Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Investor Batam Khawatir

Kenyamanan Terganggu, 42 Perusahaan Tutup, Lapangan Kerja Hilang

ALFIAN, Batam

Para pengusaha, baik dalam maupun luar negeri, yang ingin menanamkan modalnya di Batam kini harap-harap cemas menanti kepastian kenyamanan berusaha. Demonstrasi buruh yang marak belakangan ini membuat sebagian di antaranya memutuskan menutup usaha.

Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, dalam dua tahun terakhir saja setidaknya ada 43 perusahan tutup. Rinciannya, 14 perusahaan tutup pada 2014 dan 29 perusahaan tutup sepanjang tahun ini.

”Kebanyakan perusahaan yang tutup dari galangan kapal,” kata Kepala Disnaker Kota Batam Zarefriadi, Kamis (26/11/2015) malam.

Zaref mengakui, sejumlah perusahaan memilih tutup atau hengkang dari Batam karena masalah ketenagakerjaan serta demo menuntut kenaikan upah yang terjadi setiap tahunnya.

Menurut dia, penetapan upah minimum (UMK) yang sebelumnya tidak menggunakan formulasi yang jelas sangat mencemaskan pengusaha. Sebab tidak ada kepastian berapa peningkatan UMK di tahun-tahun berikutnya.

Namun, lanjut Zaref, ada juga perusahaan yang tutup karena masalah efisiensi. Selain itu, ada juga perusahaan yang berhenti beroperasi karena kontrak kerjanya sudah habis.

Banyaknya perusahaan yang tutup ini diamini oleh Johanes Kennedy, pengusaha sekaligus pemilik Kawasan Industri Panbil. Menurutnya, aksi demonstrasi buruh menjadi bagian yang sangat mengancam kenyamanan investasi di Batam. Lapangan kerja banyak yang hilang dengan tutupnya sejumlah perusahaan tersebut.

“Memang demo ini sudah hilang tujuannya. Termasuk menghilangkan terciptanya peluang lapangan kerja yang baru,” kata Kennedy.

Menurut Kennedy, unjuk rasa yang seakan tidak ada ujungnya membuat pengusaha, terutama investor dari luar negeri akan memilih negara asing yang aman dan tidak ada demonstrasinya. Ini sangat merugikan Batam.

“Ini sangat merugikan Batam, jumlah pencari kerja terus bertambah. Padahal seharusnya angka pencari kerja itu bisa ditekan,” katanya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, OK Simatupang mengatakan aksi demo pekerja juga merugikan pengusaha. “Pengusaha sudah pasti rugi banyak. Tetapi berapa angkanya, tiga hari lagilah baru diketahui,” katanya.

Menurut OK, aksi buruh yang kerap terjadi di Batam ini sudah tersebar ke sejumlah calon investor yang ada di luar negeri. Dan ini menjadi tidak baik untuk perkembangan investasi di BP Batam.

“Para calon investor itu tidak usah ke Batam sudah pasti tahu, di Batam sering demo. Mereka kan punya teman dan relasi di sini,” katanya.

Sementara Direktur Promosi dan Humas BP Batam Purnomo Andi Utomo mengatakan 78 perusahaan yang tutup dalam dua tahun terakhir itu umumnya merupakan perusahaan dalam negeri. Rata-rata berskala kecil.

Kata Andi, untuk perusahaan asing (PMA) tidak banyak yang tutup. “Selama lima tahun terkahir PMA yang tutup tak sampai 10. Sedikit sekali,” kata Andi, tadi malam.

Menurut Andi, PMA yang tutup itu umumnya merupakan industri elektronik. Penyebab tutupnya PMA itu beragam, mulai dari masalah perubahan pasar, efisensi, dan lain sebagainya. “Misalnya pabrik hard disk. Tentu akan memilih tutup karena saat ini pengguna hard disk banyak yang beralih ke USB,” katanya.

Andi juga mengakui, seringnya aksi demo para pekerja menjadi perhatian serius para investor. Namun setidaknya kini mereka mulai nyaman dengan terbitnya PP 78 2015 tentang Pengupahan. “Karena kenaikan upah menjadi terprediksi,” katanya.

Terpisah, Udin P Sihaloho, Sekretaris Komisi IV DPRD Batam yang salah satunya membidangi masalah ketenagakerjaan menyebut ada 78 perusahaan yang tutup dalam kurun waktu dua tahunterakhir. Tutupnya 78 perusahaan itu menyebabkan sedikitnya 1.920 pekerja di-PHK. “Saya dapat data ini dari Disnaker (Dinas Tenaga Kerja Batam, red),” kata Udin, kemarin.

Udin merinci, sepanjang 2014 lalu ada 37 perusahaan yang tutup dengan jumlah PHK 616 orang. Sedangkan hingga September 2015 terdapat 41 perusahaan yang tutup dengan jumlah PHK 1.304 orang.
Dari 78 perusahaan itu, lanjut Udin, memang skalanya beragam. Ada yang perusahaan besar, namun banyak juga yang merupakan perusahaan berskala kecil.

Beberapa perusahaan besar yang tutup pada 2014 antara lain PT Nidec Seimitsu, PT Nutune, PT Byonic Manufacturing, dan masih banyak lagi.

“Di tahun 2014 ini, kebanyakan perusahaan yang tutup adalah bidang elektronik dan juga galangan kapal. Sudah termasuk subcon-nya,” Udin menjelaskan.

Menurut Udin, ada beberapa hal yang menyebabkan perusahaan di Batam tutup. Satu diantaranya masalah ketenagakerjaan yang kerap mengganggu iklim investasi. Misalnya, sering terjadinya demo pekerja saat menuntut kenaikan upah.

Udin melanjutkan, masalah demo menjadi perhatian serius bagi para investor. Apalagi jika demo sampai menimbulkan kerusuhan. Menurutnya, kenyamanan dan keamanan merupakan pertimbangan penting bagi para penanam modal.

“Tak bisa dipungkiri, memang besar pengaruhnya. Investor itu sangat peduli dengan masalah demo. Apalagi sampai ada sweeping,” kata Udin.

Padahal, kata dia, demo menuntut kenaikan upah seharunya tak terjadi setiap tahun seperti yang selama ini dilakukan kaum buruh. Sebab hal yang paling utama adalah bagaimana pemerintah bisa mengontrol harga-harga di pasaran.

“Berapa pun nilai UMK kalau tidak dibarengi dengan harga-harga yang stabil, percuma saja,” katanya. (ian/cr17)

December 6, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: