Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Minim Perhatian Pemerintah, 13 Tahun Pasar Seroja Dapur 12 Tak Jalan

Dimanfaatkan Warga untuk Pasar Kaget Setiap Rabu dan Sabtu

Sejak berdiri tahun 2013 silam, Pasar Seroja milik Pemerintah Kota Batam di Kaveling Seroja, Dapur 12, Sagulung tak berfungsi sebagai mana mestinya. Bertahun-tahun macet, pasar yang menelan anggaran miliaran rupiah itu kini hanya ramai pada Rabu dan Sabtu sebagai pasar kaget.

Eusebius, Sagulung

Sabtu (6/1/2016), suasana di pinggir jalan dari Dapur 12 Sagulung ke wilayah kelurahan Seibinti terlihat ramai. Pedagang pasar kaget mengintari lokasi jalan hingga ke lahan bagian kanan jalan. Lahan tersebut merupakan Pasar Seroja milik Pemko Batam. Pasar Seroja terdiri dari berdiri dua bangunan kokoh. Satu bangunan bagian depan bertembok dan beratap, satu lainya di bagian belakang dibangun secara terbuka. Bangunan terbuka itu merupakan lapak-lapak pasar.

Ya itulah kondisi pasar rakyat yang sudah 13 tahun dibangun dengan anggaran mencapai miliaran rupiah. Sejak tahun 2013 silam, pembangunan pasar Seroja selesai, hanya tiga bulan pertama, sejumlah pedagang yang tak lain adalah warga sekitar sempat memanfaatkan pasar itu untuk berdagang.

”Sejak resmi beroperasi hanya tiga bulan pertama dipakai, itu karena gratis ditempati selama tiga bulan,” kata Jasrian pedagang pasar kaget yang kebetulan menampati salah satu lapak di pasar seroja, Sabtu (6/1) siang itu.

Saat pasar itu dibangun, akses jalan menuju lokasi pasar belum diperhatikan secara baik. Akses jalan tidak begitu bagus sehingga jarang ada angkot atau kendaraan yang melintasi lokasi pasar tersebut. Pasar hanya didatangi warga sekitar lokasi pasar. Kondisi itu berimbas pada sepinya pasar. Bulan keempat pasar itu sudah tak berpenghuni lagi.

”Tak ada yang datang belanja, makanya kabur semua pedagang meskipun lapak pasar ini gratis waktu itu,” kata Jasrin.

Hampir delapan tahun pasar yang berada di lokasi padat penduduk saat ini tersebut  tak berfungsi sebagai mana mestinya. Lapak-lapak dan bangunan pasar terlihat kumuh dan tak terurus. Lokasi pasar yang sebenarnya strategis untuk pasar itupun hanya dijadikan jadi tempat berteduh warga sekitar jika hari panas dan tempat berkumpul anak mudah di malam hari. Sekujur bangunan dipenuhi coretan dan kotoran hewan.

Pasar Seroja baru kembali aktif pada awal tahun 2011 saat kota Batam mulai ramai dengan adanya pasar kaget. Warga sekitar dan beberapa pedagang pasar kaget dari berbagai wilayah di Sagulung memanfaatkan pasar rakyat itu sebagai pasar kaget.

”Pasar kaget hanya Rabu dan Sabtu saja,” kata Andre pedagang lainnya di lokasi pasar tersebut.

Pasar kaget yang menghidupkan kembali pasar macet tersebut belum sepenuhnya bisa memperbaiki keaktifan pasar. Rabu yang merupakan hari kerja bagi sebagian warga membuat pasar kaget di lokasi pasar rakyat itu sangat sepi. Pedagang belum merasakan keuntungan yang berarti dengan berjualan di sana.

”Kalau Rabu sepi, kadang-kadang tak laku sama sekali. Sabtu baru agak sedikit ramai,” ujar Andre.

Pedagang pasar kaget di Pasar Seroja ini kata Andre, sebenarnya tidak bergitu berharap banyak dengan berjualan di sana. Mereka umumnya pedagang pasar kaget yang berpindah-pindah tempat setiap harinya.

”Kalau disini saja (berdagang di pasar tersebut) mendingan saya mulung. Tak menjanjikan sama sekali. Untung setelah dari sini kami ke Mandalay (pasar kaget) atau ke tempat pasar kaget lainnya. Sehingga masih bisa bertahan. Kalau disini saja mana laku dagangan kami,” katanya.
Padahal Andre dan para pedagang pasar kaget yang berasal dari sekitar Dapur 12 dulunya sangat

berharap agar pasar tersebut bisa menampung dan menopang kehidupan keluarga mereka. Namun kenyataanya berbeda. Pasar Seroja hanya nama saja dan sama sekali tak bisa diandalkan.

”Pemerintah hanya bangun saja, tapi tak pikirkan solusi agar pasar ini ramai. Habis bangun ditinggal begitu saja,” katanya.

Diakui Andre dan pedagang lainnya, lokasi Pasar Seroja cukup strategis sebenarnya. Sebab berada di jalur jalan penghubung dua kelurahan yang padat penduduk yakni kelurahan Seilekop dan Seibinti.
Matinya pasar rakyat itu disebabkan berbagai faktor, di antaranya minimnya perhatian pemerintah untuk menghidupkan pasar tersebut.

”Akses jalan waktu itu yang menjadi penghambat. Baru-baru ini saja jalan diperbaiki saat pasar sudah bertahun-tahun mangkrak,” kata Beni, warga lainnya.

Selain itu juga disebabkan oleh persaingan pasar swasta, pusat perbelanjaan, dan supermarket yang mulai menjamur di sekitar pasar tersebut.

”Jadi memang agak susah mau hidupkan lagi. Coba dari awal diperhatikan pasti tak seperti ini,” ujar Beni.

Untuk meramaikan kembali pasar tersebut, pedagang menempatinya secara gratis. Namun para pedagang mengaku belum siap selama pemerintah belum mengeluarkan kebijakan atau terobosan tepat untuk menghidupkan kembali pasar tersebut.

”Pasar kaget yang dua kali seminggu saja begini-begini saja. Apalagi kalau setiap hari kami berdagang disini. Siapa yang mau datang belanja,” sebut Andre. ***

January 12, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: