Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Melihat Arifin, Remaja Bintan yang Sudah 15 Tahun Lumpuh dan Buta

Tak Dapat Bantuan Lagi, Tiap Hari Dirawat Adiknya

Bintan termasuk kota yang relatif maju dan kaya. Namun, ada salah satu warganya, Muhammad Arifin yang lumpuh dan buta sejak 15 tahun lalu. Bagaimana keadaannya?

Harry Suryadi, Bintan

Untuk menemui Arifin yang merupakan warga Kampung Galang Batang, Desa Gunung Kijang, RT 10/ RW 02, Kecamatan Gunung Kijang itu, Batam Pos harus menempuh jarak tiga kilometer dari jalan utama Kawasan Free Trade Zone (FTZ) Kabupaten Bintan.

Setiba di tengah hutan di bawah kaki Gunung Kijang, tampak rumah berukuran sekitar 20 meter persegi dengan kondisi tidak layak huni. Rumah itu tiada penerangan dan berdiri sendiri tanpa ada rumah lain di sekelilingnya.

Saat masuk ke dalam kamar dengan luas sekitar empat meter persegi yang berlantaikan tanah, terlihat Arifin yang terbaring di atas tilam kusam menggunakan kaos hijau didampingi adiknya, Novi Partini, 14. Selama ini, adiknya yang duduk dibangku kelas 1 SMP Negeri 27 Bintan Satu Atap (Satap) mengurus keperluan Arifin, dari ganti baju, makan, hingga membersihkannya usai buang hajat.

”Abang saya sudah 15 tahun terbaring di kasur. Sayalah yang merawatnya ketika ibu meninggal. Demi abang, saya rela berhenti sekolah selama dua tahun,” ujar Novi sambil tersenyum kepada wartawan, Senin (4/1/2016).

Abangnya itu anak ketiga dari lima bersaudara. Dia menderita panas tinggi (step) saat usianya enam bulan. Walaupun menderita step, Arifin masih bisa makan, minum, berjalan dan berbicara seperti biasanya.

Namun saat usia Arifin menginjak dua tahun, tiba-tiba lumpuh bahkan penglihatannya berkurang. Lambat laun, Arifin menjadi buta dan juga tidak bisa berbicara.

Bapak dan ibu (almarhumah) mereka, terus berupaya membawa Arifin berobat baik ke puskesmas, rumah sakit, maupun orang pintar (dukun).

Namun kondisi Arifin tetap tidak membaik. Hingga Arifin berusia 13 tahun dan ibu meninggal dunia, bapak sendiri yang membiayai semua pengobatan Arifin. Namun pengobatan yang diberikan hanya semampunya saja mengingat kondisi ekonomi keluarga sedang krisis.

”Akhir tahun 2014 kami dapat bantuan. Dinas Kesehatan dari Pemkab Bintan dan Pemprov Kepri datang ke rumah kami. Saat itu kami diberikan susu dan makanan ringan saja,” akunya.

Berselang beberapa bulan, tepatnya Juni 2015 lalu. Arifin kembali dapat bantuan dana untuk pengobatan dari Ketua K3S Bintan, Dewi Kumalasari Ansar dan Manajemen Dealer Mobil Toyota.

Tidak hanya itu saja, Arifin juga masuk sebagai warga yang menerima bantuan pengobatan operasi mata gratis. Namun, operasi itu tidak bisa dilaksanakan karena dari hasil diagnosa, jantungnya lemah.

Sampai saat ini Arifin tidak menerima bantuan lagi sedikitpun. Jadi, bapak terpaksa mengais rezeki dengan bekerja apa saja asal dapat uang. Sedangkan adiknya memaksakan bersekolah demi mengejar cita-cita menjadi seorang dokter agar bisa merawat Arifin.

”Sekarang sebelum pergi sekolah dan usai pulang sekolah saya merawat abang. Saya berharap, ada yang bantu abang lagi. Kasihan abang saya hidupnya seperti ini,” ungkapnya.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kecamatan Gunung Kijang, Hendro mengatakan sudah berupaya semaksimal mungkin untuk penyembuhan Arifin. Baik menggalang bantuan dana untuk pengobatan hingga melarikannya ke rumah sakit.

”Dari puskesmas, RSUD Bintan hingga RSUP Kepri sudah dilakukannya. Namun kondisi Arifin tetap tidak bisa membaik karena pengobatan yang diberikan ala kadarnya saja,” katanya.

Diakuinya, pada 2015, Arifin pernah dipublikasikan media massa terkait penyakit yang dideritanya. Sejak itu, Arifin mendapatkan bantuan dana dari Ketua K3S Bintan dan Dealer Toyota.

Tapi bantuan itu tidak bertahan lama, karena sakit yang diderita Arifin kian parah. Bahkan berat badan anak berusia 15 tahun ini menyusut dari 13 kilogram (kg) menjadi sembilan kg.

Untuk kesembuhan, Arifin masih memerlukan dana lebih banyak lagi, baik untuk pengobatannya hingga operasinya. Namun untuk mendapatkan uang ratusan juta rupiah, dianggapnya mustahil, karena tidak ada lagi yang memperdulikan nasib Arifin.

”Semoga dengan kembali diterbitkan di media massa, ada dermawan mau membantu. Bantulah Arifin, saya akan doakan orang itu agar masuk surga,” ujarnya. ***

January 5, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: