Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Pemeriksaan Kesehatan ke Pulau Tanjunglinau Batam

Periksa Tensi di Rumah Warga, Cabut Gigi di Bawah Pohon

TIDAK semua masyarakat pulau bisa datang ke Puskesmas setiap kali sakit. Biaya transportasi yang tidak murah membuat mereka urung berkunjung. Puskesmas Galang menciptakan solusi dengan berkunjung ke setiap pulau untuk memeriksa mereka yang sakit.

WENNY C PRIHANDINA, Galang

Mobil minibus dengan sirine merah-putih itu menghentikan lajunya di tepi dermaga pelabuhan arang di wilayah Jembatan Tuanku Tambusai. Lima wanita keluar dari dalamnya. Masing-masing menenteng sebuah ransel.

Sebuah mobil minibus lain menyusul di belakang. Mengambil parkir tepat di samping mobil bersirine tadi. Seorang wanita berkerudung melangkah ke luar. Lantas menggendong ransel bunga-bunga merahnya. ”Rina, peralatan giginya sudah dibawa semua?” katanya pada seorang dari lima wanita pertama.

Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan. Rina pun menepuk ransel merah bergambar palang putih yang ia gendong.

”Di sini semua dok,” katanya, Kamis (19/11/2015).

Tak berapa lama, mereka mulai berjalan menuju dermaga. Perahu pancung dengan seorang awak melintas dalam kecepatan tinggi. Lalu berbelok dan berhenti di bawah dermaga.

”Inilah dia Pak Awang. Untung dia cepat datang,” kata seorang yang lain.

Awang seorang pria berperawakan sedang. Kulitnya gelap tanda sering terpapar sinar matahari. Ia memegang erat tiang kayu di dermaga sembari satu per satu wanita melompat ke dalam perahu. Celotehan ringan terdengar mengiringi.

Setelah semua terangkut, Awang menjalankan perahu. Membelah lautan menuju sebuah pulau bernama Tanjunglinau. Para penumpang mulai sibuk mengenakan jaket, kacamata, dan cemilan ringan. Seperti piknik ya?

”Ya memang beginilah kerja kami. Kalau harus kunjungan ke pulau ya dinikmati seperti ini,” kata wanita yang tadi bertanya tentang peralatan gigi.

Zahrotur Riyad nama wanita itu. Ia dokter gigi PNS yang sehari-hari bertugas di Puskesmas Galang. Lima wanita lain yang bersamanya juga bertugas di Puskesmas Galang. Satu dokter umum, satu bidan, dan tiga perawat. Mereka akan membuka klinik darurat di Pulau Tanjunglinau.
Ini kunjungan kesehatan rutin. Dalam satu bulan, pasti mereka akan ‘turun’ ke pulau. Bahkan, bisa sampai dua kali dalam seminggu. Itu jika muncul pasien yang sifatnya harus segera ditangani.

”Sebab, tidak semua masyarakat yang sakit bisa datang ke Puskesmas. Pengobatannya memang gratis tapi untuk menuju ke Puskesmas itu mereka tetap harus mengeluarkan uang,” tutur wanita yang akrab disapa Dokter Zahro itu lagi.

Pulau Tanjunglinau berada di dalam wilayah Dusun 4 Sembur, Desa Karas, Kecamatan Galang. Dalam waktu kurang dari setengah jam, pulau itu dapat direngkuh dengan perahu pancung. Dua hingga tiga pria telah menunggu di dermaga yang tak lain adalah pelantar rumah seorang warga.

Rombongan medis itu berjalan melintasi rumah warga sambil bertanya lokasi yang cocok digunakan sebagai klinik darurat. Awang menunjukkan Surau Al Kautsar.

Dokter Zahro menolak. Alasannya, ”Nanti pasien saya mungkin akan meludah darah. Kalau mereka meludah di surau, dosa saya,” katanya.

Mereka lantas menuju rumah seorang warga. Lagi-lagi, Dokter Zahro menolak. Wanita berhijab itu pun kembali ke tanah lapang di sekitar surau. Kepada seorang pemuda, ia meminta dibawakan sebuah meja dan kursi.
Sementara itu, lima awak medis lain bertahan di rumah warga. Rumah itu dijadikan sebagai klinik umum darurat.

Siapa saja yang ingin memeriksakan kesehatannya boleh datang. Mengukur tensi darah, misalnya. Bahkan, tanpa harus menunjukkan kartu anggota Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

”Itu kebijakan dari kepala puskesmas kami. Soalnya nggak semua masyarakat pulau sudah memiliki kartu BPJS,” katanya.

Dokter gigi lulusan Universitas Airlangga, Surabaya ini akhirnya memutuskan membuka praktik di tanah lapang. Di atas sebuah meja kayu, hanya beralas kain tipis, ia menggelar peralatan medisnya. Peralatan medis yang terbatas, hanya terdiri dari beberapa tang cabut saja. Lalu ia berjalan ke rumah warga lagi dan kembali dengan seember air bersih.

”Bapak mau dicabut giginya ya? Duduk dulu, Pak,” sapanya pada seorang pria yang mendekat.

Agus, nama pria itu. Ia mengangguk. Ia merasa gigi-giginya harus dicabut. Sebab, sering menyebabkan ngilu di waktu-waktu tertentu. Ia pasrah meskipun dalam hatinya takut. Ia sempat mondar-mandir sebelum dipersilahkan duduk di kursi pasien.

Kursi pasien itu bukan kursi pasien gigi seperti yang ada di ruang praktik dokter gigi. Itu kursi ruang tamu kayu biasa. Dokter Zahro sempat meminta berganti kursi karena begitu rendahnya.

”Biasanya malah di bawah pohon,” ujarnya.

Wanita itu memasang masker dan sarung tangan. Lalu menyiapkan jarum suntik berisi anestesi. Enam hingga tujuh orang berkumpul mengerumuni Agus. Mereka bergidik ketakutan saat melihat Zahro menyuntikkan anestesi ke gusi Agus.

Perbincangan tentang rasa sakit lantas mengudara. Sebagian mengaku enggan cabut gigi karena takut sakit. Meskipun, mereka juga mengakui, ketika gigi mereka sakit, rasa ngilu itu sampai ke ubun-ubun.

”Aku mau cabut tapi nanti pasti sakit ya,” kata Fatma, seorang warga.

”Bagus sakitnya sekarang, sebentar hilang. Kalau sakit gigi, bisa berulang-ulang lagi,” kata Ismawati, warga lain menimpali.

Ismawati, istri Agus. Ia bilang, suaminya kerap mengeluh sakit gigi. Tapi tak segera dibawa ke puskesmas untuk diperiksakan. Soalnya, suaminya sibuk melaut.

Agus pun sebenarnya sudah kehilangan empat gigi depan bagian atasnya. Untuk menutupinya, ia menggunakan gigi palsu. Namun, hari itu, gigi palsunya tak lagi nampak. ”Hanyut saat melaut,” kata istrinya.

Kamis (19/11) itu, Agus menjadi pasien yang giginya paling banyak dicabut. Dokter Zahro mencabut lima giginya sekaligus. Sebab, gigi-gigi itu sudah busuk. ”Sakit, Pak?” tanya Dokter Zahro.

Agus menggeleng. Mulutnya menggembung akibat dua kapas yang dijejalkan di bawah gusi yang berdarah. Kapas itu juga yang membuatnya kesulitan berbicara. Ia hanya mengangguk atau menggeleng saja.

”Bapak ambil kertas resep di sana, bawa ke mari. Nanti saya isi, Bapak bawa lagi ke sana buat dapat obatnya ya,” kata Dokter Zahro.

Agus mengkode Ismawati, istrinya. Tangannya teracung ke rumah pelantar di belakang. Ismawati segera saja menurut dan kembali tak lama kemudian.

”Jangan dulu berkumur, Pak. Jangan merokok, jangan disedot-sedot,” jelas Dokter Zahro lagi.

Setelah Agus, ada dua pasien lain yang juga mendapat petuah serupa. Zahro mengatakan, ketika turun ke pulau, pasti hal itu yang akan ia sampaikan. Sebab, masyarakat pasti akan mencabutkan giginya.

Kalau tak cabut, ya periksa gigi saja. Begitu kata Zahro. Sebab, ia tak bisa melakukan perawatan tambal gigi. ”Tak ada listrik,” katanya.

Kalau ada masalah gigi berlubang, ia akan menyarankan pasien pergi ke Batam. Meskipun kebanyakan, saran itu diabaikan. Dan mereka lebih senang giginya dicabut. Alasannya sederhana. Ketika gigi geligi itu dicabut, mereka dapat memasang gigi palsu.

”Kita bisa kembali muda,” kata Mino.

Padahal, tak semua gigi bisa dicabut. Zahro mengaku sering menolak permintaan masyarakat yang ingin cabut gigi hanya karena supaya dapat memasang gigi palsu. Ia lantas memberi tahu pasien tentang bahaya mencabut gigi asli kalau gigi itu tak bermasalah. Gigi asli tetap perlu ada untuk menopang kaitan gigi palsu.

”Saya pernah mengedukasi warga sampai 1,5 jam. Ujung-ujungnya apa?

Nggak papa, dok, cabut saja gigi saya semua ya,” ujar Dokter Zahro.

Ia terkekeh, geli mengingat kejadian itu. Masyarakat pulau, katanya, lebih percaya omongan tukang gigi ketimbang omongannya. Padahal ia seorang dokter gigi. Tak jarang, ia harus memperbaiki kerusakan gigi yang disebabkan oleh tukang gigi.

”Tukang gigi itu memang pembawa masalah saja. Menyuruh masyarakat untuk cabut gigi supaya bisa pasang gigi palsu,” tuturnya.

Semilir angin laut mengiringi proses pemeriksaan kesehatan itu. Hingga tak terasa dua jam telah berlalu. Awak medis dari klinik darurat sudah berkemas dan tampak berjalan di pelantar. Dokter Zahro bergegas memberesi peralatannya.

Total pasien yang mereka layani selama dua jam itu sebanyak 20 orang. Tiga orang pasien gigi, enam belas orang pasien umum, dan seorang lagi pasien jiwa. Sebagian besar pasien umum menderita infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan hipertensi. Penyebabnya jelas: faktor lingkungan.

”Mereka ini sering makan seafood dan garam-garaman,” kata Rina, satu perawat.

Sementara pasien jiwa yang ditemui saat itu adalah seorang nenek berusia 60 tahun. Ia menderita skizofrenia, gangguan mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan tanggapan emosi yang lemah. Asman, putra nenek itu, mengatakan, ibunya sebenarnya telah lama memiliki gangguan jiwa itu.

”Tapi sebelumnya normal-normal saja. Baru sebulan-dua bulan lalu lah, kambuh lagi,” katanya.

Gangguan jiwa itu kembali muncul setelah ibunya tercebur ke laut lepas. Sejak itu, ibunya sering diam. Lalu mendadak berteriak-teriak histeris. Asman belum pernah membawa ibunya kemana-mana.

”Sudah diberi obat. Obat itu harus diminum terus,” kata Linda, perawat yang lain.

Perahu pancung yang akan mengantar mereka kembali sudah siap sedia di dermaga. Lengkap dengan Awang, sang awak perahu. Tapi kepulangan itu tertunda. Beberapa awak medis tergoda ketam (kepiting) Pulau Tanjunglinau. Mereka pun menyempatkan diri tawar-menawar harga ketam. Ada yang membeli sampai tiga kilogram. Tapi ada juga yang membeli hanya satu kilogram.

Kunjungan kesehatan itu pun ditutup dengan lambaian tangan dari sebagian warga di dermaga pelantar rumah. Pulau Tanjunglinau hanya diisi tujuh rumah dengan total dua belas kepala keluarga. Masih belum semua penduduknya memeriksakan kesehatan di hari itu. Sebab, para kepala keluarga tengah pergi ke hutan. Anak-anak juga sedang bersekolah.

”Lain kali kasih kabar dulu kalau mau datang, Bu. Jadi kami tidak pergi kemana-mana,” pesan Fatma sebelum rombongan bertolak pulang. ***

November 24, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: