Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Pamer Belahan Pantat, Lidah Terjulur, Tak Pakai BH dan CD

Budaya Asing Dipakai, Budaya Sendiri Dilupakan

Oleh SUPRIZAL TANJUNG, Batam

JUJUR saja. Dari 2.000-an tulisan yang saya buat, menulis tentang pantat ini sangat berat bagi saya. Saya agak menulis tentang hal ini dengan agak terpaksa.

monyet pantat

Foto Ilustrasi. Monyet Jambul, hewan khas Sulawesi.

Bicara dan menulis tentang pantat. Tak enak sekali mendengarnya. Tapi tulisan harus dibuat, dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan, bukan menyuruh orang banyak untuk melihat atau menikmati pantat, dada, paha, bibir, lidah, dan lainnya.

Fenomena pamer pantat, tidak menggunakan breast holder (BH) dan CD (celana dalam), pakai bikini (BH dan CD terpisah), G-Strings (celana dalam super mini), dan nudis (telanjang bulat). Ini bukan budaya kita Indonesia. Ini produk impor, yang sangat berbahaya dan negatif.

Membiarkan, mendiamkan saja, tidak melarang masalah pamer belahan pantat, dada, paha dan lainnya itu, membuat kita bersalah dan berdosa.

Kebiasaan yang dilakukan sebagian perempuan itu sangat sensitif. Terlalu pribadi. Dekat dengan kemaluan. Berbicara tentang kemalauan, ya jadi malu sendiri. Saya tidak mau, dan prihatin sendiri. Mari kita malu dan prihatin berdua, malu dan prihatin berramai-ramai.

Jika sudah ramai-ramai malu dan prihatin, kita tentu tidak ragu, dan tidak takut menentang kebiasaan itu, baik dari dalam hati, melalui lisan, perbuatan, atau melalui aturan.

Kita harus membantu lewat doa, lisan, dan perbuatan, untuk memperbaiki keadaan diri, keluarga, lingkungan, dan dalam bentuk lebih besar adalah bangsa dan negara. Masyarakat harus diingatkan melalui pesan, nasehat, dan tulisan.

Tujuannya, agar kebiasaan buruk tadi, tidak menjadi budaya bagi orang-orang yang kita sayangi, keluarga, generasi sekarang, dan generasi mendatang di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

***

Tak banyak, perempuan memiliki pantat berisi, mulus, putih, dan mengkilat. Terlebih perempuan itu juga cantik. Luar biasa. Beruntunglah, perempuan yang memiliki anggota tubuh sempurna seperti itu.

Lebih beruntung lagi, seorang lelaki yang telah berjuang keras, tenaga pikiran, waktu, dan dana untuk memikat hati, dan memiliki ‘’bidadari’’ tersebut.

Namun kini sejak tahun 2010 lalu, untuk melihat pantat perempuan cantik, tidak perlu susah payah. Tidak perlu memiliki uang banyak, tidak usah punya pekerjaan dan jabatan tetap.

Tak usah punya pendidikan tinggi. Pantat-pantat mulus itu dengan mudahnya dilihat. Pemandangan ini hadir di depan mata, tanpa diminta, dan dicari.

Biasanya, perempuan menggunakan celana kedodoran. Celana dibuat dengan bagian pinggang agak lebih besar ukurannya. Celana tadi seperti mau jatuh dari pinggang. Terkadang hampir turun sampai di bawah pinggul. Biar lebih lengkap, celana tadi dipadu dengan baju (kaos atau kemeja) pendek, di atas pinggang, sehingga tidak menutupi pinggang celana.

Dengan komposisi celana dan baju ini, saat berdiri saja, belahan atas pantat perempuan terlihat jelas. Pemandangan langka ini, semakin jelas terlihat saat perempuan duduk di bangku, di atas motor.

Ironinya, ketika bagian sensitif ini terlihat oleh orang banyak, si perempuan biasa saja. Dia seperti bangga, dan malah menikmati mata takjub orang banyak.

Kejadian seperti ini, sering kita lihat di jalan, café, restoran, minimarket, supermarket, mal, atau tempat-tempat umum lainnya.

Berbagai tanggapan orang yang melihat pantat tersebut. Lelaki yang punya akhlak biasa-biasa saja, atau berakhlak pas-pasan, melihat pemandangan ini akan menimbulkan sensasi tersendiri. Mulutnya tergangga. Mata melotot. Dan ‘’sesuatu’’ bergerak dari balik celananya.

Bagi dia, ‘’rezeki’’ ini sangat luar biasa. Sayang rasanya bila hanya dilihat. Durian sangat harum. Sayang kalau hanya dilihat dan dicium saja. Lebih sempurna bila ‘’dimakan’’.

Bagi orang yang masih memiliki moral~akhlak yang baik, akan keluar rasa jengkel, mengelus dada, menghembuskan napas panjang. Dia akan geleng-geleng kepala. Mengeluh. Kenapa sampai begini rusak keadaan generasi muda sekarang ini?

Untuk kalangan agamawan, yang menyatukan lisan dan perbuatannya, maka pamer pantat ini akan dikecam, dimarahami di dalam hati, atau langsung menasehati sang ‘’artis’’ abal-abal tadi.

Masalahnya sekarang, kalau hanya satu tokoh agamawan saja yang marah, sementara ada 1.000 perempuan yang bermasalah, berarti dia harus kerja keras. Orang tadi harus mendatangi lalu memarahi, dan menasehati 1.000 perempuan tadi.

Mungkinkah? Rumit. Butuh waktu, tenaga, dan biaya. Lagi pula, apa bukan malah tokoh agamawan tadi yang akan dilaporkan ke polisi, karena telah mengganggu kebebasan dan privasi seorang perempuan.

Perempuan tadi mungkin akan berkata, ‘’Pantat, pantat saya. Yang mengurus dan merawatnya saya. Orang tua, atau suami saya tidak ribut. Kenapa anda merasa terganggu?’’

‘’Lagi pula dengan pamer pantat ini banyak keuntungan yang saya dapat.’’ Lha kok begitu jawabannya, apa alasannya?

Gaya fashion seperti ini, ternyata tidak hanya dilakukan perempuan saja. Sebagian kaum lelaki juga melakukan hal sama. Bedanya hanya di jenis kelamin.

Pemandangan gratis, melihat belahan pantat tadi, tidak selalu membuat orang sekitanya tersenyum, senang, berdebar, dan memiliki berbagai fantasi.

Orang yang melihat kadang mencibir, jengkel, marah, dan menyumpah. Lha kenapa? Kan tadi senang. Ini berbeda. Sebab pantat yang mereka lihat kali ini, milik orang tua, gendut, dan tidak rancak (buruk).

Kadang, perempuan dan lelaki yang menggunakan celana kedodoran tadi tidak bercermin. Tidak instrospeksi diri. Sudahlah tidak rancak, badan besar, hitam, berkerut, dan bagian belakangnya itu ada kudis, kurap, dan ada kulit matinya.

‘’Sialan. Sudah lah jelek, tua, gembrot, pantat berkudis, hitam. Ee pamer pula.’’ Mungkin itu gerutu sebagian orang. Luar biasa! Bodoh, dan buruknya.

Tren menggunakan celana kedodoran dan nampak pantat ini sebenarnya lahir lahir di penjara kawasan Amerika Serikat. Biasanya, pemerintah memisahkan antara penjara untuk pria dan perempuan.

Sebagai manusia, walaupun di penjara, kebutuhan biologis tetap harus dipenuhi. Nah kemana para tahanan lekaki kalau sedang ‘’ingin? Kerap terjadi, tahanan lelaki ‘’mengganggu’’ tahanan lelaki lain. Terjadilah, jeruk makan jeruk. Akibatnya, homoseks berkembang sangat pesat di penjara.

Orang-orang di penjara bukanlah orang yang bodoh. Mereka malah memiliki intelektual tiggi. Kreatif, dan inovatif. Mereka membuat satu aturan tidak tertulis soal homoseks. Ada beberapa cara untuk memberitahu kepada tahanan lain kalau dia bisa ‘’dipakai’’. Lelaki yang menggunakan celana kedodoran dengan nampak belahan pantat itu menjadi isyarat, bahwa dia bisa ‘’dipakai’’ oleh lelaki lain.

Simsalabim. Entah bagaimana caranya. Budaya barat itu, masuk ke Indonesia. Tua muda, besar kecil, cantik, ganteng, berkulit putih atau hitam, berkulit mulus atau berkurap, tidak peduli. Celana kedodoran telah diterima menjadi satu kebudayaan, terutama bagi anak muda kita, sampai kini

Teori dan analisa lain menyebutkan, tren celana kedodoran ini dikenalkan oleh penyanyi hiphop. Apapun teorinya, budaya negatif ini telah masuk, diterima, dan berkembang di tengah masyarakat kita.

Budaya Perempuan Memakai Celana Ketat Sehingga Terlihat Vagxxx

Ketika saya masih kuliah dulu di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Sulawesi Utara (tahun 1992-1997) dulu, ada sebagian mahasiswi suka menggunakan jin karet (celana sejenis Levi’s).

Jin bagus, dan tahan. Apalagi celana itu diformat dengan ukuran jahitan relatif ketat. Bahan celana di bagian kaki, dan paha relatif sempit. Tidak usah khawatir, celana itu tidak bisa masuk, atau tidak bisa dibuka. Karena berbahan karet, celana itu mudah masuk dan muda pula keluar dari kaki.

Persoalannya, celana itu juga ketat di bagian pinggang, pinggul, dan bagian sensitif perempuan. Akibatnya, bagian vital perempuan tercetak jelas.

Seorang mahasiswi yang kebetulan duduk di dekat saya menggerutu kepada teman-teman sesama mahasiswi.

‘’Pastiu skali kita deng menir tu dia. Depe mata, pa ta pe Vaxxxx. (Saya jengkel sekali dengan dosen itu. Dia selalu melihat bagian terlarang saya),’’ sungutnya.

Kenapa cuma dosen disalahkan. Apa bukan mahasiswi ini tidak ikut bersalah, lantara telah menyajikan pemandangan seperti itu? Sayangnya, saya tidak punya wewenang melarang kawan saya itu. Jangankan saya, orang tua, bahkan pihak kampus pun tidak melakukan apa-apa terhadap tren tersebut. Kejadian itu, juga terjadi di kampus lain, di kota, kabupaten, dan provinsi lain.

Fashion ala barat dengan celana ketat di bagian alat vital perempuan dan lelaki itu, banyak ditiru mahasiswa. Orang kebanyakan pun tidak ketinggalan menggandrungi celana seperti ini.

Budaya Tak Pakai BH dan Nampak Buah Dada

Jauh sebelum fashion (celana) yang membuat belahan pantat terlihat, telah ada budaya tidak memakai breast holder (BH). Kasus ini juga dilakukan sebagian perempuan.

BH bermanfaat untuk mengangkat payudara ke atas dan dalam, sehingga postur tubuh yang tepat dapat terbentuk, serta membuat tubuh lebih nyaman dan alami. BH juga memperkuat otot romboid, yaitu otot-otot di antara tulang belikat yang dapat menjaga tulang belikat tetap kencang dan menarik dengan lebih mudah. Selain itu, BH juga menunda proses pengenduran payudara, sehingga selalu kencang dan sehat.

Bagi perempuan tertentu. dia sengaja tidak memaki BH. Tujuannya, agar masyarakat tahu bahwa dia tidak memakai BH. Untuk memperjelas, saat keluar rumah, dia hanya menggunakan baju kaos tipis. Ya tentu saja bagian sensitif ini (buah dada) tercetak, terlihat jelas, utuh, dan sempurna.

Kebanyakan lelaki, bila melihat buah dada perempuan cantik, matanya akan melotot. Kemana perempuan itu melangkah, ke situ pula kepala dan matanya tertuju. Perempuan tadi bukannya malu. Malah bangga. Semakin melotot mata lelaki, semakin bangga si perempuan.

Biasanya, artis yang tidak menggunakan BH. Tujuannya, biar orang gemes, penasaran, kagum dengan kecantikannya. Permintaan masyarakat, pengusaha, dan produser untuk menjadikan dia sebagai bintang utama, atau bintang tamu akan semakin tinggi. Nilai kontraknya semakin tinggi.

Itu artis. Kalau perempuan biasa, walaupun cantik mengapa harus mengikuti itu. Apa yang didapat dengan tidak menggunakan BH, dan memadukannya dengan baju kaos tipis, transparan?

Hasilnya, cuma decak kagum, membuat lelaki merasang. Buah dadanya, hanya dinikmati secara bebas, gratis, oleh siapapun, termasuk sopir, tukang ojek, atau siapapun. Anda suka, anak gadis, istri, mertua, menantu anda terlihat bagian vital tubuhnya, dan dilihat siapapun?

Budaya Menjulurkan Lidah dan Memonyongkan Bibir saat Difoto

Gaya anak muda sekarang ini yang cukup unik, dan tidak mencerminkan budaya Indonesia, adalah menjulurkan lidah, dan memonyongkan bibir saat difoto. Lidah terjulur panjang, atau bibir dimonyongkan dan kamera pun merekam momen itu.

Tidak lama, gaya foto dengan lidah terjulur, atau bibir dimonyongkan itu sudah menjadi foto status di BlackBerry Messenger (BBM), Facebook, WhatsApp, instragram, dan lainnya.

Kita heran. Apa maksudnya memamerkan lidah dan memonyongkan bibir? Mau menunjukkan bahwa dia memiliki lidah dan bibir, sedangkan kita tidak?

Atau bibir dan lidah dia lebih panjang, lidah bercabang, dan indah? Atau, dia semakin cantik dengan menjulurkan lidah dan memonyongkan bibir? Akh, rasanya tidak. Malah terlihat konyol, bodoh, dan kekanak-kanakan berfose seperti ini.

Coba lihat, mana ada seorang Kapolsek, Kapolres, Kapolda, Dandim, Danrem, Panglima Kodam, Pangkostrad, jenderal, dekan, rektor, menteri, wakil presiden, dan presiden, yang memajang foto menjulurkan lidah. Ini semakin mempertegas. Foto menjulurkan lidah, bukanlah kebiasaan umum yang bisa diterima masyarakat banyak.

Lantas, akan jadi apa, bila tokoh masyarakat, Kapolsek, Kapolres, Kapolda, Dandim, Danrem, Panglima Kodam, Pangkostrad, jenderal, dekan, rektor, menteri, wakil presiden, dan presiden, berfoto menjulurkan lidah.

Jika ini terjadi, tentu sudah main-main lidah masyarakat kita dalam keseharian. Lalu kita memajang foto dengan fose menjulurkan lidah di ijazah SD, SMP, SMA, S1, S2, S3, dan profesor?

Pernah terlihat, siswa SD, SMP, dan SMA, sering bermain-main dengan kawan-nya. Lidah terjulur, dan napas terengah-engah. Menirukan gaya seekor anjing. Lalu mereka tertawa-tawa lucu. Mungkin, ada sebagian dari kita pernah melakukan hal ini dulu, atau sekarang.

Itu sekadar menghibur diri, tapi bukan untuk diabadikan di foto, lalu diunggah di BlackBerry Messenger (BBM), Facebook, WhatsApp, instragram, dan lainnya.

Pada satu cerita disebutkan, aktor pertama yang menjulurkan lidahnya adalah Einstein. Aksi ilmuwah terkenal keturunan Yahudi ini menjadi sangat populer.

Awalnya, orang banyak mengira foto itu hasil editan. Ternyata, toto Einstein yang menjulurkan lidah itu memang asli. Lalu bagaimana ceritanya seorang ilmuwan seperti Einstein berfoto dengan pose yang cukup konyol?

Seperti diberikan brilio.net dari theguardian.com, foto itu diambil pada tanggal 14 Maret 1951, saat Einstein merayakan HUT ke-72. Einstein menggelar acara ulang tahunnya di Princeton University. Setelah selesai acara, Einstein dan istrinya pun ingin pulang. Namun, para wartawan dan fotografer terus memburunya. Einstein buru-buru masuk ke mobilnya bersama istrinya dan Dr Fank Aydelotte yang menemaninya. Sampai Einstein duduk di jok belakang di antara istrinya dan Dr Fank, ternyata para wartawan tak putus asa mengejarnya.

Di antara kerumunan itu, Einstein melihat Arthur Sasse, seorang fotografer yang telah dikenalnya. Melihat seorang temannya di antara kerumunan, Einstein pun mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya. Sasse tak melewatkan momen ini, dia mengabadikannya dengan kameranya. Setelah foto itu dicetak, Sasse menunjukkannya kepada Einstein dan ternyata Einstein menyukainya.

Dalam foto itu terlihat Einstein menjulurkan lidahnya sedang duduk di antara istri dan koleganya. Ia lantas menggunting foto itu hingga hanya dirinya yang terlihat dan mengirimkan foto itu kepada teman-temannya. Sejak saat itu, foto Einstein dengan pose menjulurkan lidah itu menjadi begitu terkenal hingga sekarang.

Anjing Menjulurkan Lidah Tanda Siap Disetubuhi

Zoologi sebagai cabang biologi yang mempelajari struktur, fungsi, perilaku, serta evolusi hewan menyebutkan, seekor anjing mempunyai kebiasaan menjulurkan lidah.

Bagi orang awam, lidah terjulur tersebut tidak memiliki makna apa-apa. Tapi tidak bagi anjing. Bagi anjing, lidah memiliki banyak makna. Berdasarkan penelian, lidah terjulur dari seekor anjing memiliki tiga makna.

  1. Kehausan, lidah dijulurkan ketika sedang haus.
  2. Kepanasan, lidah dijulurkan ketika sedang kepanasan.
  3. Birahi. Seekor anjing betina memberikan sinyal dengan mengulurkan lidahnya kepada sang jantan. Itu sebagai isyarat dia siap, dan minta disetubuhi.

Jelas saja, fenomena menjulurkan lidah ini sangat tidak baik, dan sangat tidak mendidik. Maknanya sangat buruk. Janganlah, kebiasaan seekor anjing yang siap disetubuhi itu ditiru. Apalagi dilakukan oleh anak, keponakan, tante, om, ibu, bapak kita, yang sangat kita sayangi, hormati, dan banggakan. Jika anjing bisa membaca tulisan ini, pasti dia protes.

Foto Bugil di Tempat Umum

Ada lagi kebiasaan lain yang juga sedang mewabah, yaitu ber foto selfie dengan telanjang dada. Di negeri kita, Indonesia, seorang lelaki bertelanjang dada, masih bisa dimaklumi.

Di Singapura, dan juga negara maju lainnya, perempuan sangat bangga berfoto selfie dengan buah dada tanpa penutup. Mereka beraksi di jembatan, sekolah, gedung, mal, atau pusat-pusat keramaian.

Perempuan adalah manusia terhormat, dan sangat dimuliakan tubuh dan harga dirinya. Kini, tubuh perempuan, terutama buah dadanya, tidak lagi berharga. Semua dilakukan demi mendengar decak kagum orang banyak, terutama lelaki, dan mendapatkan ketenaran, dan uang.

Kecantikan wajah, dan kesempurnaan tubuhnya sengaja diumbar. Siapa tahu nanti terlihat oleh produser film, terlihat orang lelaki kaya tampan. Kan lumayan bisa jadi bintang film, atau dijadikan istri? Istri kedua, istri ketiga, atau istri simpanan ya?

Memakai Bikini (Two Piece), G-String

Kebiasaan memakai two piece (bikini, celana dalam dan BH tepisah), G-String (celana dalam super seksi) adalah budaya barat yang relatif lama dan sudah hadir di Indonesia.

Pada daerah tertentu, dan di kawasan yang sangat mengagungkan wisata, terjadi pembolehan, dan pembiaraan terhadap kebiasaan wisatawan mancanegara, dan juga orang lokal untuk menggunakan bikini, two piece, dan G-String.

Bukan hal janggal, bila di kawasan wisata, budaya nude (telanjang bulat) terjadi dan sudah lama berlangsung.

Tempat-tempat seperti ini biasanya sangat ramai oleh kaum muda, lelaki dan perempuan. Café, bar, restoran, hotel, dan berbagai sarana dan prasarana untuk menikmati hiburan ini sangat lengkap, mewah, dan canggih.

Minuman alkohol, tari telanjang (striptease), Perempuan Seks Komersial (PKS), gigolo (lelaki yang menjual diri untuk dikencani perempuan muda atau tua), gay (lelaki yang suka sesama lelaki), menjamur. Tinggal cari di tempat terdekat, telepon,atau SMS, BBM, atau kirim WA.

Lokalisasi pun tetap beroperasi. Hanya tempatnya saja yang dijauhkan dari lokasi perumahan penduduk. Kan ada motor, mobil, bus, angkot. Seberapapun jauhnya, lokalisasi tetap bisa dijangkau.

Ironinya, daerah yang mengklaim sebagai daerah yang menjunjung tinggi budaya Indonesia, tidak lepas dari kehadiran wanita menggunakan bikini, two piece, G-String tadi. Perempuan Seks Komersial (PKS), gigolo (lelaki yang menjual diri untuk dikencani perempuan muda atau tua), gay (lelaki yang suka sesama lelaki), tidak sulit didapatkan.

Semuanya hadir dan tidak diberantas, dengan alibi, untuk meningkatkan sekotar wisata, dan perekonomian.

Praktek dan budaya seperti tadi, tidak bisa diberantas secara emosional. Agama, moral, akhlak, akan kalah dengan para jagoan, oknum aparat, dan oknum aparat pemerintah yang membekingi kegiartan tersebut.

Rok Mini (di atas lutut) dan Rok Super Mini (lebih tinggi dari rok mini)

Pada tahun 1990 ke bawah, rok mini (di atas lutut), super mini (lebih tinggi dari lutut) juga sudah masuk ke Indonesia. Siswa SMP, SMA, dan gadis remaja, dan perempuan muda, kerap menggunakan rok mini, atau rok super mini (hampir nampak celana dalam).

Siswa dan remaja yang menggunakan rok maksi (rok panjang) malah diolok-olok. Kampungan, tidak pandai bergaul.

Ketika itu, seorang perempuan yang menggunakan rok mini, rok super mini, menjadi pembicaraan tersendiri di kalangan lelaki. Lagi-lagi, perempuan tadi bukannya risih, dan malu. Mereka justru bangga, ketika mata lelaki selalu mengarah ke arah pahanya.

Saat itu, sebagian lelaki semakin suka melihat ke bawah, ke arah paha. Tak jarang ada yang sangat terangsang, dan memiliki fantasi seks, ketika melihat perempuan yang menggunakan rok tersebut.

Akibat negatif dari penggunaan rok mini, rok super mini tadi memang tidak besar, dan tidak separah menggunakan celana kedodororan, bikini atau two piece, G-String, seperti saat sekarang ini.

Rok mini, rok super mini pada awalnya ditentang oleh kaum agama, dan orang tua. Lambat laun, semangat untuk melarang penggunanaan rok mini, rok super mini itu hilang secara per lahan. Orang kini sudah biasa saja melihat perempuan tua, dan muda menggunakannya.

Budaya Tidak Memakai CD (celana dalam)

Celana dalam (CD) dibuat untuk menutupi alat paling vital manusia. Malu rasanya bila tidak memakai CD, atau risih dan sangat malu rasanya bila ketahuan tidak menggunakan CD.

Kebiasaan ini, mulai dikenalkan artis-artis Holywood (Amerika Serikat), Inggris, Prancis, Jerman, dan Israel.

Bagi sebagian kaum perempuan (artis) tadi, CD sengaja tidak dipakai. Tujuannya, kebanyakan untuk pamer, promosi kemolekan diri kepada pengusaha, produser, atau pejabat.

Bila ada orang yang melihat dia tidak menggunakan CD, orang tersebut akan gemes, dan penasaran. Endingnya, adalah untuk mendapatkan uang dari hasil memamerkan bagian sensitif. Caranya bisa lewat pernikahan, jadi artis dan membuat film, atau paling parah menjadi kawan kumpul kebo, dan istri simpanan.

Artis kita, dan juga sebagian perempuan kita, telah menjadikan tren tidak menggunakan CD sebagai bagian dari jati diri. Bangga, bahagia, bila mata lelaki terbelalak melihat dia tidak mengenakan CD.

Budaya Nusantara, Budaya Islam

Dari tadi kita bicara tentang budaya barat, budaya luar yang tidak sesuai dengan norma agama, norma susila kita sebagai orang timur. Budaya asing dipakai, budaya sendiri dilupakan.

Lantas, apa sebenarnya budaya timur yang sesuai dengan norma agama, norma susila di NKRI ini ?

Kita sebagai orang Indonesia, harusnya bangga dengan kebudayaan sendiri. Budaya kita tidak macam-macam. Kita memiliki baju kurung, baju muslim untuk perempuan. Untuk lelaki ada celana panjang dan baju koko untuk lelaki. Itu baru beberapa pakaian nusantara yang sopan, yang kita paparkan. Itu belum termasuk pakaian dari nusantar lainnya yang sangat elok, dan cocok dikenakan dalam kondisi apapun.

Khusus untuk perempuan, baju kurung dan baju muslim tadi jelas menutup dada, paha, perut, pantat, dan bagian terlarangnya.

Menggunakan baju kurung dan baju muslim, akan menghilangkan keinginan lelaki untuk berbuat asusila. Zaman dulu, sangat jarang terdengar ada lelaki memperkosa perempuan, lalu membunuh, dan membuangnya di dalam hutan.

Dengan pakaian perempuan yang sopan, membuat napsu buruk lelaki untuk memperkosa, membunuh perempuan akan akan hilang

Beda dengan sekarang. Hampir tiap hari, terjadi dan terdengar kasus perempuan diperksa, dibunuh, dan dibuang ke dalam hutan, sungai, got, atau ditanam di dalam tanah. Sangat menyedihkan.

Perempuan akan terhindar dan selamat dari kejahatan karena menggunakan pakaian sopan, sesuai dengan norma agama, dan norma susila kita sebagai orang timur. Kalau sudah begitu, kenapa kita memakai budaya, cara berpakaian dan budaya orang barat yang jelas mengudang kejahatan.

Suka atau tidak. Mau mengikuti atau tidak. Itu semua terserah. Keputusan pada kita sebagai orang tua, tokoh masyarakat, aparat, pemerintah, juga kepada anda yang menggunakan budaya barat tersebut.

Jangan setelah ada kejadian buruk, pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan seks, baru kita protes, marah kepada polisi dan pemerintah yang belum juga berhasil menangpak pelaku pemerkosa.

Perempuan yang berpakain sopan dan baik-baik saja, kerap menjadi korban kejahatan. Apatah lagi perempuan yang berpakain seksi, mini, dan mempertontonkan auratnya.

Saat ini Majelis Ulama Indoensia (MUI), Pemerintah, Bupati, Wali Kota, Gubernur, Menteri, Presiden telah mengeluarkan larangan dan aturan tentang pornografi. Salah satunya dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, juga aturan dan perda terkait pornografi lainnya.

Dengan adanya berbagai aturan tadi saja budaya pornografi yang tidak sesuai dengan aturan dan budaya Indonesia masih saja terjadi dan berjalan. Apalagi bila tidak ada larangan dari pemerintah dan MUI. Bisa saja nanti, orang Indonsia tidak lagi tabu dengan hal-hal yang dianggap porno, cabul saat ini.

Larangan Allah Terhadap Pornografi dan Memperlihatkan Aurat

Imbauan untuk berpakaian sopan, menutup aurat, telah disampaikan oleh Allah SWT melalui Nabi Agung, Muhammad SAW sekitar 1437 tahun lalu.

Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [an-Nûr/24:31]

Dan Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Wahai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. [al-A’râf/7:31]

Sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang di sebutkan dalam Shahîh Muslim dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:

كَانَتْ الْمَرْأَةُ تَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَهِيَ عُرْيَانَةٌ … فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Dahulu para wanita tawaf di Ka’bah tanpa mengenakan busana … kemudian Allâh menurunkan ayat :

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid…[HR. Muslim, no. 3028]

Bahkan Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada istri-istri nabi dan wanita beriman untuk menutup aurat mereka sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Ahzâb/33:59]

Dengan menutup aurat hati seorang terjaga dari kejelekan Allâh Azza wa Jalla berfrman :

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. [al-Ahzâb/33:53]

Sekarang kita tunjukkan sebagian dari ayat-ayat suci Al-Quran mengenai hijab berikut ini: (Qullilmu’minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wa yahpadzna puruujahunna walaa yubdiina ziinatahunna illaa maa dzhara minhaa walyadhribna bikhumurihinna ‘alaa juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna illaa libu’uulatihinna …) Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan ….(QS. An-Nur : 31)

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu anhuma ketika beliau datang ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan busana yang agak tipis. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memalingkan mukanya sambil berkata :

يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا

Wahai Asma ! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).[HR. Abu Dâwud, no. 4104 dan al-Baihaqi, no. 3218. Hadist ini di shahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah didatangi oleh seseorang yang menanyakan perihal aurat yang harus di tutup dan yang boleh di tampakkan, maka beliau pun menjawab :

احْفَظْ عَوْرَتَكَ إلَّا مِنْ زَوْجِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ.

Jagalah auratmu kecuali terhadap (penglihatan) istrimu atau budak yang kamu miliki.[HR. Abu Dâwud, no.4017; Tirmidzi, no. 2794; Nasa’i dalam kitabnya Sunan al-Kubrâ, no. 8923; Ibnu Mâjah, no. 1920. Hadist ini dihasankan oleh Syaikh al-Albâni]

Wanita yang tidak menutup auratnya di ancam tidak akan mencium bau surga sebagaimana yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu beliau berkata :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَمْثَالِ أَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَتُوجَدُ مِنْ مَسِيْرةٍ كَذَا وَكَذَا

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (yang pertama adalah) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (yang kedua adalah) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti punuk unta yang miring.

Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” [HR. Muslim, no. 2128]

***

Semua perempuan memiliki buah dada, pinggul, pantat, bibir, lidah, dan wajah. Apakah sedemikian murahnya, sampai bagian tubuh yang hanya boleh dilihat suami dan istri itu, harus dipertontonkan kepada orang yang bukan muhrim-nya. Pendapat dan tanggapan terhadap tulisan ini, tentu sangat beragam. Pada akhirnya, baik atau buruk, bermfaat atau tidak. Semua diserahkan kepada anda. ***

.

.

SUPRIZAL TANJUNG

.

.

Batam, Selasa 27 Oktober 2015

October 27, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: