Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Chairul Tanjung: Banyak Suara Semut

Tertolong Konsumsi dan Bonus Demografi

JPGRUP, Jakarta

Indonesia punya modal kuat untuk menjadi negara maju dalam beberapa waktu mendatang. Syaratnya, Indonesia harus bisa memanfaatkan sejumlah keunggulan. Antara lain, mengoptimalkan bonus demografi.

Tahun lalu hampir semua persendian ekonomi mengalami masa sulit. Namun, tahun ini kondisi perekonomian diperkirakan lebih baik. CEO CT Corp Chairul Tanjung memprediksi pertumbuhan ekonomi 2016 mencapai 5 persen plus minus 0,2 persen. Inflasi berkisar 5 persen plus minus 1 persen dan nilai tukar rupiah berkisar Rp 14.000 plus minus Rp 1.000 per USD.

Menurut dia, tahun lalu perekonomian Indonesia tidak hanya dipengaruhi kondisi global dan domestik. Kegaduhan politik juga sempat memengaruhi pasar dan optimisme pengusaha. Akibatnya, investor yang sebelumnya sangat optimistis terhadap pemerintahan baru menjadi ragu.

’’Kalau diibaratkan, seperti mendengarkan radio, lebih banyak noise-nya daripada voice-nya. Banyak suara semut. Zzz… gitu,’’ ujarnya berkelakar.

Karena itu, Chairul Tanjung (CT) berharap kegaduhan di panggung politik berkurang. Sebab, gaduh sedikit saja, pasar langsung responsif. Akibatnya, kepercayaan investor bisa berkurang sehingga mereka menarik dana dari dalam negeri. Padahal, Indonesia cukup menarik bagi investor karena imbal hasil (yield) investasinya termasuk tinggi. ’’Negara-negara berkembang memang punya yield yang bagus,’’ ungkapnya.

Di sektor riil, kondisi politik yang baik juga sangat diharapkan. Jika kondisi politik masih penuh kegaduhan, Indonesia bisa kalah dari negara-negara ASEAN yang kondisi politik dan ekonominya lebih kondusif.

Media pun bertanggung jawab agar mampu memberikan kritik yang membangun bagi jalannya dunia politik.

Chairul yakin tahun ini pemerintah lebih responsif jika dibandingkan dengan tahun lalu. Kondisi perekonomian 2016 yang diprediksi tumbuh lebih dari 5 persen bisa terus membaik hingga 2018. Sektor konsumsi masih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. ’’Konsumsi akan menolong perekonomian kita. Di CT Corp, keyakinan saya terhadap sektor konsumsi saya terapkan ke entitas ritel Carrefour dan Bank Mega,’’ jelasnya.

Selain mengandalkan sektor konsumsi, Indonesia harus memanfaatkan bonus demografi. Kondisi itu bisa mendatangkan pengaruh positif karena penduduk usia produktif membeludak. Kondisi tersebut akan terus berlangsung hingga 2035.

Menurut dia, Indonesia harus belajar dari Jepang, Taiwan, Tiongkok, dan Korea Selatan. Ketika mengalami bonus demografi, pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut mampu double digit. Negara-negara itu pun mampu menjadi negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi.

Yang dikhawatirkan Chairul, Indonesia punya bonus demografi, tetapi belum dimanfaatkan sebaik-baiknya. ’’Kalau kita terjebak dengan angka pertumbuhan 4,7 persen, kita susah mau keluar dari middle income trap (jebakan pendapatan kelas menengah, Red). Kita sulit untuk beranjak ke high income,’’ papar pria 54 tahun itu.

Momentum bonus demografi tersebut harus benar-benar dimanfaatkan. Caranya, meredakan kegaduhan politik sehingga investasi tumbuh. Dampaknya, membeludaknya penduduk usia produktif akan terserap menjadi tenaga kerja. Dengan begitu, angka pengangguran berkurang, pendapatan bertambah, daya beli meningkat, dan pertumbuhan ekonomi kembali pulih.

Dia berpesan, Indonesia juga harus belajar dari Tiongkok. Beberapa tahun lalu Tiongkok mampu mencetak pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Namun, hal itu kini sulit tercapai. Tiongkok masih terjebak dalam pertumbuhan ekonomi yang tidak sampai 7 persen. Selain kondisi ekonomi mereka belum membaik, generasi tua di Negeri Panda itu sudah berlebih. Artinya, pasokan generasi muda yang produktif kurang.

Soal ekonomi global, kewaspadaan masih dibutuhkan, terutama yang terjadi pada Tiongkok. Apalagi yuan atau renminbi telah didevaluasi regulator. Chairul melihat adanya tujuan khusus dari kebijakan itu. Tujuan politisnya lebih kental daripada tujuan memulihkan ekspor. Indonesia tidak hanya harus waspada terhadap kondisi perekonomian Tiongkok, tetapi juga kondisi politiknya.

’’Rasanya Tiongkok seperti ingin mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai negara pengendali ekonomi terbesar di dunia,’’ tuturnya.

Suatu hal lain yang juga harus diwaspadai Indonesia, Tiongkok tampak ingin menguasai Laut China Selatan yang merupakan wilayah penting di kawasan Asia-Pasifik. Tiongkok diprediksi semakin berpengaruh.

Mengenai bisnis media, Chairul sangat paham atas apa yang terjadi pada 2015. Dia mengakui, bujet iklan dari stakeholder media menurun. Menurut CEO yang mempunyai anak usaha Transmedia itu, dalam kondisi ekonomi yang melemah, cost yang paling mudah dipilih untuk dipotong adalah advertising.

’’Itu kebijakan yang sangat populer dan wajar sehingga pengaruhnya kepada industri media cukup besar,’’ jelasnya.

Untung, Chairul yang mempunyai beberapa stasiun televisi swasta dan media online sudah bisa memprediksi. Menjelang akhir 2014, dia mengubah iklim kerja di perusahaannya dari regular mood ke crisis mood. Dia berusaha meyakinkan para pimpinan dan direksi di bawahnya untuk lebih struggle.
Salah satu sarannya, para pimpinan tidak usah lagi melakukan investasi besar-besaran. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, investasi tergolong cukup ekspansif.

’’Saya bilang, stop big investment. Do only small invest with big impact (lakukan investasi kecil dengan hasil besar, Red),’’ lanjutnya.

Yang pasti, CT Corp maupun Transmedia tahun lalu berhasil melewati masa-masa sulit karena turbulensi ekonomi. Bagi Chairul, memang sangat penting bagi industri media untuk bisa membaca kejadian pada masa depan. Industri media harus lebih teliti dan berwawasan luas agar bisa mengambil kebijakan strategis, terutama perusahaan yang baru berdiri. Salah sedikit, akibatnya bisa fatal.
Dia yakin tahun ini industri media akan recovery. Karena itu, Chairul mulai berani mengondisikan perusahaannya dari crisis mood ke regular mood. Artinya, investasi tidak akan terlalu ditahan karena keyakinan dunia usaha tahun ini lebih baik.

Namun, dia mengingatkan media agar tidak hanya memandang dirinya sebagai sebuah industri. Media mempunyai tugas untuk mengedukasi masyarakat dan mengawasi jalannya pemerintahan. Soal bonus demografi, dia berpesan bahwa media harus aktif menyuarakan pemanfaatan momentum itu.

Media harus mendukung hal-hal yang pro pembangunan sehingga serapan tenaga kerja lebih tinggi. Multiplier effect-nya nanti berujung pada ekonomi domestik yang lebih baik. Bonus demografi punya dampak yang besar apabila Indonesia dan industri media tahu cara memanfaatkannya. (rin/c5/oki)

January 17, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: