Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Yayasan Jembia Emas, Kekuatan Baru Budaya Melayu

Pantang Menyerah dalam Menghadapi Tantangan

RIAU Pos Group (RPG) resmi meluncurkan Yayasan Jembia Emas di Hotel Nagoya Plaza, Rabu (25/11/2015) malam. Yayasan ini digadang menjadi wadah dan kekuatan baru untuk mengembangkan budaya Tanah Melayu. Chairman RPG, Rida K Liamsi, mengatakan Yayasan Jembia Emas adalah yayasan kedua di bawah naungan bendera RPG.

Sebelumnya RPG sudah membentuk Yayasan Sagang yang tahun ini memasuki usia ke-20.

“Kami merasa waktu 20 tahun itu cukup lama dan sudah saatnya disebarkan di wilayah lain. Salah satunya di Batam,” kata Rida di sela acara, tadi malam.

Menurutnya, pemilihan kata Jembia tak lepas dari perdebatan yang sengit. Kata Jembia menggambarkan karakteristik Melayu yang pantang menyerah dalam menghadapi tantangan. Kata ini dipilih langsung oleh salah seorang budayawan Melayu, Profesor Yusmar Yusuf.

Sebenarnya, Jembia adalah sebuah senjata yang dipakai masyarakat Melayu. Nama ini memiliki arti keinginan yang kuat, sungguh-sungguh, dan kritis.

“Kami berharap Yayasan Jembia Emas ini bisa menjadi kekuatan untuk mengembangkan kebudayaan Melayu,” ujar Rida.

Yayasan Jembia Emas bakal menyelenggarakan Anugerah Jembia Emas, yang diartikan sebagai karya yang unggul, berkualitas, dan monumental serta pemikiran yang mampu menggerakkan dinamika budaya Melayu. Penganugerahan ini merupakan komitmen dan wujud nyata Yayasan Jembia Emas terhadap Kepri, negeri yang menjadi pusat peradaban dan tumbuh kembangnya budaya Melayu.

“Melalui anugerah ini, Yayasan Jembia Emas membuka peluang sebesar-besarnya kepada masyarakat untuk mengusulkan seniman dan budayawan Melayu terbaik untuk meraih penghargaan,” sebut Rida lagi.

Peluncuran Yayasan Jembia Emas ini dilakukan bersama Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan, didampingi  Direktur Yayasan Jembia Emas, Ramon Damora. Dalam sambutannya, Dahlan mengapresiasi kehadiran yayasan tersebut. Menurutnya, perkembangan suatu kota bukan hanya fokus pada pembangunan fisik saja, melainkan juga kepada perkembangan dan pelestarian budayanya.

“Sangat positif dan membangun,” kata Dahlan.

Ramon Damora mengatakan, untuk tahap awal yayasan ini berkomitmen mewadahi segala bentuk karya sastra yang diterbitkan dalam delapan halaman di harian pagi Batam Pos setiap edisi hari Minggu. Bentuk karya yang diakomodir mulai dari puisi, cerpen, esai, reportase seni, pertunjukan, wawancara seni, dan lainnya.

“Selain itu ada juga kolom-kolom di hati pembaca seperti Tanju, Jemala, dan Aswandi,” sebutnya.
Peluncuran Jembia Emas tadi malam makin spesial dengan kehadiran Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, serta para seniman dan budayawan Kepri dan seluruh redaktur budaya se-Jawa Pos Group dan Riau Pos Group.

Menghidupkan Sastra Koran

Sebelumnya, Chairman Riau Pos Group (RPG), Rida K Liamsi, mengumpulkan sejumlah redaktur halaman budaya media-media Jawa Pos Group (JPG) di Hotel Nagoya Plasa, Rabu (25/11/2015) siang. Ia ingin mensinergikan halaman-halaman budaya itu satu sama lain. Sehingga menjadi kekuatan baru untuk membangun kesusasteraan Indonesia.

“Sastra koran itu dianggap bisa menghidupkan kesusasteraan. Itulah harus bersinergi,” katanya.

Bentuk sinergi itu, seperti, saling bertukar bahan pengisi. Puisi, misalnya. Serta mensinergikan koran cetak dengan media online dan televisi. Masing-masing memiliki rubrik budaya yang saling terkait satu sama lain.

Sayangnya, halaman budaya dalam sebuah media tidak semudah itu hidup. Ketiadaan bahan menjadi masalah utama. Beberapa redaktur mengeluhkan, sulitnya mendapatkan karya dari seniman-seniman lokal.

Haidar Anwar dari Radar Cirebon, misalnya. Ia mengatakan, halaman budaya di medianya awalnya hanya satu halaman saja. Isinya, cerpen dan puisi. Namun, lantaran tidak ada puisi yang masuk, halaman itu dihapuskan. Dan hanya diganti dengan rubrik ‘cerpen’ saja.

“Kami sebenarnya sudah memiliki langganan seniman yang mengirimkan puisi-puisinya setiap minggu. Tapi kadang, dia lupa tidak mengirim puisi,” tuturnya.

Beberapa seniman lokal juga seringkali memilih mengirimkan karyanya ke media-media nasional. Dan mereka memang menolak mengirimkan karya ke media lokal. Baik itu yang sudah terkenal maupun yang masih baru. (rng/ceu)

December 6, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: