Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Gaji Belum Naik, Kebubutuhan Sudah Melambung

Orang Tua Bawa Anak Gadis, Suami Antar Istri ke Lokalisasi

Oleh SUPRIZAL TANJUNG, Batam

KETIKA sedang menikmati minuman pagi, biasa kopi susu. Mendadak datang Short Message Service (SMS) ke ponsel saya.

sawah di padang 1

Hamparan padi di sawah di Sumatera Barat (Sumbar).

Isinya, seorang kawan bertanya. Kok sembako naik terus? Sementara, masalah Upah Minimum Kota (UMK) Batam untuk tahun 2016 belum diputuskan. Rencananya akan ditetapkan minggu ketiga November 2015.

Dalam hati saya bertanya. Lha kok tanya kepada saya? Saya kan bukan anggota legislatif, eksekutif, serikat pekerja, atau Dewan Pengupahan Kota (DPK, pengusaha, perserikatan buruh, Pemko Batam, dan Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Kalau saya balas SMS itu dengan alasan tersebut, tentu sangat tidak arif. Bukan memerikan solusi, atau menenangkan hati orang lain. Malah sebaliknya.

Bagi saya, mendapat SMS seperti ini, bukan pertama kali. Walaupun dengan SMS yang dikirim, tidak akan merubah keadaan si pengirim. Namun, dengan berkeluh kesah, orang itu ingin menumpahkan seluruh isi hati, kekecewaan, kemarahannya kepada pengusaha, penguasa, dan oknum yang tidak berpihak kepada masyarakat.

Menurut kawan itu, saya kan penulis. Setidaknya, bisa menyampaikan kepada pemerintah, DPRD, DKP, pengusaha, atau siapa yang bisa mendengar dan membantu dia.

Masalah gaji. DPK Batam telah menetapkan nilai kebutuhan hidup layak (KHL) Oktober 2015 sebesar Rp 2.843.308. Ini merupakan angka final KHL 2015 yang akan dijadikan acuan penetapan upah minimum kota (UMK) Batam 2016.

UMK, bukan menjadi persoalan satu kota, kabupaten, atau provinsi saja. Ini sudah menjadi persoalan nasional.

Pada saat DPK sedang membahas masalah UMK yang akan diberikan kepada para pekerja di tahun akan datang, hal menyedihkan terjadi. Apa itu. Kenaikan gaji baru dibahas. Harga-harga kebutuhak pokok sudah melambung. Tak terbendung. Cenderung sewenang-wenang.

Contoh sangat sederhana. Harga beras di pasaran sudah naik. Beras lokal harga tinggi. Solusinya, keran impor beras dibuka lebar. Hasilnya sangat membantu. Kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi.

Anehnya. Kenapa pada saat pembahasan UMK, penetapan UMK, menjelang tahun baru, harga menjadi tidak menentu. Beras hilang.

Banyak pengamat mengatakan ini permainan distributor, pengusaha, dan oknum tertentu. Dia sengaja menyimpan beras. Beras langka. Dengan demikian tidak ada alasan untuk tidak menaikkan harga beras. Semua pihak saling tahu. Tapi berlagak tidak tahu. Tidak ada tindakan. Hanya sebatas kecaman.

Kejadian ini terjadi setiap tahun. Kasusnya. Kok tidak bisa kita negara yang besar ini mengantisipasi persoalan naiknya harga sembako di tengah masyarakat?

Begitu saktinya para pengusaha, distributor. Sehingga sekitar 250 juta penduduk Indonesia, selalu mengeluh, menderita, sulit memenuhi kebutuhan pokoknya.

Masyarakat bekerja. Tapi gajinya, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok (sembako) pakaian. Untuk rumah, dan lainnya, sangat sulit dipenuhi.

Awalnya, memang hanya harga beras yang naik. Tapi jangan salah. Kenaikan beras ini akan berdampak kepada kenaikan terhadap kebutuhan lain. Multiplier effects hasilnya. Dampaknya berpengaruh terhadap seluruh tatanan kehidupan lainnya. Hasilnya, sewa rumah, katering, rumah makan, restoran, ojek, taksi, kios, ruko, penginapan, hotel, dan lainnya akan ikut naik.

Kalau masyarakat tak mampu membayar, membeli, menyewa. Dampaknya,  usaha sewa rumah, katering, rumah makan, restoran, ojek, taksi, kios, ruko, penginapan, hotel, dan lainnya akan macet, bahkan mati. Itu sudah banyak terlihat, dan terbukti di sekitar kita.

Kesejahteran akan berpengaruh terhadap mental masyarakat. Mental masyarakat akan menjadi lemah dan buruk, bila kesejahteraannya kurang. Kalau kesejahteraan kurang. Ya jangan heran masalah sosial dan keamanan akan mencuat kepermukaan.

Apa itu? Kriminalitas berupa pencurian, dan perampokan. Di sisi lain, masalah tidak mampunya memenuhi kebutuhan hidup, berdampak kepada meningkatnya kasus asusila. Pekerja Seks Komersial (PSK) merajalela. Kawin kontrak dengan orang asing seperti terjadi di satu daerah. Ini sudah menjadi pemandangan umum.

Lokalisasi selalu penuh dengan perempuan baru. Perempuan itu datang bukan karena keinginan sendiri. Ironinya. Ada orang tua mengantarkan anak gadisnya bekerja di cafe, bar, atau lokalisasi. Datangnya malah dari jauh. Dari kota, kabupaten, dan provinsi berbeda.

Tak kalah gila. Ada suami mengantarkan istrinya untuk bekerja di lokalisasi. Saat istri bekerja, suami menunggu di luar. Mau jadi apa masyarakat seperti ini. Fenomena buruk adalah aib bagi kita semua. Siapapun jangan lepas tangan. Kalau tidak ingin keburukan tadi berhenti. ***

Batam, Rabu 4 November 2015

November 4, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: