Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Jong, Salah Satu Permainan Tradisional Melayu

Refleksi Kehidupan Bangsa Melayu

Jong adalah permainan perahu layar mini yang dimainkan suku Melayu saat senggang. Tradisi Jong, dalam perjalanannya sempat timbul dan tenggelam. Namun berabad-abad sudah terlampui, permainan Jong sampai kini masih tetap ada dan lestari. Permainan ini merupakan refleksi dari kehidupan suku Melayu Batam.

Fiska Juanda, Nongsa

Setiap daerah selalu melahirkan permainan tradisional tersendiri. Permainan ini muncul menurut kultur daerah suatu suku bermukim. Batam merupakan salah satu tempat bermukim suku Melayu. Daerah yang dikelilingi laut, membuat tradisi permainan bahari lahir di sini. Permainan anak negeri ini juga lahir saat para nelayan tak melaut. Melalui tangan-tangan kreatif, budaya ini kemudian diwariskan secara turun temurun.

”Orang mengenalnya dengan pengucapan Jong, tapi sebenarnya penulisannya adalah Jung. Kami mengucapkannya dengan kata joung, huruf vokal o dan u keduanya diucapakan secara tak jelas,” kata Makmur Ismail, salah satu salah satu pemerhati tradisi Melayu dan juga Ketua Rumpun Khazanah Warisan Batam (RKWB), Minggu (17/1/2016).

Jong merupakan miniatur dari kolek.”Sampan layar besar yang bisa dinaiki oleh satu orang, itulah kolek,” ujarnya saat ditemui di salah satu kedai kopi di Batam.

Awalnya, lomba kolek selalu diadakan saat-saat waktu senggang para nelayan. Lomba ini menyedot perhatian berbagai kalangan di masyarakat Melayu.  Tak hanya orang dewasa, anak-anakpun menikmatinya.

“Anak-anak tersebut ingin merasakan keseruan bermain kolek. Karena masih kecil, akhirnya mereka membuat kolek versi mini. Lebih kecil, dan lebih sederhana,” ucapnya.

Dengan bermodalkan pelepah pohon nipah dan sagu, anak-anak tersebut membuat replika sampan layar. Tangan-tangan anak-anak melayu inilah, melahirkan sebuah permainan dikenal dengan nama “Jong”.

“Itu kisah asal muasal Jong disini. Diceritakan dari mulut ke mulut, oleh orangtua kami pada dulunya,” ungkapnya.

Kapan lahirnya tradisi ini, Makmur mengaku kurang mengetahui secara pasti.

”Rasa sudah berabad-abad lalu,” ungkapnya sembari menerawang melihat langit-langit bangunan kedai kopi.

Dengan menyerumput gelas teh tarik yang ada dihadapannya, Makmur melanjutkan ceritanya mengenai permainan Jong. Sekarang ini, kata Makmur, Jong tak lagi menggunakan pelepah rumbia atau nipah, namun sudah menggunakan pohon pulai, yang banyak ditemui dibeberapa tempat di Batam. Pohon pulai sangat ringan, dan cocok dijadikan bahan dasar jung.

”Permainan ini adalah lomba cepat, butuh bahan yang ringan. Pohon pulai sangat cocok untuk body jung,” ujar Makmur.

Ia melanjutkan, saat ini permaianan anak Melayu ini sudah mulai berkembang. Bentuk Jong juga menjadi lebih indah dan bagus. ”Sekarang ini layarnya sudah dari parasut, membuatnya bisa melaju kencang,” ungkapnya.

Permaian Jong ini sempat ditinggalkan masyarakat Melayu Batam. Penyebabnya adalah modernisasi yang masif. Masyarakat Melayu Batam sebelum tahun 1970, hidup dengan menjadi nelayan.

”Nelayan, berdagang, bertani, itu penghidupan di sini sebelum tahun 1970-an,” ujarnya.

Namun begitu Otorita Batam (kini BP Batam) mulai memasuki daerah ini, dan membangun beberapa pusat-pusat industri, terjadi perubahan sosial dan kultur dalam masyarakat Melayu Batam. Industri-industri membutuhkan pekerja yang banyak. Sementara pada saat itu tak banyak pencari kerja dari luar yang melirik Batam. Warga Melayu Batam ditawari pekerjaan di berbagai industri yang ada.

”Dengan iming-iming gaji yang tinggi, hampir 70 persen masyarakat di Batam beralih profesi,” ungkap Makmur.

Nelayan tak lagi menjadi pekerjaan yang diminati. Sebab hasil yang tak menentu, dengan tingkat keselamatan yang rendah. Membuat terjadinya eksodus pekerjaan.

”Bekerja di perusahaan lebih menjanjikan pada saat itu,” tuturnya.

Perubahan yang mendadak dan secara cepat ini, dan masuknya modernisasi di lini kehidupan suku Melayu Batam, membuat orang mulai melupakan beberapa tradisi Melayu. Salah satu yang dilupakan itu adalah permainan Jong.

”Kami (suku Melayu,red) lupa, dan tak lagi melirik permainan ini,” ungkapnya.

Anak-anak masyarakat Melayu juga tak diperkenalkan lagi dengan permaianan tradisional yang mengasyikan itu. Mereka lebih asik bercengkrama dengan berbagai permainan modern, dengan menggunakan teknologi yang mutakhir.

Cukup lama sampan layar mini ini terlupakan. ”Sekitar 30 tahun, lupa ada permainan ini,” ungkap Makmur.

Pada tahun 2000-an, beberapa genarasi Melayu mulai merasa kehilangan jati diri. Sebab beberapa tradisi mulai hilang dan luntur. Sekelompok orang yang peduli dengan tradisi Melayu, mulai menggalakan permainan ini untuk muncul kembali.

Sampan layar kecil, atau jung disadari adalah refleksi kehidupan nenek moyang suku melayu dahulunya. Tak ingin tradisi ini hilang ditelan zaman, digelar kembali lomba-lomba Jong.

”Di Batu Besar, sekelompok orang membuat lomba. Agar tradisi ini bisa hidup kembali,” ucap Makmur.
Alimun salah satu dari penggiat munculnya kembali permainan tradisional jung ini mengatakan, Jong kembali bergeliat pada tahun 2002.

”Teman-teman buat perlombaan, karena kami ingin tradisi ini tak hilang dimakan zaman,” katanya.

Tak mudah untuk menghidupkan kembali, tradisi yang telah lama memudar. Itulah yang dirasakan oleh Alimun dan kawan-kawan. Saat merintis, menumbuhkan dan menghadirkan kembali permainan tradisional Jong ditengah-tengah masyarakat Batam yang serba modern. Pada mulanya masyarakat tak terlalu mengenal permainan ini.

”Antusias warga tidak banyak, sebab permainan modern lebih menarik dibandingkan jung menurut mereka,” ungkapnya.

Namun para penggiat permainan tradisional melayu tak putus asa. Perlahan tapi pasti, kelompok ini mulai merebut hati masyarakat. Nama Jong kembali dikenal luas di kalangan masyarakat bahkan para pendatang. Setiap ada perlombaan yang diadakan, warga selalu ramai berdatangan. Tak hanya itu saja, peserta lomba yang dulunya hanya bisa dihitung dengan jari, makin lama makin banyak pesertanya.
Peserta berdatangan, tak hanya dari Batam. Dari luar Batam juga turut meramaikan perlombaan ini.

”Pada tahun lalu (2015, red) peserta yang ikut ambil bagian itu ratusan orang. Tak hanya dari Kepri saja, luar negeri pun ada seperti dari Singapura dan Malaysia. Lalu turis asing dari Prancis juga ikut dalam lomba itu,” ujarnya Alimun.

Alimun mengatakan, perlombaan Jong ini menyimpan potensi wisata yang sangat besar bila pemerintah daerah mau ikut ambil bagian dan fokus mengembangkannya. Jong akan menjadi salah satu ikon wisata Batam.

”Besar peluangnya, namun pemerintah cuma setengah hati dalam pengembangan potensi wisata Jong,” ungkapnya.

Menurutnya, sesuatu yang bersifat tradisional selalu menarik perhatian wisatawan. Apalagi tradisi itu tak ada di tempat lain, sehingga akan menambah rasa penasaran dan ketertarikan wisatawan datang. Namun promosi kegiatan ini kurang gencar.

”Kalau kami saja yang giat, tapi tanpa ada sokongan, tak akan laju, kami butuh sokongan semua pihak. Tak perlu untuk dana, cukup disebarkan dan promosikan saja, itu lebih dari uang,” ungkap Alimun.

Maimun salah satu pengrajin Jong menegaskan Jong tak hanya permainan tradisonal, tapi cerminan hidup suku Melayu. ***

January 18, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: