Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Perkuliahan Tetap Berjalan di Kepri

PTS Diminta Lengkapi Persyaratan

ENAM Enam perguruan tinggi swasta (PTS) di Kepri yang dinonaktifkan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tetap diperbolehkan menyelenggarakan kegiatan perkuliahan seperti biasa. Namun keenam PTS tersebut dilarang menerima mahasiswa baru.

Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah X, Genefri, mengatakan kegiatan perkuliahan tidak dilarang karena mahasiswa tersebut sudah ada sebelum perguruan tinggi terkait dinonaktifkan. “Mahasiswa tersebut tetap berhak mendapatkan perkuliahan sebagaimana mestinya,” kata Genefri, Jumat (2/10/2015).

Termasuk untuk wisuda. Para mahasiswa yang sudah terdaftar dan lulus boleh diwisuda. Namun PTS terkait harus melaporkan nama-nama mahasiswa yang akan diwisuda kepada Kopertis X.

“Nanti kami akan memvalidasi. Kalau valid, baru boleh melaksanakan wisuda,” ujarnya.

Genefri mengatakan, penonaktifan tersebut disebabkan tidak terpenuhinya persyaratan minimal yang ditetapkan oleh Kementerian oleh sebuah perguruan tinggi untuk menggelar perkualiahan. Misalnya, jumlah minimal dosen berkualifikasi S2, yakni enam orang.

“Itu salah satunya saja. Ada beberapa syarat lain. Kalau seluruh syarat terpenuhi. Status nonaktifnya akan dicabut kembali,” katanya.

Sebelumnya, ada enam PTS di Kepri yang dinonaktifkan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti).

Yakni, Akademi Akuntansi Permata Harapan Batam, Akademi Bahasa Asing Permata Harapan Batam, Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Gici Batam, dan Sekolah Tinggi Teknik Bentara Persada Batam, Akademi Bahasa Asing Tanjungpinang, dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karimun.

Selain itu, Kemenristek-Dikti juga membekukan 20 program studi di sejumlah PTS di Kepri. Enam di antaranya merupakan prodi di tiga PTS di Batam. Yakni prodi Profesi Dokter dan Teknik Elektronika dari Universitas Batam (Uniba), Ekonomi Pembangunan dari Universitas Riau Kepulauan (Unrika), Teknik Industri dan Teknik Elektronika dari Sekolah Tinggi Teknik Bentara Persada serta prodi Sistem Informasi dari STMIK Putera Batam.

Sementara itu, sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) GICI Batam menyebutkan, bukannya tidak terima atas penutupan itu. ”Tapi ketidakjelasan ini yang membuat kita bingung,” ujar Rosie, salah satu mahasiswa.

Menurut Rosie, ada tiga prodi di STIE GICI Batam yang dibekukan oleh Kemenristek Dikti. Yakni Prodi Manajemen Bisnis, Manajemen Informatika, dan Manajemen Akuntansi. Dari tiga prodi tersebut terdapat 525 mahasiswa.

Akibat pembekuan tiga prodi itu, ke-525 mahasiswa STIE GICI Batam dilimpahkan ke STIE Nagoya Indonesia di Batuaji.

“Kami ikuti saja demi tetap bisa kuliah,” kata Rosie.

Namun tak lama setelah itu, STIE Nagoya Indonesia juga dibekukan oleh Kemenristek Dikti. Untuk itu mereka memilih menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka juga mengaku sudah pernah mengadukan hal ini ke DPRD Kota Batam. Namun sampai sekarang tak ada solusi.

“Kami tak mau lagi termakan bujuk rayu manajeman STIE GICI Batam,” katanya.

Selain mahasiswa yang masih aktif, sejumlah alumini STIE GICI Batam juga merasa dirugikan. Sebab hingga saat ini mereka belum menerima ijazah. Padahal, sebagian dari mereka sudah lulus sejak empat tahun silam. (ceu/cr15)

October 4, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: