Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kisah Angela, Ibu 14 Tahun Mencari Bangku Sekolah (3)

Bersehadapan dengan Lori Pasir demi Pendidikan yang Lebih Baik

SANDRA dan Herman bersikeras memperjuangkan Angela. Segala jalan ditempuhnya. Segala tenaga dikerahkannya. Dan hasilnya?

FATIH MUFTIH, Bintan

Orang tua mana yang mau anaknya diperlakukan semena-mena. Setidaknya semangat sedemikian yang kemudian mengukuhkan tekad Sandra dan Herman untuk memperjuangkan nasib Angela, yang dikembalikan ke keluarganya secara sepihak oleh SMP Negeri B. Sandara menilai, ada arogansi di balik penerbitan surat pengembalian Angela yang disertai rekomendasi pindah sekolah.

”Kalau iya, apa sebenarnya salah anak kami,” keluh Sandra.

Ibu asuh Angela ini lantas mengutip Pasal 77 Undang-Undang Perlindungan Anak. Di situ disebutkan, setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan (a) diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami kerugian, baik materiil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tauh dan atau denda paling banyak Rp 100 juta.

”Alasan kepala sekolah untuk mengembalikan Angela ke keluarga, saya kira melanggar pasal ini,” ujar Sandra.

Karena berdasarkan yang disampaikan Alesandro, Kepala SMP Negeri B, ke keluarga Angela, latar belakang Angela yang pernah hamil dan bahkan melahirkan, membuatnya tidak bisa mengenyam pendidikan di sekolah menengah tersebut. Makin buruk lagi, fakta ini tak disampaikan di awal perpindahan. Begitu dalih pihak sekolah.

Tapi Sandra justru sudah kelewat geram dengan alasan itu. Bagaimana mungkin, kata dia, sebuah sekolah negeri malah menolak anak yang masih punya semangat belajar.

”Sekolah negeri itu kan punya pemerintah. Didanai pemerintah melalui uang pajak yang kami bayarkan. Anak kami mau sekolah malah dilarang,” sesalnya.

Karena merasa mendapati perlakuan diskriminatif, Sandra beserta Herman kemudian mengadukan hal ini ke banyak pihak. Di antaranya Dinas Sosial Bintan, Komisi Perlindungan Anak Daerah Provinsi Kepri, dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

Pengaduan kasus Angela ini disikapi cepat. Kemudian digelar mediasi dengan sekolah yang juga didampingi Dinas Pendidikan dan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bintan untuk mencari jalan keluar mengenai kasus Angela. Bahkan, mediasi ini turut dalam pantauan Penjabat Bupati Bintan yang diwakili Asisten III Pemkab Bintan.

”Bapak Asisten cuma menekankan, mediasi ini harus menemukan solusi terbaik,” ucap Sandra, mengutip sikap tegas Asisten Bupati Bintan.

Namun, rupanya apa yang berjalan di ruang mediasi tersebut jauh dari yang diharapkan Sandra dan Herman. Pasalnya, pihak sekolah bersikukuh tetap mengembalikan Angela ke pihak keluarga. Keputusan ini berlaku bulat. Disdikpora Bintan juga tak punya banyak pilihan. Karena, menurut mereka, sekolah punya otonomi dalam pengelolaan sekolah.

Termasuk juga di dalamnya adalah penyusunan aturan-aturan yang diberlakukan sekolah.
Alesandro, kepada Batam Pos, menjelaskan, peraturan itu memang sudah lama dibuat dan disepakati di sekolah. Disebutkan bahwasanya setiap siswa yang sedang atau pernah hamil mesti dikembalikan ke keluarganya.

”Jauh sebelum Angela ada di sini, peraturan itu sudah ada,” tegasnya.

Kemudian, pada setiap siswa pindahan, sambungnya, juga dikenakan surat pernyataan sanggup mengikuti peraturan sekolah yang ditetapkan. Angela telah membubuhkan parafnya.

”Sehingga setelah dipertimbangkan, tidak ada pilihan lain untuk tidak mengembalikan Angela kepada keluarganya. Karena kalau dibiarkan akan bertentangan dengan peraturan yang sudah ada,” beber Alesandro.

Tak hanya mengembalikan, imbauan Disdikpora Bintan dalam mediasi agar hak Angela untuk mengenyam pendidikan turut dijalani. Setelah berkoordinasi, disepakati penerbitan rekomendasi pindah sekolah bagi Angela. Hal ini, kata Alesandro, sudah menjadi komitmennya agar Angela tetap bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

”Hasil koordinasi dengan Disdikpora Bintan, Angela bisa tetap melanjutkan pendidikannya ke SMP C Satu Atap,” kata kepala sekolah yang belum setahun menjabat di SMP Negeri B itu.

Hanya saja, berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan Batam Pos, ada kekuatan lain yang merongrong keberadaan Angela di SMP Negeri B. Kekuatan itu berasal dari luar sekolah yang lambat-laun merasuk ke internal sekolah. Rongrongan yang mempertanyakan keabsahan Angela mengikuti kegiatan belajar dalam kelas, padahal bocah tersebut sudah pernah melahirkan, dan kini bersatus sebagai ibu satu anak.

Semakin hari, rongrongan ini semakin menjadi. Hingga kemudian pihak-pihak internal juga mengadu ke kepala sekolah mengenai kekuatan luar yang meminta ada tindakan tegas terhadap Angela. Hingga kemudian, dengan berdalih peraturan sekolah yang disusun merujuk hak otonomi sekolah, diterbitkan surat pengembalian Angela ke keluarganya.
Ketika informasi ini disampaikan ke Sandra, perempuan berjilbab ini tak menyangkal kekuatan luar yang datang tiba-tiba, setelah Angela sudah bisa membiasakan diri selama satu semester di SMP Negeri B.

”Konon ada permintaan dari masyarakat yang ingin Angela tidak sekolah di sana. Kemudian dirapatkan dengan majelis guru dan komite sekolah dan kemudian berujungh kepala sekolah menerbitkan surat pengembalian sepihak itu,” beber Sandra.

Dinsos Bintan, KPAD Provinsi Kepri, dan P2TP2A juga sudah tak dapat berbuat banyak. Sandra hanya bisa meratapi nasib yang didera Angela, anak asuhnya. Ibarat kata peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah Angela. Sudah senang hatinya bisa bergabung dengan teman-teman baru di SMP Negeri B tiba-tiba hendak dicerai-beraikan pula kebahagiaan yang memang merupakan hak seorang bocah. Sekali pun bocah itu sudah melahirkan bocah.

Bahkan status korban di mata hukum yang dibebankan ke Angela, juga tidak lantas bisa menjadi pertimbangan pihak sekolah untuk tidak mengembalikannya ke keluarga.
”Saya paham, dalam kasus ini, Angela adalah korban, tapi status dia pernah hamil dan melahirkan itu membuatnya berbeda dengan peserta-peserta didik kami yang lain,” ujar Alesandro.

Dan sekali lagi, keputusan berdasarkan kesepakatan bulat pihak sekolah itu tidak dapat diganggu-gugat. Terlebih Disdikpora Bintan memang sudah sepenuhnya menyerahkan penyelesaian perkara ini ke pihak sekolah. Suka atau tidak mesti diterima Angela dan keluarganya.

Surat pengembalian itu pula yang membuat Angela hingga hari ini masih di rumah. Sandra menuturkan, anak asuhnya itu belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

”Kalau tiba-tiba dikasih tahu ia dikeluarkan dari sekolah, saya takut dia syok lagi,” timpal Herman. Karena itu, sepanjang masih bisa diupayakan, Herman dan Sandra masih ingin memperjuangkan hak anak asuhnya itu mendapatkan pendidikan formal yang layak, sebagaimana anak sebayanya.

Pilihan Disdikpora Bintan dan SMP Negeri B untuk menerbitkan surat rekomendasi perpindahan Angela ke SMP C Satu Atap juga dirasa bukan pilihan jitu. Setidaknya begitu yang terbersit di benak Herman dan Sandra. Apatah tidak, sekolah satu atap itu berada jauh dari tempat tinggal Angela. Sekira-kiranya berjarak lebih dari 17 kilometer. Belum lagi, lokasinya yang mesti melewati area pertambangan pasir yang menjadi lintasan utama lori-lori yang nyaris tak putus-putus sepanjang hari.

Tentu ini akan menjadi kerepotan tersendiri bagi keluarga Angela. Herman dan Sandra tidak selamanya bisa menyokong akomodasi sekolah Angela, karena juga punya pekerjaan yang mesti ditunaikan saban pagi. Pun Matilda, ibu kandung Angela, yang sampai saat ini masih belum pulih trauma atas kenyataan hidup yang dideranya.

”Sedangkan setiap hari itu kami punya orang yang suruh ngantar Angela ke sekolah. Kalau pindah ke ujung area tambang pasir itu belum tentu orangnya mau,” ujar Herman.

Herman dan Sandra sudah melakukan survey ke calon sekolah baru Angela. Sepulang dari sana, mereka hanya bisa mengelus dada. Iba yang setiba-tiba merebak kala membayangkan tanggapan Angela atas sekolah barunya. Membayangkan Angela mesti kembali beradaptasi dengan lingkungan barunya. Membayangkan Angela setiap pagi dan siang mesti bersehadapan dengan lori-lori pasir.

”Kita saja yang orang dewasa mesti sangat hati-hati kalau lewat situ. Karena lori-lori itu sering ngebut jalannya. Dan dengar-dengar sekolah di sana itu dibangun memang hanya untuk warga tempatan. Bisa jadi anak kami adalah satu-satunya siswa yang berasal dari luar,” ucap Herman.

Lantas bagaimana tanggapan Kepala Disdikpora Bintan, Makhfur Zurrahman atas kasus Angela? Tanggapan Komisi III DPRD Bintan yang membidangi pendidikan? Atau tinjauan psikologis atas kasus Angela? Apakah yang didapatkan ibu 14 tahun ini sudah setimpal dan semestinya? (bersambung)

January 14, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: