Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Usil dan Gerah, Tanda Ada Kedengkian di Hatimu

Usil dan Gerah, Tanda Ada Kedengkian di Hatimu

USIL adalah kata adjektiva. Artinya, suka mengusik, mengganggu, memperolok-olok, mencampuri urusan orang lain, ambil pusing, dan sebagainya.

iri-hati2

Sifat buruk ini kadang dilakukan secara terang-terangan, berbisik, melalui lirikan mata, tulisan, lagu, atau puisi. Jika sifat usil itu dilakukan untuk mendukung orang lain, prestasi (misalnya pekerjaan, proyek, program kerja, tulisan) orang lain, itu sangat bagus.

Namun janganlah, kata, kalimat, dan karya yang kamu hasilkan, malah menjatuhkan semangat, mematahkan motivasi, menghentikan ide-ide kreatif dan positif orang lain.

Dia lebih suka, anak bangsa tidur, tidak usah memproduksi motor, mobil, pesawat, novel, cerpen, buku, penemuan spektakuler, dan lainnya.

Rasa senang mengalir di hatinya, bila anak bangsa ini diam, duduk manis, menerima nasib, menerima kiriman uang, menerima belas kasih orang lain, menunggu, dan menjadi penonton di negeri ini.

Orang~orang seperti inilah yang disebut musuh dalam selimut. Orang inilah yang membuat bangsa ini susah maju sejak ratusan tahun lalu.

Di tempat saya bekerja, kami disuruh untuk produktif. Oleh pimpinan, kami disuruh menghasilkan tulisan sebanyak-banyaknya. Masterpiece. Kami tahu sedikit tentang banyak hal, dan bukan tahu banyak hanya tentang satu hal sedikit.

Kami disuruh membuat orang lain pintar, berakhlak, baik, patuh kepada aturan agama, pemerintah, orang tua, dan lainnya. Itu bukan mengada-ada. Itu bukan sebuah kesombongan. Karya kami tidak dinilai sebagai sebuah kecongkakan. Kami dihargai. Kamu malah menilai kami salah.

Menurut kamu, produktif, banyak karya, mengajak orang untuk berbuat baik, memiliki rezeki lebih, itu dibilang sombong? Mikir dong. Itu usil, jolek, dan dengki namanya. Sirik, dengki, dan sombong dengan kelebihan orang, itu tanda tak mampu. Tidak mampu menyamai, atau melebihi orang yang dibencinya.

Apa TNI dan polisi yang selalu membawa senjata itu sombong, pamer? Tidak. Itu memang pegangan dia, pekerjaan mereka menuntut membawa senjata. Terlebih saat demo, atau perang.

Tukang cukur rambut bawa-bawa gunting kemana-mana. Apa itu sombong dan pemer? Sok jago? Tidak. Itu sudah pekerjaan dan kebutuhan dia.

Si juru tulis yang kemana-mana membawa buku dan pena tidak pula bisa divonis sebagai orang yang congkak.

Yang aneh, dan kalau mau dikiritik, diusili adalah, bila melihat seorang tentara membawa lip stik di daerah pertempuran. Atau seorang tukang tukang cukur membawa traktor saat bekerja.

Lebih aneh lagi, jika juru tulis membawa gergaji mesin saat bekerja. Ini aneh dan cenderung bodoh. Inilah yang pantas diusili, dan dikritik.

Bangsa kita, Indonesia harus kompleks. Bangsa kita harus ada berprofesi dokter, guru, dosen, profesor, wartawan, insinyur, pengusaha, teknisi, chef, politisi, birokrat, TNI, polisi, BIN, LSM, ormas, ustaz, dan lainnya.

Profesi yang satu dengan yang lain, saling mendukung. Saling menghargai. Bukan saling usil, dan tidak menjatuhkan.

Kebanyakan, usil dilakukan dengan dasar iri hati, dengki, busuk hati, serta merasa lebih hebat. Kamu sudah melakukan kedengkian, keusilan berulang-ulang. Itu saya tahu. Tapi saya diamkan saja. Bukan takut. Cuma malas ribut saja. Tak ada manfaat. Hanya akan menguras pkiran, tenaga, dan perasaan. Tak baik itu. Lagipula, orang pun tidak ada mengganggu kamu. Jadi berhentilah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebaiknya, urus saja pekerjaan kamu, Pekejaan Rumah (PR), murid, tanah, ibadah, skripsi, proyek, rumah, atau warga kamu. Tidak usah masuk, melihat isi pekarangan rumah orang lain dengan tujuan untuk mengusili pekerjaan orang lain.

Sepanjang isi pekarangan rumah orang tidak merusak agama, moral, norma, Perda, Permen, Kepres, UUD, UU, dan tidak mengganggu aturan pemerintah, tidak usahlah kamu merasa benar dan sok pintar. Sementara ilmumu, wawasanmu, hartamu dangkal, cetek, dan sedikit.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tidak usah kamu memaksa orang mengikuti gaya hidup, pandangan, dan aliran~mu.

Kamu pun bukan orang hebat di tengah komunitasmu. Kamu pun masih cetek dan baru belajar. Tapi usil mu luar biasa. Melebihi ilmu yang kamu miliki.

Satu kali orang mungkin sabar. Kalau sering. Lama-lama orang pun punya kesabaran. Orang usil, dengki ini perlu diingatkan.

Awalnya, orang segan dan hormat kepadamu. Karena usilmu dan dengkimu, hilang segan, hormat, dan suka orang kepadamu. Ironi.

Kebiasaan usil secara tidak langsung telah menunjukkan bahwa seseorang itu memiliki kebiasaan tidak suka dengan kelebihan orang lain, melihat orang lain salah saja, pekerjaan orang lain tidak benar. Orang lain itu tidak pantas dihargai, dan lain sebagainya. Itu menunjukkan sifat dan kedangkalan moral, congkak, dan sifat tak menghargai orang lain.

Sifat alami itu biasanya dibawa sejak kecil, malah semakin terpupuk oleh lingkungan keluarganya yang punya sifat sama.

Buah biasanya jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anak keturunannya pun nanti akan memiliki sifat sama seperti dia. Ingat itu.

Yang sangat buruk, orang itu tidak tahu bagaimana ritme pekerjaan seseorang, lalu memvonis pekerjaan, dan hasil pekerjaan seseorang itu kurang baik dan salah. Pekerjaan dia itulah yang paling benar?

Seorang wartawan hiburan (koran, majalah) misalnya, harus mencari foto artis dalam dan luar luar negeri. Tidak semua artis dalam dan luar negeri berpakaian sopan. Itu terlihat oleh wartawan. Namun, jangan berpikir, si wartawan sengaja melihat artis tidak sopan.

Dunia maya (internet) itu luas dan menampakkan semuanya baik, atau tak baik. Wartawan sarat informasi. Informasi, foto, video apapun akan terlihat, sengaja atau tidak disengaja.

Kita berada di era informasi teknologi (IT), iptek, dan globalisasi. Dampak IT akan kita lihat, dan dengar. Tapi bukan berarti kita suka.

Hal aneh, kalau seorang juru masak malah setiap hari asyik mencari foto-foto, atau berita artis dalam dan luar negeri. Untuk apa? Mau apa itu? Tidak relevan.

Kalau tidak tahu cara kerja wartawan hiburan, dan wartawan pada umumnya. Datanglah ke kantor redaksi. Lihat, selami, tanya. Banyaklah bertanya.

Kalau orang lain ada kekurangan, tegurlah dengan cara sopan, santun, halus. Jangan menghina, dan menyalahkan secara mambabi-buta.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159).

Yang dimaksud dengan bersikap keras di sini adalah bertutur kata kasar. Dengan sikap seperti ini malah membuat orang lain lari dari kita.

Usil, dengki, berprasangka, sementara dia tidak tahu apa-apa tentang orang lain, adalah perbuatan keji. Berhentilah.

Carilah kawan, jangan lawan~musuh. Jangan cari gara-gara. Itu adalah sifat Yahudi.

Tahu kamu itu Yahudi? Semua orang pasti tahu itu.

Atau kamu idiot. Kamu tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang permusuhan keturunan anak Nabi Ibrahim, yaitu Nabi Ismail (menurunkan umat Islam) dan Nabi Ishak (menurunkan keturunan Yahudi)? Bisa jadi kamu pura-pura tidak mengerti.

Satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit. Musuh tidak dicari. Tapi kalau datang. Pantang ditolak.

Menurut kamu, orang yang diusili tidak ada benarnya. Sifat usil, umummya dimiliki orang-orang awam, uneducate, nonakademik, dan kampungan.

Islam mengajarkan umatnya untuk saling melakukan kebaikan, dan bukan menghina.

Mengajak kepada kebaikan sekaligus mencegah dari kemungkaran merupakan ciri orang-orang yang beriman. Bahkan merupakan tujuan dilahirkannya kita yang membedakannya dari umat-umat lain.

Sebagaimana dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS. Ali Imran:110)

Kalau kamu belum tahu apa-apa tentang pekerjaan orang lain, sifat, keadaan, ilmu pengetahuan, ekonomi orang lain, jangan lah cepat menilai. Apalagi berburuk sangka pada orang lain. Itu sangat buruk dan hina.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash Shaff: 2-3).

Ironinya, kebiasaan itu juga dimiliki oleh orang-orang yang kita anggap memiliki pengetahuan, wawasan tertentu. Namun, potensi yang dia miliki itu tidak dikembangkan dengan cara yang baik.

Dia masih suka melihat dan membandingkan ‘’isi rumah orang’’ dengan milik dia.

Meski dia memiliki sedikit kemampuan, namun memposisikan sebagai orang lebih, lebih hebat, orang mulia, bahkan sok pintar. Dia membungkus pribadinya yang busuk itu dengan sifat lembut.

Kedengkian, dan keusilan dia, dibungkus rapi, berpenampilan baik, tutur sapa yang sopan. Namun isinya itu sangat buruk. Menipu banyak orang.

Orang akan menganggap kamu sebagai orang bersih, dan pintar. Orang yang belum kenal, akan menganggap kamu sebagai tempat bertanya, guru, dosen, mahaguru, insinyur, tukang, nakhoda, kapten, atau orang pintar.

Padahal kamu juga memiliki banyak kekurangan. Masih suka korupsi, pelit, sangat pelit, pandai bicara/ teori, praktek nol, pamer ilmu, pamer harta, tidak pandai bersyukur, dan suka menghina orang lain. Parah sekali orang seperti ini.

Orang ini juga sering berzina, zina hati, zina mata, merangsang melihat lelaki-perempuan yang merupakan mantan pacarnya, datang birahinya melihat atau berbicara kepada orang yang dulu diam~diam dicintainya.

Dia susah melihat orang senang (berprestasi), senang melihat orang susah, dan lain sebagainya.

Kamu baru pandai mendesah~desah, sudah menyalahkan orang lain. Buat karya, jangan menggerutu tak jelas seperti itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata orang seperti ini sifat usilnya sangat tinggi, dengkinya lebih kental daripada prestasinya. Di luar nampak halus. Isi di dalam kasar, rusuh, dan sadis. Air bening tapi mematikan. Berbisa seperti ular.

Kamu akan merasa gerah luar biasa melihat orang yang dia iri-kan melakukan dan membuat satu prestasi, memiliki kelebihan, memiliki harta kekayaan, dan punya ilmu pengetahuan.

Manusia seperti ini kadang tidak tahu, bahwa orang lain tahu sifat kamu, bahwa kamu adalah seorang pendengki.

Si pendengki ini sudah melakukan satu ke-usil-an. Sekali, dua kali, dan berkali-kali. Ada apa? Untuk apa?

Dengki merupakan salah satu penyakit hati yang harus dihindari. Karena dengki merujuk kepada kebencian dan kemarahan yang timbul akibat perasaan cemburu atau iri hati yang sangat besar.

Sifat dengki amat dekat dan berhubungan dengan unsur jahat, benci, fitnah, dan perasaan dendam yang terpendam.

Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu.

Dengki dapat merayapi hati orang yang sakit, karena orang dengki itu merasa lebih hebat, tidak ingin kalah, ingin dianggap ataupun membesar-besarkan diri.

Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah.

Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).

Orang-orang yang punya akal, pemikiran positif ke depan, kadang malas melawan, membantah, dan membalas keusilan, kedengkian manusia seperti itu.

Seseorang kadang mengajak seseorang untuk melakukan hal positif. Tapi ketika orang lain melakukan hal itu, dia kurang senang. Usilnya datang.

Percayalah. Selagi kamu masih usil, dengki, tidak memanfaatkan kemampuan yang kamu miliki dengan baik, maka itu artinya kamu nol.

Kalau kamu ingin dikenal, dikenang dengan baik. Buatlah prestasi. Misalnya membuat Monas, Menara Eiffel, Tembok China, buku, novel, puisi, atau kumpulan kerajinan tangan.

Coba. Berbuatlah. Berprestasi lah lebih hebat dari orang yang kamu dengkikan. Itu kalau kamu bisa.

Kalahkan orang yang kamu benci tadi dengan prestasi.

Kalau tidak mampu, berarti kamu benar-benar pen-dengki, pe-cundang (orang yang menghasut), dan cuma pandai usil.

Seberapa pun prestasi, penghargaan, karya tulis, puisi, bahkan ibadah yang kamu kerjakan, akan berkurang nilainya di mata Allah.

Jangan berpikir, kedengkian dan keusilan kamu tidak diketahui orang lain. Orang cuma malas ribut, bertengkar. Tak ada guna.

Tapi kamu, lama~lama ngelunjak. Kamu harus diingatkan dan dilawan. Atau kamu tak mempan teguran? Kamu bebal?

Buanglah sifat buruk itu dari hati kamu. Belum terlambat untuk berubah.

Perhatikan firman Allah subhanuhu wata’ala berikut ini:

”Orang-orang munafik itu yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS. At Taubah [9] : 79)

Usil, dengki, memandang orang lain kurang – tidak benar, sangat dekat dengan kesombombongan.

Allah melarang kita untuk menjadi sombong:

“Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [Al Israa’ 37]

Allah menyediakan neraka jahannam bagi orang yang sombong:

“Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong .” [Al Mu’min 76]

Kalau ada seseorang berkarya, menulis, membuat puisi, membuat novel, itu bukan berarti dia sombong. Orang seperti ini ingin mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu (biasanya hal-hal baik). Apa salah orang seperti ini berkarya.

Kalau seseorang sudah melakukan kejahatan, melakukan makar terhadap pemerintah, melakukan kudeta, memburukkan Islam seperti Salman Rushdie, mengajak manusia melakukan kesesatan. Baru itu ditentang, diusili, diganggu, diburu, kalau perlu dibunuh.

Tapi, kalau seseorang masih memproduksi sesuatu hal yang positif, dukunglah. Kalau kamu merasa sungkan, dan sakit hati, atau bisa stroke karena memuji, maka puji saja dalam hati, atau meludah saja diam-diam.

Atau kamu diam saja. Toh orang lain tidak bersalah, tidak melakukan kesalahan, dan berdosa.

Allah saja Maha Pengampun. Apalagi kamu yang banyak kekurangan, banyak dosa. Kenapa bersikap sombong dan merasa lebih hebat dari Allah?

Kalau mau usil, belajarlah kepada tokoh terdahulu. Pada zaman prakemerdekan, pascakemerdekaan, politisi, penyair, sastrawan menunjukkan rasa tidak puas, dan ketidaksenangannya kepada penjajah melalui puisi.

Itu yang kerap dilakukan Chairil Anwar, putra Minang yang lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922.

Anak pasangan Toeloes dan Saleha itu menunjukkan intelektualnya lewat masterpiece-nya berupa 94 karya, termasuk 70 puisi.

Kebanyakan tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi terakhir Chairil berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949, sedangkan karyanya yang paling terkenal berjudul Aku dan Krawang Bekasi.

Semua tulisannya baik yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak, dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat.

Kompilasi pertama berjudul Deru Campur Debu (1949), kemudian disusul oleh Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin.

Atau kita belajar mengkitik, dan gaya usilnya Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) lewat karya novel, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Di situ, HAMKA mengajak manusia untuk menghargai Islam, pendapat orang lain, rela berkorban, mau mengalah.

Bisakah kamu meneladani pribadi dan pesan HAMKA? Belajar jujur, sabar, dan menghargai orang lain dari HAMKA. Atau kamu tidak tahu HAMKA. Berarti kamu memang tidak tahu apa-apa. ***
.
.
.

Batam, Senin 21 Desember 2015
.
.
.

http://dinarfirst.org/pandangan-islam-terhadap-penyakit-de…/
http://www.masjidalakbar.com/khutbah1.php?no=26

December 22, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: