Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Kerap Terima Teror, Jualan Tas KW untuk Biaya Hidup

Irwan, Pekerja Sosial Penyelamatan Korban Perdagangan Manusia

Sosoknya jadi buronan para pengusaha dan pelaku tindak perdagangan anak dan perempuan. Kepuasan batin bisa menyelamatkan korban trafficking mengalahkan rasa takut dalam dirinya.

WENNY C PRIHANDINA, Batam

Ketukan di pintu itu terdengar biasa. Mayang, staf Yayasan Embun Pelangi, berteriak dari dalam sebelum kemudian tergopoh-gopoh membukakan pintu. Begitu pintu dibuka, takjublah ia. Lima puluh empat orang menunggu untuk masuk ke dalam. Mereka korban perdagangan manusia.

”Gimana, Bang?” diliriknya pria yang berada di sampingnya.

”Udah, terima aja,” jawab pria itu santai, Rabu (27/1/2016).

Mayang menyahut cepat. ”Duitnya dari mana?” Sebagai staf administrasi yang merangkap segala macam di sana, ia tahu, kondisi keuangan mereka tak memungkinkan untuk itu. Jangan-jangan, bosnya lupa.”Gampanglah itu,” jawab si bos.

Pria itu lalu mengeluarkan ponsel. Mencari-cari nomor telepon dalam kontak dan mulai menghubungi sana-sini. Bercerita begini-begitu. Hingga kemudian, ia tersenyum lebar. ”Aman. Bentar lagi ada yang transfer tuh,” katanya.

Irwan nama pria itu. Penuh tekanan tapi tak pernah kehilangan akal. Sekalipun tak punya uang, ia merasa ada tanggung-jawab moral untuk membantu sesama. Terutama para anak dan perempuan yang hak-haknya tercerabut secara semena-mena.

***

KEBIASAAN itu bermula dari sebuah simpang lampu lalu lintas di tengah Kota Bandung di tahun 1997. Irwan selalu melintasinya setiap kali hendak berangkat ataupun pulang dari kampus ke rumah. Mahasiswa semester satu jurusan Administrasi Negara itu terusik dengan aktivitas para pengamen jalanan.

Tiga hari berturut-turut ia mengamati mereka.

Ia berpikir, seharusnya, anak-anak itu duduk di bangku sekolah. Bukan di bangku angkot yang berhenti ketika lampu merah. Seharusnya mereka memegang buku dan pensil, bukan gitar kentrung.

Seharusnya, mereka belajar membaca dan menulis bukan menghafal lirik lagu. Rasa penasaran membuatnya menepikan sepeda motor di dekat simpang tersebut. Ia mendekati anak-anak itu. Pertanyaan pertamanya, ”Kalian sekolah nggak?”

Koor panjang ‘tidak’ menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut. Tanpa sadar, ia bertanya lagi, ”Kalau diajarin baca-tulis mau atau tidak?” Mereka menjawab mau.

Dan mulailah Irwan menyiapkan segala sesuatu. Ia membawakan mereka alat tulis: buku dan pena. Bertempat di simpang empat PT Inti di Jalan Muhammad Toha, Bandung, ia menggelar kelas terbuka. Kelas itu berlangsung setiap Rabu, sebab di hari itulah kuliahnya libur. Ia mengajar calistung – baca, tulis, dan menghitung.

”Nah, ketika saya mengajar, seorang anak nyeletuk kalau ada juga yang rutin datang ke situ untuk mengajar mereka,” kata Irwan.

Irwan penasaran. Ternyata ia tidak sendirian. Ia pun berniat datang di hari ketika ‘orang-orang’ itu mengajar mereka. Itulah pertama kali ia mengenal Yayasan Bahtera.

”Ketika saya bertemu mereka, mereka bilang, ”Kalau kamu memang suka yang beginian, ayo ke rumah singgah di Leuwipanjang,” ujarnya lagi dengan logat Sunda yang kental.

Pemuda itu menurut. Ia melajukan sepeda motornya ke arah Leuwipanjang dan menemukan Rumah Singgah Yayasan Bahtera. Kagetlah ia. Di sana, sedang berlangsung kelas terbuka. Jumlahnya anaknya jauh lebih besar dari yang ada di simpang empat Jalan Muhammad Toha. Jiwanya tersentil. Ia segera saja mengajukan diri menjadi relawan. Ia mau melakukan apa saja. Tetapi ia hanya bisa bergabung setiap hari Rabu, hari libur kuliahnya.

”Kenapa saya mau, ya, karena gap (jarak)-nya besar sekali ya. Saya bisa baca-tulis tapi kok ternyata masih ada yang tidak bisa baca dan tulis,” ujarnya.

Dan kepedulian itu memang telah terbangun sejak dini. Irwan selalu mendapati ibunya memanggil para pedagang yang melintasi gang rumahnya. Sang ibu lalu membeli semua dagangan mereka. Kalau ditanya ‘mau buat siapa barang sebanyak itu’, sang ibu dengan santai menjawab,

”Ya, nanti kasih ke tetangga.”

Kata Irwan, ibunya memang sering iba ketika melihat pedagang yang sudah renta atau malah yang masih anak-anak.

”Nah, sekarang, kebiasaan itu turunnya ke saudara saya yang paling bungsu,” katanya.

Hanya adik bungsu yang masih tinggal dengan ibunya. Ia bekerja di perusahaan swasta yang menuntut kerja keras dari pagi hingga petang. Ia hanya memiliki satuhari libur dalam sepekan.

Hari itu hari Minggu. Ketika hari libur itulah, sang adik akan berada seharian di rumah. Ia akan memanggil semua pedagang yang melintasi gang dan membeli dagangan mereka semua. Tidak peduli pedagang itu tua atau muda, pria atau wanita. Justru ibunya yang sekarang dibuat bingung.

”Untung dia liburnya cuma hari Minggu. Kebayang kalau dia libur setiap hari,” kata anak kedua dari enam bersaudara itu.

***

Pergaulan Irwan dengan Yayasan Bahtera berlangsung sangat intens. Ia masih sering ikut mengajar. Ia juga kerap mengantar anak jalanan yang sakit berobat keklinik.Namun, perkenalannya dengan hak-hak anak dimulai ketika ia hadir dalam rapat Lembaga Perlindungan Anak (LPA) atas ajakan seorang senior  di Yayasan Bahtera. Rapat itu ternyata membahas kegiatan untuk Pekan Hak Anak. LPA se-Bandung hendak menyosialisasikan hak-hak anak kepada lebih banyak masyarakat luas. Irwan langsung ditunjuk sebagai koordinatornya.

”Saya bikin saja stan hak anak di titik-titik keramaian di Kota Bandung,” katanya.

Irwan mengajak serta para aktivis-aktivis anak di kampusnya. Ataupun para punggawa-punggawa komunitas sosial. Lumayan, pergaulannya selama ini membuatnya memiliki banyak kawan di bidang sosial-kemanusiaan. Ia tak kerepotan mencari teman yang mau membantunya memperkenalkan hak-hak anak.

Ia mendirikan stan mulai di pusat perbelanjaan yang dingin dan ber-AC hingga ke pasar-pasar tradisional yang becek. Ia juga mendirikan stan di bioskop dan halaman Masjid Agung. Terminal-terminal bus pun tak ketinggalan untuk disambangi. Satu stan terdiri dari meja dan banner.

Masing-masingnya dijaga tiga orang. Stanitu buka selama 12 jam. Dari pukul 09.00 WIB hingga 21.00 WIB.”Lumayan, setidaknya bisa menyentuh 80 persen masyarakat di Bandung,” ujarnya.

Keberhasilannya pada Pekan Hak Anak membuat relawan senior di Yayasan Bahtera menawarinya sebuah tantangan baru. Ia ditawari pekerjaan mengelola sebuah rumah singgah. Tapi bukan di Bandung, melainkan di Batam. Kota yang bahkan ia tak tahudi mana lokasinya. Irwan menyambut tawaran tersebut.

Orang tuanya setuju-setuju saja. Mereka bahkan menantang anak-anaknya untuk hidup merantau. Setelah menamatkan studinya di Universitas Pasundan, pada tahun 2000 Irwan berangkat ke Batam. Ia mulai berhadapan secara langsung dengan kasus-kasus anak meliputi, kriminalitas anak, eksploitasi seksual anak, hingga perdagangan manusia. Namun, yang paling banyak terjadi adalah perdagangan manusia. Banyak sekali anak-anak dari Jawa Barat yang dijual ke luar negeri melalui Batam.

Itulah sebab, Irwan sangat dibutuhkan di Batam. Ia yang menjembatani pemulangan para korban tindak kejahatan tersebut.

”Saya bolak-balik Tanjungbalai Karimun dan Batam pada waktu itu,” ujarnya.

Selain mengurusi kasus-kasus, Irwan juga kerap menjadi relawan bencana alam. Seperti pada saat tsunami di Aceh dan bencana gempa di Yogyakarta. Sayang, ia hanya bisa bertahan dua tahun mengelola rumah singgah di satu yayasan tersebut. Ia memilih hengkang karena ruang geraknya sangat terbatas di sana. Padahal, masih banyak kasus yang menanti diurus.

”Saya keluar dari rumah singgah itu dan bersama beberapa teman mendirikan Yayasan Embun Pelangi,” katanya.

Yayasan Embun Pelangi (YEP) berdiri pada tahun 2008. Pendirinya ada lima orang, begitulah syarat pendirian yayasan kala itu. Yakni, Irwan, Efrizal, Sisca (ketiganya aktivis anak), dr Lani, dan Benny Kusmayadi dari Dinas Sosial Provinsi Kepri. YEP membuka diri untuk semua kasus yang menimpa anak-anak. Baik itu kasus kriminal, kekerasan fisik dan seksual, perdagangan, hingga kasus HIV/AIDS. Informasi datang silih berganti. Hingga kini, YEP tak pernah sekalipun menolak kasus.

Sesulit apapun kasusnya, mereka akan menerima dan membantu menyelesaikan. Sekalipun, tidak ada uang di dalam kas. Menjadi seorang relawan harus berani miskin. Karena uang di kantong, besar kemungkinan, dipakai untuk membantu korban.

Irwan mengaku sering tak punya uang. Beruntung ia memiliki istri yang pengertian. Istrinya itu tahu saja ketika dompetnya sedang kosong. Dan ia pasti akan bertanya, ”Masih punya uang tidak?”

”Kalau saya sedang tidak punya uang ya saya bilang saja kalau tidak punya uang. Dan dia memang sering kasih saya uang,” kata Irwan lagi.

Merasa sering kekurangan uang, Irwan akhirnya memilih berdagang. Ia menjual tas-tas wanita KW (kualitas nomor dua) secara online mulai tahun 2014. Lumayan, dalam sehari ia bisa mengirim lima tas ke luar Batam. Mayang, staf administrasi YEP, tak bisa membendung tawanya saat mengingat Irwan yang kerepotan membawa barang dagangan setiap kali datang ke kantor, di tahun-tahun itu. Bukannya malu, Irwan justru puas.

Keuntungan menjual tas-tas KW terhitung besar dan cepat. ”Dari satu tas yang terjual itu kita bisa dapat untung Rp 70 ribu. Kalikan lima setiap harinya, coba saya dapat berapa,” katanya dengan mata berbinar-binar.

Tapi mulai penghujung Desember lalu, Irwan tak lagi menjual tas. Kasus kekerasan anak melimpah di Batam. Ia pun memiliki tanggung-jawab atas sejumlah program yang ia usulkan dengan lembaga pemberi bantuan.

”Sekarang saya sudah jarang turun tangani kasus secara langsung. Biarlah yang muda-muda ini yang bekerja,” katanya sambil senyum-senyum.

***

YEP kini memiliki sejumlah aktivis dan karyawan yang bekerja dalam sebuah manajemen. Sebagian besar masih muda. Irwan mengaku tak pernah mengajarkan materi-materi tentang hak anak layaknya seorang guru dengan muridnya. Ia lebih suka mengajak langsung anak buahnya saat turun ke lapangan. Ia akan melakukan pendampingan kepada korban. Dan saat itulah, ia ingin apa yang ia lakukan itu dilihat oleh anak buahnya. Untuk kemudian ditanamkan baik-baik ke benaknya dan dilakukan ulang ketika tiba giliran mereka mendampingi korban.

”Satu kalimat yang sering saya sampaikan ke korban adalah, ‘Sabar ya, Nak.’ Kita tidak boleh menggunakan kata ‘makanya’ karena itu berarti telah menyalahkan mereka,” ujarnya.

Anak-anak, bagaimanapun posisinya dalam sebuah tindak kejahatan, harus tetap dipandang sebagai korban. Bisa jadi, ia korban keadaan dan lingkungan. Pasti ada yang bertanggung-jawab mengapa si anak menjadi demikian. Dan korban tidak layak untuk disalahkan. Sudahlah menjadi korban, masih pula harus mendapat penghakiman. Hal itu memperburuk pemulihan mentalnya.

”Anak-anak (YEP) sudah tahu itu,” katanya lagi.

Satu hal yang terus ia tanamkan pada generasi penerusnya adalah jangan pernah menyesal jadi orang baik. Bersikap ikhlas saja terhadap apa yang sudah diberikan. Irwan mengaku, tidak pernah ingin dan mengharapkan timbal balik dari korban. Meskipun itu hanya sebuah rasa terimakasih.

Rona bahagia dan puji syukur dari para korban itulah yang sejatinya memberi kepuasan batin padanya. Irwan ingat pernah mengantar seorang ibu korban perdagangan manusia pulang melalui Bandara Hang Nadim. Baru juga kakinya menjejak lantai bandara, ibu itu langsung sujud syukur. Irwan heran dan menegur si ibu.

”Bu, ini masih di Batam,” katanya.

Ibu itu tak menghentikan aksinya. Lalu menjawab, ”Biar saja, Pak. Yang penting saya sekarang bisa pulang ke kampung, Pak.”

Sejumput rasa haru menyelinap ke jiwa Irwan. Rasa-rasa seperti itulah yang membuat jiwanya ketagihan untuk terus berbuat baik ke sesama. Meskipun, jalan yang dilaluinya terjal. Menolong orang itu ternyata tak mudah. Irwan tahu risiko apa yang menantinya di luar pintu kantor YEP itu. Sejumlah pengusaha perdagangan anak dan perempuan bersama para centengnya terus mencarinya.

Mereka tahu, Irwan menjadi satu tokoh penyelamatan-penyelamatan korban tindak perdagangan manusia. Tokoh yang telah meruntuhkan bisnis mereka. Itu berarti Irwan harus segera diberantas. Nomor telepon Irwan sudah di tangan. Berulang kali mereka melancarkan teror melalui suara. Hendak menghabisinya dan keluarga. Irwan sempat kalut tapi lama-kelamaan ancaman itu menjadi seperti nasi, makanan sehari-hari.

”Bagaimana mereka tidak mengejar saya. Satu orang itu bisa membawa keuntungan sebesar 2.000 dolar Amerika bagi mereka. Siapa yang mau bisnisnya terusik kalau untungnya segede itu,” ujarnya lagi.

Irwan tahu risiko teror itu. Tapi ia mengaku tidak akan pernah berhenti dari bidang ini. Membantu, baginya, sudah menjadi panggilan jiwa. Mimpinya adalah melihat anak-anak dan perempuan tak lagi mengalami kekerasan dan kelaparan. Semua orang saling menyapa dan tersenyum. Tentu hidup akan lebih indah. Tapi yang terjadi sekarang, sepertinya malah kebalikannya. Banyak perempuan yang tersakiti. Banyak anak yang masih mengalami kekerasan.

”Saya sering menangis waktu salat malam. Kok nggak berhenti-berhenti sih kasusnya? Siapa yang harus bertanggung-jawab sebenarnya?” kata Irwan.

Irwan merasa bertanggung-jawab. Tetapi alangkah lebih baik lagi kalau negara ikut bertanggung-jawab. Sebab, kuasa anggaran ada pada mereka. Mereka, seharusnya, bisa mengucurkan lebih banyak uang untuk mengatasi kemiskinan dan kelaparan hingga kasus-kasus kekerasan bisa ditekan.

Atau setidaknya, memberikan bantuan dana untuk pendampingan kasus-kasus kekerasan. Namun, yang ada, justru pemerintah yang menyerahkan penyelesaian kasus itu kepadanya. Kepada yayasan yang dipimpinnya. Seperti kasus yang menimpa El, bocah 12 tahun yang mendapatkan kekerasan seksual dari ayah kandungnya sendiri.

Pemerintah yang seharusnya memberikan tempat perlindungan malah mengusirnya. Ia hanya diperbolehkan tinggal di penampungan Dinas Sosial selama satu minggu. Petugas penjaga malah meminta pendamping dari YEP untuk mengambilnya segera. Alasannya, waktu tinggal El sudah melampaui batas standar operasional penanganan kasus di rumah aman tersebut. YEP pun membawa El kembali ke rumah aman milik mereka.

Irwan pernah diganjar dengan piagam penghargaan dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau lantaran telah memberikan perhatian dan kepedulian yang luar biasa terhadap permasalahan sosial. Piagam bertarikh 2014 itu dibubuhi tanda tangan Gubernur Kepri M Sani. Sayang, Irwan tak pernah bangga dengan prestasi tersebut. Kebanggaannya adalah kalau persoalan-persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak itu sudah tidak ada lagi di dunia ini.

”Kalau persoalan-persoalan itu nggak ada, saya mau balik jual tas lagi. Lebih enak kayaknya,” katanya sambil terkekeh. ***

January 28, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: