Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Membumikan Gas Bumi di Batam

BATAM dicanangkan menjadi Kota Gas pada 2016. PT Perusahaan Gas Negara (PGN) pun terus berbenah dengan memperbanyak infrastruktur guna mewujudkan cita-cita itu.

ARMAN SUPARMAN, Batam

Berada di jalur gas internasional. Inilah salah satu alasan mengapa Batam dinilai layak dijadikan kota gas. Selain sarana pendukung yang memadai, masyarakat Batam memiliki kesadaran dan kepedulian yang tinggi untuk bertransformasi ke gas bumi PGN sebagai sebuah solusi energi masa depan.

Arman Suparman, Desember 2013

Arman Suparman, Desember 2013

Direktur Pengusahaan PGN, Jobi Triananda Hasjim, mengatakan pemakaian gas bumi di Batam menyentuh tiga sektor. Yakni sektor industri, komersil, dan sektor rumah tangga melalui program PGN Sayang Ibu.

Kata Jobi, sebagai BUMN yang telah lebih dari 49 tahun berhasil membangun dan mengembangkan infrastruktur pipa gas di seluruh Indonesia, PGN memiliki komitmen untuk mempercepat dan meningkatkan penggunaan gas bumi untuk berbagai segmen, baik industri maupun rumah tangga.

Khusus di Pulau Batam, kata Jobi, program PGN Sayang Ibu ini akan diprioritaskan bagi rumah tangga yang berada di jalur gas PGN. Namun ke depannya PGN juga akan menyasar perumahan baru, seperti di wilayah Tiban, Batuaji, Tanjunguncang, dan sebagainya.

Jobi menyebutkan, untuk meningkatkan penggunaan gas bumi di masyarakat, PGN akan membangun jaringan baru secara masif. Ditambahkan, PGN akan terus menjalankan fungsi dan tugasnya dalam membangun dan mengembangkan infrastruktur gas bumi di Indonesia. Melalui sinergi di antara stakeholder, baik regulator, pelaku usaha, maupun masyarakat.

“Kami optimis transformasi energi ke gas bumi akan dapat terwujud,” kata Jobi saat peresmian sambungan gas rumah tangga di Perumahan KDA, Batamcenter, Batam, Rabu (14/10/2015).

Menurut Jobi, pembangunan jaringan distribusi gas rumah tangga ini merupakan bagian dari upaya PGN untuk mendukung program transformasi energi dari bahan bakar minyak (BBM) ke gas bumi.

“Di Batam beberapa perumahan seperti Perumahan Bida Asri dan Puri Legenda sudah lama menggunakan jaringan gas PGN. Ke depan, PGN siap untuk bersama-sama dengan masyarakat dan swasta lainnya mengembangkan jaringan dan meningkatkan pemanfaatan gas bumi,” ujarnya.

Area Head PT PGN Batam, Sonny Rahmawan, mengatakan Batam sangat siap menuju status Kota Gas pada 2016 mendatang. Dari segi jaringan gas, kata Sonny, saat ini sudah terpasang 111 kilometer (Km) pipa gas. Terdiri dari 86 Km pipa baja, dan 25 Km pipa polyethylene (PE).

“Dan kami masih terus membangun jaringan pipa gas untuk memenuhi kebutuhan di Batam,” kata Sonny, Selasa (13/10).

Dijelaskan, jaringan pipa tersebut tersebar di seluruh wilayah di Kota Batam. Hampir semua kawasan industri di Batam saat ini sudah dilalui jaringan pipa gas PGN. Mulai dari Batamcenter, Tanjunguncang, Batuampar, Kabil, Mukakuning, dan lainnya. Jaringan ini melayani kebutuhan gas untuk konsumen industri, rumah tangga, dan komersil.

Baru-baru ini, PGN baru saja merampungkan proyek jaringan pipa sepanjang 10 Km ke Batuampar dengan nilai investasi sekitar Rp 15 miliar. Jalur ini akan menyuplai gas industri untuk beberapa perusahaan di kawasan Batuampar.
Kata Sonny, PT PGN juga selalu melengkapi jaringan fiber optic di atas pipa gas yang ada. Sehingga pelanggan industri maupun rumah tangga bisa sekalian memasang internet.

Selain membangun jaringan pipa gas bumi, PGN juga tengah menyiapkan pembangunan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di kawasan Batamcenter. Sebab, pada 2016 mendatang kendaraan bermotor di Batam, khususnya roda empat, juga akan menjadi target transformasi bahan bakar dari BBM ke gas bumi PGN.

Selebihnya, PGN Batam terus melakukan survei dan sosialisasi ke calon pelanggan industri, komersil, dan rumah tangga. Termasuk ke kawasan bisnis Nagoya.

Untuk tahun ini, PGN Batam menargetkan 1.000 sambungan gas rumah di Batam. Hingga saat ini, Sony mengklaim pihaknya sudah merealisasikan 700 sambungan gas rumah tangga.

“Target tahun depan kurang lebih 5.000 pelanggan rumah tangga dengan catatan permohonan atau persyaratan administrai lengkap,” kata Sonny.

Sonny menjelaskan, saat ini volume gas yang terdistribusi di Batam mencapai 50 billion British thermal unit per day (BBTUD). Tahun depan, PGN memperkirakan volume konsumsi gas di Batam akan mencapai 60 BBTUD atau naik 10 BBTUD dibandingkan tahun ini.

Sonny menjamin, pihaknya akan komitmen memenuhi pasokan dan permintaan dari konsumen. Untuk suplai gas sendiri masih akan dipasok oleh ConocoPhillips dari Grissik, Sumatera Selatan.

Sonny mengakui, transformasi bahan bakar ke gas bumi di Batam cukup cepat. Ini terlihat dari pertumbuhan jumlah pelanggan, baik industri, komersil, maupun rumah tangga, yang naik signifikan tiap tahunnya.

Menurut dia, hal ini tidak terlepas dari kesadaran masyarakat Batam akan kelebihan gas alam dibandingkan dengan bahan bakar lain. Dari segi harga, jelas harga gas PGN jauh lebih murah dibandingkan dengan BBM (solar) maupun gas cair (liquid petroleum gas/LPG).

Gas alam PGN juga lebih aman karena gas lebih ringan berat jenisnya dibanding solar atau LPG bahkan udara. Sehingga jika terjadi kebocoran, gas PGN akan mudah menguap atau tidak menempati ruangan tertentu sehingga potensi terjadi kebakaran sangat kecil. “Namun perlu juga kami jelaskan, semua bahan bakar termasuk gas pasti berbahaya,” katanya.

Suzairi, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemko Batam menyambut baik komitmen PGN dalam menggenjot pemanfaatan gas bumi untuk sektor industri dan rumah tangga di Batam. Namun dia meminta PGN memperhatikan kelangsungan suplai gas, sehingga kebutuhan pelanggan bisa terpenuhi setiap saat.

Suzairi juga mendukung pemanfaatan gas bumi untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Sehingga nantinya kendaraan di Batam, khususnya angkutan, bisa beralih dari BBM ke gas.

“Ini sangat bagus untuk mengurangi ketergantungan BBM subsidi. Nantinya kami akan mendukung dengan mengawali program ini dari kendaraan dinas,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, mengatakan pemerintah pusat akan terus berusaha supaya pemanfaatan gas bumi bagi rakyat Indonesia lebih maksimal. Hal terpenting yang harus dilakukan pemerintah saat ini, kata dia, adalah pembangunan infrastruktur. Hal ini disampaikan Sudirman saat menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang pembangunan infrastruktur pemanfaatan gas dari sumur Natuna antara Pemprov Kepri dan PT PGN (Persero) di Batam, 30 Januari 2015 lalu.

”Ini PR besar kita. Dan inisiatif PGN yang telah membangun jaringan dan infrastruktur pemanfaatan gas bumi patut dihargai,” kata Sudirman.

Sudirman menargetkan penggunaan gas rumah tangga hingga 2018 mendatang akan mencapai 1,2 juta warga. Di mana Batam merupakan salah satu daerah utama untuk pemasangan gas tersebut.

”Kami sudah melakukan hearing dengan DPR RI. Mudah-mudahan tahun depan target tersebut bisa kami tingkatkan,” katanya.

Sudirman mengatakan bahwa saat ini sudah ada sekitar 162 ribu jaringan yang sudah dibangun di 20 titik di seluruh Indonesia. Di mana pembiayaan untuk jaringan gas rumah tangga ini akan berasal dari APBN, PGN dan Pertamina. Di mana anggaran dari APBN akan dikelola bersama oleh Pertamina dan PGN, sedangkan anggaran dari PGN dikelola sendiri oleh PGN, demikian halnya dengan anggaran dari Pertamina dikelola sendiri oleh Pertamina.

”Saya mendorong agar jaringan gas ini yang lebih diutamakan. Saya berharap gas yang ada di dalam negeri bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Kalau ekspor tetap untuk menjaga keseimbangan,” katanya.

Menurut Sudirman, sangat dibutuhkan peralihan dari tabung gas tiga kilogram ke jaringan gas rumah tangga ini. Menurutnya, akan lebih efisien jika warga Indonesia tidak lagi bergantung kepada gas tersebut. ”Saya berharap agar masyarakat tidak lagi menenteng gas tiga kilo itu. Berat, repot lagi,” katanya.

Lebih Nyaman

Sejumlah pelanggan gas rumah tangga PGN mengaku mendapatkan beragam keuntungan dengan menggunakan gas alam PGN. Mereka merasa lebih nyaman karena tidak khawatir gas akan habis secara tiba-tiba saat memasak.

“Kalau pakai gas tabung sering begitu. Tiba-tiba gas mati saat lagi asyik memasak,” kata Sri Hartini, pelanggan gas rumah tangga PGN saat ditemui di rumahnya, Perum KDA Batamcenter, Kamis (8/10) lalu.

Kelebihan lainnya, kata Hartini, gas rumah tangga PGN juga anti langka. Sehingg dirinya tak perlu repot saat terjadi kelangkaan gas dalam kemasan tabung.

Selaian alasan keamanan dan kenyamanan, alasan efisiensi menjadi pertimbangan paling penting bagi seorang ibu rumah tangga seperti Hartini. Itulah sebabnya, dia tak berpikir panjang ketika PGN menawarkan sambungan gas rumah tangga ke rumahnya, akhir 2013 silam. “Saya dan suami langsung memutuskan untuk beralih dari gas elpiji ke gas alam PGN,” katanya.

Berdasarkan hitung-hitungan matematis, Hartini mengaku bisa menghemat hingga 50 persen setelah beralih ke gas PGN ini. Disebutkan, saat masih menggunakan gas elpiji subsidi, dirinya harus mengeluarkan budget rata-rata Rp 60 ribu per bulan. Namun saat ini dirinya hanya membutuhkan anggaran RP 30 ribu saja.

Jika elpiji subsidi langka, Hartini menggunakan gas non subsidi ukuran 12 kilogram yang harganya tentu lebih mahal. Apalgi harga gas LPG ini terus mengalami kenaikan.

Ramah Lingkungan

Selain pelanggan rumah tangga, sejumlah perusahaan di Batam kini juga mulai beralih ke gas bumi PGN sebagai bahan bakarnya. Sedikitnya ada 35 perusahaan di Batam yang kini menjadi pelanggan PGN. Selain lebih murah dan aman, gas bumi PGN juga dinilai lebih ramah lingkungan.

PT James Products Company (JPC) merupakan satu dari 35 perusahaan yang menggunakan gas PGN untuk bahan bakarnya. Perusahaan yang bercokol di kawasan Taiwan International Park, Kabil, ini beralih ke gas PGN sejak tahun 2011.
Menurut Direktur PT JPC, James, sejak awal berdiri pada 1996 pihaknya menggunakan solar sebagai bahan bakar. Perusahaan pembuat rubber joint itu kemudian sempat beralih ke marine fuel oil (MFO) karena harga solar terus naik dari waktu ke waktu.

“Pakai MFO memang lebih murah dari solar, tapi membuat mesin kotor dan cepat rusak. Akhirnya kami beralih ke gas PGN,” kata James melalu penerjemah sekaligus sekretarisnya, Yanti, Rabu (3/9) lalu.

James mengaku merasakan berbagai keuntungan dengan menggunakan gas PGN. Kata dia, sejak menggunakan gas PGN, pihaknya bisa menghemat biaya bahan bakar antara 30 hingga 40 persen.

Selain itu, dengan bahan bakar gas mesin boiler akan lebih awet dan bersih. Sehingga perusahaan juga diuntungkan karena mampu meminimalisir biaya perawatan atau mainteance.

Padahal, saat masih menggunakan BBM solar dan MFO, pihaknya harus melakukan perawatan mesin setiap dua minggu sekali. Selama setahun, khusus untuk perawatan ini perusahaan biasanya menghabiskan biaya hingga Rp 100 juta.

“Tapi sejak menggunakan gas, sangat jarang ada perawatan. Karena boiler tetap bersih,” kata James.

Dari sisi bisnis, hal ini juga sangat menguntungkan perusahaan. Sebab semakin sedikit proses perawatan yang dijalankan, maka produktivitas perusahaan akan semakin besar. Karena, kata James, untuk perawatan mesin membutuhkan waktu satu hari penuh sehingga dipastikan dapat mengganggu aktivitas produksi.

Dengan berbagai keuntungan yang telah dirasakan itu, James yang juga merupakan ketua asosiasi pengusaha Taiwan di Batam atau Batam Taiwan Business Club (BTBC) ini mengaku kerap menyarankan pengusaha asal Taiwan lainnya untuk beralih ke gas PGN. Hasinya, dari belasan anggota BTBC sudah ada beberapa yang mengajukan aplikasi menjadi pelanggan PGN.

Dari sisi teknis, kata James, juga banyak keuntungan yang dirasakan. James mencontohkan, waktu perusahaannya masih menggunakan BBM untuk pemanas mesin boilernya, teknisi harus selalu mengecek posisi BBM di dalam tangki. Jika habis, harus segera diisi. Begitu seterusnya.

“Tapi sejak pakai gas, tak perlu ngecek lagi,” kata James.

Pengusaha asal Taiwan ini menjelaskan, petugas dari PGN juga rutin mencatat dan mengecek meteran dua kali dalam seminggu. Selain itu mereka mengecek stasiun gas juga dua kali sepekan.

“Kualitas pipa di dalam pabrik juga selalu dicek secara berkala. Jadi kami lebih nyaman karena merasa aman,” kata James.
Hal senada disampaikan Asep Darma Djadja, General Manager PT Federal Investindo selaku pengelola Mega Mall

Batamcenter. Seperti diketahui, sejak dua tahun lalu pihaknya membangun pembangkit listrik sendiri dengan menggunakan bahan bakar gas dari PGN. Selain masalah efisiensi yang mencapai 40 persen, Asep mengaku puas karena pelayanan PGN yang dinilai sangat profesional.

“Rasanya baru PGN, BUMN yang bisa memberikan rasa nyaman dalam hal pelayanan,” kata Asep  beberapa waktu lalu.

Secara teknis, kata Asep, bahan bakar gas juga sangat efektif karena mampu memaksimalkan kapasitas mesin hingga 90 persen, bahkan 100 persen. Sedangkan BBM hanya mampu menggerakkan mesin sebesar 70 persen dari kapasitas maksimal.

Seperti saat ini, pembangkit listrik di Mega Mall mampu menghasilkan strum 2,8 Mega Watt dari kapasitas maksimal 3 Mega Watt. Sehingga kebutuhan listrik untuk sekitar 150 tenant di Mega Mall dapat terpenuhi.

Dengan gas PGN, kata Asep, mesin bersih karena pembakaran sempurna. Hampir tak ada gas buang emisi. Selain itu, suara mesin juga tak bising, karena bukan menggunakan mesin diesel.

“Secara technical dan enviromental, gas alam dari PGN paling baik,” katanya.

Dia menambahkan, sejauh ini suplai gas dari PGN lancar dan stabil. Namun jika ada rencana perawatan jaringan pipa yang dapat menggangu pasokan gas, pihak PGN akan melakukan sosialisasi dan pemberitahuan dini.

“Biasanya, setahun sebelumnya sudah diinformasikan,” katanya. ***

October 14, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: