Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Salak, Pengrajin Perahu Nelayan di Teluk Mata Ikan

Belajar Otodidak, Satu Perahu Selesai Satu Minggu

WENNY C PRIHANDINA, Nongsa

TIDAK ada nelayan Nongsa yang tak mengenal Selasa. Pria Bugis itu menjadi satu dari dua pengrajin perahu nelayan yang ada di sudut utara Batam itu.

Rangka perahu kayu itu tertelungkup di atas tanah, di bawah rindang pohon mangga. Seorang pria berlindung di baliknya. Bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana pendek selutut dan topi untuk melindunginya dari terik matahari.

Tangan kirinya yang bergelang jam tangan hitam memegang adonan dempul. Tangan kanannya memegang penyerok. Diselipkannya adonan dempul tadi di sela-sela kayu perahu itu. Dempul itu tak ubahnya adonan lem. Ia berfungsi merekatkan rangkaian kayu. Selain juga menutup celah masuknya air ke dalam perahu.

”Setelah didempul, baru perahu ini bisa dipakai,” katanya, Selasa (25/11/2015).

Pria berkulit legam itu bernama Selasa. Ia pengrajin perahu di Kampung Tua Teluk Mata Ikan. Semua orang mengenalnya. Tapi tidak dengan nama Selasa. Melainkan, Salak.

Tidak banyak nelayan yang memiliki keahlian itu. Di Teluk Mata Ikan, Salak hanya memiliki satu saingan. Tapi toh ia tak pernah menganggapnya sebagai saingan. Karena selalu ada pesanan untuk dikerjakan.

Salak pria perantauan asal Makassar, Sulawesi Selatan. Ia tiba di Batam pada tahun 1987-an. Ini hijrah besar-besaran. Ia membawa serta istri dan dua anaknya. Ia berangkat bersama ibu dan adik beradiknya.

Awalnya ia tinggal di Teluk Bakau Serip. Namun, pembangunan Batam mengharuskannya pindah ke Kaveling Nongsa. Pemerintah memberinya ganti rugi tanah di sana.

”Tapi namanya sudah biasa kerja laut. Diminta tinggal di tengah darat itu jadi bingung mau apa,” kata Bombong, ibu Salak.

Wanita yang usianya sudah melewati satu abad itu gemar menunggui Salak membuat perahu. Kadang kala berbincang. Kadang, ia berbaring di teras rumah tetangga di depan tempat kerja Salak.

Salak anak kedua dari tiga bersaudara. Usianya mencapai 61 tahun. Ia satu-satunya keturunan Bombong yang pandai membuat perahu.

”Adiknya yang namanya Aris itu sebenarnya bisa juga buat perahu. Tapi tangannya sudah tidak ada sebelah. Kena bom ikan,” kisah Bombong.

Salak tak pernah mengikuti pelatihan khusus untuk membuat perahu itu. Ia bahkan tak pernah mencerna pendidikan formal. Sebagai gantinya, sejak kecil, ia rajin menyambangi industri pembuatan kapal di Sulawesi.

Di tempat itulah, ia belajar membuat kapal. Terutama perahu nelayan. Mengukur panjang, tebal dan tinggi perahu. Hingga kemiringan lekuk badan perahu.

”Saya belajar sendiri. Ayah saya bahkan tidak bisa membuatnya,” tuturnya.

Kalau menemukan kayu yang tepat, Salak bisa mengerjakan satu perahu hanya dalam waktu satu minggu. Itu sudah termasuk dempul dan pengolesan minyak. Salak biasa bekerja dari pagi hingga sore hari saja.

Namun, sudah hampir dua minggu ini, perahu yang ia kerjakan tak kunjung selesai. Katanya, karena kayunya keras. Pesanan kali itu menggunakan kayu lantai villa. Sementara kayu yang paling cocok untuk perahu adalah kayu pulai yang lentur dan tipis.

”Lihatlah kayunya setebal-tebal itu. Mau membengkokkan saja susah,” katanya.

Salak sudah menyampaikan itu ke pelanggannya. Namun, si pelanggan tetap bersikukuh untuk menggunakan kayu tersebut. Supaya perahu itu awet dan tidak mudah bocor.

Padahal, menurut Salak, kayu yang terlalu tebal seperti itu justru tidak awet. Jika perahu dengan kayu tipis dapat bertahan hingga berpuluh-puluh tahun, perahu dari kayu tebal itu hanya akan bertahan dalam waktu tiga tahun.

”Sebab, minyak sulit meresap. Padahal, minyak itu yang bisa mencegah keropos,” tambah ayah delapan anak itu lagi.

Tapi Salak tak menolak. Ia tetap membuat perahu pesanan itu. Konsekuensinya, waktu pembuatannya dua kali lebih lama perahu biasa. ”Dia (pemesan) bilang tak apa. Ya sudah,” ucapnya.

Salak memang hanya menyediakan jasa saja. Kayu dan bahan-bahan material lain sudah disiapkan pemesan. Apapun bahan yang diberikan, Salak dituntut untuk bisa mengerjakannya. Untuk pembuatan setiap perahu, Salak memasang harga Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta.

Namun, bila pemesan ingin sekali beres, Salak juga bisa meladeninya. Tentu ongkosnya menjadi lebih mahal. Karena Salak harus membeli material perahu. Yang paling mahal, ya, kayunya.

”Kalau tinggal nunggu beres ya sekitar Rp 5 juta,” sebutnya.

Pelanggan Salak tersebar ke seantero Nongsa. Setiap kali membuat perahu, ia selalu meninggalkan jejaknya. Ia membuat lekuk perahu yang lain dari pengrajin lain. Ia pun dapat mengetahui perahu-perahu yang ia buat sendiri. Meskipun, perahu itu sudah berganti cat dan kepemilikan.

Pernah, Salak mendapati perahunya di Mukakuning. Perahu itu sudah lama hilang. Dan ia tahu kalau perahu itu dicuri.

”Saya benar-benar mencarinya. Tapi setelah dapat, saya tidak memintanya kembali. Cukup tahu saja,” tuturnya.

Sedikitnya, sepuluh hingga lima belas perahu bisa ia kerjakan setiap tahunnya. Kegiatan ini nyatanya lebih menjanjikan ketimbang mencari ikan di laut. Ketika ada pesanan perahu, ia rela tak melaut.

”Saya selesaikan perahu dulu. Baru melaut lagi,” ujarnya. ***

November 25, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: