Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kebun Karang di Pulau Sarang

Balas Budi Mantan Perampok Kekayaan Bahari

Pariwisata bahari di Batam kian bertambah dengan munculnya Kebun Karang di Pulau Sarang. Pulau di wilayah perairan utara Batam itu tengah dikembangkan menjadi kampung konservasi terumbu karang. Para turis diajak belajar mengenal terumbu karang secara langsung.

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Ahmad mulai berjalan mendekati lautan. Pulau Sarang masih surut, siang itu. Kedua tangannya sibuk mengurai tali kacamata yang saling membelit. Ketika air sudah setinggi paha, ia berhenti. Mengamati sekeliling dan mengenakan kacamata katak bening dengan list kuning stabilo di sisi-sisinya itu. Ia lalu merunduk dan meluncur ke bawah laut.

Tak sampai lima menit, ia sudah kembali. Di tangannya kini tergenggam semacam tanaman seperti brokoli. Warnanya hijau tua. Bercabang, besar, tapi keras. Ketika tangan-tangan mulai mendekat, ia melarang mereka menyentuh bagian yang ia sebut dengan ‘bunga’.

”Ini contoh terumbu karangnya. Kalau mau pegang, pegang yang bagian bawah ini,” katanya sambil menunjuk bagian bawah terumbu karang itu.

Bagian bawahnya terbuat dari semen dan berbentuk bulat. Mereka menyebutnya substrat. Itu media untuk menancapkan cabang terumbu karang lalu menanamnya ke dasar lautan.

Terumbu karang itu nyatanya sebuah terumbu karang hasil budidaya. Di bawah perairan Pulau Sarang itu, kini, tersebar lebih dari 5.000 stek terumbu karang.

Menggantikan terumbu-terumbu karang alami yang mati karena pengeboman.

***
Pancung itu merapat di Dermaga Pulau Sarang pada pukul 13.00 WIB di pertengahan bulan Agustus lalu. Suasana hening menyapa. Sesekali kecipak air terdengar saat menabrak daratan.

Rombongan besar manusia melompat turun dari perahu kayu tersebut. Jumlahnya sampai tiga puluh orang. Tujuan utama mereka untuk mengikuti upacara bawah laut. Namun, panitia yang merupakan Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Riau Kepulauan (Himpala Unrika) mengemas kegiatan itu dengan konsep wisata edukasi bahari.

Pulau Sarang memang tengah dikembangkan untuk jenis wisata itu. Para pengunjung datang dan bermalam di rumah warga. Makan di sana, mandi pun di sana.

Mereka akan diajak berpetualang menyusuri lorong-lorong di sela rerimbunan pohon bakau. Selepas itu, mereka akan diajak melakukan transplantasi terumbu karang. Seperti yang dilakukan rombongan mahasiswa pecinta alam se-Batam dan Kepulauan Riau saat itu.

Ketua RW 006 Kelurahan Sekanak Raya, Ahmad, menjadi pelatihnya. Ia memperkenalkan tentang substrat dan media tanam yang berbentuk seperti meja. Meja itu terbuat dari perpaduan besi dan pipa. Meja itu tempat untuk meletakkan substrat. Ahmad lalu mengajak kami turun ke ‘kolong’ rumah pelantar.

Awalnya, ia mengambil sebuah tang. Lalu dengan cekatan, ia potong satu batang terumbu karang. Diserahkannya potongan itu kepada seorang anak muda. Ia kemudian meraih sebuah substrat. Substrat itu berbentuk seperti cangkir yang terbalik. Terbuat dari semen. Bagian tengahnya berlubang.
Lubang substrat itu kemudian ia isi dengan adonan semen yang basah. Dan ia meminta si pemuda menancapkan batang terumbu karang itu ke dalamnya. Dan memampatkannya dengan adonan semen hingga lubang tertutup sempurna.

”Usahakan, semen itu jangan sampai kena ke terumbu karangnya,” jelasnya.

Alasannya, semen dapat menutup pori-pori terumbu karang. Terumbu karang yang pori-porinya telah tertutup, tidak akan mampu melakukan kerja fotosintesis. Akibatnya, ia akan mati. Istilahnya, bleaching.
Makanya, butuh dua tangan untuk melakukan transplantasi ini. Satu tangan memegang terumbu karang. Tangan yang lain untuk menumpahkan adonan semen.

”Semua warga di sini sudah tahu caranya. Padahal dulu, kami tak peduli dengan ini,” timpal Raja Sazali, warga Pulau Sarang yang lain.

Sambil mengajari para mahasiswa siang itu, pria yang akrab disapa Jali itu bercerita tentang masa lalu. Kegiatan transplantasi terumbu karang itu sudah dimulai sejak tahun 2008 silam. Penggagasnya, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Laksana Samudra.

Di bawah komando Ramses Firdaus, masyarakat mulai diajak untuk peduli lingkungan. Terutama pada terumbu karang. Sebab, terumbu karang itu tempat tumbuh dan berkumpulnya ikan-ikan.

Keberadaan terumbu karang pasti akan berpengaruh bagi mereka. Sebab, seluruh pria di sana berprofesi sebagai nelayan. Pulau Sarang hanya berpenduduk 85 Kepala Keluarga. Tapi, nyatanya, tak semudah itu mengajak mereka.

Masyarakat di sana sudah paham tentang manfaat terumbu karang bagi mereka. Tak hanya itu, mereka bahkan sudah tahu jenis-jenis terumbu karang. Mereka merasa kedatangan Ramses sia-sia. Lebih jauh dari itu, mereka merasa Ramses seorang mata-mata.

”Kami curiga, dia mau mencari tahu tentang kami,” kata Jali.

Masyarakat menutup diri. Ramses merasakannya. Namun, ia tak ambil pusing. Ia tinggal di sana hampir sebulan penuh. Ia terus mengadakan pertemuan. Dan menjejali masyarakat dengan pentingnya menjaga kelangsungan hidup terumbu karang.

Hingga kemudian, tahulah ia kebiasaan buruk masyarakat di sana. Sebuah kebiasaan yang berusaha mereka tutup-tutupi: mereka terbiasa mengebom ikan dan terumbu karang.

Ikan dan terumbu karang itu kemudian dijual ke Singapura. Maklum, lokasi Pulau Sarang ke Singapura itu dekat. Perairan Pulau Sarang berbatasan langsung dengan perairan internasional.

Terumbu karang Pulau Sarang laku bukan main di Singapura. Setiap pedagang akan membawa 3.000 hingga 5.000 stek setiap kali pergi ke Singapura. Mereka akan pulang dengan dolar di kantung celana.
Ahmad paling sering melakukan jual-beli itu. Ia melakoninya demi melanjutkan hidup. Belakangan, ia tahu, uang yang ia dapatkan tak sebanding dengan nilai terumbu karang itu.

”Saya ditipu,” kata Ahmad.

Lambat laun, ia mengikuti arahan Ramses. Begitu juga Jali. Mereka ingin mengubah tindakan ilegal itu menjadi sesuatu yang legal. Caranya, ya dengan berhenti menjual terumbu karang alam dan beralih ke terumbu karang budidaya.

Tapi, ternyata, membudidayakan terumbu karang tak semudah yang dibayangkan. Terumbu karang memiliki pertumbuhan yang lambat. Jali baru sadar, aktivitasnya menjual terumbu karang ke luar negeri itu salah.

”Jadi ini aksi sosial kami untuk membalas budi pada alam,” tuturnya.

Empat hingga lima orang tertarik untuk terus melakukan aksi ini. Pada tahun 2010, Ramses mulai mengurus izin penangkaran karang di Balai Konservasi Sumber Daya Alam di Pekanbaru.

Ia memasukkan proposal kegiatan ke sana-sini. Hingga kemudian, GEF Small Grant Program Indonesia memutuskan membantu pendanaan awal.

Mereka studi banding ke Bali. Berlatih transplantasi sekaligus membawa terumbu karang dari sana untuk dibiakkan di perairan Pulau Sarang. Sayang, terumbu karang itu tak bisa hidup.

”Mungkin karena ekosistemnya berbeda,” jelas Ramses Firdaus.

Pria yang kini berprofesi sebagai Dosen Biologi di Universitas Riau Kepulauan (Unrika) itu kemudian memutuskan untuk mengambil stek dari terumbu karang alam di perairan itu.

Stek-stek baru itu kemudian ditanam dalam jarak yang dekat dengan terumbu karang alam. Jarak terjauhnya 30 meter. Alasannya, supaya ekosistemnya masih sama.

Keputusannya membuahkan hasil. Hingga kini, sudah ada lebih dari 5.000 stek terumbu karang yang berhasil dibudidayakan. Jenisnya beragam. Mulai dari Acropora sp., Montipora sp., Marulinea sp., Euphylia sp., Plerogira sp., Favia sp., Forites sp., hingga karang linak.

Baru-baru ini, Pemerintah Kota Tanjungpinang berkunjung untuk studi banding. Mereka pulang dengan membawa 720 stek terumbu karang hasil budidaya. Pemerintah Kota Batam juga beberapa kali datang ke sana.

”Lama-kelamaan, aksi sosial ini juga jadi bernilai ekonomis,” kata pria kelahiran Batu bersurat – Kampar, 9 april 1973 itu lagi.

Bukan hanya para pria yang diberi pendidikan tentang terumbu karang. Para ibu pun mendapatkan pelatihan pembuatan produk camilan. Seperti misalnya, kerupuk ikan, dodol tanjang, kue bolu jeruju, kue lapis jeruju, dan camilan stik jeruju. Juga ada minuman sirup bidara dan teh dari tanaman jeruju.
Aneka produk camilan itu dijual para ibu sebagai buah tangan para pelancong dari Kampung Konservasi Pulau Sarang.

”Pada akhirnya, itu jadi pemasukan bagi masyarakat,” katanya.

Sayang, belum banyak yang mengetahui keberadaan pulau itu. Apalagi mengetahui adanya konservasi terumbu karang di sana. Ditambah lagi, wilayah itu tak termasuk dalam wilayah konservasi Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian, dan Kehutanan (KP2K).

Kepala Unit Pelaksana Tugas (UPT) Kawasan Konservasi Perairan Daerah Batam Hamdayani mengatakan, wilayah kerja KKPD ada di perairan bagian selatan Batam, seperti di Pulau Abang.
Otomatis, mereka sangat terbantu dengan inisiatif masyarakat Pulau Sarang. Terutama dalam mengembangkan budidaya terumbu karang. Dinas KP2K hanya dapat mendukung dengan cara meminjamkan alat-alat selam untuk kepentingan budidaya.

”Kapan mereka membutuhkan, dapat melapor ke kami. Kami rasa, bantuan itu yang bisa kami berikan sejauh ini,” kata Hamdayani. ***

January 21, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: