Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Melihat Iran Lebih Dekat (1)

Warganya Ramah, Toleran dengan Minoritas

Orang Iran dikenal paling ramah di dunia. Kerahamantamahan itu bahkan sudah dikenal sejak sebelum Masehi. Orang Iran juga sangat toleran. Itulah yang membuat Duta Besar Indonesia untuk Iran memberi judul buku fotografinya, Iran Lovely People. Berikut catatan perjalanan wartawan Batam Pos ke Iran, November lalu.

AHMADI SULTAN, Teheran

Satu setengah bulan sebelum perjalanan solo (solo traveling) ke Iran, keramahtamahan orang Iran sudah terasa. Melalui sebuah laman jejaring sosial penggemar traveling, Couchsurfing, seorang warga Teheran yang mengetahui rencana perjalanan saya mengirimkan pesan. Ia menawarkan bantuan kepada saya untuk mendapatkan visa on arrival (VoA).

Bagi warga Indonesia, kunjungan singkat atau dua pekan dengan tujuan wisata bisa mendapatkan VoA di lima bandara internasional di Iran, dengan sponsor atau penjamin. Warga Iran yang baru saya kenal itulah yang menjadi sponsor atau penjamin. Ia mengirimkan data-data pribadinya yang diperlukan dan ditulis dalam formulir visa yang akan didapatkan di bandara.

Namanya Mojtaba Abdoulrahimkan. Dialah orang Iran pertama yang menjadi teman saya. Tetapi dia sudah berteman lebih dulu dengan Duta Besar Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit.

Mereka berteman dalam komunitas fotografi di Iran. Mojtaba kemudian banyak bercerita tentang hobi Dubes Indonesia ini, padahal kami belum pernah bertemu. Ia menceritakan kegiatan fotografi mereka. Lalu menghubungkan saya dengan Dubes Indonesia.

Dua pekan sebelum berangkat, saya menemukan teman baru lagi melalui Couchsurfing. Seorang jurnalis dan pimpinan redaksi di dua media di Tehran. Namanya Reza Jamili. Kesamaan profesi membuat ia tertarik untuk menyediakan rumahnya saya tumpangi.

Mendapat teman di Iran, rasa ‘takut’ saya berkurang. Malah semakin yakin dengan cerita yang sering saya baca di travel blog yang ditulis orang-orang Barat yang sudah pernah mengunjungi Iran. Mereka terkesan dengan keramahtamahan orang Iran.

Tanggal 1 November pagi, saya akhirnya tiba di Bandara Internasional Imam Khomeini yang letaknya 35 kilometer di luar Kota Teheran. Ruang kedatangan internasional tidak ramai. Hanya puluhan orang saja. Rata-rata orang bule. Mereka, termasuk saya, langsung mengantre di konter visa. Petugas di konter visa memberikan formulir yang isinya sangat ringkas. Data-data sponsor dituliskan di bagian akhir. Ketika melihat paspor saya, petugas itu bertanya,”Anda Muslim?” Iya,” jawab saya. “Syiah apa Sunni” tanyanya lagi. “Sunni.”

Ia tersenyum hangat dan tidak ada lagi pertanyaan. Ia kemudian menyerahkan paspor saya yang sudah ditempeli visa. Saya melangkahkan kaki ke bagian imigrasi dan tidak ada antrean panjang. Hanya satu orang di depan saya. Seorang petugas imigrasi mendekat dan menyapa, lalu menanyakan asal saya.

“Saya dari Indonezy,” jawab saya menirukan pengucapan orang Iran.

Ia lalu bertanya lagi, “Anda Muslim?” Iya,” jawab saya. Ia meninggalkan saya dan menemui rekannya yang bertugas memeriksa. Saya mendengar ia mengatakan sesuatu tetapi saya tidak pahami. Keduanya berbicara bahasa Farsi. Ketika giliran saya untuk pemeriksaan paspor, petugas imigrasi itu sama sekali tidak bertanya. Ia langsung memberi cap pada paspor saya dan mempersilahkan saya menikmati liburan di Iran.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi, saya beranjak ke bagian pengambilan bagasi. Saya melihat pria Australia yang sebelumnya sama-sama mengurus VoA, kebingungan karena tidak menemukan tasnya. Saya menyapanya dan berbincang dengannya sambil menunggu tasnya. Namanya John. Ia juga tidak menginap di hotel, tetapi di rumah temannya yang baru dikenalnya. Kami kemudian sepakat untuk menumpang sharing taxi atau mustakim dari bandara ke pusat Kota Teheran. Seperti di Batam, taksi di Bandara Imam Khomeini juga tidak menggunakan argometer dan bisa ditumpangi bersama-sama. Saya ikut John ke rumah temannya karena teman saya bekerja hingga pukul 18.00.

Cuaca dingin menyapa ketika keluar dari bandara. Musim dingin memang sudah hampir mendekat. Sejumlah sopir taksi menawarkan taksinya dengan sopan. Awalnya mereka menyebut 30 dolar Amerika, tetapi kemudian turun jadi 24 dolar Amerika setelah kami tawar. Taksi meninggalkan bandara dan melaju di jalan mulus yang sepi. Sopir taksi itu mengajak kami berbincang meski ia hanya tahu beberapa kata bahasa Inggris. Lalu mengajari kami beberapa bahasa Farsi.

Tepat tengah hari, kami tiba di rumah teman John. Namanya Ali, seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Iran. Ia dan ibunya menyambut hangat kedatangan kami. Mengalahkan cuaca dingin yang sedang merayap datang. Ali bertanya,”kalian sudah makan?” Belum” jawab saya dan John hampir bersamaan. “Oke, ibu saya sudah menyiapkan makanan,” katanya.

Ibu Ali menghidangkan nasi bumbu herbal, ayam kari, sayuran, dan puding yang terbuat dari nasi. Disela-sela makan siang itu, kami berbagi cerita. Ali menceritakan kondisi dan budaya negaranya. Ali juga mengingatkan hal-hal yang tak boleh dilakukan. “Jangan menyapa atau bertanya kepada wanita yang berjalan sendiri. Kamu bisa bertanya pada wanita yang bersama pasangannya tetapi pasti yang menjawab itu si pria,” jelasnya.

Usai makan siang, Ali menawarkan layanan internet di rumahnya kalau-kalau kami butuh. Tentu saja saya dan John senang hati menerima tawaran itu. Ali memberikan kata kunci dan smartphone saya pun terhubung dengan internet. Saya mendapat pesan dari Reza Jamili. Ia mengatakan akan berada di kantornya hingga malam, tetapi ia meninggalkan kunci rumahnya untuk saya di kedai dekat apartemennya. Ia mempersilahkan saya datang ke apartemennya dan mengambil kunci yang ia titipkan.

“Nanti saya yang antar ke sana,” ujar Ali setelah mengetahui pesan dari teman saya itu.

Usai Magrib, saya tiba di apartemen teman saya. Tetapi saya tak mendapatkan kunci yang ia titipkan di kedai sayur dekat rumahnya. Pria di kedai itu tak paham bahasa Inggris dan saya tak paham bahasa Farsi. Saya nekat memencet salah satu bel apartemen berlantai empat itu. Seorang wanita menjawab. Saya bertanya dalam bahasa Inggris tetapi ia menjawabnya dengan bahasa Farsi. Saya pencet bel kedua, pria yang menjawab bisa berbahasa Inggris tetapi tidak mengenali teman saya. Saya pun bingung.

Dilanda kebingungan, saya melipir ke bengkel di depan apartemen itu. Lima orang pria sedang berbincang-bincang. Tak satu pun yang bisa bahasa Inggris. Tetapi mereka segera memberikan saya tempat duduk, menawarkan rokok, dan kopi. Saya tolak karena tidak merokok dan bukan penikmat kopi. Mereka berusaha mengajak berbincang meski bahasanya tak ketemu. Bicaranya bersemangat dan hangat. Salah satunya kemudian meminta nomor telepon teman saya dan menghubunginya. Teman saya menyampaikan akan datang segera.

Tak lama, ada yang datang menjemput saya tetapi bukan teman saya. Ternyata ia keponakan teman saya. Ia merangkul dan mengajak saya ke apartemen. Dengan sopan, Majid namanya, mempersilahkan masuk. Ia lalu tiba-tiba membungkuk dan hendak membukakan sepatu saya. Saya menolak karena sambutan itu berlebihan buat saya. Ia pun segera ke dapur dan membuatkan teh untuk saya.

Teh yang dimasak selama 15 menit. Teh panas itu mengangatkan tubuh saya yang kedinginan karena terlalu lama di luar ruang. Sambil menikmati teh, saya berbincang dengan Majid. Ia hanya tahu beberapa kata bahasa Inggris tetapi berusaha mengimbangi obrolan kami.

Pukul 20:30 waktu Iran, teman saya akhirnya pulang kerja. Reza tersenyum lebar begitu melihat saya. Ia langsung menawarkan makan malam. Roti pipih yang super lebar, namanya sangek, ia hidangkan bersama sayuran, telur orak-arik, biji zaitun, dan madu. Makan malam itu diselingi obrolan dan pertanyaan-pertanyaan. Bahkan soal pekerjaan kami. Sebab, sama-sama bekerja sebagai jurnalis. Reza juga menceritakan keramahtamahan orang-orang Iran terhadap orang asing atau turis yang berkunjung ke Iran.

“Anda adalah tamu di Iran. Orang-orang akan mengundang Anda ke rumahnya,” ungkap Reza.

Keramahtamahan yang saya temukan di hari pertama menjejakkan kaki di tanah bangsa Arya itu benar-benar mengesankan. Bahkan banyak kejutan-kejutan pada hari-hari berikutnya. Ketika hendak jalan-jalan dan saya belum menukarkan uang dolar dengan uang Rial, Reza memberikan uang 120 Rial untuk ongkos taksi dan metro. Di jalan, orang-orang yang berpapasan seringkali menatap dan tersenyum ramah. Ada juga yang menyapa. Di metro (kereta bawa tanah), orang-orang menyapa saya dan menanyakan asal saya.

“Kamu dari Peru,” tanya seorang pria di hadapan saya sambil tersenyum.

“Bukan” jawab saya. “Dari Philipina? “Bukan, saya dari Indonesia,” kata saya.

Ketika tahu saya dari Indonesia, mereka tampak senang. Tetapi ada juga yang tak percaya saya orang Indonesia. Saat jalan kaki, seorang pria tua menyapa dan mengira saya dari Afganistan.

“Bukan. Saya dari Indonesia,” jawab saya. Tetapi dia tetap tak percaya dan ngotot dengan dugaannya.

”Tidak. Kamu dari Afganistan,” katanya disertai senyum. Saya pun ngotot dan akhirnya dia menyerah.
Setelah tiga hari di Teheran, saya ke Isfahan. Kota Budaya Iran. Reza menanyakan apakah saya sudah menukar duit. Saya pun memperlihatkan uang yang diberikan sehari sebelumnya.

“Itu tidak cukup,” katanya. Saat melewati ATM, ia singgah dan mengambil duit.

“Ini untuk beli tiket dan ongkos taksi kamu nanti,” katanya sembari menyerahkan uang 600 ribu Rial.

“Okay, saya akan berikan uang dolar,” kata saya dan Reza menolaknya.

Keramahtamahan dan kebaikan orang-orang Iran itu terus menghampiri saya. Kerahamahtamahan yang sesungguhnya dan tulus. Tak hanya orang-orang dewasa, keramahtamahan itu juga ditunjukkan anak-anak muda dan remaja.

Di lain hari, saya masuk ke Kentucky House yang dipadati orang lokal. Hanya saya orang asing. Saya tidak mendapatkan tempat duduk di Kentucky House untuk makan siang, dan seorang remaja akhirnya membagikan tempat duduknya. Tubuhnya agak bongsor. Awalnya, saya sempat kaget melihat pesanan makanannya yang jumbo. Satu loyang pizza, salad satu mangkok besar, dan satu piring kentang goreng. Sementara saya memesan burger ukuran besar dan minuman ringan.

Tak saya sangka, ketika seorang perempuan ingin merasakan nikmatnya pizza itu dan meminta secuil, remaja itu malah memberikan satu potong. Tak hanya sekali, seseorang mendatanginya. Seorang anak kecil datang menawarkan tisu, ia langsung membelinya dan memberikan uang yang lebih.

Bahkan ia menawarkan pizza dan anak perempuan itu pun tersenyum senang. Tak lama setelah anak perempuan itu pergi, muncul anak kecil lainnya menawarkan jualan yang sama. Ia pun membelinya dan lagi-lagi memberikan uang lebih. Saat anak laki-laki itu hendak pergi, ia membekalinya dengan sepotong pizza dan salad yang belum disentuhnya. Ia memberikannya dengan tulus, seperti seorang kakak kepada adiknya.

“Kamu bisa bahasa Inggris,” tanya saya setelah mengakhiri pengamatan. Ia menjawab bisa dan perbincangan kami pun dibuka. Namanya Akbar. Mengetahui saya dari Indonesia, ia menawarkan untuk menemani dan mengantarkan saya ke tempat-tempat menarik di Isfahan. Ia menelpon orang tuanya dan menyampaikan baru akan pulang ke rumah pukul 21:00. Alasannya, ia akan menemani saya jalan-jalan. Jadilah ia pemandu wisata dadakan buat saya.

“Saya baru pulang sekolah dan bebas sampai jam 9 malam,” katanya.

Meski masih kelas dua SMA, ia paham sejarah bangsanya. Setiap tempat yang kami datangi, ia mampu menjelaskannya. Ia mengantar ke objek-objek wisata sejarah dan menceritakan tempat itu.

“Oh ada yang juga kamu harus coba. Es krim khas Isfahan,” katanya. Ia menawarkan es krim padahal cuaca sangat dingin buat saya. Tetapi karena ingin mencoba, akhirnya saya setuju. Ia pun beranjak membelikan es krim. Hanya satu, untuk saya saja. Saat saya menikmati es krim itu, ia pergi lagi ke toko dan kembali membawa dua kantong yang berisi, ghaz, camilan khas Iran.

“Ini khas Iran. Oleh-oleh untuk kamu,” ujarnya.

Kejutan itu membalikkan persepsi saya dan tak berhenti di situ saja. Menjelang Magrib, ia mengajak saya ke masjid. Saya agak takut karena ia penganut Syiah. Tapi ia meyakinkan saya, tidak akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi. “Kamu bisa salat sendiri nanti,” ucapnya saat kami berjalan kaki menuju masjid.

Benar saja, tidak ada yang terheran-heran atau mengamati saat saya salat sendiri dengan cara saya sendiri di bagian luar masjid. Ruang yang menyerupai teras itu memang diperuntukkan bagi jamaah bila di dalam tidak cukup atau tidak ingin berjamaah. “Di sini (Iran) tidak ada masalah bagi yang Sunni,” ungkapnya.

Usai salat Magrib, saya memutuskan untuk pulang. Ia mengantarkan saya dengan taksi ke terminal bus kota. Ia membayar ongkos taksi itu bahkan membayarkan ongkos bus untuk saya. Saya pulang ke rumah teman. Sam Mayhari, seorang pengajar Bahasa Inggris dan single parent. Di apartemennya yang sederhana, ia menyiapkan makan malam yang dibuat ibunya.

“Anggap saja kamu di rumah sendiri, kamu bisa leluasa di rumah ini. Tidak usah segan,” katanya.

Anaknya yang baru kelas 3 SMP dan sedikit bisa berbahasa Inggris tak kalah ramahnya. Saya sering berbincang dengannya. Keesokan harinya, Sam mengajak saya ke desanya yang berjarak sekira 25 kilometer dari Isfahan. Hari itu, penduduk desa akan berkumpul untuk menyaksikan pergelaran Tazieh, teater kuno yang sudah berusia ribuan tahun. Meski tak jauh, desa itu benar-benar kontras dengan Isfahan. Rumah-rumah lumpur yang bersahaja dan penduduknya ramah.

Setiba di desa itu, orang-orang menyapa saya. Pandangan mata mengarah ke saya dan anak-anak mengikuti ke mana pun saya pergi. Sesekali ada yang mengajak berbincang meski hanya bisa bahasa Farsi. Sam mengajak saya bertemu dan berkenalan dengan para pemain teater. Ternyata semuanya masih ada hubungan keluarga. Mereka adalah paman dan sepupu Sam. Jadi ketika mereka sedang memainkan teater rakyat (sejenis Makyong di Batam) mereka menyampaikan ada tamu dari Indonesia.

“Mereka menyampaikan sambutan dan mengumumkan kehadiran kamu,” kata Sam menerjemahkan.

Menjelang pementasan di lapangan terbuka selesai, anak-anak ramai mendekati saya. Mereka ingin berfoto bersama meski malu-malu. Ketika pementasan benar-benar selesai, sekeliling saya sesak. Mereka mengerumuni dan terus minta berfoto bersama. Saya tak bisa keluar dari kerumunan itu. Sam terpaksa menghalau mereka. Meski dihalau, mereka terus mengikuti hingga saya naik ke mobil.

Dalam perjalanan, seorang pria mengundang makan siang. Usai pementasan perayaan Muharram itu, memang mereka punya kebiasaan makan bersama. Anak-anak juga ikut bergabung. Nasi kebab dihidangkan dan disantap dengan duduk bersila. Anak-anak yang duduk di dekat saya terus mengajak berbincang dan meminta bertukar uang untuk kenang-kenangan. Desa berpenduduk ramah itu akhirnya kami tinggalkan saat sore sudah mengambang. Ibu Sam yang sempat kami temui memberi saya sekantong apel hijau.

Apel itu saya simpan untuk bekal dalam perjalanan ke kota berikutnya, Shiraz. Sam yang mengetahui saya tak membawa jaket yang cukup tebal untuk menghangatkan tubuh, memberikan jaket wol. Ia juga memberikan uang untuk ongkos bus ke terminal. “Kalau kamu kehabisan uang, hubungi saya. Saya akan kirimkan lewat akun bank teman di mana kamu berada,” kata Sam sebelum saya berangkat melanjutkan perjalanan.

Di bus, dalam perjalanan ke Shiraz, orang-orang tersenyum menyapa. Mereka menawarkan cemilan, bahkan makan siang. Sesampai di Shiraz, seorang pemuda lainnya mengantarkan saya dengan taksi ke rumah teman saya. Padahal, tujuan kami tidak searah. Ia yang membayar ongkos taksi itu. Lalu mencari apartemen teman saya hingga ketemu. Setelah memastikan saya sudah ‘selamat’, ia pun pergi.

“Terima kasih. Senang bertemu denganmu,” kata saya.

Orang-orang yang menyapa dan mengajak berbincang, terus menerus saya jumpai. Seorang pemilik toko, begitu senangnya ketika mengetahui saya orang Islam Sunni. Ada rasa haru dan gembira di wajahnya. Pria bernama Ally ini tak bisa bahasa Inggris. Tapi komunikasi kami terhubung. Ayahnya yang bisa bahasa Inggris sedikit-sedikit tak kalah senangnya berjumpa dengan saya. Ia mengundang ke rumahnya yang tak jauh dari tokonya. Meski Ally dan ayahnya minoritas, mereka bisa hidup dengan tenang diantara penduduk Iran yang mayoritas Syiah. Mereka bebas berusaha di dekat masjid Syiah dan kepungan toko-toko dan rumah milik orang Syiah.

Tak hanya Sunni, penganut agama Kristen juga bebas berekspresi. Saat saya berdiri di depan toko Ally, melintas seorang pemuda dengan rosario tergantung di lehernya. Bahkan sebelumnya, saya menjumpai gereja yang berdiri di megah di jalan utama Teheran. Gereja itu berdiri dengan latar belakang gedung dengan gambar Imam Khomeini. Sam, teman saya di Isfahan juga mengenakan rosario, meski keluarga besarnya beragama Islam.

Di Iran, masyarakatnya hidup berdampingan dengan rukun dan tidak suka bertindak radikal. Kebanyakan penduduk Iran adalah Muslim, 90 persen Syiah, 8 persen Sunnah Wal Jamaah, dan 2 persen lagi adalah penganut agama Baha’i, Mandea, Hindu, Zoroastrianisme, Yahudi, dan Kristen.

Zoroastrianisme, agama nenek moyang bangsa Persia, dan Yahudi diakui oleh pemerintah Iran, dan turut mempunyai perwakilan di parlemen.

“Kami tidak suka bertindak yang radikal. Kami suka perdamaian. Jadi gambaran masyarakat Iran berbeda dengan gambaran pemerintah,” ungkap Reza.

Seorang guru bahasa Inggris yang saya temui di taksi juga mengatakan demikian. Pria paruh baya bernama Muksin Jamil itu mengatakan orang Iran tidak seperti yang dicitrakan orang-orang luar. Menurutnya orang-orang Iran sangat bersahabat, suka kedamaian, jadi Iran sangat aman. Bahkan bagi orang asing.

“Saya mohon kepadamu, tolong kabarkan kepada orang-orang bahwa Iran itu aman. Wajah pemerintah Iran bukanlah wajah masyarakat Iran,” katanya memohon dan diujung percakapan ia membayarkan ongkos taksi saya.

Rasa aman dan nyaman itu ada benarnya. Selama perjalanan dari Teheran, Isfahan, Shiraz, Yazd, dan kembali lagi ke Teheran, saya seperti berada di negeri sendiri. Saat jalan-jalan di hari terakhir di Teheran, seorang pria menyapa saya, “Oh friend from Indonezy!” Saya kaget karena tiba-tiba ada yang tahu saya dari Indonesia. Di tengah kebingungan saya, ia pun menjawab rasa bingung itu, “Saya tetangga temanmu,” katanya sembari tertawa.

Ternyata Ahmad, pemilik apartemen yang pernah mengundang saya ke rumahnya. Lagi-lagi, ia mengundang saya dan menyanggupinya. Saya berjanji akan datang pukul 19:00. Ketika saya datang, istrinya sudah menyiapkan buah-buahan dan teh hangat. Anak-anaknya ikut berbincang-bincang. Mereka banyak bercanda dan tertawa. Setelah setengah jam mengobrol, ia mengajak makan malam. Tetapi saya sudah kekenyangan makan buah dan beralasan akan malam bersama teman saya. Akhirnya ia memberi oleh-oleh buah untuk bekal saya.

Keramahtamahan, sikap bersahabat dan sikap toleran orang Iran ini diakui Duta Besar Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit. Ia melihat keramahtamahan yang tulus itu ketika berkunjung ke desa-desa di beberapa wilayah di Iran. Dubes yang sudah tiga tahun bertugas di Iran ini mengabadikan wajah-wajah ramah itu dalam buku fotografi karyanya yang berjudul Iran Lovely People. “Orang-orang di desa itu polos dan jujur. Kerahamannya tulus,” katanya saat dijumpai di KBRI.

Sejatinya, keramahtamahan dan sikap toleran sudah ditunjukkan orang Iran sejak dulu kala. Di bawah pemerintahan Cyrus Agung (648–330 SM), dan Darius yang Agung (522-486 M), masyarakat Iran sudah dikenal dengan keramahtamahannya. Kekaisaran Persia menjadi sebuah kekaisaran yang terbesar, dan terkuat di dunia zaman itu. Pada masa pemerintahan dua kaisar itu, pencapaian utamanya ialah sebuah kekaisaran besar pertama yang mengamalkan sikap toleransi, dan menghormati budaya dan agama lain di kawasan jajahannya.

Tak hanya pemerintahan masa lampau, Khomeini dalam beberapa kesempatan juga menegaskan bahwa posisi minoritas akan tetap aman dan dilindungi hak-haknya. Pendiri Republik Islam Iran ini berkata, “Mereka (kaum minoritas) dalam urusan apapun setara dan hak-hak mereka dilindungi oleh hukum. Dalam pemerintahan Islam, mereka akan mendapat kesejahteraan,” katanya dikutip dari jurnal yang ditulis Afifah Ahmad, travel writer, dan Purkon Hidayat, peneliti ICMES. ***

December 14, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: