Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Gusti Raizal Eka Putra: Tantangan Berat Pemimpin Terpilih

Jelang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Periode 2016-2021

HARI ini, Rabu 9 Desember 2015, masyarakat Kepri akan memilih gubernur dan wakil gubernur baru periode 2016-2021. Sejumlah kalangan menitipkan harapan sekaligus tantangan kepada siapapun yang akan terpilih nanti.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, mengatakan pemimpin Kepri harus mampu menggerakkan sektor ekonomi. Keberhasilan di bidang ini dapat diukur dari tingkat inflasi. Jika inflasi rendah, maka kestabilan ekonomi terjaga dengan baik.

“Jika berhasil mengendalikan inflasi, berarti itu salah satu indikasi keberhasilan dalam memimpin,” kata Gusti, Selasa (8/12/2015).

Kata Gusti, peran dan fungsi stabilisasi ekonomi tak hanya berada di pundak bank sentral semata, namun juga jadi tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini pemerintah daerah. Karenanya, sinergitas dengan instansi terkait sangat diperlukan. Termasuk, kerjasama dan saling memberi masukan dalam upaya menjaga terkendalinya harga lewat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

“Maka itu, siapapun yang akan jadi pemimpin, BI mendukung,” kata dia.

Gusti juga mengingatkan calon pemimpin nanti agar lebih bisa menggali potensi yang dimiliki daerah, agar dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di pelbagai sektor.

“Potensi seperti pariwisata dan kelautan, itu harus dioptimalkan,” pesan dia. Mewakili kalangan pengusaha, Johanes Kennedy Aritonang mengatakan, gubernur dan wali kota terpilih nantinya harus

business friendly atau pro investasi. Menurutnya, agenda memakmurkan masyarakat Kepri hanya dapat dilakukan dengan memperbaiki pendapatan ekonominya.

“Di sini harapannya kepala daerah terpilih harus bisa bersinergi, bahu membahu bersama kalangan dunia usaha,” katanya.

Bos Kawasan Industri Panbil ini mengatakan, kepala daerah terpilih juga harus bisa memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan investasi. Aksi demontrasi di Batam harus dikurangi dan ditekan demi terciptanya kenyamanan yang berdampak kepada ketersediaan lapangan kerja di Batam dan Kepri pada umumnya.

“Kalau investasi naik, sudah pasti lapangan pekerjaan akan meningkat.

Kuncinya adalah keamanan dan kenyamanan berinvestasi,” katanya.

Sementara Ketua DPD REI Khusus Batam, Djaja Roeslim berharap agar pemerintah daerah yang baru nantinya tetap memberikan perhatian penuh kepada masyarakat miskin. Khususnya dalam bidang perumahan, sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat.

Ia berharap, siapa pun nanti terpilih bisa memperjuangkan perumahan untuk masyarakat miskin seperti perumahan untuk kategori Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Karena saat ini masih banyak warga Batam yang belum memiliki rumah.

“Kalau kita dari REI siap membantu pemerintah mewujudkan ini. Ini sangat penting untuk masyarakat agar tidak lagi tinggal di ruli,” katanya.

Dari dunia olahraga muncul harapan agar kepala daerah yang baru nanti memiliki kepedulian terhadap olahraga.

“Jika semua calon pemimpin, baik itu untuk Batam dan Kepri, punya kepedulian di bidang olahraga. Pasti olahraga di Kepri akan semakin baik ke depannya,” kata Ketua harian Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Batam, Heri Supriadi.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kepri, Sukriadi. Menurut dia, prestasi olahraga di Kepri akan baik jika ada kerjasama antara pemerintah dengan pihak swasta.

“Batam bisa menjadi kawasan wisata olahraga yang menakjubkan jika pemerintah dan swasta mau peduli,” ujar pemilik Klub Bulutangkis Banda Baru ini.

Sukriadi mengambil contoh pelaksanaan WTA Championships 2014 di Singapura. Negeri jiran tersebut bisa mengundang 10 pemain top dunia. Negeri Singa tersebut juga mampu menggelar Formula 1.

Imbas dari pelaksanaan berbagai iven olahraga bertaraf internasional adalah meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung. Banyaknya jumlah kunjungan wisatawan mampu meningkatkan tingkat hunian hotel, penginapan, dan restoran.

Sedangkan dari kalangan atlet tidak berharap banyak. Contohnya atlet pencak silat Kepri peraih medali perunggu Sea Games 2015 di Singapura, Aprin Ardianto mengatakan hanya butuh kepedulian dari pemerintah.
Masalah ketenagakerjaan juga masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kalah berat bagi kepala daerah baru nanti. Khusus di Batam, angka pengangguran terus bertambah seiring derasnya arus pendatang ke daerah ini.

Dinas Tenaga Kerja Batam mencatat, sepanjang tahun 2015 ini setidaknya ada  27 ribu pencari kerja datang ke Batam. Namun karena ketersediaan lapangan kerja yang terbatas, tidak semua pencari kerja tersebut langsung memperoleh pekerjaan.

“Hingga saat ini Batam masih menjadi daya tarik bagi mereka yang mencari pekerjaan,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, Zarefriadi, Selasa (8/11/2015).

Untuk itu, kepala daerah yang baru nanti dituntut mampu membuat langkah nyata dalam meningkatkan investasi di Kepri dan Batam pada khususnya. Selain menyediakan sarana, fasilitas, dan insentif, pemerintah juga harus bisa menjamin keamanan dan kenyamanan para investor.

“Kalau banyak investor yang berinvestasi di sini, otomatis akan ada lapangan kerja,” ujarnya.

Selain itu, kepala daerah yang baru nanti juga harus komitmen dalam mencetak tenaga kerja terlatih bahkan ahli. Salah satu caranya dengan menggerakkan kembali program pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK). Sehingga tenaga lokal tidak tergusur oleh pekerja asing.

“Untuk beberapa jabatan penting saat ini masih dipegang oleh pekerja asing, ke depannya kami harapkan pekerja lokal bisa lebih memiliki kemampuan yang setara dengan mereka, jangan hanya jadi buruh saja, kita harus lebih baik,” jelasnya.

Masalah kemacetan di Batam juga menjadi catatan penting bagi calon pemimpin di daerah ini. Untuk itu, wali kota dan gubernur baru nanti harus serius memikirkan solusi dari masalah ini.

“Pemimpin baru harus menggesa percepatan pembangunan transportasi publik, pembangunan prasarana jalan dan juga peningkatan mutu pengerasan jalan,” ujar dosen tehnik sipil kekhususan transportasi Universitas Internasional Batam, Atik Wahyuni, Senin (7/12) lalu.

Penerapan transportasi publik dianggap sebagai solusi yang relevan untuk mengatasi kemacetan di kota Batam. Sarana transportasi milik pemerintah memang ada, namun sangat jauh dari kata efektif.

“Trans Batam yang sekarang armadanya kurang dan terkadang mereka tidak tepat waktu,” ungkap Atik.

Ketidaktepatan waktu membuat para pekerja yang butuh transportasi menjadi ragu menggunakan jasa Trans Batam karena takut terlambat kerja, jadinya malah memilih menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, bagi masyarakat yang rumahnya di pelosok juga sangat kesulitan menjangkau Trans Batam yang hanya berjalan di jalan arteri.

Terpisah, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kepri, Supriyanto mengatakan pemimpin baru nanti harus mengetahui kebutuhan infrastruktur Batam. Jangan ada lagi kepentingan politik terlibat dalam pembangunan kota ini.

Supriyanto kemudian mencontohkan hal yang kecil mulai dari pembangunan fasilitas pejalan kaki atau pedestrian yang tidak dibangun dengan baik.

“Batam kan dirancang juga sebagai kota wisata. Sehingga fasilitas pedestrian haruslah dibuat senyaman mungkin. Namun hal itu tidak terlihat di Batam,” ujarnya.

Selanjutnya hal yang harus dibenahi adalah pembangunan drainase untuk mengatasi banjir. Selain karena kualitas drainase yang buruk, banjir juga kerap disebabkan masalah sampah yang menyumbat saluran drainase.
Para seniman juga bersuara. Mereka mengeluhkan tidak adanya ruang untuk rutin berkarya. Apa pasal?

“Para seniman itu masih mikir bagaimana membuat dapur di rumah tetap ngebul,” kata Ramon Damora, Direktur Eksekutif Yayasan Jembia Batam.

Akhirnya, para seniman berharap bantuan anggaran dari pemerintah. Kalau tidak mendapat anggaran, tidak bisa berkarya. Para seniman dibuat bergantung pada anggaran publik.

Ramon mengatakan, Dinas Kebudayaan Kepulauan Riau memiliki anggaran kesenian. Besarnya Rp 19 juta hingga Rp 20 juta per tahun. Hanya saja, penyalurannya tidak transparan.

“Arifin Nasir memberikan dana kesenian mungkin hanya (ke lembaga) yang waktu itu sedang ia ingat saja namanya. Atau yang punya akses ke dia. Atau yang dekat dengan dia,” ujarnya.

Itulah tantangan di bidang seni yang akan dihadapi pemimpin yang terpilih nanti. Sumber daya manusia alias para pelaku seni sudah terpaku pada satu cara untuk berkarya. Pemerintahan yang baru nanti harus dapat merombak sudut pandang itu.

Ramon ingat, di tahun 1990-an lalu, Pertamina pernah melakukan satu terobosan baru untuk membangkitkan kreativitas para seniman. Pertamina membuat sebuah sayembara berhadiah hingga Rp 100 juta. Para prosais harus mau ditempatkan di sebuah pulau selama satu bulan penuh.

Akomodasi sepenuhnya ditanggung. Asal, sepulangnya nanti, para seniman itu dapat menghasilkan satu novel tentang pulau itu.

“Itu kan bagus sekali,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah nanti mau membuat sayembara seperti itu. Seluruh seniman diminta mengumpulkan proposal pembuatan karya tertentu. Proposal mana yang paling menarik akan dibiayai pembuatannya hingga selesai.

“Ini untuk menghasilkan sumber daya manusia atau seniman yang baik,” katanya.

Selain itu, ia juga berharap ada rumah berkarya bagi para seniman. Baik itu gedung kesenian maupun taman budaya. Kepri belum memiliki gedung kesenian yang layak. Gedung Aisyah Sulaiman di Tanjungpinang tak memadai. Apalagi, Gedung Beringin yang berlokasi di Sekupang. Sama sekali tak pernah digunakan lagi.

“Mikirin kebudayaan itu jangan yang fisik-fisik seperti monumen atau cagar budaya. Bagaimana mau bikin itu kalau sumber daya manusianya saja tak pernah diurusi,” ujarnya.

Masyarakat pesisir tak mau ketinggalan. Mereka menaruh harapan besar pada para kepala daerah yang terpilih dari pemilu hari ini.

Warga Pulau Buluh, Kecamatan Bulang, Taufik, berharap kepala daerah nantinya mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi warga. Khususnya warga tempatan.

“Banyak yang tak kerja, kalu bisa dikasih pekerjaan,” kata warga RT 05 ini.

Sementara warga RT 04, Muhammad mengutarakan keinginan agar pemerintah ke depan dapat membuat peraturan tentang larangan membuang sampah di laut, karena Pulau Buluh sendiri masih banyak sampah yang berserakan di tepi pantai.

“Supaya laut tak tercemar,” kata guru SDN 001 Bulang ini.

Sementara Murni, seorang penjual sembako di Pasar Tiban Centre, Batam, berharap kepala daerah baru nanti dapat menstabilkan harga kebutuhan pokok. (rna/ceu/ian/rng/leo/cr13/cr17)

December 10, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: