Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kumpulkan Uang Kuno, Bisa Habiskan Dana hingga Rp 200 Juta

Mengenal Batam Numismatik Indonesia (BANK), Komunitas Kolektor Uang Kuno Indonesia Wilayah Batam

Kalau sudah bicara hobi, jangan ditanya lagi berapa uang yang sudah dikeluarkan. Komunitas ini bisa membeli uang dengan harga yang jauh lebih tinggi dari nominal asli uang tersebut.

WENNY C PRIHANDINA, Batamkota

Liza meraup uang-uang kertas itu dengan satu tangan. Lalu merentangkannya hingga menjadi seperti kipas. Ditiliknya satu per satu uang itu dengan teliti.

Pandangannya terhenti pada uang bernilai 1 Sen. Ia mengembalikan uang-uang yang lain ke dalam keranjang plastik. Lalu mengeluarkan si 1 Sen itu.

”Bagus ya?” katanya pada kawan di sampingnya, Kamis (3/12/2015).

Uang itu berukuran kecil saja, sekitar 10 x 4 sentimeter persegi. Bentuknya persegi panjang. Gambar pria bertopi caping berada di sudut paling kanan.

”Yang ini sajalah, Pak,” katanya sambil merogoh tas. Mencari dompet.

”Dua puluh lima ribu (rupiah), Mbak,” kata si penjual.

Proses jual-beli tak berlangsung lama. Usai membayar, Liza masih mengamati belanjaan kecilnya. Ia mengeluarkan satu per satu uang kertas dalam plastik bening pipih itu. Ada hingga lima uang kertas di dalamnya. Semuanya dalam pecahan sen.

Ia berniat membingkainya lalu memberikannya sebagai hadiah ulang tahun. ”Kadang, kita perlu bikin hadiah yang kreatif juga. Masa itu-itu saja,” tuturnya.

Liza adalah satu dari sekian banyak masyarakat Batam yang tertarik membeli uang di tempat itu. Uang itu bukan uang mainan. Uang itu uang asli. “(Uang) ini pernah laku pada jamannya,” kata Thoie Sugiarto, si penjual.

Uang Sen yang Liza beli saat itu, misalnya, merupakan alat perbelanjaan yang sah pada tahun 1964 ke atas. Uang itu dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Ditanda-tangani Gubernur dan Direktur. Dan dicetak oleh Perusahaan Negara Pertjetakan Kebajoran (Percetakan Kebayoran). Uang itu biasa disebut dengan uang kuno.

Sebagian besar uang kuno yang dijajakan di sana milik Thoie Sugiarto. Thoie memang gandrung dengan uang kuno. Ia menjadi kolektor sejak tiga tahun lalu.

”Hobi ini sudah dimulai sejak saya SMP. Saya hobi mengumpulkan perangko,” tutur Thoie.
Dari perangko, ia merambah juga ke kartu telepon. Ia mengumpulkan satu demi satu dan menyimpannya dalam album-album foto. Tiga tahun belakangan, hobinya bertambah. Ia tertarik mengumpulkan uang kuno.

Ia biasa membeli uang kuno via online. Melalui media sosial, ia bertemu dengan sesama kolektor. Dan kagetlah ia, ketika ia hendak membeli uang kuno, sang pembeli ternyata sama-sama tinggal di Batam.

”Ini hobi. Kami kembangkan hobinya dan ternyata butuh wadah,” katanya.

Itulah yang membuat Thoie dan kolektor lainnya memutuskan membuat sebuah komunitas. Komunitas itu bernama Batam Numismatik atau biasa disingkat dengan kata ‘bank’. Ini komunitas kolektor uang kuno Indonesia yang berlokasi di wilayah Batam. Komunitas ini sudah ada hampir di tiap daerah di Indonesia. Di Jakarta, komunitas ini bernama Indonesia Numismatic Auction atau biasa disingkat INA.

Tanggal 3 Desember 2014 menjadi hari bersejarah bagi mereka. Untuk pertama kalinya, mereka menggelar dagangan bersama. Bukan hanya berdagang, sebenarnya, melainkan juga menyosialisasikan uang kuno ke masyarakat.

”Waktu itu di BCS. Kami ikut ambil bagian di acara Pesta Wirausaha Batam,” kata Thoie.

”Dan sekarang menjadi kali kedua. Di Pesta Wirausaha juga,” timpal Mahmud Solikin, Anggota Bank lain.
Stand Bank di acara yang digelar di Dataran Engku Puteri, Sabtu (28/11) dan Minggu (29/11), itu banyak dikunjungi. Ada yang sekedar melihat-lihat, menambah ilmu. Ada juga yang berniat ingin membeli.

Di sana, dijual uang-uang lama mulai dari tahun 1920-an. Bukan hanya uang Indonesia. Tetapi juga uang dari negara-negara lainnya. Amerika Serikat, Vietnam, ataupun Kamboja.

”Tapi yang terbanyak tetap dari Indonesia,” kata Thoie lagi.

Harga yang ditawarkan bervariasi untuk tiap uang yang dijual. Harga jual, kata Thoie, sangat ditentukan oleh kualitas si uang kertas. Semakin mulus dan licin uang itu, semakin mahal harganya.

Kalau untuk standar harganya, Thoie menyerahkannya pada buku Katalog Uang Kertas Indonesia. Buku keluaran komunitas pecinta uang kuno itu menjadi buku pedoman Thoie menentukan harga. Baik itu hendak menjual maupun membeli.

Katalog itu memuat segala jenis uang kertas Indonesia. Uang yang tertera di katalog itu sudah pasti ada di Indonesia. Tapi siapa yang punya, tidak ada yang tahu.

Uang kuno yang sedang tren sekarang adalah uang seri borobudur bernilai Rp 10 ribu keluaran tahun 1975. Uang ini dicari karena desainnya yang menarik serta perpaduan warna yang apik. Baik Thoie maupun Mahmud Solikin sudah memilikinya tapi dengan kondisi yang berbeda.

”Ini yang paling mahal yang pernah saya beli, Rp 2 juta,” kata Mahmud.

Mahmud baru mengumpulkan uang kuno setahun terakhir. Ia baru memiliki tiga album. Uang yang paling kuno dalam koleksinya bertarikh 1929. Namun, ia tak hanya mengoleksi uang Indonesia.
Berbeda dari Mahmud, Thoie sudah mengumpulkan hingga sepuluh album. Tak terhitung lagi berapa jumlah uang yang sudah ia keluarkan untuk membeli uang kuno koleksinya. Mungkin sampai Rp 200 juta.

”Kalau sudah hobi, nggak usah ngomongin duit deh,” tambah Mahmud.

Mahmud tak pernah menghitung pengeluarannya. Ketika ia sudah menyukai satu jenis uang, ia akan membelinya. Tapi ia akan menyesuaikan juga dengan kantong. Kalau tak ada budget, ia rela melepas.
Namun, lain dengan Thoie. Pria asal Surabaya ini sudah memutuskan berinvestasi di dunia numismatik. Ia mengumpulkan banyak uang kuno untuk dua tujuan. Pertama, koleksi. Dan kedua, jual-beli.

”Kalau koleksi sudah ada, berarti yang satu bisa dijual,” kata pria yang ditetapkan sebagai Ketua Bank itu lagi.

Thoie biasa menjual uang kuno itu secara online. Nanti, ia tinggal mengirim barang melalui pos. Begitu juga yang biasa dilakukan para pedagang uang kuno lainnya.

”Tidak perlu takut lecek. Kalau sudah disimpan di plastik OPP – plastik ini namanya OPP, pasti aman,” tuturnya.

Plastik OPP menjadi plastik penyelamat uang kuno. Setelah disimpan di dalam plastik, para kolektor akan meletakkannya di dalam album. Setelah itu, tinggal menikmati saja.

”Tidak perlu dibersihkan. Karena debu pasti tidak akan masuk,” katanya lagi.
Saat ini, Bank beranggotakan 25 orang. Selain melakukan kegiatan jual-beli, mereka juga sering melakukan diskusi tentang uang kuno. Sehingga ilmu para anggota juga bertambah.

“Hanya saja, kami belum punya sekretariat tetap. Jadi sejauh ini masih ngumpul di rumah saya,” tutup Thoie. ***

December 16, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

1 Comment »

  1. Wah, ada yang baru mulai setahun sudah dapat th 1929 ya? Hebat! Bisa menyalurkan hobi memang menyenangkan🙂

    Comment by kutukamus | December 17, 2015 | Reply


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: