Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Jodoh Boulevard, Ikon Batam yang Tak Terurus

Dipenuh PKL, Jadi Tempat Transaksi Prostitusi

ALFIAN LG, Batuampar

JODOH Boulevard yang dibangun tahun 2006 di kawasan Tanjungpantun, Jodoh, dulunya diharapkan menjadi ikon Batam dengan kawasan taman untuk rekreasi keluarga di pusat kota. Tetapi kini sangat kumuh, banyak pedagang kaki lima (PKL), dipenuhi sampah, bahkan menjadi tempat transaksi esek-esek atau prostitusi.

Jodoh Boulevard kumuh

KAWASAN Tanjungpantun, Jodoh, kian sepi dan makin semrawut oleh banyaknya pedagang kaki lima, Selasa (11/2/2015). F Cecep

Jodoh Boulevard, dari namanya pasti terbayang bahwa itu adalah sebuah taman di daerah Jodoh. Kalau di dunia barat, kata Boulevard lebih diidentikkan dengan sebuah taman yang asri, sejuk, bersih, nyaman, dan indah.

Di mana Boulevard di luar negeri biasanya dijadikan orang ‘bule’ sebagai tempat bersantai dan rekreasi keluarga. Itu juga yang mendorong pemerintah di tahun 2006 membangun Jodoh Boulevard di Tanjungpantun. Hendak menjadikannya sebagai ikon Kota Batam. Anggarannya tidak sedikit, mencapai Rp 3,2 miliar.

Tetapi Jodoh Boulevard yang sempat digaungkan bakal menjadi kebanggaan Batam ini, ternyata sangat jauh dari taman Boulevard yang sering kita dengar di dunia barat atau di luar negeri. Mendekati pun tidak. Sangat jauh berbeda atau bertolak belakang.

Jodoh Boulevard ini luasnya sekitar  50×750 meter. Dibangun dengan konsep taman bermain. Ada taman, air mancur, perosotan untuk anak-anak, jogging track, serta lampu hias yang menawan. Tahun 2008 lalu, sudah mulai dioperasikan. Tetapi setelah itu sama sekali tidak ada perawatan atau pun pemeliharaan. Lampu-lampu hias di sana sudah hilang, banyak juga yang pecah.

Satu persatu pedagang kaki lima mulai berjualan di atas taman. Tidak ada tindakan tegas dari pemerintah membuat pedagang kaki lima semakin banyak berjualan di sana. Air mancur dulu yang sempat pernah menjadi daya tarik taman sudah tidak beroperasi. Kini semua taman hampir tidak ada yang terurus.

Reinhard, pedagang sepatu di sana mengaku pernah digusur oleh Satpol PP dan dilarang berjualan di sana. Tetapi itu hanya sebentar saja. Hitungan hari ia kembali berjualan di sana dan tidak ada lagi penertiban. ”Saya sudah 8 tahun berjualan di sini. Mau jualan di mana lagi. Di sini yang paling ramai,” katanya.

Ia mengaku awal taman itu dibangun, ia sempat berpikir tidak bisa berjualan di sana. Sebab, sudah sempat taman itu menjadi tempat bersantai warga Jodoh.

”Ada yang bawa anaknya main-main di sini. Banyak yang jogging juga. Tetapi bisa juga akhirnya jualan di sini,” katanya.

Kini ada ratusan pedagang yang ada di sana. Tidak terlihat sebagai taman, justru seperti pasar kaget, semrawut dan tidak tertata. Bahkan gerobak pedagang bebas saja ditinggal di sana.

”Di sini aman. Kalau kita tidak jualan lagi di malam hari, ada kok yang jagain. Adalah uang keamanannya,” terangnya.

Ternyata, Jodoh Boulevard ini tidak hanya ramai di siang hari. Bahkan di malam hari bisa lebih ramai. Ketika Batam Pos berkunjung ke sana, Sabtu (14/11/2015) lalu, terlihat kesibukan masing-masing warga. Ada yang berdagang dan ada yang sekedar duduk dan nongkrong.

Ada yang berjualan sate, bakso, bandrek, dan beragam jenis makanan lainnya. Bahkan tenda ukuran panjang seakan menutupi sebagian taman. Batam Pos menyusuri taman dengan berjalan kaki. Di dekat air mancur yang sudah tidak berfungsi itu, duduk tiga orang perempuan. Ketiganya menggunakan rok mini.

”Mau kemana bang? Duduk dulu sebentar,” pintanya.

Karena tidak digubris, mereka kembali duduk. Ternyata terlihat mereka berulang kali memanggil setiap pria yang melintas dekat mereka.

Maman, pedagang sate yang jualan di sana setiap malam mengaku bahwa perempuan-perempuan itu adalah Pekerja Seks Komersial (PSK). Di mana hampir tiap malam di sana pasti ada PSK yang menjajakan dirinya kepada pria hidung belang.

”Itu sudah biasa pak. Mereka tunggu langganan di sini. Itu sudah lama,” ucapnya.

Biasanya, kata Maman, setelah mendapatkan pelanggan, maka PSK dan pria hidung belang mencari hotel di sekitar taman untuk memadu kasih. Disini, kata Maman, juga kerap kali terjadi aksi krimalitas termasuk perkelahian antar preman. Bahkan ada yang nekad menggunakan narkoba di sana. Terutama anak-anak muda yang ngelem.

”Kalau anak-anak muda yang ngelem itu sudah biasa di sini. Tetapi mereka tidak mengganggu kok,” katanya lagi..

Maman sendiri mengaku tidak tahu apakah ada larangan untuk berjualan di sana. Meski ia akui sudah diingatkan beberapa kali oleh Satpol PP, tetapi tidak sampai penggusuran. ”Pernah hanya diingatkan saja. Kita juga bayar uang sampah juga di sini,” katanya. ***

November 18, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: