Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Usai Listrik, Kini Air Ledeng Tak Mengalir

Salah Kita, Alam, atau Tuhan dalam Hal ini?

Opini: SUPRIZAL TANJUNG, Batam

BARU~baru ini ni masyarakat Batam (juga daerah Indonesia lainnya) menghadapi masalah aliran listrik (PLN) yang mati, tersendat berkepanjangan.


Berita: Usai Listrik, Kini Air Ledeng Tak Mengalir di Batam Pos, Senin (31/8/2015). F Suprizal Tanjung

Penyebanya, mulai dari perbaikan mesin, memperbaiki jaringan, pasokan BBM/ energi kurang~tersendat, dan lain sebagainya. Setelah selesai masalah pemadaman bergilir oleh bright PLN Batam, kini datang masalah baru. Aliran air bersih yang dikelola PT Adya Tirta Batam (ATB) mati total selama beberapa jam, dalam beberapa hari.

Masyarakat panik. Paling panik ibu~ibu. Kaum hawa ini paling banyak membutuhkan air, baik untuk dapur, pakaian, maupun untuk membersihkan badannya.

Proses produksi jasa dan produk di rumah makan, restoran, penginapan, hotel, industri, galangan kapal, dan lainnya terganggu. Kondusifkah iklim ivestasi dengan keadaan seperti ini?

Selama ini, penyebab air mati hampir sama dengan kasus PLN. Namun kini, air mati bukan karena alasan~alasan tadi. Aliran air ledeng mati karena pasokan air yang ada di waduk sangat~sangat berkurang. Beberapa waduk, airnya menyusut sampai empat meter. Dangkal. Melihat waduk, sejauh mata memandang, hanya tanah di tepi danau yang nampak, bukan genangan air yang nampak.

Kapasitas produksi air dikurangi dari 60 liter pet detik dikurangi setengahnya. Bahkan kadang berhenti sama sekali. Kalau PLN sering mati, warga yang geram bisa demo. Nah, kalau pasokan air yang kurang, dan macet, mau marah kepada siapa?

Rumah Liar di hutan, daerah resapan air dam Muka Kuning terus bertambah, f Alfian (5) I IMAGE

Rumah liar (ruli) di hutan, daerah resapan air dam Mukakuning, Batam terus bertambah, Rabu (26/8/2015). F Alfian

Memaki perusahaan air? Melotot kepada waduk yang tak pandai dan tak mau menyediakan air untuk kebutuhan masyarakat? Atau paling ekstrim, marah kepada Tuhan?

Banjir_Dalil 3 image

Air menggenangi Terowongan Pelita, Batam, Kamis (6/8/2015). Sebentar hujan, sebagian Kota Batam sudah tergenang air. F Dalil

Tuhan disalahkan karena tidak lagi andal menjadi Tuhan. Pencipta alam semesta ini tak lagi amanah, dan tidak mampu menyerap aspirasi manusia yang sangat membutuhkan air. Dia sudah lalai dan abai kepada kita. Benarkah seperti itu?

Dam Tertutup Eceng Gondok, F Alfian image

Seorang satpam melihat eceng gondok yang sudah menutupi sebagian besar dam Duriangkang, Rabu (12/8/2015). Keramba warga juga banyak yang tidak terkena penertiban tim terpadu. F Alfian

Sebelum kita menyalahkan manajemen perusahaan air minum, mesin, bahkan Tuhan sekalipun, ada baiknya kita bercermin kepada diri sendiri.
Lihat, introspeksi, evaluasi diri sendiri, mengapa semua ini terjadi?

DAM Nongsa 4-F Cecep Mulyana image 1

Penyusutan debit air akibat kemarau terlihat di dam Nongsa, Batam, Kamis (30/7/2015). Beberapa dam lainnya juga kering dan menyusut akibat kemarau. F Cecep

Air waduk kering lantaran berbagai sebab. Penyebabnya karena ulah kita juga. Coba lihat. Kita kadang menggunakan air kita secara mubazir. Air dibuang~buang. Untuk mencuci kedua tangan, baju, sepatu, dan motor kadang harus membuang air begitu banyak. Apalagi mencuci barang~barang dengan ukuran lebih besar. Air dibuang-dibuang. Sementara saudara kita yang lain sudah terpekik mendapatkannya.

Kesalahan juga ada pada kita sebagai pemerintah dan juga masyarakat. Kita memandang enteng, mengabaikan kasus penebangan pohon/ hutan. Akar pohon sebagai sumber resapan air, ditebang. Bukit~bukit tempat tumbuhnya pohon dikeruk, dan dikikis.

Kita kadang bukan dalam posisi mencegah. Ironinya, sebagian kita malah nenjadi pelaku/ pendukung semua itu. Tanah hasil kikisan bukit itu dibuang ke pantai. Tepi pantai dan rawa ditimbun sehingga menjadi daratan yang relatif luas.

Ketika hujan turun, tanah dari bukit, sungai, dan got mengalir ke waduk~danau. Waduk~danau menjadi dangkal. Rawa tak luput dari kerusakan. Rawa sebagai tempat penampungan air hujan, juga menjadi korban kita. Rawa ditimbun. Di sana kemudian dibangun perumahan, perusahaan, SPBU, hotel, dan lainnya.

Danau, dan waduk sebagai sumber bahan utama bagi perusahaan air minum ikut diganggu. Danau yang bersih dipasang karamba ikan. Hutan di tepi danau digunduli untuk tempat pemukiman, hotel, perusahaan, dan lainnya.

Sekitar waduk, dan danau dibangun kandang untuk ternak hewan. Kotoran hewan, limbah kandang, dan limbah rumah tangga dibuang ke waduk, dan danau. Air terkontaminasi.

Air yang tercemar itu lalu dikirim ke konsumen. Konsumen lalu meminum air tadi sambil tersenyum. Segar. Haus hilang. Lalu, penyakit datang. Bagaimana tidak (sakit). Air kotor diminum. Habis uang untuk berobat ke sana sini. Penyebab salah satunya karena mengonsumsi air tak bersih.

Pemerintah, dibantu aparat keamanan kerap melakukan razia. Penduduk yang membangun rumah liar (ruli) di sekitar waduk/ danau digusur. Kandang ternak ilegal di kawasan waduk, danau ikut diratakan dengan tanah. Tujuan tim terpadu baik.

Ironinya penduduk tidak terima. Dengan segala daya, upaya, dan tenaga mereka menolak digusur dan pindah. Mereka melawan, memukul, melempar, saling hajar. Aparat dan penduduk terluka, cedera.

Penduduk dan peternak tadi terpaksa pindah. Betul~betul pindah. Pindah ketika ada penertiban. Hebat. Nanti. Ketika tim terpadu pergi, mereka kembali ke tempat semula, dengan aktivitas yang sama. Selalu seperti itu.

Penertiban ini mengeluarkan biaya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tidak sedikit. Biasanya penertiban dilakukan selama berkali-kali. Dan yang turun bukan hanya dari satu instansi, tapi tim terpadu. Berapa banyak biaya dikeluarkan. Sementara hasilnya belum tentu ada, dan maksimal.

Apakah tidak lebih baik bila ABPD untuk penertiban tadi digunakan untuk membangun ruang kelas baru (RKB) agar 18.351 siswa mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat bisa tertampung dan bisa belajar dengan baik tahun 2015/2016 ini. Mereka tidak perlu lagi menumpang di kelas lain? Atau dana itu digunakan untuk menbambah 3.000 guru untuk mengajar di kota industri ini?

Pada saat kesulitan air karena air ledeng mati, masyarakat mencari alternatif lain. Membeli air yang dibawa mobil.

Untuk membersihkan badan, pakaian, kendaraan, jelas air ini sangat bermanfaat. Bagaimana untuk minum, dan membersihkan bahan makanan?
Ini harus diwaspadai. Beberapa oknum pengusaha air mobil, kadang menyedot air dari rawa, dan got yang kotor atau tidak terlalu kotor.

Bisa dibayangkan, bagaimana cira, rasa, dan kualitas air dari sumber seperti ini. Kenapa ini semua terjadi? Salah kitakah sebagai manusia? Tidak salahkah kita merusak alam selama ini?

Apakah salah hutan, rawa, waduk, atau danaukah kekeringan ini? Atau salah Tuhan kah semua masalah ini? Benarkah Tuhan tidak lagi pantas disembah, tidak lagi layak disebut sebagai Pengasih, Pemberi, Penyayang, dan Pelindung manusia? Ada sebagian manusia menganggap ini kesalahan Tuhan.

Apa buktinya pemikiran seperti ini? Contohnya apa? Lihat saja, sebagian kita jadi ingkar, durhaka, pelit, riba, riya, saling menyakiti antara manusia~mahluk Tuhan.

Kita tidak lagi mensyukuri nikmat~Nya. Kita malah menantang~Nya. Kita meninggalkan Tuhan. Kita baru menangis, mengadu, dan meminta kepada~Nya saat perlu dan susah.

Bebagai kesulitan datang melanda. Aspal jalan meleleh. Cuaca panas. Global warning. Orang mati kepanasan. Air susah didapat. Udara bersih semakin sulit dinikmati.

Azab, cobaan, atau ujiankah semua ini? Tidakkah kita berpikir mencari akar penyebab dari persoalan~persoalan ini. Atau sebagian dari kita tidak perduli lagi dengan apapun yang terjadi. Semua kejadian dianggap normal, dan sudah begitu adanya.

Atau sebagian dari kita tidak perduli lagi dengan apapun yang terjadi. Semua kejadian dianggap normal, dan sudah begitu adanya. Kalau sudah begini, ya terima saja semuanya. Terima saja saat banjir, kemarau, dan berbagai penyakit datang. Tidak perlu mengeluh. Tidak usah meminta tolong kepada siapapun. Toh selama ini, kita juga tidak perduli kepada isi alam, kepada sesama manusia, dan mengabaikan perintah dan larangan Tuhan.

Tunggu saja kehancuran global (kiamat) itu datang dan dengan segala konsekuensi~nya. ***

Batam, Senin 31 Agustus 2015

SUPRIZAL TANJUNG

Advertisements

August 31, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: