Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kapolri Sorot Pembunuhan di Batam

Perintahkan Kapolda Kepri Mengungkap dan Menangkap Pelaku

KASUS pembunuhan tiga wanita muda di Batam sepanjang 2015 lalu menjadi perhatian khusus Kapolri Jenderal Badrodin Haiti. Bahkan Haiti meminta Kapolda Kepri, Brigjen Pol Sam Budigusdian untuk mengungkap ketiga kasus tersebut.

”Saya mendapatkan amanah ini langsung dari Kapolri,” kata Sam saat berkunjung ke kantor redaksi Batam Pos, Selasa (19/1/2016) siang.

Sam mengatakan, tiga kasus pembunuhan itu adalah pembunuhan siswi SMAN 1 Batam, Dian Milenia Trisna Afiefa, pembunuhan Cyntia, dan Anggi. Sampai saat ini, kata dia, baru kasus Nia yang mulai terungkap.

”Kasusnya digugat di praperadilan. Kami menang,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan dan keterangan mantan Kapolresta Barelang, Kombes Asep Safrudin, Wardiaman Zebua yang saat ini berstatus sebagai tersangka, diduga merupakan pelaku tunggal.

”Tapi kita butuh mengumpulkan bukti-bukti baru. Karena pelaku ini diduga psikopat,” terangnya.
Selain mengungkap kasus pembunuhan, Kapolri juga meminta Kapolda Kepri untuk meningkatkan keamanan di wilayah Kepri, terutama Batam yang menjadi daerah tujuan investasi. Sam mengakui, menjaga keamanan di wilayah perbatasan seperi Batam merupakan tantangan yang besar.

Untuk itu, pihaknya akan menggandeng semua instansi, termasuk TNI, dalam menciptakan keamanan di Batam dan Kepri. Termasuk pengamanan di jalur atau pelabuhan tikus di Batam.

”Saya langsung bertemu dengan pejabat TNI untuk membicarakan keamanan perbatasan ini. Dan saya sudah perintahkan Kapolres untuk mengawasai jalur tikus,” tegasnya.

Menurut Sam, keamanan di Kepri, khususnya Batam, sangat dibutuhkan bagi para investor. Oleh karena itu, dia berharap Batam Pos bisa menjadi media partner bagi Polda Kepri untuk berperan mewujudkan situasi aman tersebut.

”Saya ingin media juga bekerja sama menjaga kondisi Kota Batam kondusif. Sehingga tak membuat investor was-was,” kata mantan Wakakorlantas Mabes Polri ini.

Kemarin, Sam mengunjungi Batam Pos dalam rangka menjalin kerja sama. Dia datang didampingi sejumlah petinggi di Polda Kepri, seperti Direskrimsus Kombes Budi Suryanto, Dirshabara Kombes Iman Wahyudi serta Kabid Humas Polda Kepri, AKBP Hartono.

Kedatangan orang nomor satu di Polda Kepri ini disambut Komisaris Batam Pos Socrates, Pimpinan Perusahaan Herman Mangundap serta Wakil General Manager Bidang Redaksi M Riza Fahlevi.
Seperti diketahui, kasus pembunuhan terhadap tiga wanita muda yakni Nia, Anggi, dan Cyntia yang terjadi di Batam sepanjang 2015 lalu memang sempat menggegerkan publik di Batam. Selain semua korbannya merupakan wanita berusia belia, pelaku juga membunuh korban-korbannya dengan cara sadis. Lebih dari itu, pelaku diduga memperkosa sebelum membunuh para korbannya.

Namun hingga saat ini polisi baru menyidik kasus pembunuhan Nia. Sebab dua kasus lainnya sangat minim bukti dan saksi. Namun polisi menduga, pembunuhan terhadap tiga wanita tersebut dilakukan oleh pelaku yang sama.

Akan tetapi, polisi baru mengungkap satu dari tiga kasus tersebut. Yakni pembunuhan terhadap Nia dengan tersangka Wardiaman Zebua.

Pengungkapan kasus pembunuhan Nia sendiri saat ini memasuki babak baru. Ini setelah hakim tunggal Pengadilan Negeri Batam menolak gugatan praperadilan yang diajukan kubu Wardiaman.
Setelah sidang putusan praperadilan yang digelar pada Rabu (13/1/2016) lalu, penyidik Polresta Barelang langsung menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan Nia. Ada lima adegan yang diperagakan oleh tersangka Wardiaman. Namun dari lima adegan tersebut, tak satupun yang menggambarkan adegan pembunuhan maupu pemerkosaan.

Namun bagi penyidik, ini tak jadi soal. Sebab menurut Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Yoga Buana Dipta Ilafi, reka ulang kasus ini lebih difokuskan berdasarkan keterangan tersangka yang mengaku hanya bertemu korban di hutan Seiladi dalam kondisi telanjang.

”Tak ada meng-counter dengan apa yang sebenarnya. Jadi apa yang diadegankan tersangka sangat kontradiktif,” terang Yoga.

Namun Yoga menegaskan, penetapan tersangka bukan hanya berdasarkan keterangan Wardiaman. Namun lebih kepada alat bukti yang dikumpulkan penyidik.

”Kami sudah punya alat bukti, ditambah dengan fakta lainnya yang mendukung. Kami juga tak mungkin mengaitkan tersangka dengan kasus ini jika tak ada fakta,” imbuh Yoga.

Dilanjutkan Yoga, pihaknya memang tak ada mendapat tambahan barang bukti usai pra-rekonstruksi beberapa waktu lalu. Pra-rekonstruksi yang dilakukan secara tertutup itu dilakukan hampir sama dengan rekonstruksi, kemarin.

”Tapi kami sudah punya alat bukti yang kuat. Pengakuan memang tak ada dan kita bergerak dari hal itu. Artinya kita melihat dari pengakuan yang kontrakdiktif. Apalagi, tersangka mengakui terakhir kali bertemu korban di hutan Seiladi,” jelas Yoga.

Sementara itu, Jaksa Penuntut umum, Ridho Setiawan bersama Bani Immanuel Ginting yang turut hadir di lokasi enggan berkomentar terkait rekontruksi.

”Nanti saja saya kasih komentar saat tahap 2,” katanya. (she)

January 20, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: