Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Berbincang dengan Iin Mustafa, DJ X-Treme Crew-Legend

Pernah Jualan Cabai, Siap Dakwah di Diskotek

Iin Mustafa bukan nama yang asing di kalangan disk-jockey Batam. Pernah jaya di tahun 90-an, Iin kini mulai membatasi diri. Ia mulai mengambil jalur ‘aman’ dalam ber-DJ.

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Bar X-Treme Pool itu terasa lawas. Mejanya terbuat dari tembok setinggi dada orang dewasa. Dicat putih, namun, telah menghitam di beberapa bagian. Keramik membungkus bagian dalam meja dengan warna kuning kecoklatan.

Lengang. Seorang wanita berkaos biru dan bercelana panjang duduk di satu bagian meja. Ia menekuri ponselnya. Memunggungi satu-satunya pria yang duduk di bar itu, Selasa (29/12/2015).

Pria itu duduk berteman segelas es teh, atau yang biasa disebut orang Batam dengan teh o-peng. Rambutnya gondrong sebahu. Beberapa helai telah memutih.

Sebungkus rokok, sebuah mancis, dan sebuah ponsel layar sentuh berada di sampingnya, tumpuk-menumpuk. Ketika tamunya datang berbincang, ia berdiri sebentar. Berjalan menuju ujung meja bar, memasukinya, dan menggeser sebuah tombol di mesin disk-jockey (DJ) di sana.

Peralatan DJ itu kontras dengan kondisi yang ada. Mesin itu terbilang mentereng. Warna-warni lampunya mampu menarik hati siapapun. Begitu juga dengan aneka tombol di atasnya. Dan anehnya, peralatan musik itu bisa berada di bagian dalam meja bar.

“Mereka bilang, Iin di STC? Nggak salah?” kata pria gondrong itu.
Iin nama pria itu. Iin Mustafa, lengkapnya. Dengan volume musik yang telah mengecil, suaranya terdengar lebih jelas.

“Kubilang saja, bos di sini bisa membelikan alat DJ paling canggih. Kutunjukkan foto mesin DJ yang kubawa ke rumah. Mereka diam,” tambahnya.

Mesin DJ itulah yang ada di atas meja bar tadi. Seperangkat CDJ 2000 Nexus dan DJM 2000 Nexus. Keduanya merek Pioneer. Dua piranti itu terbilang canggih dan langka. Belum banyak bar, diskotek, atau kelab malam yang memilikinya di Batam. Dengan Bar X-Treme Pool STC Mall, jumlahnya hanya tiga.

“Bisa nggak bos lu seperti itu?” kata Iin mengulang jawaban yang pernah ia berikan pada temannya.

Itu satu dari sekian banyak tanggapan miring yang Iin dapat ketika memutuskan pindah ke STC Mall. Maklum, jam terbang Iin sudah tinggi. Ia bukan disk-jockey asal gesek. Ia keluar-masuk diskotik berkelas. Menggawangi pesta-pesta bertajuk mobile-DJ dengan seluruh pengunjungnya bule. Dan, kini, ia malah memilih bertahan di STC Mall?

Perjalanan musik Iin dimulai sejak muda. Ia hobi mendengarkan musik di radio juga menari. Ia jago breakdance – gaya tarian jalanan yang berkembang sekitar tahun 1970. Asal gaya tarian ini dari Bronx di New York, Amerika.

Tapi ia tak pernah menggantungkan cita-citanya sebagai pemusik atau penari. Ia ingin menjadi seorang pebalap. Dan di tahun 1987, waktu itu, ia membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan balapan.

“Saya jadi operator lighting di King Palace,” kata pria kelahiran Tanjung Balai Karimun, 11 Mei 1968 itu.

Suatu hari, DJ King Palace bermasalah dan keluar. Tak disangka, bos memintanya langsung menggantikan DJ itu. Padahal, ia sama sekali tak pernah bersentuhan dengan mesin DJ. Mesin DJ yang ada di sana dari piringan hitam.

“Saya cuma disuruh bos menggeser jarumnya saja. Tak perlu atur pitch control,” tuturnya lagi.

Ia merasa tak mulus melakukan tugasnya. Maka bertandanglah ia ke Majesty, sebuah klub yang berlokasi bersebelahan dengan King Palace.  Ia mendengarkan musik di sana. Sang DJ selalu mulus memindahkan lagu.
DJ Steven Co namanya. Kepadanyalah, Iin kemudian meminta ajar. Ia belajar tentang pitch control. Dan mencoba-cobanya sendiri. Ternyata, ia menyukai pekerjaan itu.

Di tahun 1988, ia mulai mencari pekerjaan sebagai DJ. Ia memulainya dari Diskotik Ali Baba di Tanjungpinang. Ternyata, mesin DJ yang ia hadapi berbeda. Ia mendapat mesin DJ yang masih berbahan kaset.

Ia harus memutar kaset dan menggulungnya kembali. Tuasnya besar dan keras. Butuh tenaga untuk memutarnya. Mesin itu juga belum memiliki pitch control.

“Mesin ini lebih susah dari piringan hitam,” tuturnya.

Satu setengah tahun berlalu, ia mengajukan surat pengunduran diri. Bos menolak. Ia dikira hendak minta gaji lebih. Atau karena mesin yang terlalu uzur.

Bosnya pun memintanya ke Batam. Membeli mesin piringan hitam. Tapi karena tak memiliki cukup uang, ia hanya diminta beli sebelah. Sebelah set lagi menyusul.

Sampai di Batam, Iin tak langsung membeli. Ia datang ke Diskotik Regina. Ia bertanya tempat membeli mesin DJ dari piringan hitam dengan harga miring. Temannya justru memintanya membeli milik Regina. Sebab diskotik itu akan tutup.

“Sepasang alat ditambah beberapa piringan hitam dijual Rp 400 ribu. Sementara kalau beli satu saja yang barunya itu sudah Rp 750 ribu,” katanya.

Namun, keberadaan alat itu tidak menahan keinginannya untuk pindah. Ia merasa harus pindah. Supaya keterampilannya berkembang. Kembali ia meminta keluar. Bosnya menolak, tapi tekadnya kuat.

Ia pindah dan kembali ke Batam pada tahun 1990. Ia menjadi DJ di Bar Big Six. Tidak bertahan lama, ia pergi ke Diskotik Tropicana, di tahun itu juga. Di diskotik itulah ia bertemu pengusaha DJ bernama Peter Tan.

“Permainan kamu bagus. Tapi mari kita coba hoki kamu,” kata Peter Tan kepadanya.

Peter Tan menawarinya bekerja di Hotel Batam View, Nongsa. Ketika itu, Batam View menjadi hotel paling ramai se-Batam. Karyawannya lulusan BPLP (sekarang Sekolah Tinggi Pariwisata) Bandung dan Universitas Trisakti Jakarta. Bosnya super galak. Bahkan hanya dari penampilan, ia bisa memecat seorang karyawannya.

Peter Tan membuatkannya sebuah proposal lamaran kerja. Jebol! Dan ketika kemudian ia unjuk gigi membawakan lima hingga enam lagu, ia langsung diterima.

“Selamat ya, kamu kami terima. Kamu punya kualitas Singapura tapi orang lokal,” tuturnya.

Maka mulailah ia bekerja di sana pagi dan sore hari. Pagi menjadi karaoke-jockey dan malamnya menjadi DJ. Fisiknya sempat drop. Begitu juga mentalnya. Sebab, hampir semua karyawannya mampu berbahasa Inggris. Sementara ia masih belepotan.

Namun, ia tak bertahan lama. Ia masuk pada tahun 1991 dan keluar pada tahun 1992. Sebab, ia bermasalah dengan Peter Tan. Orang Singapura itu mencuranginya. Proposal lamarannya menyebut bayarannya dalam hitungan dolar tapi yang ia terima rupiah.

Ia hengkang. Peter Tan mencarikan pengganti, yang tak lain adalah murid-murid Iin. Tapi manajemen Batam View sudah terlanjur suka dengan penampilannya. Begitu juga para tamu.

“Saya cuma kembali satu malam untuk acara farewell. Setelah itu saya pergi,” tuturnya.

Ia berlabuh ke RioRita di Nagoya. Ia bekerja pagi hingga malam. Tak ada waktu untuk rehat. Ia mengajukan pindah lagi. Padahal, belum ada satu tahun di sana.

Keluar dari RioRita, Iin menjadi ‘buronan’ Erik dan Luna Ginting. Mereka hendak membuat sebuah diskotik. Setelah mendengar pengakuan seorang teman bahwa kualitasnya tinggi, Erik dan Luna langsung menginginkannya.

“Itulah Diskotik Skyline. Lokasinya dulu di belakang studio 21 lama,” katanya.

Iin langsung membuat gebrakan di awal pembukaannya. Tamu-tamu berdatangan. Dari mulai muda hingga tua. Dari kulit putih hingga hitam.  Dari kalangan kecil hingga orang kelas atas.

Itulah masa kejayaannya. Ia berhasil membuat tempat baru itu ramai. Tamu-tamu datang hanya untuk menikmati permainannya. Ia bahkan sampai dipanggil pulang ketika cuti ke Jakarta.

Di saat itu pula, ia dipercaya membuat sebuah sekolah DJ. Sekolah itu dinamai Skyline DJ Course. Sayang, sekolah itu hanya bertahan satu tahun saja. Dari tahun 1995 hingga 1996.

Memasuki tahun 1998, kejayaan Skyline mulai goyah. Di tahun itulah narkotika mulai masuk Batam. Skyline kalah saing dengan Ozone. Skyline tak mau memasukkan narkotika. Alhasil, tamu mulai berkurang.

Iin tetap bertahan. Namun, dua tahun sejak itu, ia juga ikut pindah. Ia pindah ke Astronot di Windsor. Pada tahun itu, ia hanya dijatah bekerja tiga tahun. Begitu juga karyawan lainnya di sana.

Tugasnya hanya meramaikan kembali Astronot dalam waktu tiga tahun. Kalau berhasil, sang pemilik akan dipercaya mendirikan sebuah diskotek besar. Tiga tahun itu masa percobaan sang pemilik dari orang tuanya.

“Ternyata berhasil. Dalam tiga tahun, kami berhasil membuat tempat itu ramai,” kata pria yang memiliki nama asli Reemmahmono itu lagi.
Janji orang tua ditepati. Sang pemilik boleh membuat diskotek besar. Tapi tidak serta merta diskotek itu jadi. Sementara itu, Iin bekerja di Marina City.

Baru tiga bulan bekerja, ia dihubungi lagi oleh sang pemilik. Pemiliknya meminta bantuan memasang peralatan DJ dan tata pencahayaan di diskoteknya yang baru. Diskotik itu begitu besar dan megah. Iin diberi wewenang penuh untuk menata musik dan cahaya di sana.

“Ternyata setelah jadi, saya dimintanya jadi DJ lagi. Saya bingung, waktu ditanya gaji. Saya bilang, gaji seperti di tempat lama saja,” katanya.

Itulah dia. Pada tahun 2003, diskotek besar yang kemudian dinamai Pacific itu berdiri. Lagi-lagi, Iin menggebrak di hari pembukaannya. Ketika itu juga, gajinya langsung naik dua kali lipat.

“Tapi saya tak lama di sana. Saya terdepak,” katanya.

Di tahun itu juga, ia terserang penyakit TBC. Ia mulai berhenti mengonsumsi narkotika, rokok, dan alkohol. Ia mulai mendekatkan diri ke Yang Maha Esa. Ia mulai salat.

Tapi uang hasil kerjanya tak bertahan lama. Ia kehabisan uang. Sementara ada istri dan anak yang harus dinafkahi. Tapi ia tak bisa kembali ke tempat lama. Ia pun memutuskan berdagang.

Ia ikut orang berdagang cabai merah di pasar Tos 3000. Ia bahkan pernah turun ke parit mencari cabai. Semuanya demi uang. Teman-temannya di dunia gemerlap mencacinya.

Tahun 2006, ketika mulai enakan, Iin memaksakan diri kembali menjadi DJ. Ia bekerja di Q-Bar. Baru enam bulan pertama, ia mengundurkan diri. Lalu pindah ke Sphinx. Ketika Sphinx tutup, ia beralih ke The Glits.

Pada tahun 2008, ia masuk ke Batam Score di Sydney Hotel. Dan setahun kemudian, ia ditemukan hampir tak bernafas di rumahnya. TBC-nya kambuh. Ia batuk-batuk. Dahaknya hanya darah. Jika ditampung, mencapai setengah gelas.

Keluarga melarikannya ke RS Otorita (sekarang RS Badan Pengusahaan) Batam. Ia ditangani dr Sarumpaet. Ia mendapatkan injeksi obat depresi penyakit dalam dan antibiotik. Dan sepuluh hari kemudian, TBC-nya hilang. Paru-parunya bersih.

Dokter penasaran. Ia disuruh tes ini itu. Bukan hanya sekali, sampai berkali-kali. Sampai uangnya habis. Namun, dokter itu tetap penasaran. Maka diberinya Iin lima belas jarum suntik. Ia meminta Iin ke Puskesmas dan untuk diambil sampel darah. Ketika itulah, dokter tersebut percaya. Iin sembuh dari TBC-nya.

“Sejak saat itu, saya memutuskan untuk berhenti total. Dari narkoba, rokok, minum. Dan belajar agama,” katanya lagi.

Tahun 2009 waktu itu. Di tahun itulah ia bertemu bos STC Mall. Ia ditawari menjadi DJ di sana. Diskoteknya dulu bernama Femix13. Lantaran tidak neko-neko dan bersih dari narkoba dan minuman, ia menerima.
Tak lama setelah itu, bos justru mengangkatnya menjadi pengelola. Ia dipercaya sebagai General Manajer. Maka bertahanlah ia di sana hingga kini.

“Saya pikir ini jalan yang aman. Ketika saya bergabung kembali ke sana, saya pasti akan kembali lagi ke masa itu,” katanya.

Sekarang, setelah hampir 28 tahun berkecimpung dengan dunia gemerlap, Iin merasa menyesal. Sebab, ia menyia-nyiakan segala sesuatunya. Ia menyia-nyiakan uang yang didapatnya.

Mendapatkan uang dalam jumlah banyak, di waktu itu, tidak susah. Bahkan lebih susah menjadi pedagan cabai. Tapi ia justru merasa, bahwa mungkin rejekinya yang paling halal itu dari berdagang cabai.

Sekarang, sesekali ia menyambangi diskotek. Menyapa teman-temannya. Terkadang, menyisipkan pesan-pesan keagamaan. Tentang dunia nyata di luar sana.

“Kalau saya diminta dakwah di sana, dakwahlah saya. Karena ustaz nggak mungkin masuk sana kan?” tuturnya. ***

December 30, 2015 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: