Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kalau Mau Sukses Harus Pernah Ditipu

Dahlan: Jika Sudah Ada Niat Berbisnis, Mulailah!

TIDAK perlu menunggu modal untuk memulai bisnis. Kalau sudah ada niat, mulailah segera. Dan, syarat untuk sukses berbisnis adalah: pernah ditipu dan bangkit lagi setiap kali bangkrut.

“Orang-orang yang mempersoalkan modal itu pada dasarnya tidak mau berbisnis,” kata Dahlan Iskan (DI) dalam perhelatan Al Ahmadi Award se-Sumatera 2015 di Hotel Harmoni One, Sabtu (6/12/2015).

Pria yang sukses dengan bisnis media itu membakar semangat berwirausaha semua peserta dan tamu undangan. Ia mengatakan, mereka yang mengatakan ‘tunggu modal dulu’ ketika ditanyai kapan berbisnis, sebenarnya malu mengakui tak ingin berbisnis. Keterbatasan modal, dengan demikian, dijadikan kambing hitam.

“Di forum ini, saya yakin, banyak yang tak pakai modal. Hanya 30 persen saja yang pakai,” ujar CEO Pertama Jawa Pos Group itu lagi.

Modal para pebisnis itu sebenarnya bukanlah uang. Melainkan kepercayaan. Mereka yang ingin menjadi entrepreneur harus dapat merebut kepercayaan orang.

Menurut mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu, kepercayaan muncul dalam tingkatan-tingkatan tertentu. Pebisnis pemula setidaknya, harus melampaui dua tingkat kepercayaan.
Tingkat pertama, kepercayaan untuk mau bekerja. Misalnya, kepercayaan dari produsen barang yang hendak dijual. Ketika si pebisnis pemula datang, si produsen tentu akan bertanya-tanya, ‘orang ini mau bekerja atau tidak?’

“Anda harus bisa menunjukkan kalau Anda mau bekerja,” ujarnya lagi.

Setelah produsen mendapat bukti si pebisnis pemula mau bekerja, itu tanda pebisnis pemula itu naik tingkat. Ia pun dihadapkan pada kepercayaan tingkat kedua. Yakni, kepercayaan untuk bisa bekerja.
Belum tentu si pebisnis pemula bisa melampaui kepercayaan tingkat kedua ini. Sebab, ini sangat berhubungan dengan skill. Namun, jika dari awalnya tidak bisa namun karena mau berusaha dan akhirnya bisa bekerja, itu tanda ia naik tingkat lagi.

“Lalu naik dan naik lagi ke tingkat selanjutnya sampai ke kepercayaan tertinggi. Sampai orang percaya pada Anda untuk menitipkan modal. Jadi jangan bicara modal dulu,” tuturnya lagi.

Mantan Bos PLN (Persero) ini tengah aktif mengampanyekan gerakan entrepreneurship. Ia sering berkeliling kampus untuk membuka mata para mahasiswa tentang entrepreneurship. Ia lebih fokus pada generasi muda. Para generasi muda ini, katanya, generasi yang akan berjaya di masa depan.
Sebab, ketika bisnis telah dimulai sejak muda, kematangan akan didapat ketika ia dewasa. Saat itulah ia akan berpengaruh untuk bangsa dan negara.

“Anda harus banyak-banyak tertipu untuk kemudian bisa maju. Kalau umur Anda sekarang 22 tahun dan Anda tertipu selama lima tahun, Anda masih berumur 27 tahun ketika Anda matang untuk berbisnis,” ujarnya.

Bisnis atau berusaha merupakan jalan yang terbaik untuk menjadi kaya. Ia mencontohkan Nabi Muhammad SAW. Nabi umat muslim itu memberikan mahar seratus ekor unta merah saat menikahi Siti Khadijah. Unta, pada zaman itu, sudah termasuk hewan yang paling mahal. Apalagi jenis unta merah yang jarang ditemui di pasaran.

“Kalau sekarang, maharnya itu bisa disamakan dengan seratus Ferrari,” tuturnya lagi.

Darimana Nabi bisa memberikan mahar sebesar itu? Jawabannya mudah: dari berdagang. Sebab, pekerjaan Nabi saat itu hanya berdagang. Ini menunjukkan, berdagang bisa membuat orang kaya raya.
Namun, pada kenyataannya, menjadi pedagang tidaklah mudah. Banyak cobaan yang harus dilalui. Dalam kesempatan tanya-jawab dengan para peserta Al Ahmadi Award maupun tamu undangan, Dahlan mendapat banyak pertanyaan tentang cobaan.

Ada mahasiswa pebisnis hewan peliharaan yang tertipu ratusan ribu lantaran pembayaran jual-beli burung yang tak tuntas. Ada juga bos es puter yang difitnah, produknya menggunakan lemak babi. Sampai pada seorang ibu yang memiliki hobi berdagang namun selalu mendapat cemoohan. Hanya karena ia memiliki tiga anak yang terbilang masih kecil.

“Cerita bisnis tadi banyak yang mengharukan. Tapi begitulah. Kalau mau sukses memang harus mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan,” ujarnya.

Intinya adalah tidak jera. Mereka yang tertipu, tidak akan jera tertipu. Mereka yang difitnah, tidak jera difitnah. Mereka yang dicemooh, tak mengambil pusing cemoohan itu.

Mereka akan tetap berusaha di tengah tipuan, fitnah, atau cemoohan. Mereka akan bangkit setiap kali jatuh. Itulah yang dinamakan dengan fokus. Dan dalam hal fokus ini, Dahlan Iskan meminta para pebisnis menjauhi praktik politik.

Sebab politik hanya akan merusak rencana bisnis. Misalnya saja ada orang yang mau memberi modal asal menjadi tim sukses seorang calon kepala daerah. Lalu pebisnis itu menyanggupi. Ia pun mendapat uang dan uang itu digunakan sebagai modal. “Kalau mau berbisnis itu fokus. Jangan berpolitik dulu,” pungkas pria kelahiran 17 Agustus 1951 itu.

Lebih Termotivasi

Sementara sejumlah pemenang Al Ahmadi Award se-Sumatera 2015, baik kategori UMKM maupun mahasiswa, mengaku lebih termotivasi setelah mendapat penghargaan tersebut.“Juri-jurinya profesional. Mereka mau memberikan masukan-masukan bagi kami-kami yang baru memulai bisnis,” ujar pemenang pertama kategori mahasiwa, Muhammad Efendi.

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau ini merupakan seorang pebisnis pemula di bidang kuliner. Ia membuat kebab turki dengan brand Pandawa. Usaha ini dimulai sejak akhir tahun 2012. “Saya tidak punya uang untuk membayar kuliah. Makanya saya ambil cuti satu tahun,” ujarnya.

Ia sebenarnya ingin bekerja saja. Ia sudah mengikuti pelatihan kerja selama tiga hari di suatu perusahaan. Namun, tak kunjung ia mendapat panggilan kerja.

Ia pun banting setir ke usaha kebab. Ia beranikan diri meminjam uang sebesar Rp 10 juta. Pada tanggal 15 Desember 2012, ia membuka outletnya yang pertama di Riau.

Di tahun pertama, ia fokus mengembangkan usaha untuk mengembalikan modal. Targetnya tercapai. Modal kembali dan ia pun berhasil kembali ke bangku kuliah. Di tahun itu juga, Pendi menetapkan target membuka sepuluh outlet dalam satu tahun. “Target saya meleset. Ternyata dalam satu bulan, saya bisa membuka satu outlet,” kata pemuda yang akrab disapa Pendi ini.

Pemuda yang juga tergabung dalam Komunitas Wirausaha Muda Mandiri itu bisa memenuhi targetnya dalam kurun waktu sepuluh bulan. Hingga saat ini, ia telah memiliki sebelas outlet.

Selain Pendi, ada tiga mahasiswa lain yang memenangi kategori ini. Yakni Ridho Putra Pratama dari Universitas Jambi, Wendi Permana dari Universitas Andalas, Padang – Sumatera Barat, dan Legino Alex Sandra dari Universitas Negeri Medan – Sumatera Utara.

Sementara itu, di kategori usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) keluar nama Zulfayetri dari Sumatera Barat, serta Aditya, Sry Lestari, dan Muhammad Rudi yang sama-sama berasal dari Sumatera Utara sebagai pemenang. Zulfayetri memenangi bidang usaha kuliner dengan rendang yang ia namai Kokoci. Aditya membuat usaha industri dan jasa dengan brand DreamARCH. Sry Lestari berhasil mengolah salak menjadi produk-produk lain yang ia beri merek dagang Salacca. Dan Muhammad Rudi berhasil membawa songket yang ia beri nama Hilwa Songket sebagai juara di bidang talent inovatif.
Satu pemenang, Sry Lestari, bersedia berbagi cerita kebahagiaan. Wanita asal Tapanuli Selatan ini mengaku tak percaya bisa menang. Sebab, dari kelompok finalis agri inovatif, usahanya memiliki omzet yang paling rendah. Tapi ia yakin pada satu hal: inovasi.

“Di kampung saya, ada juga yang melakukan pengolahan salak semacam ini. Tapi yang bisa membuat salak menjadi kecap, agar-agar, bakso, dan kopi, ya hanya saya,” katanya usai menerima penghargaan.

Dia pun bergabung dengan Komunitas Pemuda Pelopor, pada tahun 2013. Komunitas itu memberinya semangat untuk berani berwirausaha. Pada bulan Mei 2014, anak pertama dari tiga bersaudara ini memutuskan memulai usaha pengolahan salak. Saat ini, usahanya telah memiliki omzet hingga Rp 35 juta per tahun.

Kebunnya juga sering digunakan sebagai studi lapangan mahasiswa bahkan juga pernah menerima studi banding dari kota Pontianak, Kalimantan Barat. Siswa-siswi SMK juga sering magang di sana.

”Saya juga sering diminta mengisi pelatihan pengolahan buah. Buah apa saja, yang penting buah,” katanya lagi.

Al Ahmadi Award se-Sumatera 2015 ini merupakan sebuah ajang apresiasi bagi para wirausahawan. Ajang ini tidak pernah absen digelar sejak tahun 2012 lalu. Tahun ini menjadi tahun keempat.

Direktur Eksekutif Batam Pos Entrepreneur School (BPES) Lisya Anggraini mengatakan, pelaksanaan Al Ahmadi Award tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Pertama, lingkup peserta yang diperluas hingga seluruh provinsi Sumatera. Dan, kedua, puncak acara yang tidak hanya dikemas dalam dengan acara seminar saja. Melainkan juga sebuah temu bisnis dengan para wirausahawan dari Malaysia dan Singapura.

Perbedaan ternyata juga muncul dari pemenang. Tahun ini, tidak ada satupun orang Batam, ataupun Kepulauan Riau yang memenangi ajang ini. Lisya turut menyayangkan.

“Penilaian para juri itu sudah kuat. Kami tidak bisa mengurangi atau menambahkan,” kata Lisya seusai acara.

Panitia, kata Lisya, harus fair. Sebab, kejujuran merupakan satu sikap bisnis yang harus dimiliki para wirausahawan. BPES berusaha tetap menjunjung sikap itu. Kompetisi Al Ahmadi Award se-Sumatera tahun ini mendapat apresiasi dari banyak pihak.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau Gusti Raizal Eka Putra berharap, kompetisi ini bisa berkembang menjadi ajang nasional di tahun depan.

“Ini kegiatan yang tepat. Kita butuh entrepreneur,” kata Gusti.

Bank Indonesia mencatat, dua persen dari total penduduk se-Sumatera dan Kepulauan Riau, setidaknya, adalah entrepreneur. Ini supaya terjadi keseimbangan kehidupan ekonomi. Namun, hingga saat ini, jumlah entrepreneur Indonesia masih kalah dengan Malaysia dan Singapura.

Kondisi ekonomi global melemah, tahun ini. Tingkat pertumbuhan ekonomi mau tidak mau juga tidak terlalu signifikan. Kepulauan Riau masih mencatatkan nilai yang bagus ketimbang nasional. Namun, Sumatera merosot jauh.

“Sebab, Sumatera bergantung pada sumber daya alam. Dan sumber daya alam menjadi sektor yang langsung terkena dampaknya ketika kondisi ekonomi dunia memburuk,” tuturnya.

Inilah yang membuat Bank Indonesia menyambut baik ketika kompetisi ini hendak diperluas ke wilayah Sumatera. Ia berharap kegiatan ini dapat menginspirasi semua pihak. Supaya semakin banyak yang terpikat untuk menjalankan roda bisnis dari sektor UMKM.

“Dengan membuka UMKM, berarti Anda sudah ikut membantu perekonomian negara,” tuturnya. (ceu)

December 7, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: