Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Pemko Batam dan Tim Terpadu Harus Tegas Melakukan Penertiban

Mengapa Kios PK5, Kios Liar, dan Ruli Tak Ada di Malaysia Singapura?

Opini: SUPRIZAL TANJUNG, Batam

BAGI kita yang pernah datang ke Malaysia dan Singapura, sangat sedih dan malu rasanya melihat banyaknya kios pedagang kaki lima (PK5), kios liar, rumah liar (ruli) di Batam. Bagaimana tidak, dua negara jiran tersebut sangat bersih, teratur. Carilah kios pedagang kaki lima (PK5), kios liar, rumah liar (ruli), dan sampah berserakan di sana. Tidak akan ada.

Opini, Kamis 10 September 2015, F Suprizal Tanjung image

Opini ini naik di Batam Pos, Kamis 10 September 2015.

Penduduk negara jiran tadi hidup teratur, patuh terhadap hukum. Mereka tidak perlu membangun kios liar, kios PK5, atau ruli. Bagi warganya yang ingin tempat tinggal, bisa menyewa di rumah susun, atau kondominium. Warga Malaysia Singapura yang ingin berusaha, tidak perlu membuat kios PK5 atau membangun/ menyewa kios liar di pinggir jalan seperti di Jalan Karapu Kelurahan Tanjungsengkuang.

Mereka cukup mengeluarkan sejumlah uang untuk menyewa konter di mal, supermarket. Bila uang berlebih, warganya bisa membangun/ membeli rumah toko (ruko) untuk tempat usaha.

Kita yang datang ke negara tersebut, jadi terkagum-kagum, bangga, sekaligus iri. Kapan Batam (Indonesia) bisa seperti mereka dalam hal kebersihan dan ketertiban?

Lantas, bodohkan kita orang Indonesia? Tidak. Kita pintar-pintar. Tidak indahkan negara kita? Negara kita indah, subur, dan kaya. Tapi kita kurang menghargai anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita.

Warna negara Jiran lebih menyukai hidup di rumah susun, kondominium, atau berusaha pada konter di mal, supermarket. Mereka jadi terhormat, hidup bersih, lingkungan tidak bau, tidak ada tikus, jauh dari pencopet, jauh dari rampok atau maling.

Di sana, warga atau pedagang mendapatkan fasilitas air, listrik, terhindar dari panas dan hujan, tempat bersih. Tinggal atau berusaha pada tempatnya, pastilah memberikan rasa bangga, menempatkan diri secara terhormat, tidak kepanasan, tidak kehujanan, tidak dikejar-kejar tim terpadu seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), polisi, atau TNI.

Lalu bagaimana dengan penduduk Indonesia, Batam khususnya? Penduduk kita tidak segan untuk menyewa kios di tepi jalan, atau membuat gerobak untu berusaha di tepi jalan. Warga kita tidak ragu untuk tinggal di ruli dengan segala kekurangannya.

Namanya ruli, kios liar, kios PK5, jelas tidak memiliki air, listrik, jalan yang baik dan sebagainya. Kalaupun ada air, listrik, tentu tidak semua pedagang/ warga yang mendapatkan fasilitas ini. Jika dapat air atau listrik, bisa jadi itu didapat secara ilegal. Warga/ atau pedagang bisa juga mendapatkan air bersih dari mobil tangki, yang sumber airnya entah dari sungai, danau, got, atau sumur yang tidak jelas kebersihannya.

Jika kota kotor, banyak ruli, banyak PK5, banyak kios liar, akan berdampak kepada arus wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnu). Wisatawan mana yang mau datang bila Batam kotor. Kalaupun ada wisatawan datang ke Batam. Itu bukan pilihan utama. Tapi pilihan kedua atau ketiga. Batam jadi hancur dan rugi dari sektor wisata.

Kita sebagai masyarakat yang mengetahui tentang keteraturan, kebersihan ala Malaysia dan Singapura, perlu mendukung program kerja Pemerintah Kota (Pemko) Batam melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Batam, dan Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Oknum tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), oknum aparat, oknum pejabat kiranya harus berhenti membekingi dan ikut menanam saham dalam pembangunan ruli, kios liar, kios PK5.

Khusus kios liar, kios PK5, dan ruli yang ada di Batam. Mengapa itu bisa ada dan terus dibangun? Contohnya saja kios liar yang ada di depan Kompleks Batam Center Motor (BCM), Seraya Atas.

Dulu ada seorang warga yang mengeluh kenapa kios itu tetap berdiri? Kalau memang warga ada yang berusaha, kenapa tidak menyewa di BCM?

Jika dibiarkan kios liar itu berdiri, sudah pasti, pemilik BCM dan pedagang di BCM akan rugi besar. Sebab kios-kios liar itu akan menutup halaman/ pemandangan kios resmi di BCM. Wajah kios di BCM akan tertutup dengan kios liar.

Dampaknya, pedagang yang menyewa di BCM pelan-pelan akan sepi dan ditinggalkan pembeli. Akhirnya lagi, pedagang di BCM akan rugi. Pemilik BCM juga rugi besar karena belum sempat balik modal pembangunan BCM, BCM-nya sudah duluan sepi dan ditinggalkan pedagang.

Kenapa pedagang kita lebih memilih ruli, kios PK5, kios liar? Kayakah kita dengan hal ilegal tadi? Lalu, miskinkah pedagang/ masyarakat jika tinggal atau berdagang di tempat yang legal (benar, resmi)?

Kalau tidak bisa kaya karena ruli, kios liar, kios PK5, kenapa harus memilih itu? Berusaha dan tinggallah di tempat yang resmi.

Hal yang ikut menumbuhsuburkan kios liar, PK5 dan ruli adalah pembeli. Pembeli lebih suka berbelanja di kios liar yang jelas harganya lebih murah sedikit.

Akibat nantinya, pedagang akan meninggalkan BCM karena sepi pembeli. Kini saja sudah banyak kios di BCM yang kosong. BCM hanya satu contoh. Coba lihat, berapa banyak pasar pemerintah, pasar rakyat, supermarket, mal, ruko yang mati tidak ada penyewanya.

Contoh l ain, Pasar Induk Jodoh yang diresmikan 2004 lalu, kini telah ‘’mati’ dan menjadi gudang dan tempat kumpul kebo.

Pelan tapi pasti, berdagang di kios resmi atau ruko bukan lagi menjadi pilihan pedagang/ pengusaha di Batam, dan Indonesia pada umumnya.

Mengapa kios dan ruli tadi berdiri? Kenapa tidak ada penertiban? Takutkah BP Batam, Pemko Batam, atau aparat? Jangan ketika ada anggaran, baru ada penertiban.

Penertiban harus berkelanjutan dan didasari atas rasa cinta untuk menciptakan Batam bersih. Jangan berhenti walau ada protes dari masyarakat. Dimana-mana, kebaikan memang banyak yang menentang. Pemerintah harus jalan terus dengan program kebersihan dan ketertiban.

Karena sistem yang tidak dipatuhi. Warga Batam (Indonesia) lebih suka berjualan, membuka usaha bengkel, sembako dan lainnya di kios liar, PK5 yang tidak ada pajaknya.

Beruntungkah Pemko Batam? Sudah pasti rugi. Tidak pernah kios liar, kios PK5, atau ruli memberikan pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Batam. Kalaupun ada pemasukan dari kios liar, ruli, kios PK5, semuanya untuk oknum tertentu, bukan untuk PAD Batam, kota kabupaten atau provinsi lain di Indonesia.

Sebagian warga kita juga salah. Mereka lepas tangan terhadap kebersihan dan ketertiban. Kebersihan dan ketertiban dan dianggap tanggungjawab pemerintah, bukan masyarakat.

Pemerintah yang sungguh-sungguh bekerja melakukan penertiban dan kebersihan, jadinya kalang kabut, dicaci maki, dan didemo. Penertiban yang dilakukan pemerintah dianggap sebagai sebuah kesalahan.

Padahal, untuk melakukan penertiban, dengan menurunkan tim terpadu, pemerintah harus mengeluarkan dana tidak sedikit. Bahkan sampai ratusan juta rupiah.

Jika kios liar, kios PK5, dan ruli masih saja marak dan dibengkingi berbagai oknum pemerintah, LSM, tokoh masyarakat, dan lainnya, maka salah satu jalan terburuk adalah, membawa oknum tadi pergi ‘’study banding’’ ke Malaysia dan Singapura.

Lihatlah betapa bersih, rapi, dan teraturnya warganya dalam berusaha, bertempat tinggal, dan lainnya. Jika kita tidak mau mencontoh. Maka Batam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini akan tetap tertinggal, minimal tertinggal dalam bidang kebersihan (kios liar, kios PK5, ruli) dengan Malaysia dan Singapura.

Kapan bangsa kita ini, NKRI ini jadi terhormat. Jika masalah PK5, kios liar, ruli saja tidak teratasi. ***

Advertisements

July 29, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: