Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Pemasangan Cincin pada Pasien Jantung Koroner

Tanpa Bekas, Dua Hari Bisa Beraktivitas Lagi

Penyempitan pembuluh darah dapat ditangani tanpa melakukan bedah. Caranya, dengan memasang cincin pada pembuluh darah pasien. Bersama ahli jantung Dr. dr. Munawar, Sp.JP (K), FIHA, FESC, FACC, Batam Pos berkesempatan melihat prosesnya di RS Awal Bros Batam, akhir pekan lalu.

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Pria berusia empat puluh tahun itu mengeluhkan rasa nyeri di dada. Seperti ada sesuatu yang menindih tepat di bagian tengah dadanya. Kepada dr Afdhalun Hakim, Dokter Spesialis Jantung Intervensi RS Awal Bros, ia mengaku sebagai perokok berat.

Dokter tahu apa yang terjadi. Pasti ada penyempitan pada pembuluh darah. Hingga kemudian jantung harus bekerja lebih kuat untuk memompa darah. Pembuluh darah, namun demikian, menjadi lebih sempit dan keras.

”Itulah dia penyakit jantung koroner. Atau orang-orang sering menyebutnya ‘angin duduk’,” kata dr Afdhalun Hakim.

Penyakit jantung koroner ini masih menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia. Pengobatannya harus segera dilakukan. Dulu, penyakit ini hanya dapat diobati dengan pembedahan atau bypass. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran, penyakit ini dapat diatasi tanpa pembedahan.

Yakni dengan cara intervensi koroner perkutan (percutaneous coronary intervention-PCI) atau, lebih awam, disebut dengan pemasangan cincin pada pembuluh darah. Cincin inilah yang membuka kembali ruang pada pembuluh darah yang tersumbat.

”Cincin itu bukan cincin seperti yang kita pakai ini lho. Cincin ini semacam selaput yang panjang,” tutur dokter yang juga sudah memiliki kewenangan sebagai konsultan penyakit jantung dan pembuluh darah tersebut.

Jumat 15 Desember 2015, pukul 11.00 WIB. Pria itu sudah siap di meja operasi. Ia sepakat untuk melakukan PCI. Dr Afdhalun pun mengenakan perlengkapan operasi. Mulai dari penutup kepala, baju operasi tiga lapis, hingga sandal operasi.

Namun, ia tak sendirian. Ia mengajak serta tiga dokter RSAB lainnya. Yakni, dr Stanley-Dokter Spesialis Jantung, dr Victor-Dokter Bedah Toraks dan Faskular, serta dr Willy-Dokter Umum.

Dan satu lagi dokter tamu dari RS Jantung Binawaluya Jakarta. Dokter itu bernama dr Munawar. Ia ahli jantung terkemuka di Indonesia. Namanya bahkan terkenal hingga ke mancanegara. Ia pernah memasang cincin pada pembuluh darah Mantan Presiden Soeharto.

”Karena ada dr Munawar di sini inilah, operasi bapak ini bisa dilakukan di RSAB. Biasanya kami akan merujuknya ke Jakarta. Karena ini termasuk kasus yang sulit,” jelas dr Afdhalun Hakim.

Kesulitan itu muncul dari posisi pembuluh darah yang mengalami penyempitan. Pasien tersebut mengalami penyempitan di kedua koroner – kanan dan kiri. Di koroner kanan, penyempitan sudah hampir seratus persen alias sudah hampir buntu. Sedang di koroner kiri, penyempitan terjadi di dua cabangnya.

”Nah, apa yang saya lakukan di sini tadi itu sekaligus untuk mentransfer ilmu pada dokter-dokter ahli jantung lainnya,” tambah dr Munawar.

Dr Munawar yang langsung menangani proses pemasangan cincin tersebut. Proses itu diawali dengan memasukkan kawat (wire) ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha. Setelah kawat masuk, ia melakukan proses balonisasi. Yaitu, penggembungan balon di dalam pembuluh darah. Setelah itu, barulah cincin dimasukkan dan digembungkan layaknya balon tadi.

Di koroner kanan, dr Munawar memasang cincin berdiameter tiga milimeter dengan panjang 38 milimeter. Sementara di koroner kiri, ia memasang cincin berdiameter 2,5 milimeter sepanjang 15 milimeter dan cincin berdiameter tiga milimeter sepanjang 56 milimeter.

”Panjang cincin yang dipasang itu disesuaikan dengan panjang pembuluh darah yang tersumbat,” kata dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di tahun 1976 itu lagi.

Usai cincin dipasang, kawat dan balon ditarik ke luar. Dan selesailah tindakan itu. ”Dua hari kemudian, pasien itu sudah bisa beraktivitas kembali. Dia bahkan tak tahu darimana cincin itu dipasang,” timpal dr Afdhalun.

Itulah kemajuan teknologi. Pasien tidak harus dihadapkan pada proses bedah. Seringkali kata ‘bedah’ membuat pasien ketakutan. Dan enggan untuk diobati. Padahal, butuh.

Kemajuan teknologi kedokteran pun memberikan banyak pilihan teknik untuk digunakan. Dalam tindakan PCI kali itu, dr Munawar mencontohkan teknik double-kissing crush (dk-crush) saat memasang cincin di pembuluh utama dan cabang koroner kiri. DK-crush berarti memasang cincin secara bersamaan. Sehingga ukuran pembuluh darah yang terbuka akan sama besar. Selain itu, teknik ini juga memungkinkan hasil yang lebih tahan lama. Sebab, cincin yang digunakan sudah mengandung obat.

”Inilah teknik yang sedang ‘in’ saat ini,” kata dr Munawar.

Teknik ini termasuk teknik baru dalam dunia kardiologi. Bagi dr Munawar, setiap teknik baru yang dirasa terbaik saat diterapkan, perlu disosialisasikan ke sebanyak-banyaknya dokter spesialis jantung. Supaya mereka juga dapat melakukannya.

Di RSAB, teknik ini baru dikuasai dr Afdhalun dan dr Stanley. Makanya, kali itu, dr Afdhalun juga mengajak dua dokter lainnya. Supaya teknik ini lebih banyak dikenal.

”Tapi kemajuan teknologi kedokteran ini kan cepat sekali. Bisa jadi, dalam empat-lima tahun yang akan datang, muncul temuan-temuan baru yang harus disosialisasikan lagi,” tutur dr Munawar yang mendirikan RS Jantung Binawaluya pada tahun 2004 lalu itu.

Dr Afdhalun berbangga hati, dr Munawar dapat bertandang ke RSAB dan membagi ilmunya. Sebab, peralatan medis untuk tindakan PCI ini masih baru di Kepulauan Riau. Seluruh dokter spesialis jantung masih membutuhkan penyesuaian. Caranya, ya, dengan pelatihan semacam itu.

Selama ini, kasus-kasus yang membutuhkan pemasangan cincin ini akan dirujuk ke Jakarta. Terutama ke RS Harapan Kita. Namun, pasien tidak akan langsung ditangani. Ada antrian super panjang yang harus dilewati. Sebab, rumah sakit itu menjadi rujukan dari hampir semua rumah sakit daerah di seluruh penjuru Indonesia.

Bukan tidak mungkin, seorang pasien akan menunggu selama satu tahun untuk tindakan tersebut. Seorang pasien lain dr Afdhalun pernah mengalaminya. Ia harus menunggu selama satu tahun dan, nyatanya, ia tak mampu. Ia meninggal dalam masa penantian tersebut. Dokter yang menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Cardiovaskular Indonesia Cabang Kota Batam itu tak kuasa berkata-kata waktu itu. *** 

January 20, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: