Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Samson Rambah Pasir, Peraih Anugerah Kenduri Seni Melayu 2015

Cinta Seni Sejak SMP, Cemaskan Budaya Pop

Nama Samson Rambah Pasir memang sudah tak asing lagi di kalangan sastrawan dan budayawan, khususnya di Kepri dan Riau. Jumat (18/12/2105) malam lalu, Pemko Batam mengganjarnya dengan Anugerah Kenduri Seni Melayu di bidang sastrawan.

RENGGA YULIANDRA, Batam

Dunia seni memang tak bisa dipisahkan dari diri Samson Rambah Pasir. Darah seninya mengalir deras kedua orang tuanya. Ayahnya adalah seorang seniman musik andal, sedangkan ibunya seorang pencerita sastra lisan dan legenda Melayu.

“Menulis dan kesenian itu sunahtullah, ia mengalir begitu saja dalam diri saya,” ucap Samson, saat ditemui Batam Pos, belum lama ini.

Samson adalah penerima Anugerah Batam Madani kategori Kenduri Seni Melayu di bidang sastrawan. Anugerah itu diberikan oleh Pemko Batam kepada para tokoh yang dinilai berkontribusi menjayakan seni dan budaya Melayu. Samson dinilai memiliki andil terhadap pelaksanaan Kenduri Seni Melayu yang ditaja saban tahun sempena peringatan hari jadi Kota Batam itu.

Menurut Samson, penghargaan tersebut tak terlepas dari semangat dan tekadnya dalam melestarikan budaya Melayu. Hal ini setidaknya ia tunjukkan melalui kesesriusannya dalam mensukseskan acara Kenduri Seni Melayu (KSM) yang digelar Pemko Batam. Lebih dari 15 tahun, ia selalu iven budaya terbesar di Kota Batam ini. Bukan hanya sebagai panitia, Samson juga aktif sebagai peserta.

“Alhamdulillah tahun ini saya menerima penghargaan bidang sastrawan,” ujarnya.

Samson mengaku benar-benar jatuh cinta dengan dunia seni dan budaya sejak duduk di bangku SMP. Ketika itu, ia sering ikut mengisi acara sekolah dengan mementaskan puisi serta cerita pendek. Di SMA, Samson pun semakin mengasah jiwa seninya. Terpilih sebagai ketua OSIS dan mulai merintis berdirinya sanggar kesenian sekolah.

“Sanggar sekolah adalah tempat dimana para siswa bisa mencurahkan seluruh jiwa seninya,” sebutnya.

Paling menonjol adalah bakatnya dalam menulis. Banyak tulisan pria kelahian Pasir Pengarayan, Riau 19 Agustus 1968 ini dipublikasikan. Tulisannya selalu ikut menyemarakkan halaman majalah–majalah lokal. Paling terkenal ialah Ogong Emas Yang Hilang dan Gaharu dan Kayangan.

Usianya baru menginjak 15 tahun, Namun ia telah aktif menulis. Bukan hanya di majalah lagi, kini karya sastranya dimuat di media cetak seperti Demi Masa, Taruna Baru (Medan), Genta Riau Pos, Sijori Pos, Utusan, Sadang, Suara (Pekanbaru), Minggu Merdeka, Simponi, Sinar Tari, Republika, dan masih banyak lagi.

Tulisannya kian dimuat dan dikenal secara umum, membuat suami dari Herawati ini semakin semangat menghasilkan karya-karya baru. Hari-harinya banyak dihabiskan dengan menulis. Hingga pendidikan pun ia lanjutkan sesuai bakat seninya di Universitas Lancang Kuning Fakultas Bahasa dan Sastra.

“Waktu itu saya komitmen sekali di kesenian,” cerita Samson.

Menyandang sarjana pendidikan, awal pertama ia ditugaskan di Batam, tepatnya tahun 1991 di SMPN 2 Belakangpadang. Ia mendirikan sanggar seni Tuah Jemala. Sebuah sanggar pelatihan untuk seni tari dan teater. Tahun 2015 masuk ke Batam dan mulai berkolaborasi dengan seniman-seniman yang berada di lingkungan Pemko Batam dan Otorita Batam (sekarang BP Batam, red).

“Menulis ibarat kebutuhan bagi saya. Setiap ada waktu saya habiskan dengan menulis,” ucapnya.

Tepat di Tahun 2000, Samson sudah bergabung dengan seniman-seniman kota Batam mendirikan Dewan Pengurus Kesenian Kota Batam. Sekitar tahun 2004-2009, ayah dua anak ini ditunjuk sebagai sekretaris dan tahun 2008-2012, ia terpilih menjadi ketua umum Dewan Pengurus Kesenian Kota Batam.

“Prestasi itu perlu kerja keras dan tekat yang kuat,” paparnya.

Beberapa karya tulisan pria 47 tahun ini juga telah banyak memenangkan sayembara penulisan naskah buku bacaan di tingkat propinsi maupun nasional. Misalnya saja, pada tahun 1997 dan 1999 menjadi juara pertama pembacaan puisi tingkat Kota Madya Batam, serta tingkat Provinsi Riau (1990).

Melalui hasil karya Ogong Emas Yang Hilang, Samson meraih juara pertama nasional. Di tahun 2000, ia kembali meluncurkan Sri Batam yang juga mendulang kesuksesan karya pertamanya tingkat nasional. Karya lainnya yang menjuarai tingkat nasional ialah Kelong dan Kisah Kasih di Pulau Batam.

“Hampir setiap tahun saya rutin mengikuti kejuaran sastra nasional. Namun beberapa diantaranya hanya lolos tingakt provinsi saja,” lanjut Samson sambari tertawa kecil.

Karyanya yang telah diterbitkan antara lain Puteri di Awan (Citra Mekar Abadi, Jakarta), Jazirah Luka yang berupa antologi (DKR, Pekanbaru), dan Ogong Emas yang Hilang (Analisa, Yogyakarta). Samson juga dikenal sebagai penulis tetap di media harian terbesar di Kepri, Batam Pos.

Hampir setiap minggu tulisan Samson selalu dimuat di halaman Gagas dan Menjana Batam Pos. Kini, di tengah padatnya kesibukan sebagai Kabid Seni Budaya dan Sejarah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam, ia tetap masih menyempatkan mengirim hasil karya-karya sastranya.

“Saya tidak pernah puas menulis. Dengan menulis kita bisa berekspresi,” sebutnya.

Ditanya apa tantangan terberat dalam mengembangkan seni, Samson mengaku melawan arus budaya Pop. Tidak selamanya budaya pop selaras dengan budaya daerah. Budaya pop adalah budaya yang pragmatis dan kompromis. Ia begitu cepat dikenal namun begitu cepat pula hilangnya.

“Yang jelas sekarang, bagaimana kita menanamkan kepada generasi penerus agar kesenian budaya nenek moyang tidak hilang. Melawan arus budaya pop itu yang sangat sulit,” pungkasnya. ***

 

January 3, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: