Pelayangan Garuda”, “Pelayangan Lion Air”, dan lain-lain. Naik pelayangan canggih ini lain pula rasa gamang yang dirasakan.

Suryadi – Leiden, Belanda (Sumber foto: Fb Lamiak Vannhalen) | Singgalang, Minggu, 6 Juli 2014

http://niadilova.blogdetik.com/index.php/archives/1315

Untuk Tambahan

bis-ans-76

Bus ANS jurusan Padang Jakarta, tahun 1976, dilihat dari dekat.

Advertisements

December 7, 2014 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: