Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Distributor Beras di Batam Membandel

Imbauan Wali Kota Diabaikan

IMBAUAN Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan, agar distributor segera mendistribusikan beras ke pasaran ternyata ditanggapi dingin. Sebab hingga Minggu (25/10/2015), para pedagang masih mengeluhkan seretnya pasokan komoditas pangan utama itu.

Akibatnya, para pedagang di pasaran terpaksa menaikkan harga beras antara Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu per kilogram (kg). Mereka mengaku, biasanya pasokan beras dari distributor seminggu sekali, namun akhir-akhir ini pasokan datang sebulan sekali.

“Biasanya paling lambat dua minggu sekali. Tapi ini hampir sebulan tak ada kiriman beras,” kata Ahmad, pedagang beras di Pasar Tibancenter, Batam, kemarin (25/10).

Disebutkannya, ada beberapa merek beras yang mengalami kenaikan harga seperti Suci dan Luwak dari harga awal Rp 8 ribu per kg menjadi Rp 11 ribu per kg. Sementara beras merek Rambutan dan Lonceng dijual Rp 10 ribu per kg dari harga sebelumnya Rp 8.500 per kg. Sedangkan harga beras merek Bumi Ayu masih stabil yakni Rp 12 ribu per kg.

Kenaikan harga beras ini juga terjadi di sejumlah minimarket. Hendri karyawan mini market Primart Tiban menuturkan, rata-rata beras mengalami kenaikan harga hingga Rp 3 ribu. Seperti beras merek Rambutan dijual dengan harga Rp 10.400 per kg dari harga Rp 8.700 per kg, beras Solok dijual dengan harga Rp 68 ribu per 5 kg dari harga sebelumnya Rp 66 ribu.

Pedagang beras di Pasar Cipta Puri Tiban juga menyampaikan hal senada. Mereka mengaku harus menaikkan harga karena stok sudah menipis menyusul seretnya pasokan dari distributor.

“Semua pada naik, bukan hanya beras saja, buah pun ikut naik,” ujar seorang pedagang kelontong di Pasar Cipta Puri, Tiban.

Sebelumnya, Wali Kota Batam melalui Asiseten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Pemko Batam, Gintoyono Batong, mengatakan untuk mengatasi kelangkaan beras dan mahalnya harga, Pemko Batam memerintahkan Disperindag-ESDM Batam agar secepatnya menginstruksikan ke semua distributor beras di Batam untuk segera mengeluarkan stok beras yang ada di gudang dan dilempar ke pasaran.

“Itu instruksi langsung dari Wali Kota Batam, dan pemerintah memberi waktu sampai hari Minggu,” ucap Gintoyono, Sabtu (23/10) lalu.

Jika sampai hari Senin (26/10) diketahui beras belum keluar dari gudang, maka Wali Kota Batam bersama jajaran terkait akan turun langsung untuk memaksa para distributor mengeluarkan berasnya.

“Semua gudang akan dibuka, dan dikeluarkan semua berasnya,” ancam Gintoyono.

Ketua Komisi II DPRD Kota Batam, Yudi Kurnain, mendesak pemerintah segera membuka kran impor beras. Menurut dia, ini merupakan solusi cepat mengatasi kelangkaan beras di Batam saat ini.

“Sudah berkali-kali kami mengingatkan pemerintah daerah agar membuka impor,” ujar Yudi Kurnain, Minggu (25/10).

Larangan impor beras yang diberlakukan selama sebulan lebih, menurut Yudi berdampak langsung terhadap masyarakat. Beras menjadi langka dan mahal. Bila terus dibiarkan akan berimbas terhadap inflasi, kebutuhan hidup layak (KHL), serta perekonomian di Kota Batam.

“Kita butuh beras itu (impor). Bila selama ini ilegal, bikin menjadi legal,” ungkapnya.

Kebijakan impor beras, lanjut Yudi, lebih rasional ketimbang mendatangkan beras lokal dari daerah lain di dalam negeri. Karena selain lebih murah, kualitas beras impor juga lebih baik.

Yudi bersikeras, upaya pemerintah menekan distributor agar menggelontorkan beras cadangan ke pasaran bukan solusi. Sebab, kata dia, tanpa kehadiran beras impor, beras akan kembali langka.

“Solusinya buka kran impor,” ucapnya.

Namun, politikus PAN ini juga mewanti-wanti agar pihak-pihak yang berwenang melakukan pengawasan. Sehingga beras yang masuk ke Batam dan Kepri seuasi kuota, dan tidak dimanfaatkan importir untuk disalurkan ke luar daerah kepri.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Komisi III DPRD Batam, Helmy Hemilton. Ia berharap pemerintah segera mengeluarkan kuota impor beras untuk Batam serta mengawasinya secara ketat agar tidak bocor ke daerah lain.

“Solusi jangka pendek adalah buka kran impor tapi harus diawasi dengan ketat agar kuotanya tidak berlebih,” ujar politisi Partai Demokrat ini.

Helmy juga berharap pemerintah daerah untuk tegas terhadap para distributor beras agar tidak melakukan penimbunan di gudang. “Izin usahanya bisa saja dicabut jika benar ada penimbunan,” tegasnya.

Kata dia, saat ini harga beras terus naik. Padahal menurut dia selama ini tidak ada kendala suplai. Sehingga dia menduga, ada indikasi permainan kartel beras.

“Ini harus disikapi serius. Pemko Batam jangan kayak yoyo. Kemarin bilang ada penimbunan tapi buru-buru klarifikasi bahwa tidak ada,” ujar Helmy.  (hgt/cr17)

October 26, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: