Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Dari Perjalanan Wartawan Batam Pos ke Eropa (1)

Tertahan di Singapura, Dimanjakan Emirates Airlines

Wartawan Batam Pos melakukan perjalanan ala backpacker sendirian menyusuri Eropa. Penerbangan dimulai dari Singapura, transit di Malaysia, Dubai, Turki, dan menginjak Belanda. Dari Belanda perjalanan keliling Eropa melalui darat pun dimulai.

AHMADI SULTAN, Batam

JUMAT, (17/10/2014) pagi, saya sudah meninggalkan Batam menuju Bandara Changi Singapura. Saya berangkat sangat pagi karena pesawat yang akan saya tumpangi berangkat tengah hari. Penerbangan saya seperti pepatah ”sekali mendayung dua, tiga, pulau terlampau” dalam arti sesungguhnya. Bagaimana tidak, penerbangan saya tidak langsung ke negara tujuan utama, Belanda. Dalam lembar tiket yang saya pegang, setelah dari Bandara Changi, pesawat Emirates Airlines yang saya tumpangi akan mengantar sampai Kualalumpur International Airport (KLIA) Malaysia saja dan harus menunggu penerbangan berikutnya selama enam jam ke Dubai. Di Dubai saya harus menunggu 13 jam untuk penerbangan selanjutnya ke Istanbul, Turki.

Karena sudah mengetahui bakal me¬nunggu di bandara berjam-jam, segala sesuatunya sudah saya siapkan. Mental, fisik, serta perlengkapan tidur. Tetapi belum apa-apa, saya sudah mendapatkan ujian mental saat harus melewati imigrasi Singapura. Memang selama ini, paspor saya tidak bisa terbaca di mesin otomatis imigrasi Singapura, jadi harus dicek manual. Jadi harus masuk ke kantor imigrasi untuk mendapatkan cop.

Namun, kali ini sangat berbeda. Setelah menunggu beberapa saat, saya didatangi seorang petugas polisi. Ia ”menginterogasi” saya dan menanyakan secara detail asal dan tempat saya bekerja, serta tujuan saya melancong ke Eropa. Berbagai pertanyaan ia ajukan dan meminta bukti tiket perjalanan, uang yang saya bawa, dan alamat selama di Eropa. Semuanya saya jawab dengan tenang, meski dalam hati sangat jengkel. Tidak cukup satu orang yang ”menginterogasi”, petugas lainnya datang menyusul.

Ia bertanya lebih detail lagi. Berapa uang yang saya punya secara rinci untuk perjalanan ke Eropa. Ketika saya sebutkan, ia dengan sinis menanyakan apakah cukup dengan uang sejumlah yang saya sebutkan. Saya pun menjawab saya punya uang tabungan yang banyak. Saya membawa kartu debit dan kartu kredit.
Ternyata jawaban saya belum juga memuaskan mereka. Saya pun diminta menunjukkan bukti tempat tinggal selama di Eropa dan tiket kepulangan. Setelah itu masih banyak pertanyaan lainnya. Semuanya mereka catat. Sekitar 30 menit ditanya kemudian barulah saya ”dilepaskan” dari ruang interogasi dan diarahkan ke meja petugas imigrasi untuk mendapatkan cop pada paspor saya.

Paspor pun dicop dan saya bergegas melangkah meninggalkan ruang imigrasi. Selama perjalanan ke Bandara Changi saya berpikir alasan mereka ”menginterogasi” cukup lama. Padahal saya sudah sering melakukan perjalanan ke negara lain melalui Singapura dan tidak pernah seperti ini. Dalam benak saya, muncul ISIS. Jangan-jangan mereka berpikiran saya akan bergabung dengan ISIS karena negara tujuan antara saya adalah Turki yang berbatasan dengan Syria. Apalagi nama saya juga sering mereka persoalkan.

Begitu sampai di bandara, saya langsung check in. Pesawat yang saya tumpangi take off pukul 12.50 waktu Singapura menuju Kualalumpur. Setiba di Kualalumpur, saya sempat kebingungan setelah melapor di meja transit. Ternyata bagasi harus saya ambil. Nah masalah muncul ketika akan mengambil bagasi. Tempat mendarat penumpang dan tempat pengambilan barang berbeda gedung. Saya menyebutnya, proses di KLIA ini cukup rumit dan merepotkan. Bagaimana tidak untuk ke tempat pengambilan bagasi ternyata harus menumpang monorail ke gedung lainnya yang berjarak satu setengah kilometer. Untuk mengambil bagasi pun, penumpang yang transit atau transfer pesawat harus keluar dan melalui imigrasi. Jadi paspor harus dicop. Artinya kita dianggap memasuki Malaysia meski hanya berada di bandara.

Setelah mendapatkan bagasi, penumpang harus melakukan check in lagi atau melapor untuk penerbangan berikutnya. Kalau ada barang yang perlu dibagasikan, harus check in bagasi lagi. Tempat pemeriksaan imigrasi, mengambil bagasi, dan tempat check in berbeda. Setelah melalui imigrasi dan mengambil bagasi di lantai satu, penumpang harus ke lantai lima untuk check ini. Usai check in dan melewati pemeriksaan imigrasi, penumpang naik monorail lagi dan kembali ke gedung kedatangan pertama tadi untuk boarding. Waktu enam jam transit tidak terasa akibat kesibukan tadi. Pukul 19.30 waktu Kualalumpur, pesawat Emirates Airline yang saya tumpangi berangkat menuju Dubai. Perjalanan ditempuh sekitar enam jam.

Selama dalam perjalanan dengan salah satu maskapai terbaik dunia itu, penumpang dimanjakan. Bahkan termasuk penumpang dengan tiket kelas ekonomi seperti saya. Penumpang kelas satu sejak duduk di kursi sudah disambut dengan welcome drink. Saya yang berada di kelas ekonomi dan penumpang lainnya menyusul mendapatkan minuman selamat datang.

Penumpang diberikan handuk untuk membasuh wajah. Han¬duk kecil ini unik. Ketika baru ”mendarat’ di tangan rasanya sangat hangat. Pun beberapa detik kemudian. Tapi lama-lama berubah menjadi dingin menyegarkan. Menemani selama perjalanan, saya menikmati musik. Di masing-masing kursi penumpang ada layanan hiburan musik dan film, games juga informasi. Untuk menikmatinya di masing-masing kursi ada layar dan remote. Tetangga kursi saya menikmati film sampai tiba di Dubai. Sementara saya mengganti-ganti hiburan. Mulai dari musik sampai film. Penumpang juga dimanjakan dengan makanan dan minuman yang ditawarkan.

Pesawat yang saya tumpangi mendarat di Dubai International Airport pukul 22.20 waktu Uni Emirat Arab. Di bandara Dubai saya tak perlu mengambil bagasi dan tak perlu melalui imigrasi lagi. Tas saya sudah langsung ke Istanbul. Setiba di ruang kedatangan, penumpang transit harus melapor. Saya juga melapor dan mendapatkan kupon makan.

Bagi penumpang yang transit lebih dari delapan jam, Emirates Airlines sebenarnya memberikan fasilitas hotel dan visa kunjungan singkat. Tetapi tiketnya harus memenuhi syarat. Di antaranya membeli tiket secara online di website Emirates Airlines dan harganya ada ketentuan minimal. Saya tak mendapatkan fasilitas itu karena menurut petugas Emirates Airlines, tiket saya ”harga spesial”. Kata untuk menghaluskan harga tiket termurah.

Akhirnya saya mencari tempat untuk tidur. Untungnya di bandara Dubai disediakan kursi panjang yang bisa digunakan untuk tidur. Saya mengeluarkan selimut yang saya sediakan karena udara yang dingin di dalam bandara. Saya memutuskan segera tidur karena sudah mengantuk. Meski waktu di Dubai menunjukkan baru pu¬kul 23:00 tetapi kantuk saya sudah tak tertahankan karena ritme tubuh saya masih merujuk waktu Batam. Perbedaan waktu antara Batam dan Dubai sekitar tiga jam. Itu artinya memang sudah waktunya tidur pulas kalau merujuk waktu Batam.

Penerbangan dengan transit di beberapa bandara sebenarnya membantu agar tidak jet lag. Itu alasan saya memilih penerbangan yang melompat dari satu negara ke negara lainnya dan tidak langsung ke Belanda yang bisa ditempuh dengan penerbangan selama 12 jam dengan penerbangan langsung.

Karena metabolisme tubuh saya masih terbawa ritme di Batam, saya terbangun pagi-pagi. Saya pun memutuskan untuk ”jalan-jalan” menikmati bandara Dubai yang seperti mal. Mal di Batam kalah. Bandara yang bentuknya seperti tabung memanjang dijejali toko-toko barang bermerek. Dari ujung ke ujung. Mulai majalah, parfum, fashion, hingga barang elektronik. Setelah menjelajahi setengahnya, saya memilih sarapan dengan bekal kupon makan yang bisa digunakan di banyak restoran. Mulai restoran fasfood hingga restoran yang menyajikan makanan Timur Tengah. Semua penumpang Emirates Airlines yang transit berjam-jam men¬dapatkan kupon makan sehingga tak perlu takut kelaparan.

Perut pun kenyang pagi-pagi dan saya melanjutkan lagi menjelajahi toko-toko di bandara. Saya menjelajahinya hingga waktu keberangkatan untuk penerbangan berikutnya mendekat. Selama di bandara Dubai hingga terbang ke Istanbul, saya sama sekali tak menemukan masalah. Begitu juga ketika tiba di Attaturk International Airport Istanbul, Sabtu sore. Selama penerbangan tiga jam saya menikmati film dan makanan yang disajikan, serta minuman. Di Emirate Airlines beragam menu film, termasuk film Indonesia. Jadi saya memutar film ”Adriana”. Di Bandara Attaturk Istanbul saya kembali mendapatkan kesan yang bagus. Petugas imigrasi langsung menyapa dengan ramah dan langsung tahu saya berasal dari Indonesia. Padahal paspor yang saya julurkan belum sampai ke tangannya. ”Masya Allah, Indonesia. Merhaban,” katanya.

Ketika melihat-lihat paspor saya yang sudah ramai dengan cop, ia hanya meminta saya menunjukkan visa elektronik yang sudah saya pesan sebelumnya. Bagi warga Indonesia yang berkunjung ke Turki memang hanya perlu visa on arrival atau e-visa yang bisa diajukan secara online. Cukup mengunjungi website kedutaan Turki untuk Indonesia dan memesan e-visa dengan membayar 25 dolar Amerika ditambah 70 sent biaya pemesanan. Petugas imigrasi yang ramah itu tidak bertanya apapun dan langsung memberikan cop pada paspor saya. Saya pun melangkah menuju tempat pengambilan bagasi, lalu me¬nuju stasiun Metro untuk me¬nuju pusat kota. Di Istanbul saya tinggal di rumah teman yang sudah seperti keluarga.

Begitu tiba di rumah keluarga ini kami pun saling menyapa dan menanyakan kabar dengan bahasa ‘Tarzan’ karena mereka tak bisa berbahasa Inggris. Saat itu ia bersama anak-anaknya dan saudaranya yang tengah berkunjung. Melihat kaki saya telanjang, buru-buru ia mengambilkan kaus kaki untuk saya kenakan supaya tak kedinginan.

Ketiba tiba di Istanbul, cuaca memang sudah mulai dingin. Padahal musim dingin baru masuk pertengahan November mendatang. Suhu antara 23-34 derajat celsius. Matahari terik tapi hembusan angin yaang membuat terasa dingin. Bagi saya yang berasal dari negara tropis, cuaca seperti itu sudah membuat menggigil. Dinginnya menusuk-nusuk kulit. Jadi saya mengenakan jaket dua lapis. Orang Turki pun sudah mengenakan jaket ke mana pun pergi. Saya tiba di rumah teman ini saat waktunya makan ma¬lam. Saya pun langsung diajak makan malam.

Selama di Istanbul, saya tidak berkunjung ke tempat-tempat wisata. Saya memilih banyak istirahat dan menikmati keseharian orang Turki melalui keluarga tempat saya tinggal. Sebab tahun lalu saya sudah mengunjungi tempat-tempat wisata di Istanbul. Hari Minggu, saya bersama teman dan ibunya pergi ke hutan. Tak hanya kami bertiga, tante teman saya dan suaminya ikut bersama kami. Hutan yang kami tuju berada di pinggiran Istanbul. Perjalanan lebih dari satu jam. Kami ke hutan mencari biji-bijian yang jatuh dan banyak ditemukan. Awalnya saya belum mengetahui biji apa yang kami pungut itu. Tetapi saya merasa mengenalnya. Ternyata buah kastanye yang sudah keluar dari kulitnya.

Tiga hari saya rehat di Istanbul. Saya menganggap tinggal beberapa hari di Istanbul sebagai pemanasan sebelum menjelajahi wilayah Eropa yang sesungguhnya. Istanbul yang mengangkangi dua benua yaitu Asia dan Eropa memiliki dua sisi yang berbeda. Gaya hidup Asia dan Eropa. Termasuk makanannya. Istirahat di Istanbul juga membantu saya mengatasi jet lag akibat perbedaan waktu antara Indonesia dan negara-negara Eropa yang akan saya kunjungi. Perlahan-lahan saya bisa menyesuaikan perbedaan waktu, sehingga saya tak lagi mengantuk atau lapar di waktu yang ”salah”.

Dari Istanbul, saya melanjutkan perjalanan ke Amsterdam, Belanda, Selasa (21/10) ma¬lam. Saya menumpang maskapai lokal Turki, Pegasus. Kalau di Indonesia, Pegasus ini seperti Lion Air. Maskapai bujet. Kalau saat tiba saya mendarat di Attaturk International Airport di Istanbul bagian Eropa, saat meninggalkan Istanbul, saya melalui Bandara Sabiha Gokcen di Istanbul bagian Asia.

Bandara Sabiha Gokcen adalah bandara internasional kedua di Istanbul untuk mengatasi membeludaknya penumpang di Attaturk International Airport. Perjalanan Istanbul-Amsterdam ditempuh selama kurang lebih tiga jam. Ada perbedaan waktu satu jam antara Istanbul dan Amsterdam. Saya tiba di Bandara Schipol Amsterdam tengah malam.

Di bagian imigrasi, papsor saya tidak langsung dicop. Petugas imigrasi membawa paspor saya ke kantor imigrasi yang berada di samping meja petugas imigrasi setelah meminta alamat tempat tinggal saya selama di Eropa. Saya menyerahkan surat elektronik dari teman-teman saya di Eropa. Saya disuruh duduk menunggu di kursi di depan kantor imigrasi bandara. Tak hanya saya, satu keluarga lainnya juga mendapat hal serupa. Kemudian saya dipanggil dan ditanya petugas imigrasi beberapa pertanyaan. Berapa lama saya tinggal di Eropa dan di mana saja selama itu.

Saya mengatakan akan tinggal di Amsterdam selama tiga hari kemudian ke Antwerp dan Brussels, Belgia. Lalu ke Berlin dan Dresden (Jerman), Praha (Ceska), dan Paris (Perancis). Saya tidak menyebutkan semua negara dan kota tujuan supaya pertanyaan tidak bertambah. Tak hanya soal tempat tinggal, saya juga ditanya jumlah uang. Saya menyebutkan uang cash yang saya bawa, dan menambahkan saya punya kartu kredit dan kartu debit. Saya menunjukkan tiga kartu ATM, padahal yang isinya lumayan banyak hanya satu. Petugas imigrasi pun percaya saja. Ia tertawa ketika melihat salah satu kartu ATM saya bergambar kincir angin tapi sudah buram. Sembari tertawa ia memberi cop pada paspor saya. Saya pun resmi masuk Belanda.

Saya bergegas menuju tempat pengambilan bagasi dan keluar dari bandara untuk mencari tempat parkir bus yang mengantar ke Amsterdam Centre. Suhu terasa lebih dingin di¬banding di Istanbul. Dinginnya seperti mengiris-iris kulit dan menembus tulang. Saya memasang kaos tangan dan penutup kepala karena hujan rintik-rintik. Hujan baru saja reda ketika tiba di Amsterdam. Itulah yang membuat suhu sangat dingin. Saya menuju tempat parkir bus di lot B9 yang menuju Marnixstraat yang dekat dari apartemen teman saya.

Dalam perjalanan, saya berusaha menghubungi teman me¬lalui facebook dan Whatsapp, tetapi internet di bus tidak bisa digunakan di smartphone saya. Akhirnya saya mencoba mengirim SMS, tapi tidak berhasil juga karena pulsa saya ternyata tidak cukup. Begitu sampai di tujuan, saya kebingungan karena teman saya tidak ada di stasiun Marnixstraat. Saya masuk ke minimarket dan menanyakan telepon umum. Kata perempuan yang menjaga minimarket tidak ada telepon umum di minimarket itu. Saya menanyakan di mana ada telepon umum di sekitar tempat itu. Lagi-lagi, katanya tidak ada.

Saya meminta tolong meminjam handphone dia untuk menghubungi teman saya. Dia memberikan telepon di minimarket itu. Dengan wajah dingin, dia mengatakan saya boleh menggunakan telepon itu sebentar saja karena telepon milik bosnya. Saya lalu menghubungi teman saya dan memintanya untuk datang menjemput saya di Marnixstraat. Saya pun berterima kasih kepada wanita penjaga minimarket itu lalu keluar. Udara terasa semakin dingin. Dua lapis jaket yang saya kenakan tak mempan.

Sepuluh menit kemudian, teman saya datang bersepeda. Di Amsterdam, kesan pertama saya ketika tiba memang sudah melihatnya sebagai kota yang ramah sepeda. Di mana-mana sepeda terparkir. Sepeda teman saya tak punya boncengan sehingga kami jalan kaki menuju apartemennya selama 15 menit. Apartemen itu berada di kawasan Old Amsterdam. Pusat kota di mana Amsterdam berawal. Karena cukup lelah dan mengantuk, kami hanya mengobrol sebentar, lalu tidur. Presiden RI, Joko Widodo, salah satu bahan obrolan sing¬kat itu. (bersambung)

December 14, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: