Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Tata Ruang Keliru, Kawasan Bisnis di Batam Mati

Tahun 1970-an, Tanjungpantun-Jodoh Pusat Bisnis di Batam

BATAM POS, Batam

KEBIJAKAN pemerintah ternyata tidak selamanya mendukung perkembangan dan pertumbuhan bisnis di Batam. Sebaliknya, beberapa kebijakan justru membuat sejumlah kawasan bisnis redup,
bahkan mati.

Jodoh Boulevard kumuh

KAWASAN Tanjungpantun, Jodoh, kian sepi dan makin semrawut oleh banyaknya pedagang kaki lima, Selasa (11/2/2015). F Cecep

Tahun 1970-an, kawasan pertokoan Tanjungpantun-Jodoh menjadi pusat bisnis di Batam. PT Tanjungpantun selaku pengelola berhasil menyulap kawasan itu menjadi magnet bagi setiap pendatang. Bahkan seorang wisatawan belum dianggap sampai ke Batam jika belum mengunjungi kawasan itu.

”Komplek pertokoan yang ada di Tanjungpantun inilah dulunya sebagai ikonnya. Ini dulu sangat berjaya,” kata Harsono, ketua Umum Himpunan Pengusaha Tanjungpantun (Hiptun), Minggu (22/11/2015).

Menurut Harsono, saat itu Tanjungpantun dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Mulai bioskop, pujasera, dan sarana hiburan lainnya. Tak heran jika kawasan ini selalu ramai oleh pengunjung, baik pedagang maupun para pelancong.

Kawasan ini selalu ramai oleh warga yang hendak berbelanja maupun sekedar jalan-jalan. Selain harganya yang murah, kawasan ini merupakan pusat perbelanjaan paling lengkap di Batam, kala itu.

“Kalau dulu ada orang ke Batam, tetapi tidak ke Jodoh maka tidak lengkap. Semua pelancong yang ke Batam harus ke Tanjungpantun,” katanya.

Menjelang tahun 2000-an, suasana di sana mulai berubah. PT Tanjungpantun kemudian melepas kepemilikan wilayah tersebut. Geliat ekonomi di kawasan itu juga kian redup. Kebijakan pemerintah Provinsi Kepri membangun taman Jodoh Boulevard pada 2006 lalu membuat kawasan Tanjungpantun makin terpuruk.

Apalagi kemudian konsep taman kota itu berubah fungsi. Sekarang jadi sarang pedagang kaki lima. Pedagang sepatu, pakaian, makanan dan sebagainya memenuhi taman. Persis di bawah gedung pasar Tanjungpantun.

Tidak tertata, dan harganya tidak jauh beda dengan yang ada di gedung pasar Tangjungpantun membuat pedagang di dalam Pasar Tanjungpantun kian tergusur.

“Kalau harganya sama, sudah pasti warga akan pilih yang di bawah. Bukan di sini,” kata Nancy, pedagang di lantai dua pasar Tanjungpantun.

Dulu, nancy sempat berharap pembangunan Jodoh Boulevard akan membawa pengaruh yang positif untuk bisnis di sana.

“Kita dulu berpikir, warga yang bersantai di taman bisa sekalian belanja ke Tanjungpantun, ternyata salah. Malah itu yang mematikan pengusaha di sini,” tambahnya.

Kawasan bisnis lain yang sempat menjadi ikon Batam yang kini sudah redup adalah Komplek Graha Sulaiman Nagoya. Bahkan sebagian ruko di kawasan ini sudah tutup. Apalagi sejak Pemko Batam melakukan pelebaran jalan persis di depan komplek itu.

“Dulu kalau saya tidak salah, ini termasuk hotel yang pertama di Batam. Ini dulu sangat maju,” kata Warton, warga di sana.

Ia mengatakan, Graha Sulaiman ini sempat juga menjadi pusat perkantoran yang ramai di Batam. Bahkan  beberapa waktu sebelumnya, sempat ada angkringan di sana yang membuatnya semakin dipadati warga.

“Kantor bank ada di sana, sekolah juga ada di sana. Sangat ramailah, tidak tahu entah kenapa bisa mati,” katanya.

Nasib My Mart Batam Center tak jauh beda. Padahal mal ini pernah menjadi berjaya sebagai pusat komputer di Batam.

Bergeser ke arah timur, kondisi serupa akan ditemui di kawasan Batam Centre Mall (BCM). Kawasan ini sudah lama mati suri. Bahkan meski sempat dijadikan pusat meubel, kawasan ini tak pernah bergairah lagi.

Kawasan pertokoan di sepanjang Jalan Raden Patah, Lubukbaja, juga bernasib serupa. Meski lokasinya sangat strategis, kawasan itu kini tak ubahnya seperti kota mati. Sejumlah ruko, hotel, dan bioskop di sana sudah lama tutup.

Menurut pakar Teknik Sipil Kekhususan Transportasi dari Universitas Internasional Batam (UIB), Dr Atik Wahyuni, kondisi ini disebabkan kesalahan tata kota di sektor jalur transportasi. Kata dia, tata kota di Batam sampai saat ini belum memperlihatkan keinginan untuk bisa mengakomodir arus lalu lintas dengan baik.

Atik menjelaskan, jika membahas korelasi antara sepinya perdagangan tidak bisa dibebankan hanya kepada faktor kesalahan rekayasa arus lalu lintas, karena ternyata banyak faktor lainnya yang bisa menyebabkan perdagangan sepi.

“Bukan hanya rekayasa arus lalu lintas yang bisa membuat sepi perdagangan, yang paling utama ada kemacetan yang disebabkan oleh faktor kuota kendaraan yang tidak dibatasi, jalan yang terbatas karena lahan sempit, dan tata guna lahan,” kata dosen yang telah meraih gelar S3 di bidang transportasi ini, Sabtu (21/11/2015).

Jika Dishub Kota Batam merekayasa arus lalu lintas lagi atau membuka pemisah jalan di sepanjang Jalan Raden Patah seperti dulu dinilai sudah tidak tepat lagi karena saat ini jumlah kendaraan di Batam sudah terlampau banyak.

“Kesannya hanya memindahkan kemacetan dari tempat yang satu ke tempat yang lain,” ujarnya.

Kemudian, jika jalur dialihkan ke jalan terdekat dari kawasan Raden Patah, maka kawasan Raden Patah akan semakin sepi karena secara sistematis, warga Batam yang hendak menuju ke kawasan Batamcentre otomatis akan memilih jalur pengalihan tersebut.

Desain utama sebuah kota maju sebenarnya mengharuskan sebuah simpang jalan seperti perempatan dan pertigaan berada dalam jarak jauh dengan simpang jalan lainnya. Karena jika terlalu dekat, pastinya akan terjadi penumpukan kendaraan yang juga berimbas pada sepinya perekonomian.

“Namun jalanan di Raden Patah sudah memiliki geometrik sedemikian rupa sehingga tidak mudah diubah,” ungkap Atik.

Menurut dia, jalan merupakan faktor utama pendukung kemajuan ekonomi. Pusat niaga yang strategis akan memancing masyarakat untuk mengunjunginya, sehingga arus lalu lintas di sekitarnya akan selalu ramai.

Sepinya kawasan pertokoan di Jalan Raden Patah dimulai ketika Dinas Perhubungan Kota Batam membangun pembatas jalan di tengah jalan Bunga Raya mulai dari pertigaan jalan Bunga Raya sampai BCS Mall. Setelah itu perlahan-lahan kawasan niaga di Jalan Raden Patah mulai sepi pengunjung.

Penyebabnya, warga yang ingin masuk ke jalan Raden Patah dari Batamcentre harus memutar jauh ke BCS Mall untuk bisa ke sana. Selain itu, warga yang keluar dari Raden Patah akan menghadapi kemacetan disebabkan penumpukan kendaraan yang datang dari arah BCS Mall.
Hal tersebut menyebabkan warga Batam enggan singgah di kawasan niaga Raden Patah karena takut terjebak kemacetan.

“Saya takut terjebak kemacetan panjang, apalagi pada akhir pekan, sudah pasti macet sekali Mas,” ujar warga Batam, Prayitno.

Sedangkan warga Batuampar, Susanto, mengatakan dulunya sangat akrab mengunjungi pusat kuliner di Raden Patah, namun setelah adanya pembatas jalan itu, maka ia enggan lagi kesana.

“Dulu kalau mau pulang dari Raden Patah tinggal belok ke kanan saja menuju  Nagoya, tapi sekarang harus memutar jauh,” keluhnya. (ian/leo/eja)

November 23, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: