Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Jadi Satpam Masih Sempat Mulung Sampah

E Liana P, Potret Wanita Tangguh Batam

Lia bisa menjadi satu potret wanita tangguh di kota Batam. Sendirian, ia menghidupi tiga anaknya. Bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan swasta, ia masih nyambi menyeterika dan mencuci. Kalau penghasilan masih kurang, ia memulung sampah.

WENNY C PRIHANDINA, Batamkota

Jam di dinding menunjukkan waktu 12.00 WIB. Waktunya makan siang. Alih-alih mengambil kotak makan, Liana justru berjalan meninggalkan pos jaganya.

Ia menuju area parkir kendaraan. Dikenakannya helm. Diliriknya jam di ponsel monophoniknya. Lalu ia melajukan kendaraannya ke arah Batam Centre.

Di sebuah rumah bertipe 36 di kawasan Legenda, ia memarkirkan kendaraannya. Sembari mengucapkan salam, ia memasuki rumah itu. Ia langsung menuju bagian belakang rumah.

Di dalam rumah, seorang perempuan muda keluar dari kamarnya. Ia menjawab salam dan tersenyum. Memandang Liana yang masih berseragam lengkap.

Ia menunjukkan tumpukan baju bersih di atas keranjang. Dan berturut-turut setrika, meja setrika, dan botol berisi cairan pelicin pakaian.

Liana tak berlama-lama termangu. Ia bergegas menuju meja setrika dan mulai menggosok. Satu demi satu tumpukan baju itu tersusun rapi. Menggosok satu baju tak sampai dua menit.

Hingga tak terasa waktu 45 menit telah berlalu. Liana menekuri tumpukan baju belum selesai ia setrika. Tapi ia tak bisa berlama-lama lagi. Kepada sang empunya rumah dia pamit.

“Ini setrikaan belum selesai, Bu. Pulang kerja nanti saya ke sini lagi,” katanya, Kamis (24/12/2015).

Ia mengenakan kembali sepatunya. Sepatu yang warna hitamnya sudah tertutup tanah kering. Bahkan solnya juga sudah menganga.

Mengenakan jaket dan helm, ia melaju cepat. Menyusuri jalanan yang sama untuk kembali ke kantornya. Kembali bekerja sebagai satpam. Dan menyelesaikan makan siang.

“Setiap jam istirahat itulah saya biasa ke rumah-rumah ambil kerjaan tambahan. Biasa setrika atau, kalau ada yang minta cuci baju, ya saya cuci baju,” katanya.

Liana, begitulah namanya sejak ia lahir ke dunia ini, 38 tahun yang lalu. Sepuluh tahun terakhir, ia mulai mengenalkan dirinya sebagai Siti Fatimah. Nama itu didapatnya dari ustaz Dahlan seusai ia membaca syahadat. Tapi orang-orang sudah terlanjur memanggilnya dengan nama Lia.

Wanita itu bisa menjadi potret wanita tangguh yang bertahan hidup di Batam bersama tiga anak. Ia tak lagi memiliki suami. Ia ditinggalkan begitu saja dengan status pernikahan yang masih sama di catatan sipil sejak 2004 silam.

Ketiga anaknya masih kecil. Si sulung berusia sebelas tahun dan tengah duduk di bangku kelas IV SD. Anak kedua berusia sembilan tahun. Ia duduk di bangku kelas III SD. Satu lagi anaknya yang paling kecil masih berusia tiga tahun.

Dalam satu hari, Lia bisa mengerjakan empat jenis pekerjaan sekaligus, di luar tugas sehari-harinya sebagai ibu yang merawat dan menyiapkan makan bagi anak-anaknya.

Ia bekerja sebagai seorang satpam di sebuah perusahaan penanaman modal asing (PMA) di wilayah Batuampar. Hanya ia, satpam wanita di sana. Ia mengerjakan tugas administrasi penjagaan.

Wanita yang tinggal di wilayah Mukakuning itu juga bertugas mengawal setiap kali ada tamu berkebangsaan asing datang ke kantornya. Sebab, hanya ia satpam yang dapat berbahasa inggris aktif.

Keterampilan itu buah ia menjadi tenaga kerja wanita di Singapura. Tahun 1995-an waktu itu. Lia muda memilih mengadu nasib ke Singapura.

Awalnya ia bekerja sebagai penata laksana rumah tangga. Namun, sang majikan melihat potensinya. Lia bisa bekerja cepat. Sang majikan pun meminta Lia bekerja di kedai makannya. Di situlah, keterampilan bahasa Inggrisnya terasah.

“Di kantor yang sekarang pun sering datang orang-orang asing. Saya yang biasanya ngantar ke dalam,” tutur wanita berhijab ini.

Jam kerjanya mulai pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB. Tapi bukan lantas ia akan kembali ke rumah untuk melepas lelah. Usai kerja, ia akan datang ke rumah-rumah pelanggannya untuk menyetrika. Hal yang sama yang juga ia lakukan ketika istirahat makan siang.

Ia akan menyudahi pekerjaan menyeterika itu sebelum pukul 20.00 WIB. Sebab, di waktu itu, ia harus sudah berada di kampusnya di Saifa Institute Batam. Lia mengambil mata kuliah akuntansi perpajakan di sana.

Ia akan berkuliah hingga pukul 23.00 WIB. Selepas itu, ia baru menjemput anak bungsunya yang ia titipkan ke rumah kerabat di wilayah Sei Panas.

Berdua bersama anak bungsunya itu, ia melajukan kendaraannya pulang ke rumah. Diletakkannya anaknya di dalam jaket. Supaya tidak terkena angin malam.

“Yang penting itu kesehatan dan keselamatan,” tuturnya.

Di rumah, dua anaknya yang lain sudah terlelap di kasur. Segera saja, Lia menidurkan anak ketiganya. Dan ia sendiri bergegas membereskan rumah.

“Kadang, karena begitu capeknya, saya tertidur juga sampai pagi. Padahal masih pakai baju seragam,” katanya sambil terkekeh.

Keesokan paginya, Lia terbiasa bangun pukul 04.00 WIB. Ia mengerjakan salat subuh sebelum kemudian memasak dan menyiapkan bekal makan anak-anaknya.

Nasi putih dengan lauk telur dadar saja rasanya sudah cukup. Yang penting, anaknya tidak jajan sembarangan. Maka ia harus berhemat untuk bisa makan setiap hari.

Tapi kadang, kekurangan itu datang juga. Terutama ketika gaji terlambat keluar. Maka, ia pun memutuskan mengambil satu kerja tambahan lagi.

Ia memulung sampah. Setiap hari, sembari menuju lokasi bekerja, ia mengumpulkan sampah-sampah plastik. Setiap akhir minggu, ia mengantar sampah itu ke pengepul. Lumayan, Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu masuk ke kantong untuk setiap kali antar.

Di dalam keterbatasan itu, Lia masih menyempatkan diri untuk menabung. Tapi, tabungan itu tak penuh-penuh. Sebab, selalu saja muncul kebutuhan-kebutuhan mendadak yang harus dipenuhi.

Namun, ia percaya, rezeki pasti selalu ada ketika ia ikhlas dan berserah diri kepada Tuhan. Bahkan ketika ia dipojokkan banyak orang. Ia tak mengambil pusing.

Katanya, ia hanya fokus merawat dan membesarkan anak-anaknya. Ketika ditanya apa keinginannya, ia menjawab sederhana. “Saya ingin naik haji,” ujarnya. ***

December 29, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: