Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Menunggu Kran Impor Beras Batam Dibuka

Memastikan Ketersediaan Stok Sekaligus Menekan Harga

BATAM POS, Batam

KELANGKAAN beras yang disusul melambungnya harga komoditas tersebut masih menghantui warga Batam hingga saat ini. Semua berharap, kebijakan impor beras kembali dibuka untuk Batam dan Kepri.

Dewi kaget saat hendak membeli beras di Pasar Botania, pertengahan bulan lalu. Harga beras merek Arum Manis kesukaannya meroket, dari Rp 14 ribu per kilogram (Kg) menjadi Rp 17 ribu per Kg.

“Seminggu lalu belum naik,” kata warga Taman Raya, Batamcenter, ini.

Keluhan yang sama juga disampaikan para pemilik warung makan. Kenaikan harga beras ini cukup memukul usaha mereka. Sebab mereka tidak bisa serta merta ikut menaikkan harga nasi.

“Tapi kalau porsi tetap dengan harga yang sama, kami rugi,” kata Rahma, penjual nasi ayam penyet di Simpang Sincom Batamcentre, belum lama ini.

Kelangkaan beras ini juga menjadi perhatian banyak pihak. Bahkan polisi dan kejaksaan sempat menyatakan akan turun tangan karena menduga kelangkaan disebabkan adanya aksi penimbunan oleh para distributor.

Namun menurut Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan, kelangkaan ini dipicu seretnya pasokan beras impor ke Batam. Dia mengakui, selama ini konsumsi beras di Batam banyak dipenuhi oleh beras dari luar negeri meskipun tanpa melalui proses impor yang legal.

“Maka itu saya tegaskan, saya setuju dengan impor beras ke Batam,” kata dia.

Alasannya, kata ia, selain tak ada petani padi yang terganggu dengan masuknya beras tersebut, dibukanya keran impor beras juga dapat memastikan ketersediaan stok sekaligus menekan harga kebutuhan pokok itu di pasaran.

“Yang penting kan diberi kuota yang jelas dan pengawasan ketat sehingga beras impor tidak merembes ke daerah lain,” ujarnya.

Terkait kebijakan importasi beras tersebut, Dahlan menegaskan pihaknya juga ikut mendorong Penjabat Gubernur Kepri, Agung Mulyana untuk meminta pemerintah pusat segera membuka aturan khusus itu untuk Batam.

“Saya pernah ketemu Gubernur dan saya sampaikan soal ini,” kata dia.

Hal senada disampaikan Ketua Komisi II DPRD Batam, Yudi Kurnain. Politikus PAN itu tegas mengatakan, impor adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi permasalahan beras di Batam.

“Kuncinya adalah kuota impor. Kalau tidak maka masalah akan tetap seperti sekarang ini,” kata Yudi.

Dia mengatakan, jauh hari sebelum terjadinya kelangkaan beras dan harga beras yang tinggi di pasaran, ia sudah mendorong pemerintah agar melegalkan beras impor dengan mengeluarkan kuota untuk Batam. Ini juga akan ditindaklanjuti dengan rencana DPRD Kota Batam bersama Pemko Batam dan BP Batam yang akan berangkat ke Jakarta bertemu dengan Menteri Perdagangan, Thomas Lembong.

“Minggu ini kami akan berangkat ke Jakarta. Misi kami agar kuota beras ini diberikan,” katanya.

Menurut Yudi, masuknya beras dari luar negeri ke Batam sudah lama terjadi. Dan itu tidak perlu dipermasalahkan. Mengingat selama ini distributor atau pengusaha kesulitan mendatangkan beras dari dalam negeri, seperti Jawa, Sulawasi, dan Sumatera. Selain karena biaya pengiriman yang sangat mahal, proses pengiriman beras lokal justru memakan waktu lebih lama.

“Jadi tidak bisa disalahkan kalau mereka mendatangkan beras dari luar. Tetapi akan salah ketika ada penimbunan, itu tidak benar,” katanya.

Yudi menambahkan, pihanya menyiapkan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) terkait penimbunan dan penyelewengan beras ke daerah lain. “Sehingga pelakunya bisa dihukum seberat-beratnya,” tutur Yudi.

Kini pihaknya sedang mempersiapkan kajian akademik, agar rencana itu masuk dalam Program Legislasi Daerah (Prolegda).

Sebelum kran impor dibuka serta aturan dibukukan, pihaknya meminta pemerintah melakukan berbagai upaya. Sehingga kelangkaan dan melonjaknya harga beras bisa teratasi.

Yudi Kurnain mendesak Pemerintah Kota Batam segera menggelar operasi pasar maupun bazar sembako murah di seluruh Kecamatan di Kota Batam.

“Program (bazar sembako) kalau bisa disegerakan,” ungkap Yudi

Cahya, Ketua Apindo Kepri, juga berharap agar kran impor beras seperti yang diwacanakan oleh Menteri Perdagangan, Thomas Lembong, segera direalisasikan. Menurutnya, Batam yang terletak di daerah perbatasan sangat membutuhkan impor pangan yang legal. Ini akan mengurangi inflasi yang ada di Batam

“Tetapi harus impor terbatas. Ini akan sangat membantu kita,” katanya.

Selain menjaga inflasi, dengan adanya impor terbatas maka harga beras di pasaran akan tetap terjaga dan daya beli masyarakat akan terjamin. Tetapi pengawasan dari pemerintah tetap harus intensif.

“Kita harus sadar daerah kita ini bukan produsen pangan,” katanya.

Impor ini, kata Cahya, juga harus disesuaikan dengan persediaan pangan di Indonesia. Misalnya, jika panen raya sedang ada di Indonesia, maka impor diperkecil. Tetapi jika sedang ada kesulitan seperti musim kemarau dan yang lainnya, maka kuota impor ditambah sehingga kebijakan impor ini tidak merugikan petani dalam negeri.

Wan Muhammad Zein, Kabid Perdagangan Disperindag dan ESDM Kota Batam beberapa waktu lalu mengatakan selama ini memang beras dari luar negeri banyak di Batam. Tetapi belakangan jumlahnya menurun. Kondisi ini memicu kelangkaan beras di pasaran yang berimbas pada kenaikan komoditas pangan utama itu.

“Harapan kami kran impor ini segera dibuka. Biar legalitasnya lebih jelas,” kata  Zein.

Sementara itu, kebutuhan konsumsi beras di Batam cukup besar. Merujuk pada penghitungan Badan Pusat Statistik (BPS) Batam, rata-rata konsumsi beras satu orang di Batam sebanyak 0,3 Kg per hari atau 9 Kg beras per orang per bulan. Dari angka itu, jika dikalikan jumlah penduduk Batam yang berjumlah sekitar 1,2 juta jiwa, maka setiap bulan Batam butuh 10.800 ton beras.

Namun, jumlah stok beras di gudang milik 15 distributor beras di Batam tak sebanyak itu. Dua pekan lalu, Asisten Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Sekretariat Daerah Kota (Setdako) Batam, Gintoyono Batong, menyebut total stok beras di gudang distributor hanya sebanyak 932 ton. Jumlah itu berasal dari 11 distributor, yakni yakni PT Srijaya Raya Perkasa 95 ton, PT Mitra Abadi Kiat Perkasa 336 ton, PT Sumber Karya Sejati 50 ton, UD Setia Kharisma 100 ton, PT Five Brother 82 ton, PT Prima Surya Sentosa 10 ton, UD Maju Jaya Sentosa 100 ton, Namseng 20 ton, Jaafar 30 ton, PT Mitra Mandiri Perkasa 100 ton, PT Buana Aneka Jaya 9 ton.

“Masih ada tiga distributor yang akan memasukkan beras dalam dua atau tiga hari lagi, karena sekarang stok mereka nihil,” kata Gintoyono, kala itu.

Tapi, Gintoyono buru-buru meluruskan pola penghitungan konsumsi beras dari BPS tersebut. Menurut dia, tak semua orang di Batam memakan beras dengan jumlah hingga 0,3 kilogram saban harinya.

“Anak-anak kan gak mungkin makan beras sebanyak itu, padahal jumlah anak-anak di Batam juga cukup banyak,” argumen Gintoyono.

Tak hanya itu, ia juga menyatakan ada kalangan yang tergolong kurang mampu dan telah mendapatkan bantuan beras miskin (raskin) dari Perum Bulog yang semestinya tidak masuk dalam hitungan itu.

Meski mengubah hitungan dengan mengurangi angka kebutuhan beras merujuk pada pernyataan Gintoyono itu, tetap saja kebutuhan beras di Batam tinggi.

Perum Bulog pernah merilis jumlah penerima raskin di Batam sebanyak 36.103 keluarga miskin penerima bantuan. Dengan estimasi satu keluarga berisi empat orang, maka setidaknya ada 144.412 orang yang sudah tercakup dalam hitungan Bulog.

Sedangkan untuk kategori anak-anak, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Batam pernah menyebut, jumlah anak di Batam kira-kira 30 persen dari total penduduk Batam yang berada di kisaran 1,2 juta jiwa. Dengan begitu, maka diperkirakan jumlah penduduk anak-anak di Batam ada sekitar 360.000 jiwa.

Sehingga, jumlah orang miskin penerima raskin 144.412 orang ditambah anak-anak yang sekitar 360.000, yang totalnya 504.412. Sehingga 1,2 juta dikurangi 504.412, jumlahnya 695.588.

Dari angka 695.588 orang yang dewasa rata-rata itu kemudian dikalikan 9 Kg beras per bulan per orang, saban bulan Batam tetap saja butuh 6,2 ribu ton beras. Dibanding stok beras yang hanya 932 ton di gudang tersebut, jumlah itu diperkirakan baru seperduapuluh dari total kebutuhan yang mesti dicukupi untuk konsumsi beras warga Batam.

Namun, Gintoyono menyebut, jumlah stok beras di gudang Batam itu tak bisa jadi patokan jumlah beras yang ada hanya sebanyak itu.

“Kan ada juga yang sudah di pasaran, itu jumlahnya juga banyak,” kata dia.

Sementara itu, Aryanto, pemilik PT Srijaya Raya Perkasa, salah satu distributor beras di Batam menyatakan pihaknya tak keberatan mendatangkan berapapun kebutuhan beras bagi warga, yang dijual lewat pedagang atau pengecer. Asalkan, pedagang mau membeli beras dari distributor dengan harga yang lebih mahal dibanding beras impor.

“Mau berapa kontainer kita siap kirim, mereka mau banyak ya kita kasih, asal bayar saja, kan ini bisnis jadi tak mungkin kita tolak,” kata dia.

Menurut dia, harga beras yang kini mahal memang lantaran beras yang didatangkan dari Jawa itu sudah mahal. Ia menyebut, beras Ayam Bola yang ia jual per kemasan dibanderol Rp 295 ribu per karung yang berisi 25 kilogram.

Sedangkan beras lokal lain yang akan ia datangkan juga dari Jakarta dengan merek Premium, dihargai Rp 285 per karung.
Stok Bulog Cukup

Terpisah, Kepala Bulog Sub Divre Batam, Pengadilan Lubis mengatakan stok beras yang dimiliki Bulog diklaim cukup untuk kebutuhan selama tiga bulan ke depan. Karena itu, jika ada kekurangan beras yang dipasok distributor ke pasaran, pihaknya akan menutup kekurangan tersebut.

“Bulog pusat punya cadangan 500 ribu ton beras, kalau Batam butuh, bisa kita fasilitasi mendatangkan ke sini,” ujar Pengadilan.

Ia menjelaskan, selama ini Bulog Batam hanya menjalankan tugas sebagai public service obligation (PSO) yang mengemban amanah untuk menyalurkan beras miskin (raskin), mengelola cadangan beras pemerintah untuk kebutuhan darurat seperti bencana, maupun melayani operasi pasar saat terjadi kenaikan harga beras atau kelangkaan beras. Namun, kata ia, ada fungsi lain yang selama ini tak dijalankan Bulog Batam, yakni menggarap bisnis dan perdagangan beras premium atau kualitas tinggi. Bulog dapat melempar beras premium yang dimiliki ke pasaran.

“Kami tidak mengambil fungsi ini karena sebelumnya di Batam banyak beredar beras impor yang harganya jauh lebih murah,” terang dia.

Akhir pekan lalu itu, di gudang Bulog Batam ada 2.000 ton beras. Tak hanya itu, ia juga menyebut pihaknya akan mendapat tambahan beras kiriman yang saat ini tengah dalam perjalanan menuju ke Batam.

“Ada 1.200 ton lagi, jadi total nanti kita punya 3000 ton lebih,” kata dia.

Dalam satu bulan, Pengadilan mengungkap pihaknya menyalurkan beras untuk warga Batam sebanyak 541 hingga 545 ton per bulan. Jumlah itu untuk mengakomodir kebutuhan raskin untuk 36.103 orang miskin Batam.

“Itupun berasnya kualitas medium,” ujarnya.

Bahkan, ia menyambung, bulan Oktober ini pihaknya mengeluarkan raskin untuk tiga bulan sekaligus, yakni raskin bulan Oktober, November dan raskin ke-13. Sementara pada Bulan November nanti, perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang logistik pangan itu akan menggelontorkan raskin untuk bulan Desember dan raskin ke-14.

“Ini tujuannya untuk menghindari kelangkaan beras akibat tingginya permintaan, sekaligus menghindari inflasi (naiknya harga barang),” beber dia.

Pengadilan mengatakan, salah satu langkah tepat untuk mengatasi kelangkaan beras di pasaran adalah dengan memperkuat perdagangan antardaerah. “Antara kabupaten/kota itukan bisa. Kerjasama itu bisa dibangun seharusnya,” kata Pengadilan.

Pengadilan menilai perdagangan, antardaerah mesti diperkuat khususnya ke tempat yang sumber produksi padinya melimpah. “Selama ini sudah banyak yang mau masuk ke Batam, tapi tak pernah terwujud,” jelasnya.

Saat ini, Bulog menggelontorkan beras miskin (raskin) sebanyak tiga kali dari kebutuhan bulanan raskin untuk menstabilkan harga beras di pasar.

Pengadilan kemudian menjelaskan distribusi raskin untuk tahun 2015 telah bertambah menjadi 14 kali dari yang normalnya hanya 12 kali. Bulan Oktober kemarin, Bulog Batam telah melempar 541.545 kg raskin ke pasaran.

“Bulan ini saja kita akan gelontorkan alokasi dalam tiga kali bulan. Itu alokasi bulan Oktober, November dan raskin 13. Ini untuk menekan inflasi dan harga beras,” katanya lagi.

Pengadilan menyebutkan pihaknya bisa saja menyediakan beras seandainya memang ada permintaan dari kabupaten/kota setempat. Namun begitu, harga yang ditawarkan cukup tinggi sekitar Rp 9.500-Rp 10.000

“Kalau kami komersilkan sehingga mengambil beras dari Jawa, maka harganya akan tinggi, takutnya tidak laku dan busuk, kalah saing dengan beras yang beredar di Batam,” jelasnya.
Bulog juga siap mengakomodir jika ada usulan impor yang datang dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan

Kementerian Pertanian (Kementan). Selama ini, kata dia, Bulog tidak dapat mengambil keputusan untuk membuka kran importasi karena keputusannya ada di pusat.

“Kami cuma menjalankan saja,” tegasnya.

Sementara Ketua Komisi I DPRD Kota Batam, Nyanyang Haris Pratimura, mempertanyakan sikap pemerintah yang terkesan melindungi distributor yang sengaja menimbun beras. Hanya menegur secara lisan, tanpa sanksi yang tegas.

“Pengusaha seperti ini kalau perlu dilaporkan ke aparat penegak hukum bukannya dilindungi,” kata Politikus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini. (rna/ian/leo/hgt)

November 2, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: