Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Deny Rifai, dari Aktivis Buruh Jadi Pengusaha

Modal Pesangon, Kini Omzetnya Miliaran

Ketika menjadi buruh, ia berdiri di barisan paling depan dalam memperjuangkan hak-hak pekerja. Begitu pula ketika bertransformasi menjadi pengusaha. Ia setia membantu rekan-rekan seprofesinya.

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Lantai dasar Ruko Taman Niaga Sukajadi Blok M Nomor 3, Batam, itu sudah berubah. Bukan lagi aneka kaos atau merchandise yang terpanjang setelah pintu dibuka. Melainkan sebuah kotak raksasa berisi rangkaian elektronika.

Pintu kecilnya tak lagi berfungsi. Deny, si pemilik, telah merombaknya menjadi semacam garasi mobil dengan pintu yang terbuka ke atas. Akses keluar masuk lebih mudah dan longgar.
Senin (18/1/2016) siang itu, dua pemuda berseragam tengah berkutat dengan mesin-mesin di sekitar kotak raksasa tersebut.

Seorang lainnya berada tersembunyi di dalam kotak, mengurai kabel-kabel. Mereka bekerja dalam hening.

Terpaut satu lantai, Deny juga bekerja dalam hening. Bedanya, ia tak menghadapi rangkaian mesin dan kabel-kabel. Ia berkonsentrasi penuh pada laptop di hadapannya.

”Di bawah itu, anak-anak sedang bikin mesin tester produk untuk PT Schneider. Saya di sini kerjakan yang lain,” katanya.

PT Schneider telah lama menjadi pelanggan Deny. Di bawah bendera PT Tugu Sena Sinergi (PT Tuguss), Deny menyuplai mesin-mesin yang dibutuhkan PT Schneider. Terkadang membantu pengoperasian sistem automasinya.

Bukan hanya PT Schneider yang menjadi rekan kerjanya. Di Batam ini, sembilan perusahaan multinasional lain yang menggunakan jasa otomasi mesin dan sistem integrasi Tuguss. Satu tahun belakangan, Tuguss juga mengirimkan mesin pesanan ke dua perusahaan di Singapura.

”Sekarang bukan lagi mempersiapkan MEA tetapi bagaimana menghadapi MEA,” katanya.

Era MEA mau tak mau membuatnya berpikir keras. Perusahaannya harus terus bertahan. Sebab, ada sebelas keluarga yang menggantungkan hidup kepadanya, kepada perusahaan yang ia pimpin. Kalau perusahaannya gulung tikar, ia harus bertanggung-jawab kepada sebelas keluarga itu. Sebab ia kini berstatus sebagai pengusaha.

Sebelum menjadi pengusaha, Deny pernah merupakan pekerja di salah satu perusahaan. Ia menjadi buruh sejak tahun 1996. Lulusan Institut Teknologi Sebelas Maret itu memulai karirnya di PT Electronics. Namun ia bertahan hanya satu tahun saja. Jabatannya, manufacturing supervisor.

Ia kemudian pindah ke PT Panasonic Battery. Di sini, ia bertahan lama hingga sebelas tahun. Dari mulai jabatan engineer sampai manajer. Ia bahkan sempat disekolahkan ke Jepang.

Namun, nasib berkata lain. Perusahaannya gulung tikar pada Maret 2008. Sebanyak 1.200 karyawannya diberhentikan, termasuk ia. Ia sempat masuk ke PT Epcos. Tetapi hanya bertahan dua bulan.

”Saya memutuskan membuka usaha,” katanya.

Pemikiran untuk menjadi wirausahawan itu sebenarnya sudah terlintas lama. Yakni sejak ia mendengar kabar perusahaannya hendak tutup. Ia pernah mendengar, sembilan dari pintu rejeki itu datangnya dari berdagang. Lagipula, usianya tak lagi muda.

Pria kelahiran Cilacap, Desember 1971 itu pun bertekad untuk sukses di bisnis. Kalau tidak sukses, mau tak mau ia harus kembali ke PT. Sambil menunggu waktu untuk disingkirkan.

”Karena buruh itu tidak seperti PNS yang ketika usia tua mereka bisa dapat pensiun. Buruh itu cuma dapat satu kali saja. Dan uang itu bisa cepat habis,” ujarnya.

Pada tahun 2008 itu, pria bernama lengkap Deny Rifai tersebut mengambil bisnis waralaba kedai digital dari Jogja. Ia menggunakan sebagian pesangonnya untuk berinvestasi di bisnis itu. Sebagian lainnya, ia gunakan untuk modal berjualan batik. Dan masih ada lagi yang ia tanamkan untuk modal bersama mendirikan perusahaan konstruksi bersama teman-temannya. Perusahaan itu bernama PT Tugu Sentra Solusindo (PT TSS).

Setahun kemudian, ia melepas usaha batiknya. Sebagai gantinya, pada tahun 2010, ia mendirikan perusahaan sendiri. Perusahaan itu bergerak di bidang teknologi informatika. Itulah dia PT Tuguss.
Menjalankan usaha memang tidak mudah. Ia banyak membaca-baca buku tentang wirausaha dan bergaul dengan pengusaha lain. Ia bergabung dengan Komunitas Pengusaha Tangan di Atas (TDA). Dari sana, ia banyak mengunduh ilmu.

Semakin terjun, semakin kita tahu banyak peluang. Hal itulah yang ia dapati setelah menjalankan usaha. Dari hanya bergerak di bidang teknologi informatika, ia masuk ke sistem integrasi dan otomasi industri. Ia juga menjual produk-produk. Pada tahun 2014, ia kemudian membuka pelatihan yang ia beri nama Tuguss Institute.

”Sebenarnya, Tuguss Institute itu kami buka karena waktu itu sepi orderan. Sekarang, ketika orderan ada, kami tutup Tuguss Institute,” katanya sambil tertawa.

Pengusaha harus kreatif mencari celah. Itulah perbedaannya dengan karyawan. Namun, perbedaan itu juga yang membawa dampak berbeda dari segi penghasilan. Penghasilan Deny sekarang bisa berkali-kali lipat dari gaji terakhirnya sebagai karyawan.

Omzetnya sudah bukan lagi dalam hitungan juta. Melainkan miliar. Makanya, ia dipercaya untuk duduk sebagai Ketua Divisi Peningkatan Kapasitas Anggota TDA Batam. Divisi ini tempat pembinaan para anggota TDA untuk menghasilkan omzet sebesar Rp 1 miliar. Mentornya, dengan demikian, harus memiliki omzet lebih dari Rp 1 miliar.

”Ya, saya salah satu mentornya,” ujarnya.

Omzetnya bahkan melonjak tajam dalam satu tahun terakhir. Ia kini berfokus untuk melebarkan sayap ke tingkat dunia. Rencananya, ia hendak membuat perusahaan serupa di luar negeri.

”Kalau jadi limited gitu kan asik,” timpalnya lagi.

Menjadi pengusaha memang berbeda dari menjadi karyawan. Namun, ada satu sikap yang masih terus ia pertahankan. Yakni, sikap setia kawan. Deny berusaha untuk membantu rekan-rekannya.

Deny pernah menjadi aktivis buruh. Ia selalu ikut terjun dalam aksi-aksi menuntut perbaikan hidup buruh. Meskipun, perusahaannya tak pernah bersikap tidak adil pada karyawannya. Ia menanggalkan status aktivisnya ketika diangkat sebagai manajer di perusahaannya.

Dan sekarang, ketika ia menjadi pengusaha, ia kembali menjadi aktivis. Ia aktif mendorong para pengusaha-pengusaha pemula untuk meningkatkan usahanya. Ia juga tak lelah menyebarkan virus entrepreneur ke rekan-rekan yang masih menjadi pekerja.

”Kita membantu usaha orang lain, insyallah usaha kita juga akan dibantu. Mungkin bukan dari orang itu, tapi bisa melalui siapa saja. Saya meyakini itu,” ujarnya. ***

January 22, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: