Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Harimau Dihujat, Kambing Saling Bunuh, Bunglon Dimana-Mana

Anjing Kesulitan Menjaga Hutan yang Kacau Balau

Oleh SUPRIZAL TANJUNG, Batam

DULU, kami, rakyat kambing, semut, bekicot, ayam, beruk, anjing, kuda, sapi, kerbau, gajah dan seluruh isi negeri bernama Hutan Antah (antah, entah, tidak tahu, red) ini hidup di hutan yang subur, hijau, sejuk, tenang, aman, dan nyaman.

Bengal_Tiger_in_Bangalore image 2

Harimau, sang raja hutan.

Pohon-pohon tumbuh dengan lebatnya, isi hutan kami berlimpah, air banyak, rumput sebagai sumber makanan menghijau, dan ada di setiap tempat. Sumber Daya Alam (SDA) kami berlimpah. Kami kaya raya.

Kami hidup dengan penuh kasih sayang antara sesama isi hutan. Tak pernah kami bertengkar, apalagi saling menyakiti antara sesama.

Raja kami, harimau, mempimpin kami dengan tegas, dan bijaksana. Hukum rimba dijalankan dengan baik.

A kata raja, maka A kami lakukan. Z perintah sang raja, maka Z yang kami kerjakan. Perintah raja kami lakukan, bukan karena takut. Kepatuhan itu murni sebagai bentuk pengabdian, terima kasih, dan kasih sayang kepada sang raja terhormat.

Di masa pemerintahan terdahulu, raja kami memberikan kekuasaan kepada raja anjing untuk menjaga Hutan Antah. Raja anjing  dibantu badak, beruang, dan hewan pemberani lainnya, mengomandoi ratusan ribu, bahkan sampai jutaan anjing  pemberani dan terlatih. Mereka mampu menjadikan hutan kami, aman, berwibawa, dan sejahtara.

Berkat komando anjing, sektor keamanan sangat kondusif. Pada era itu, hanya sedikit, bahkan nyaris tidak ada kasus kriminal di tengah komunitas hewan. Anjing, kambing, dan penghuni Hutan Antah, bergandengan tangan menjaga keamanan. Keamanan, menjadi kewajiban bersama seluruh penghuni Hutan Antah. Kami tidak membebankan begitu saja kepada anjing.

Hutan Antah jauh dari demo, keributan, dan huru-hara. Hukum rimba sangat kami junjung tinggi. Keamanan adalah faktor utama untuk melahirkan kondisi sehat, sejahtera di tengah rakyat hutan.

Fenomena ini, melahirkan keadaan positif. Di hutan kami, hanya ada sedikit kasus, tikus mencuri padi milik kerbau, tidak ada penipuan antara biawak dan buaya, tidak ada saling gunjing antara bunglon dan iguana.

Tidak ada tanduk menanduk antara kambing, kerbau, dan sapi. Tidak ada saling menjilat antara ular, biawak, buaya, komodo yang berujung pada saling gigi, cakar, dan memnunuh.

Bahkan tidak ada kasus perkosaan kepada hewan betina, seperti yang kerap terjadi di dunia manusia. Luar biasa. Begitu hebatnya. Begitu amannya Hutan Antah kami.

Kami bersama keluarga hewan, makan dan minum di sungai, rawa, danau, bukit, gunung, di atas pohon, di bawah pohon, rawa, danau, sungai, dan dimanapun dengan perasaan lepas. Tidak ada rasa khawatir, tiada rasa takut. Tawa dan senyum kami terlihat sepanjang hari.

Kondisi itu, membuat kami, para kambing dan penghuni Hutan Antah menjadi menjadi sangat bahagia. Sedikit saja rumput yang kami makan, telah mengenyangkan, apalagi makan banyak.

Lebatnya hutan belantara, banyaknya persediaan rumbut, tidak membuat kami lupa diri. Kami makan secukupnya, tidak berlebihan. Ini untuk menghindari agar kami, para hewan, memiliki tubuh sehat, kuat, dan tidak berpenyakit.

Rakyat hutan semok-semok (montok, red). Kami bahagia dan bersyukur kepada sang raja rimba, sang raja hutan, baginda harimau.harimau

Tak lupa, ucapan terima kasih kepada anjing sang penjaga hutan, kancil sang penasehat raja, dan para petinggi-petinggi Hutan Antah, yang telah memerintah, mengamankan, dan mensejahterakan kami, rakyatnya. Sekali lagi. Terima kasih.

Kami juga tidak lupa bersyukur kepada Tuhan, atas karunia kesehatan, keselamatan, umur panjang, dan diberikan pemimpin yang baik, bijaksana di negeri Hutan Antah  ini.

Di tengah kesejahteraan kami tinggal di Hutan Antah yang kaya raya ini, kami tidak segan membantu, kambing dan hewan lain yang hutan lai yang tidak memiliki persediaan rumput dan makanan cukup banyak. Rumput kami, bahkan sampai dikirim ke hutan lain, yang dilanda kekeringan dan kemarau panjang.

Nama Hutan Antah sangat dikenal dan harum dalam dunia hutan belantara secara internasional. Kami dikenal kaya raya. Semua ditunjang lagi faktor keamanan yang sangat tinggi, dan kebijakan raja kami yang terhomat, harimau.

***

Pada masa itu, sedikit sekali terdengan kabar, ada kambing, anjing, beruang, dan penghuni hutan lain masuk ke hutan kami. Anjing, beruang hutan lain saja tidak berani masuk, apalagi kambing-kambing yang lemah. Kambing dan anjing, beruang dari hutan mana yang tidak berpikir 100 kali, untuk masuk ke Hutan Antah, terlebih ingin menguasai hutan belantara kami.

Jika ada yang coba mengganggu, anjing, beruang. Kami, sang kambing ini, siap mempertajam tanduk, mengasah gigi dan taring, dan berada di front terdepan, bertempur di perbatasan hutan. Jika perlu, kami siap masuk ke hutan lain. Kami akan menanduk, menggigit seluruh penghuni hutan lain.

Memang kami cuma kambing, yang hanya pandai meng-embek-embek. Tapi, kalau kami sudah mengamuk, maka nyali kami lebih besar dari anjing, beruang, buaya, biawak, komodo, dan hewan buas lainnya.

Jangan, jangan sampai kami marah, dan pertempuran antar hutan terjadi. Kami tetap lah kambing. Tidak pernah, dan semoga tidak akan pernah menumpahkan darah kambing, darah anjing, beruang, dan darah penghuni hutan lain tanpa sebab dan alaan yang jelas dan benar.

Kami tidak pernah ada niat untuk menjajah hutan lain. Kami adalah kambing dan rakyat Hutan Antah yang beradab, penuh sopan santung, saling menghargai. Itu telah diakui oleh penghuni hutan secara internasional. Undang-Undang Hutan Internasional pun melarang saling menjajah hutan lain.

***

Memang dulu, kami, penghuni Hutan Antah melawan kambing-kambing dan anjing  dari negeri lain. Tapi, itu terjadi dalam kerangka pembelaan, mempertahankan harga diri. Bukan menyerang.

Kami marah, karena Hutan Antah kami diganggu, rumput kami diambil, air kami dicuri, hutan kami dijarah, lalu dibawa ke negeri hutan mereka nun jauh di sana. Hutan kami dikuasai. Kami tidak dihargai. Hewan lain menjadikan kami sebagai penonton di hutan sendiri.

Bukan hanya itu, kambing-kambing kami ikut dibawa ke hutan lain. Hewan-hewan dari Hutan Antah disiksa, disuruh kerja paksa, untuk menggarap hutan belantara lain agar menjadi subur. Sangat sedih, membayangkan penderitaan kambing-kambing, dan hewan lain Hutan  Antah ketika itu.

Tapi setelah kami, jenis kambing, rakyat hutan, anjing, beruang, dan semuanya bersatu, maka hutan kami yang telah dikuasai hewan dari hutan lain, kami bisa kuasai kembali.

Anjing dan kambing penjajah banyak yang mati. Korban dari pihak kami tidak sedikit. Kebersamaan membuat kami kuat. Anjing dan kambing dari negeri, lain lari tunggang langgang karena kami gigit, koyak-koyak, kami tanduk. Yang masih hidup kami kejar-kejar.

Sampai sekarang, anjing, beruang dan kambing dari hutan manapun, tidak berani macam-macam, mengusik hutan kami, apalagi berniat mengusai hutan lebat yang kami cintai ini. Hutan Antah tetap menjadi milik kami, kambing, anjing, semut, ayam, beruk (monyet), anjing, beruang, kuda, sapi, kerbau, biawak, buaya, ular, gajah dan seluruh isi hutan lainnya.

***

Lalu berbahagiakah kami para penghuni Hutan Antah ini? Masihkan kami sejahtara? Itu adalah cerita dulu. Terus kini bagaimana?

Kini situasinya berbeda. Negeri kami tercinta, Hutan Antah yang kami sayangi ini tidak lagi sejuk. Air di rawa, sungai, danau, gunung sudah mulai kering, bahkan ada beberapa yang tidak ada air sama sekali.

Pohon-pohon raksasa tempat kami berteduh dari panas dan hujan, kini mulai layu dan tidak kokoh untuk disandari. Daunnya rontok, akarnya rapuh menahan beban kayu berat yang sudah tua. Udara juga tidak lagi sejuk.

Daun-daun dari pohon layu tadi  jatuh berserakan ke tanah. Beberapa jam saja matahari bersinar, hawa di Hutan Antah jadi berubah, sangat panas. Tidak sedikit hewan yang mati kepanasan.

Pada beberapa hutan kecil terjadi kebakaran. Ini terjadi karena ulah para manusia, para pemburu, yang dengan seenaknya membuang puntung rokok, membuat api unggun, bahkan membakar isi hutan kami.

Beberapa hutan kami telah tandus. Ketika hujan turun, banjir terjadi dimana-mana. Kami lari tunggang langgang menyelamatkan diri, naik ke bukit atau gunung. Sayang, banjir terlalu cepat datang. Belum sempat menyelamatkan diri, anak dan istri, kawan, tetangga telah hanyut dibawa air, tenggelam, dan mati. Seluruh sektor kehidupan terganggu. Beberapa sektor malah terhambat, dan mati. Sedih.

Penderitaan kami semakin bertambah akibat ulah manusia, para penebang liar. Mereka lebih ganas dari serigala. Manusia tanpa peri kemanusiaan, menebang hutan kami dalam skala besar. Terakhir, hutan yang mulai tak berbentuk itu, mereka bakar untuk lahan pemukiman mereka.

Kami, kambing, anjing, semut, bekicot, ayam, beruk (monyet), anjing, beruang, kuda, sapi, kerbau, biawak, buaya, ular, gajah dan seluruh isi hutan lainnya semakin terjepit. Hidup susah. Makan susah didapat. Benar-benar susah.

Kami mencoba pindah ke hutan lain yang belum terjamah para pemburu, dan pembalak liar, tapi kondisinya tetap sama, memprihatinkan. Di hutan baru ada lagi masalah baru, kami tidak diterima penghuni lama. Kami diusir. Akhirnya kami kembali ke Hutan Antah, tanah tumpah darah kami, suka atau tidak suka.

***

Lalu, sudah selesaikan masalah itu? Belum. Persoalan dan penderitaan kami rakyat Hutan Antah masih berkelanjutan.

Hutan yang gundul, pembakaran hutan, penebangan hutan tetap saja tejadi. Itu membuat kami hidup kocar kacir. Hutan yang menjadi rumah utama kami, kini tidak lagi menjadi tempat yang nyaman.  Tidur kami tidak lagi nyenyak. Senyum dan tawa kami hilang. Kami tidak lagi nyaman dan sejahtera di Hutan Antah tempat kami dilahirkan.

Rumput tidak lagi  hijau, kuning, kering, dan mati. Sumber makanan ini susah didapat, dan langka. Kami kelaparan. Jika ingin mendapatkan rumput, harus antre menunggu giliran untuk makan.

Kadang rumput belum dikunyah, perut sudah sakit duluan. Kami busung lapar. Tidak sedikit hewan mati menahan lapar, atau mati karena saling membunuh karena berebut rumput.

Rumput tidak lagi tumbuh dengan subur. Mau makan rumput segar harus didatangkan dari negeri hutan  lain.

Kami para kambing, kerbau, sapi, kuda dan hewat lain, yang makanan utamanya adalah rumput, saling berebut makanan. Setiap penghuni hutan yang menemukan rumput segar, selalu berebut untuk makan, dan ini menjadi sengketa. Paling parah, kambing, kerbau, sapi, kuda dan hewan lain kini saling tanduk, saling bunuh demi mendapatkan sesuap rumput. Kami juga ribut untuk mendapatkan tempat tinggal yang nyaman di hutan yang luas ini.

Kambing yang satu mencurigai kambing lain. Tipu menipu dilakukan. Rasa kekeluargaan antara hewan tidak lagi berjalan. Rasa kehewanan sebagian kami, telah berganti menjadi rasa kemanusiaan. Ngeri !!! Hutan Antah tidak lagi aman.

Anjing sebagai penjaga Hutan Antah tidak lagi dihargai. Kalaupun dulu ada kasus, anjing pemberani dan terlatih mati terbunuh oleh hewan lain, itu karena dikeroyok, dan pelakunya adalah babi, buaya, ular, badak, atau hewan buas lainnya.

Kini ironi, anjing  hutan dikeroyok, ditanduk, dan dibunuh ramai-ramai oleh kambing dan hewan lemah lainnya. Anjing tidak terlatih, tidak masuk hitungan. Mereka makin tidak dihargai oleh para kambing dan penghuni hutan yang tidak sopan, dan mulai besar kepala.

Belum pernah ini terjadi di masa-masa nenek moyang hewan sebelumnya, anjing mati terbunuh, cuma oleh cacing, bekicot, kambing, ayam, itik, dan penghuni hutan lemah lainnya. Tapi itu kini bukan lagi hal mengherankan.  Semua kini bisa terjadi, tanpa disangka-sangka.

Kasus kriminal meningkat. Ada kasus, kambing, kuda, sapi, kerbau yang sudah mendapatkan rumput, mendadak punya ambisi lain. Sekarung rumput untuk anak istrinya tidak cukup. Kambing, kuda, sapi, kerbau dibantu biawak, buaya, komodo, dan ular, kadang secara sengaja menghalangi kambing lain untuk makan.

Rumput yang dulu gratis, kini diperjualbelikan. Rumput-rumput yang ada, tidak lagi diperuntukkan untuk kambing dan penghuni Hutan Antah. Rumput hijau dan segar milik Hutan Antah malah dikirim ke hutan lain. Rumput hijau dan gratis hanyalah sejarah dari orang-orang tua kami.

***

Kami, beberapa kambing yang cukup cerdik di Hutan Antah mencoba menepi, menjauh dari hiruk pikuk keramaian hutan belantara.

Saya, kambing yang dituakan para kambing lainnya di Hutan Antah, mencoba mengevaluasi, mengintrospeksi, dan mengkaji apa penyebab kondisi ini.

Kesimpulan didapat. Kekacauan ini terjadi karena hewan-hewan dari hutan lain telah menyusupkan fisik, nonfisik, dan kebijakan buruk ke Hutan Antah. Anjing, beruang, biawak, buaya, komodo,  ular, dan bunglon terbaik dan pemberani yang bertugas sebagai mata-mata dari hutan lain, sengaja dikirim ke Hutan Antah.

Harimau dari hutan lain, mengirim banyak hewan penghancur ke Hutan Antah. Tujuannya, untuk memata-matai, memprovokasi, men-sabotase, dan merusak segala kegiatan yang ada di Hutan Antah.

Visi dan misi bunglon tadi adalah mencari celah, melahirkan trik, bagaimana caranya agar rakyat kambing, semut, ayam, beruk (monyet), anjing, kuda, sapi, kerbau, gajah dan seluruh isi Hutan Antah diadu domba.

Anjing, beruang, biawak, buaya, komodo,  ular, dan bunglon dari hutan lain, ada dimana-mana. Bunglon hutan lain, tak segan berpura-pura menjadi kawan, bahkan tidak segan memberikan rumput gartis kepada rakyat kami. Tujuannya, agar kami membocorkan rahasia hutan, atau menjadi mata-mata mereka, agar kami terpecah-belah.

Para kambing didoktrin, dihasud menyalahkan harimau. Kambing, sapi, kuda, kerbau dan lainnya, diajak menghujat dan menurunkan wibawa sang raja hutan, harimau. Benar atau salah kebijakan baginda, harus ditantang dan dikerdilkan.

Rakyat hutan diperintah untuk tidak lagi mendengar auman harimau yang menggetarkan itu. Sorot tajam mata harimau tidak lagi dipandang. Penghuni hutan diajarkan agar tidak takut lagi dengan rajanya. Harimau dibuat tidak bertaring. Ompong.

Harimau muda, harimau tua, dihasud untuk menyalahkan sang raja hutan yang sedang berkuasa. Seperkasa apapun harimau, kalau sudah didemo seluruh peghuni hutan, akan ciut juga nyalinya.

Kinerja dan kebijakan baginda harimau dikabarkan tidak baik lagi. Raja disebut semakin hari semakin lemah dan sakit-sakitan. Akibatnya, Daya kerja dan kreativitas harimau memimpin Hutan Antah menjadi tumpul. Harimau menjadi serba salah dalam melangkah dan mengambil keputusan.

Di sisi lain, harimau juga salah. Ada beberapa kebijakannya yang merugikan isi penghuni hutan. Harimau membuat banyak kebijakan lalu menunggu reaksi seluruh penghuni hutan. Do, Wait and See.

Tidak tahu, apakah kebijakan~kebijakan tadi karena tekanan harimau dari negeri lain, atau memang pola pikir raja harimau kita yang keliru. Jadi, jangan salahkan kambing, ayam, itik, bebek, bekicot, kuda, sapi, kerbau, dan hewan lain tidak lagi takut dan segan kepada pemimpinnya.

Anjing  juga disalahkan karena tidak mampu menjaga hutan. Padahal banyak kasus pencurian, pembunuhan, perampokan, atau pemerkosaan yang berujung pembunuhan antar hewan, terjadi secara alami. Semua kriminal murni. Tidak ada rekayasa.

Artinya, bukan anjing  pelaku atau aktor intelektual di balik peristiwa besar yang terjadi di tengah penghuni hutan. Kasus kriminal terjadi karena sebagian penghuni Hutan Antah sudah tidak memiliki rasa kehewanan. Jiwa mereka  berganti menjadi rasa kemanusiaan. Kenapa anjing lantas disalahkan dalam hal ini?

Memang, satu dua anjing  malakukan kesalahan. Karena ingin mendapatkan sepotong tulang, anjing  membela kucing pencuri ikan. Hadiahnya santapan lezat, anjing mendapat tulang dan ikan. Wajar, jika anjing~beruang mendapatkan hukuman. Tapi bukan semua anjing yang dihukum, yang salah saja menerima sanksi. Hukum rimba haruslah kita hargai. Kita tegakkan lagi di negeri Hutan Antah ini.

Kancil yang cerdik dan bijaksana ikut jadi korban. Kebijakan kancil kerap disalahkan. Bahkan yang benar pun dibuat salah. Salah dibenar-benarkan. Benar disalah-salahkan. Kancil kemudian dikejar-dikejar dan dimasukkan ke penjara agar tidak bisa memberikan masukan untuk penguasa Hutan Antah.

Kambing, ayam, kuda, sapi, kerbau, penghuni terbanyak di hutan ini ikut menjadi korban provokasi para bunglon dan hewan mata-mata dari negeri lain.

Bunglon juga merangarahkan dan membisikkan kepada penguasa hutan untuk menyalahkan kambing, ayam, itik, bekicot, kuda, sapi, kerbau dan lainnya lantaran sering membuat kandang dan tidur di sembarang tempat.

Akibatnya, Hutan Antah menjadi kotor. Banyak kandang yang dibangun tidak pada tempatnya. Keindahan hutan jadi berkurang. Sungai menjadi kotor dan dangkal. Sampah, dan kotoran kambing, ayam, kuda, sapi, kerbau berserangkan di tempat-tempat yang dilalui seluruh penghuni hutan. Hutan cantik ini menjadi bau dan menjijikkan.

Kami, para kambing juga dikerdilkan dan dibungkam. Tandung kami dipotong secara paksa. Gigi taring kami ditumpulkan. Kalau masih juga nakal, maka taring tadi dicabut dengan tang. Masih melawan juga, nyawa melayang.

Kami juga tidak boleh terlalu pintar. Lidah kami dipotong agar tidak lagi bisa mengembek dan memprotes kebijakan harimau dan para penguasa hutan lainnya. Lidah kami hanya bisa mengeleluarkan kata yaitu: Bek,  bek bek bek bek bek bek bek bek bek bek.

Bukan lagi kata lengkap seperti selama ini yaitu: Mbeeeeek, Mbeeeeek, Mbeeeeek, Mbeeeeek, Mbeeeeek, Mbeeeeek, Mbeeeeek. Pekikan kami tidak lagi latang dan sempurna.

Cara lain yang dilakukan para bunglon dan hutan lain untuk menghancurkan Hutan Antah adalah dengan menghilangkan rumput dari kehidupan kami. Rumput dimonopoli. Padang rumput dijaga anjing, beruang dari hutan lain. Tujuannya, agar tidak sembarang penghuni Hutan Antah bisa merumput.

Trik lain membuat kekacauan di hutan ini adalah mencemari rumput dengan kotoran, dan sampah-sampah hutan. Bunglon dan hewan dari negeri lain yang mempunyai kedengkian khusus dengan Hutan Antah, mengirim rumput plastik sintetis, dan rumput mengandung bahan kimia berbahaya lainnya.

Kalau rumput ini dimakan, sudah pasti penghuni Hutan Antah akan sakit perut, berpenyakitan. Pada tahapan selanjutnya, akan banyak penghuni Hutan Antah meninggal dunia karena rumput plastik sintetis ini.

Anak-anak kami yang biasa minum susu sapi segar, kini tidak bisa lagi. Susu sapi telah diganti dengan susu sintesis. Kami takut. Pertumbuhan anak kami akan rusak dan terganggu oleh bahan kimia yang tak jelas, dan telah dikirim oleh penghuni negeri hutan lain ke Hutan Antah.

Rumput segar dan alami langka. Penghuni hutan kelaparan. Rasa lapar membuat semua mahluk mudah emosi. Pertengkaran, iri dengki, hasud-menghasud, curi-mencuri, bunuh membunuh antara sesama penghuni Hutan Antah menjadi hal yang tak terelakkan. Bunglon dan hewan dari negeri hutan lain semakin bersemangat memanaskan dan mengacaukan suasana di Hutan Antah.

***

Kami, beberapa kambing yang sedang menepi dari keramain hutan berpikir, memang inilah nampaknya yang diinginkan bunglon dan hewan-hewan dari hutan lain. Mereka sengaja membuat kekacauan. Sistem pemerintahan Hutan Antah diaduk-aduk. Wibawa pemimpin kami, sang harimau direndahkan.

Kami dibuat panas dan emosi. Kami dibuat saling mencurigai, saling membenci satu sama lain. Emosi kami dipancing agar marah dan berkelahi satu sama lain. Tujuannya, agar Hutan Antah porak poranda dalam perang saudara antara penghuni hutan.

Harimau, sang pemimpin kami tidak kalah panik. Raja rimba marah, kecewa, sekaligus sedih. Rakyatnya sudah sedemikian menderita. Hutannya tidak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Si raja rimba juga sedih kepada diri sendiri. Dirinya kini tidak lagi dihargai penghuni hutan. Hukum rimba di Hutan Antah tidak berjalan dan menjadi kacau balau.

Harimau murka, tapi tidak berdaya. Harimau tahu. Ini karena ada intervensi dari harimau-harimau dari hutan lain. Kekuatan harimau hutan lain sangat besar. Harimau-harimau lain bersatu padu, bahu membahu menghancurkan Hutan Antah.

Harimau-harimau hutan lain tidak segan mengeluarkan rumput, tenaga, dan pikiran, mendatangkan jutaan bunglon, anjing, beruang ganas dan telatih untuk menyerang Hutan Antah secara moral, fisik, dan nonfisik. Sangat mengerikan.

***

Lantas, akankah kita sebagai penghuni Hutan Antah ini akan terus diadu domba oleh bunglon, ular dan biawak, buaya, dan harimau dari negeri lain? Akankah persatuan dan kesatuan kita sebagai penghuni hutan yang dulunya penuh cinta kasih ini jadi pecah, hanya karena kedengkian para bunglong, ular dan biawak, buaya dari hutan lain?

Maukah kita hancur karena obsesi harimau dari negeri hutan lain yang  ingin menguasai Hutan Antah? Mereka hanya ingin melihat kita terpecah-belah? Maukah kita melihat Hutan Antah ini rata dengan tanah akibat perang saudara?

Sekarang, mari kita bangkit. Bangun dari tidur. Jangn hanya bermimpi. Tidak saatnya lagi hanya berharap, lalu menadahkan tangan  agar dikirim rumput segar, susu segar dari hutan lain  ke hutan ini.

Saya, sebagai kambing yang dituakan di hutan ini, hanya berharap. Mari, hilangkan perbedaan. Buang sara marah, benci, dengki, dan dendam. Jangan ada lagi gigit- menggigit, jilat-menjilat, tanduk-menanduk, dan lainnya.

Satukan persamaan. Kembali bergandengan tangan untuk kembali menjaga Hutan Antah tercinta ini. Patuh lah kepada  harimau. Hormati anjing penjaga hutan.

Segan dan dengarlah nasehat kancil yang bijaksana. Sayangilah kami, ayam, itiik, bekicot, kambing,  sapi, kerbau, kuda, gajah dan semua jenis penghuni hutan lainnya.

Harimau, anjing, beruang, kancil dan penguasa hutan lainnya jangan lah punya sifat mentang-mentang.

Kalian harus juga sayang kepada kami, rakyat~mu, kambing dan penghuni hutan lainnya. Berikanlah keamanan dan kesejahteraan untuk negeri Hutan Antah ini.

Saya, mewakili kambing-kambing lainnya berharap, jangan lagi para penguasa hutan bertengkar satu sama lain.

Baginda harimau. Jangan takut kepada harimau dari negeri hutan lain. Kita harus menjadi penghuni Hutan Antah yang bagak (berani, red), cerdas, sehat, kompak, dan bersyukur. Kepala kita harus tegak, dada kita harus membusung, tapi bukan sombong. Tidak ada lagi saling menyalahkan. Kepada para penguasa hutan,  berilah contoh yang baik kepada kami, rakyat hutanmu  ini.

Kami ingin, Hutan Antah ini tetap hijau dan berwibawa. Pohon hidup dengan lebatnya seperti dulu. Rumput tumbuh subur di manapun. Rakyat bisa merumput dimana saja. Udara bersih. Air mengalir deras dan jernih di rawa, sungai, danau. Semua mudah didapat dan gratis. Kita ciptakan suasana tenteram, aman, dan damai seperti dulu.

Siapa yang mau? Kalau setuju. Mari ulurkan tangan. Bersatu kita menjaga hutan, hidup bersama, berkeluarga, tidur nyenyak, makan minum dengan enak di hutan tercinta ini. Seperti dulu lagi. Semoga. ***

Catatan: Penulis akan akan mengedit/ memperbaiki lagi tulisan ini agar lebih baik lagi.

Batam, Rabu 26 Agustus 2015

Suprizal Tanjung

https://suprizaltanjung.wordpress.com/2015/08/26/harimau-dihujat-kambing-saling-bunuh-bunglon-di-mana-mana/#more-24593

August 26, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: