Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Lebih Dekat dengan Silvia Hilda Kusumaningtyas

Bertekad Jadikan Batam Barometer Karnaval Indonesia

Berani mengubah dunia. Itulah kata kunci yang menjadi pedoman hidup Silvia Hilda Kusumaningtyas. Wanita berkulit putih dengan tinggi semampai itu punya mimpi menjadikan Batam sebagai barometer karnaval di Tanah Air.

RIFKI, Batam

Ruang tamu itu tak ubahnya seperti tempat penyimpanan trofi. Puluhan piala dengan berbagai ukuran berjejer rapi di dalam ruangan itu. Dilihat dari catatan di tubuh piala itu, sebagian merupakan piala yang diperoleh dalam ajang kompetisi di luar negeri.

Salah satunya trofi Mrs Asean Ambassador 2014. Juga terlihat piala South East Asia Woman of Excellence 2013.

Namun koleksi piala di rumah itu ternyata masih banyak lagi. Piala-piala itu tersusun rapi di ruangan lainnya. Itulah koleksi piala Silvia Hilda Kusumaningtyas yang juga pemilik LKP Silhouette Batam.
Tak lama kemudian, Silvia Hilda muncul dari balik pintu. Mengenakan baju merah, wanita yang akrab disapa Silvi ini tersenyum ramah seraya mempersilakan Batam Pos duduk di ruang tamu.
Obrolan santai pun mengalir.

Penasaran dengan usianya, wartawan ini mencoba menebaknya: 38 tahun. Mendengar angka itu, Silvi hanya tertawa sambil tersipu.

”Wah, banyak kali diskonnya Mas, saya sudah 43 kok,” katanya sambil menahan tawa.
Namun di usianya yang sudah memasuki kepala empat itu, Silvi masih terlihat ramping dan segar. Dia terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Padahal, Silvi mengaku sudah punya cucu.

”Sebelum seperti sekarang ini, dulunya menekuni dunia modelling untuk fashion kebaya,” ucapnya mengawali obrolan serius.

Silvi yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Karnaval Indonesia (Akari) Kepri mengatakan, dirinya punya tekad yang kuat untuk menjadikan Batam sebagai ikon karnaval, seperti Jember, Jawa Timur. Bersama Akari, ia sudah keliling Nusantara untuk mengikuti karnaval, baik karnaval budaya maupun fesyen.

Di Indonesia, Jember memang sudah terkenal dengan perayaan karnavalnya. Beragam budaya setempat dengan tema etnik dan alam ditampilkan dalam sebuah parade bernama Jember Fashion Carnaval (JFC) yang berlangsung pada 27 Agustus tiap tahunnya. Silvi merasa iri dengan kenyataan itu.

”Perayaan karnaval di Jember mampu mengundang ribuan pengunjung dan wartawan asing maupun lokal hanya karena rasa penasaran,” kata wanita kelahiran Madiun, Jawa Timur, ini.

Rasa penasaran jugalah yang membawa Silvi pergi ke sana dengan membawa kontingen Kepri menampilkan karnaval dengan tema seafood paradise di perayaan JFC yang juga memiliki tema, yakni Wonderful Artchipelago Carnival Indonesia, Agustus, Jumat (25/9/2015).

Dari pengalaman pertama, Silvi terkagum-kagum setelah menyaksikan dan mengikutinya sendiri. ”Saya kemudian bertemu dengan perintisnya, Dynand Fariz, dan belajar banyak dengannya,” ujarnya.
Setelah banyak menimba ilmu, timbullah keinginan Silvia untuk menjadikan Batam sebagai barometer karnaval di Indonesia. Menurut dia, Jember yang berada jauh dari pusat kota di Jawa mampu melakukannya, mestinya Batam juga bisa.
”Apalagi Batam bersandingan dengan Singapura dan Malaysia,” katanya.

Nah, Akari di bawah kepemimpinan Silvi mencoba merintis dunia karnaval di Batam. Diawali dengan Indonesia Night Second Nongsa Carnival 2015 di Turi Beach Resort, Nongsa, Batam, 12 September lalu. Akari Kepri menggelar karnaval dengan tema yang sama dengan JFC, seafood paradise. Tanggapan dari para peserta dan pengunjung yang rata-rata bule sangat positif dan berkesan.

Ke depannya, Akari Kepri akan terus berupaya menggali kebudayaan Kepri agar bisa ditampilkan dalam karnaval-karnaval berikutnya.

”Saat ini, kami mencoba menggali kembali regalia atau sejarah peninggalan masa lalu dari kerajaan Melayu Lingga, contohnya Cogan,” ungkap Silvi.

Silvi mengungkapkan apa yang dilakukannya saat ini merupakan pelampiasan hobinya dan dia melakukannya karena suka. Rasa ketertarikannya kepada dunia karnaval berakar dari latar belakangnya sebagai seorang pengusaha. Di Batam, ibu dari tiga orang anak ini merupakan pemilik dari Silhouette Model, Event & Training Management yang berlokasi di Perumahan Dutamas, Batamcentre.

”Bayangkan saja kalau Batam jadi barometer karnaval, tentu saja akan banyak turis lokal maupun mancanegara berkunjung ke Batam,” jelas Silvi tentang cita-citanya.

Sementara bersama Silhoutte, Silvi yang merupakan sarjana ekonomi ini bertekad membantu Batam untuk maju dari segi pariwisata lewat agenda yang digelar serta berbagai program yang dijalankan.
Langkah pertama, kata Silvi, untuk membantunya adalah dengan menciptakan banyak wirausaha andal.

”Silhouette juga bergerak di bidang pengembangan kepribadian dan pelatihan lifeskill terutama kecantikan dan keterampilan,” katanya.

Menurut Silvi, hanya wirausaha yang bisa membantu negara atau daerah maju dan mengerti cara memberdayakan dunia pariwisata.

”Kita ambil contoh Singapura, 7 persen dari warganya adalah wirausaha, makanya maju,” ungkapnya.

Syarat dari sebuah negara maju adalah dua persen penduduknya merupakan wirausaha. ”Sedangkan Indonesia terakhir saya dengar masih 0.04 persen,” ungkapnya.

Di samping itu, perhatian pemerintah sangat kurang terhadap pembekalan kewirausahaan. Makanya Silvi merasa bertanggung jawab untuk membantu pemerintah.

”Saya hanya ingin tak ada orang miskin di Kepri. Caranya ya membantu mereka dengan memberikan keterampilan hidup,” jelasnya.

Wanita yang pernah bercita-cita menjadi wartawan ini ingin Batam dikenal lewat pariwisata dan usaha industri kreatif.

”Dulunya Batam hanya disebut sebagai tujuan bagus untuk berjudi dan mencari cewek,” ungkapnya.

Bahkan, dirinya sempat dikira merupakan istri simpanan dari orang Singapura hanya karena suaminya, Gataguna Adi Sapta, bekerja di Singapura.

”Kata orang sama suami saya, dapat cewek darimana,” kenangnya.

Nah, jika Batam bisa menjadi seperti apa yang diimpikanya, maka kesan-kesan skeptis seperti itu akan hilang dengan sendirinya.

Bukan hanya angan-angan. Sejauh ini Silvi sudah membuktikannya. Setidaknya ini bisa dilihat dari berbagai penghargaan yang diraihnya, seperti Asia Entrepeneur Golden Phoenix Award 2013, Mrs Indonesia International World Pageant 2011/2012. Bahkan Silhoutte miliknya pernah menajdi EO terbaik di Kepri pada tahun 2014 dan tentu saja beragam lainnya yang membuktikan kompetensinya.

”Saya sangat yakin, namun juga butuh bantuan dari semua pihak agar Kepri ini menjadi provinsi dengan sumber daya manusia yang berkualitas,” pungkasnya. ***

January 3, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: