Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Menengok Bisnis Reparasi Tas JCH di Asrama Haji Batam

Sehari Garap 250 Tas, Semusim Kantongi hingga Rp 20 Juta

Musim haji membawa berkah bagi Yunus dan kawan-kawan. Bisnis reparasi tas-nya selalu banjir orderan. Di musim itu, ia bisa mengantongi hingga Rp 20 juta.

Haji6

Bunyi ketokan palu terdengar dari sebuah lorong di Asrama Haji. Riuh obrolan menjadi tandingannya. Sesekali terdengar derai tawa. Setelah dihampiri, bunyi itu datang dari sebuah sudut di mulut pintu kompleks Ruang Safa dan Marwah. Sudut itu berisi aneka perlengkapan haji. Mulai dari baju mahram, sarung, peralatan salat, juga peralatan zikir.

Dan ketukan palu itu datang dari teras kedai perlengkapan haji itu. Dua pria sedang sibuk mengetok-ngetokkan palu di atas sebuah kain. Keduanya berusaha merekatkan tali pada sebuah tas. Caranya, dengan memasangkan paku.

Di sampingnya, duduk dua wanita dan satu pria. Seluruh pandangan mereka terpusat pada gerak-gerik dua pria tadi. ”Kualitas tas JCH ini buruk makanya belum sampai ke Madinah, tasnya sudah jebol dulu,” kata Ijal, satu dari dua pria itu.

Reparasi tas. Itulah yang Ijal lakukan bersama Yusuf – satu pria lainnya. Keduanya anak buah Yunus, pemilik gerai perlengkapan haji di sana. Gerai itiu berada di dalam naungan Koperasi Asrama Haji.

Yunus membuka dua gerai di Asrama Haji itu. Setiap gerai juga dilengkapi dengan jasa reparasi tas. Tujuannya untuk menjangkau semua JCH yang membutuhkan jasanya.

”Memang, kualitas tas-tas ini kurang bagus,” kata Yunus.

Bukan satu-dua orang JCH yang mengakui buruknya kualitas tas itu. Kebanyakan JCH mengeluhkan hal itu. Zauyah, misalnya. JCH asal Indragiri Hulu itu hanya mengisi tas kopernya dengan pakaian. Tapi kain tas itu sudah terkelupas.

”Kami menerima tas itu sekitar seminggu yang lalu,” kata Zauyah.

Beruntung, kerusakan tas Zauyah hanya bagian kain luar. Apidin, JCH lain asal Pekanbaru tasnya rusak di bagian dorongan besi.

Baut-baut di besi itu lepas. Otomatis, koper itu tak lagi dapat didorong. Ia pun mau tak mau membopong koper itu. Padahal,

”Saya mengisinya dengan lima helai pakaian saja,” katanya.

Kondisi itu ternyata sudah dimulai sejak lama. Yunus, si pemilik gerai telah melihat peluang itu tahun 2007. Ia segera mencari ahli reparasi untuk mereparasi tas-tas itu. Ia juga mencari-cari bahan tali yang senada dengan tas tersebut. Ia mendapatkannya dari Jakarta. Tali tas itu berwarna biru tua. Tulisan Jamaah Calon Haji Indonesia Embarkasi Batam berada di bagian tengahnya. Dilengkapi juga dengan Bendera Merah-Putih.

”Saya biasanya nyari kabar dulu tentang model dan warna tas yang mau ke luar. Kalau sudah dapat info, langsung pesan ke Jakarta,” tutur pria yang membuka gerai perlengkapan haji di DC Mall itu.

Kerusakan tas yang paling banyak biasanya muncul pada tali. Tali tas putus lantaran tak kuat menahan beban. Ijal, sang reparator, mengatakan, tas itu kelebihan beban.

Tas kecil yang biasa dikalungkan di leher para JCH, misalnya. Harusnya tas kecil itu hanya untuk membawa dokumen pribadi JCH. Seperti, paspor, buku kesehatan, bukti lunas setoran biaya haji, dan identitas diri. ”Tapi, oleh para JCH, tas itu diisi dengan Quran dan buku-buku zikir. Makanya, jebol,” tutur pria asal Bukittinggi itu.

Oleh Ijal, seluruh tali tas kecil itu diganti. Baik tali yang melingkari leher maupun tali yang melingkari pinggang. Di setiap ujung tali akan ditempel dengan paku supaya kuat.

Sementara untuk tas koper, Ijal menambah paku ke bagian dorongan besi koper. Kadang kala, ia mengganti paku-paku yang lama.

”Agak repot kalau tas besar ini. Makanya, kalau lagi ramai, saya dulukan tas kecil,” katanya.

Pengerjaan reparasi tas kecil tak sampai lima menit. Sementara reparasi tas besar memakan waktu dua hingga tiga kali lebih lama.

Tingkat kesulitan itu, berpengaruh pada tarif. Tarif reparasi untuk tas besar minimal Rp 30 ribu. Sementara tas kecil minimal Rp 15 ribu. ”Hitung talinya saja sih. Satu tali Rp 15 ribu,” ujar Ijal.

Dalam sehari, Ijal bisa melayani hingga 250 pelanggan. Ia dan Yusuf mengerjakan mulai pagi – selepas salat subuh hingga malam. Kondisi yang paling ramai terjadi selepas maghrib.

Jika, setiap pelanggan meminta reparasi tas kecil saja, Ijal sudah mengumpulkan uang hingga Rp 3,75 juta. Ketika ditanya, komisi yang ia terima di akhir musim haji, Ijal sedikit malu mengakui angka pastinya. Rp 5 juta? Ia menggeleng. Rp 10 juta?

”Ya sekitar itulah,” tuturnya.

Jika ditotal keuntungan dari reparasi tas, Yunus juga enggan memberikan angka pasti. Ia mengatakan, jumlahnya bervariasi setiap tahun. ”Kalau dari tas saja bisa sekitar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta,” katanya sambil tersenyum. (ceu)

Advertisements

September 6, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

1 Comment »

  1. Maaf..menganggu..saya dr surabaya..mau menawarkan roda untuk tas haji…siapa tau berkenan..trmkasih..

    Comment by Ikhsan Agustinus | December 17, 2015 | Reply


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: