Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Guru-guru Rela Dilumuri Tepung Terigu

Serunya Hari Guru di SLB Negeri Tanjungpinang

Hari Guru Nasional diperingati dengan upacara di seluruh sekolah di Tanah Air setiap 25 November. Tak terkecuali di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Tanjungpinang. Suasana haru dan bahagia mewarnai peringatan hari para pahlawan tanpa tanda jasa itu.

FARADILLA VERWEY, Tanjungpinang

Pukul 08.00 pagi, para siswa SLB Negeri Tanjungpinang sudah berkumpul di halaman sekolah. Mereka bersiap mengikuti upacara Hari Guru Nasional yang diperingati bersamaan dengan ulang tahun PGRI, Rabu (25/11/2015).

Meski berkebutuhan khusus, para siswa tetap mampu mengikuti jalannya upacara dengan tertib dan penuh khidmat. Namun di balik khidmatnya upacara sederhana pagi itu, ternyata para siswa sudah menyiapkan kejutan spesial bagi para gurunya.

Kejutan itu dimulai sesaat setelah upacara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh guru kelompok tuna rungu, Zulfahmi.

Seorang siswi tiba-tiba melangkah menerobos barisan siswa di depannya. Sepotong kue tar ukuran sedang di tangannya. Lilin berbentuk angka 70 menyala di atas kue itu.

Siswi yang mengenakan atasan seragam batik dengan rok abu-abu itu langsung melangkah menuju pemimpin upacara yang juga merupakan salah satu guru di sekolah tersebut. Dari tatapan matanya, siswi tersebut terlihat sangat antusias. Sementara teman-temannya tak mampu menyimpan senyum tanda bahagia.

Sang guru yang menjadi ‘target’ awalnya tampak kaget dan bingung. Namun dia buru-buru menguasai keadaan. Dia langsung meniup lilin setelah ada aba-aba dari siswa. Namun mata guru tersebut terlihat basah menahan rasa haru.

Riuh tepuk tangan para guru yang berbaris di sisi kanan barisan siswa sedikit mencairkan suasana. Apalagi setelah disambut dengan sorak sorai anak-anak berkebutuhan khusus itu. Mereka terdiri dari siswa tuna rungu, tuna netra, tuna daksa, dan tuna grahita.

Belum hiang rasa haru para guru, siswa-siswi SLB Negeri Tanjungpinang sudah mengeluarkan kejutan lainnya. Sebaris siswa tiba-tiba berjalan menuju barisan para guru. Masing-masing membawa bingkisan yang dibungkus kertas warna cokelat yang di ujung kanan atasnya terdapat nama-nama guru mereka.

Kemudian mereka mengambil posisi berhadap-hadapan dengan para guru. Satu siswa berhadapan dengan satu guru sesuai dengan nama yang tertera di sampul bingkisan yang mereka bawa. Dengan aba-aba khusus, mereka kemudian menyerahkan bingkisan tersebut kepada para guru.

Suasana haru kembali menyelimuti. Sejumlah guru bahkan tak kuasa membendung air matanya.
Suasana haru ini kemudian menjelma menjadi kemeriahan dalam berbagai lomba.

“Karena hari guru, maka lomba-lomba yang diadakan hari ini guru-gurunya yang justru ditantang agar bisa dapat juara satu,” ujar Kepala SLB Negeri Tanjungpinang, Kalisni.

Namun di tengah persiapan lomba, segerombol siswa terlihat mengejar guru yang posisinya berdekatan dengan mereka. Mereka berlarian dengan sekantong tepung di tangan. Hingga akhirnya kantung tepung itu mendarat ke tubuh salah satu guru.

Tentu saja, si guru yang sejak pagi telah tampil bersih dan rapi untuk peringatan Hari Guru berubah menjadi putih, seputih salju. Sekujur tubuhnya penuh tepung terigu. Tak sampai di situ, para siswa semakin usil dengan mengoleskan krim kue tart di wajah guru tersebut.

Bukannya marah, si guru malah ikut terbahak bersama mereka dan pasrah dengan colekan krim bertubi-tubi yang kini sudah melumuri sekujur tubuhnya.

Kehebohan kemudian berpindah ke lokasi perlombaan yang telah dipersiapkan. Sebanyak enam orang guru perempuan telah berdiri berjejer di bawah bentangan tali rafia, yang tepat di depan wajah mereka kemudian teruntai tali dengan kerupuk bulat di ujungnya.

Ya, lomba makan kerupuk menjadi lomba pertama yang mereka langsungkan. Dalam hitungan ketiga, jelas saja semua siswa dan para guru yang menjadi tim pendukung bertepuk tangan sembari meneriaki nama guru-guru yang berlomba untuk menyemangati mereka.

Selain lomba makan kerupuk, para guru juga berkompetisi dalam lomba bakiak, hingga lomba tari balon.
Anak-anak berkebutuhan khusus ini terlihat riang dan ikut bergoyang saat musik dimainkan. Namun bagi peserta lomba, menari dengan balon yang dikepit antara sepasang kepala guru menjadi lebih sulit. Jika balon terlepas dari himpitan mereka, berarti mereka kalah.

Menurut Kalisni, peringatan Hari Guru yang dirayakan dengan berbagai lomba sudah menjadi agenda tahunan di SLB yang berada di kawasan Kijang Lama ini. Kalisni mengatakan, aneka perlombaan ini tak hanya menjadi hiburan bagi para guru, namun juga menjadi momen penting bagi para siswa.

“Kesenangan ini yang ingin kami tularkan kepada anak-anak. Sehingga dengan kondisi spesial, mereka masih tetap bisa merasakan kesenangan sebagaimana anak-anak pada umumnya,” tutur Kalisni kemudian.

Kalimat yang ia ucapkan itu seakan tak mudah keluar dari bibirnya yang terpolesi pemerah bibir. Wanita yang tak lagi muda namun masih menyimpan banyak semangat dan tenaga untuk anak didik spesialnya ini, menahan gemuruh di dalam dadanya. Namun matanya yang mulai menahan air mata haru berkata lain.

“Kebahagiaan tersendiri bagi kami para guru di sini ketika melihat anak-anak tuna rungu mampu mengekspresikan dan memberikan tanda terima kasih.” katanya.

Bagi para guru, lanjut Kalisni, melihat siswa tuna daksa mampu memberikan puisi karangan mereka adalah hadiah terindah. Bagi mereka, melihat siswa tuna netra sudah mampu mengenali situasi dan kondisi sekitar mereka dan juga tuna grahita ketika sudah mampu mengancing bajunya atau mengikat tali sepatunya adalah momen terindah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Itu merupakan kebahagiaan yang tak ada duanya,” kata Kalsini terbata-bata.

Sebagai kepala sekolah dan juga sebagai guru yang membimbing anak-anak dengan kebutuhan khusus ini, pencapaian yang dapat mereka raih memang sesederhana sesederhana itu. Siswa mampu mengancingkan baju dan menali sepatu.

Kata Kalisni, kemampuan anak-anak berkebutuhan khusus untuk menjadi mandiri, merupakan perkembangan yang sangat berharga. Tak hanya bagi guru, ataupun orang tua siswa. Namun utamanya bagi para siswa yang masih memiliki masa depan panjang yang harus mereka perjuangkan.

“Kalau anak-anak sudah bisa menjaga dirinya dengan kemampuan mengurus dirinya sendiri dan juga keterampilan yang mereka miliki. Tidak ada kata tak mungkin, bagi mereka untuk mengemban pendidikan tinggi dan sukses kelak nanti,” tutur Kalisni dengan nada optimis. ***

December 6, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: