Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Berdakwah di Tempat Maksiat Jauh Lebih Berat

Zuhairi, Imam Masjid Nurul Iman Lokalisasi Telukpandan, Batam

BAGI Ustaz Zuhairi, masyarakat tidak boleh memvonis para PSK adalah calon penghuni neraka. Sebab, potensi bertobat selalu bisa menghampiri pelaku maksiat. Itulah yang melandasi ia berdakwah di lokalisasi. Bagi Ustaz Zuhairi, masyarakat tidak boleh memvonis para PSK adalah calon penghuni neraka. Sebab, potensi bertobat selalu bisa menghampiri pelaku maksiat. Itulah yang melandasi ia berdakwah di lokalisasi.

ADIANSYAH, Batam

Dari luar, lokalisasi Sintai di Telukpandan, Kecamatan Batu Aji, tampak tak beda dengan pemukiman pada umumnya. Tidak ada gapura atau papan nama yang secara langsung menjelaskan bahwa kawasan tersebut adalah lokalisasi. Hanya ada papan nama bertuliskan “Kawasan 500 m PRSNP Teluk Pandan Tanjung Uncang”.

Sejatinya, kepanjangan PRSNP adalah Pusat Rehabilitasi Sosial Non Panti. Orang awam tentu tidak akan mengerti dengan istilah tersebut. Petunjuk yang lumayan mencolok yakni baliho komersil salah satu produk alat kontrasepsi terpajang di pos keamanan. Walau demikian ketenaran kawasan yang diklaim terbesar di Kepri tersebut tersohor di tengah masyarakat.

Saat Batam Pos bertandang Rabu (16/12/2015) siang, suasana Sintai sangat sepi. “Kalau siang gak ada tamu, anak-anak (PSK, red) pada tidur. Macam kuburan kalau siang,” tutur petugas keamanan Sintai, Darus.

Informasi tersebut sengaja disampaikannya karena mengira wartawan koran ini adalah pelanggan. Setelah disampaikan keperluan Batam Pos mengunjungi Sintai, pria asal Flores, Nusa Tenggara Timur itu menunjukkan tempat tinggal Zuhairi yaitu Imam Masjid Nurul Iman.

Setelah melewati bar-bar yang sepi, hanya ada beberapa PSK memandang nakal. Sampailah wartawan koran ini pada sebuah rumah sederhana berukuran 6×6 meter yang berada di belakang bar-bar tadi, lumayan jauh. Rumah yang bersebelahan dengan masjid itu adalah rumah yang ditempati Zuhairi.
Jawaban salam yang ramah terdengar sesaat setelah Batam Pos mengucapkan salam. Sejurus kemudian dengan mengenakan kaos sederhana bertuliskan “Welcome to Batam Island” dan masih mengenakan kopiah putih, Zuhairi menghampiri dan mempersilahkan masuk.

Pria asal Nusa Tenggara Barat tepatnya Desa Semayan, Kecamatan Praya, Lombok Tengah ini ke Batam sejak Agustus 2014 lalu dan langsung menjadi imam di masjid yang diresmikan Jumat (27/8/2010) itu.

Awalnya, tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjadi imam di lokalisasi. Yang dia ketahui hanya jadi imam di Batam. Selebihnya soal tempat dia mengaku tidak tahu. Tawaran menjadi imam tersebut dia dapatkan dari karibnya yang memang sudah berada duluan di Batam.

“Waktu datang dari kampung, tidak tahu kalau tempatnya seperti ini,” katanya.

“Saya ingat waktu itu hari Jumat, langsung khotbah saya dan waktu itu sedikit tahu saja bahwa tempatnya seperti ini,” ujar pria yang pernah bekerja pada peternakan ayam “Dujajul Wathonia” di Riyadh Saudi dari tahun 2008 hingga 2010 ini.

Walau demikian tidak pernah dia menyesal menjadi imam di tempat tersebut. Keyakinan akan balasan dari sang Mahapencipta menjadi alasan suami dari Ulia Nurul Aini ini.

“Nabi dulu menghadapi masa yang sangat jahiliyah, ini masih ringan,” tuturnya bersemangat, seolah menggambarkan betapa jahiliyahnya Makkah masa lampau sebelum Islam datang. Kiai yang dia kenal pun mendukung agar dia bertahan berdakwah di tempat itu.

Selain keyakinan akan balasan Tuhan, kewajiban mengingatkan satu sama lain adalah alasan mendasar lain dia memilih bertahan. Dia teringat salah satu hadist, yakni dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam  bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.”

“Panduan (hadist) itu jelas. Kita ini mengajak mereka, minimalnya mendoakan mereka,” jelas ayah dari  Ahmad Yazidul Ikhsani ini, buah hati dari pernikahannya 2013 lalu.

Sebagai pendakwah, dia berharap kelak orang yang didakwahinya mendapat hidayah sehingga lebih baik tak terkecuali para PSK yang tinggal di lokalisasi tersebut. Malah, menurutnya tempat-tempat seperti lokalisasi yang seharusnya menjadi tujuan dakwah.

“Mereka (PSK, red) tidak boleh dihindari dan masjid seperti di tempat yang seperti ini yang seharusnya diisi,” tuturnya.

Keyakinan lain yang dipegang Zuhairi adalah potensi bertobat atau pintu hidayah bisa saja menghampiri pelaku maksiat. Untuk itu dia berharap masyarakat tidak serta merta menvonis para PSK adalah calon penghuni neraka, karena menurutnya bisa saja suatu saat PSK-PSK tersebut sadar walau dia menyadari “melacur” adalah hal yang tidak sesuai dengan norma agama.

“Siapa tahu mereka bertobat,” katanya.

Diakui Zuhairi, jika masjid tempat dia mengabdi tersebut setiap hari selalu sepi, hanya waktu malam yang ramai karena anak-anak warga dan juga anak-anak mucikari kerap belajar ngaji. “Apalagi masjid di sini yang di tengah warga-warga biasa saja sepi,” kata pria yang juga pernah jadi imam di Kalimantan ini. Pengalamannya menjadi imam di Kalimantan dirasa jauh dengan pengalamanya menjadi imam di Batam.

“Beda jauh di Kalimantan di tengah warga biasa,” tambahnya.

Saat bulan Ramadan, masjid tersebut ramai dikunjungi termasuk di dalamnya para PSK. “Ramai kalau bulan puasa, lagi tarawih,” kata alumni Diploma II Institut Agama Islam Hamzanwadi, Lombok ini.

Soal kepekaan sosial dan kegiatan keagamaan, kata Zuhairi, PSK-PSK Sintai cukup antusias untuk ikut serta dalam bentuk sumbangsih dana. Hal tersebut terbukti setiap kali kegiatan keagamaan dan galang dana untuk anak panti, uang terkumpul hingga belasan juta.

“Dulu saja sebelum bulan puasa, saat acara Doa Arwah, uang terkumpul sampai Rp 11 juta,” ujarnya.

Zuhairi bercerita, pernah suatu saat ada beberapa PSK yang menanyakan perihal salat PSK diterima atau tidak oleh Allah SWT kepadanya, dia tidak menjawab Ya ataupun Tidak. Namun dia berujar, “Salat saja dulu,  urusan terima itu urusan Allah SWT,”.

Kini, pria 32 tahun yang juga tergabung dalam  Himpunan Imam Masjid dan Musala tersebut tetap ingin bertahan di tempat tersebut, hal tersebut tidak lain karena “DAKWAH”.

“Ingin bertahan dulu, gak tahu mungkin kapan-kapan pulang kampung,” pungkasnya. ***

December 18, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: