Suprizal Tanjung's Surau

Berdoa Bekerja & Berguna untuk Semua

Beras 30 Ton ditutup barang bekas

Mabes Polri Gagalkan Penyelundupan Beras dari Thailand

BATAM (BP) – Direktorat Polisi Perairan Mabes Polri sepertinya tak mau tinggal diam melihat aksi penyelundupan sembako yang masih marak terjadi di Batam. Setelah melakukan pengintaian selama dua hari di laut perbatasan Singapura-Indonesia, dua kapal patroli (KP) Dit Polair Mabes Polri berhasil menangkap kapal bermuatan 30 ton beras dan 5 ton gula pasir ilegal, Rabu (27/1/2016) sekitar pukul 02.00 dini hari.

Kasubdit Gakkum Ditpol Air Baharkam Polri, Kombes Yohannes Widodo, mengatakan pihaknya menurunkan dua kapal patroli, yakni KP 3016 Bittern dan KP 3009 Anis Madu. Beras dan gula yang diduga ilegal tersebut diamankan dari kapal layar motor (KLM) Jondra Putra GT 142 No 62/CCA yang berlayar dari Singapura.

Selain mengamankan beras dan gula, Dit Polair juga menangkap 11 orang, termasuk pengusaha asal Batam bernama Toyib yang diduga pemilik sembako ilegal tersebut. Untuk mengelabui petugas, penyelundup menutupi muatan beras dan gula itu dengan barang bekas (seken) dari Singapura. Sehingga seolah-olah kapal tersebut hanya mengangkut barang seken yang umumnya berupa perabot rumah tangga itu.

Selain itu, penyelundup juga mengoplos beras yang diduga dari Thailand ke karung beras lokal dengan merek Beras Super Bintang Lima.

”Tapi pemilik beras ini belum mau mengaku. Ini yang terus kami dalami,” kata Widodo, kemarin (28/1).
Menurut dia, kemasan beras impor yang dibawa dari Singapura ditukar dengan kemasan beras lokal lalu dimasukkan ke Batam melalui pelabuhan rakyat. Kemasan karung merek Beras Super Bintang Lima dengan isi netto 25 kilogram itu diduga dibawa dari Batam dalam keadaan kosong.

”Modus tukar karung. Tujuannya mengelabui petugas. Biar dipikir beras itu dari lokal. Namun kita tak tertipu dengan modus mereka,” jelas Widodo saat ditemui di pelabuhan rakyat di Tanjungsengkuang.

Mantan Wakapolres Barelang ini mengatakan, untuk menyergap kapal tersebut, pihaknya melakukan pengintaian selama dua hari dengan dua kapal patroli. Selama itu juga, sempat terjadi aksi kucing-kucingan antara petugas dan KLM Jondra Putra yang dinakhodai Ryan Rizal.

”Namun tak ada perlawanan. Semua pihak yang ada di dalam kapal langsung menyerah saat kita sergap. Buktinya kapal bisa bersandar di sini,” terang Widodo.

KLM Jondra Putra diduga dimiliki Nurdin, sementara sembako ilegal dimiliki Toyib yang juga pemilik pelabuhan rakyat di Tanjungsengkuang, Batuampar. Atas penangkapan itu, pihaknya telah menahan Haji Toyib, empat anak buah kapal (ABK) dan lima anggotanya, serta satu orang nakhoda

”Total yang kita amankan 11 orang, termasuk pemilik kapal NR,” ujar Widodo.

Widodo menjelaskan, jika terbukti bersalah, ke-11 orang itu akan dijerat Pasal 102 UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan yang telah diperbaharui tahun 2006. Ancaman hukuman delapan tahun serta denda Rp 500 juta.

”Para pelaku telah kita amankan di Dit Polair dan tengah dimintai keterangan,” terang Widodo.

Di sisi lain, dia menjelaskan pihaknya tak bermaksud melangkahi Dit Polair Polda Kepri dalam mengagalkan penyelundupan beras. Namun, karena informasi yang masuk ke Mabes Polri, pihaknya langsung turun dan melakukan penyergapan.

”Kebetulan juga, dua kapal patroli kita sedang berada di teritorial Indonesia. Makanya langsung melakukan pengintaian,” terang Widodo.

Widodo juga mengaku Mabes Polri telah menerima informasi banyaknya pintu masuk ilegal atau pelabuhan tikus di Batam. Sejauh ini, pihaknya belum menindak atas laporan itu.

”Informasi sudah ada, namun masih kita dalami,” imbuhnya.

Menurut dia, Mabes juga sudah tahu peran dan fungsi pelabuhan tikus di Batam adalah tempat masuknya barang-barang ilegal dari luar negeri. Namun, ketika ditanya informasi jumlah pelabuhan tikus yang diterima Mabes, Widodo enggan menyebutkan.
Widodo mengungkapkan pihaknya akan menyerahkan para tersangka dan barang bukti ke Bea Cukai Batam. Sebab menurutnya, yang berhak melanjutkan masalah kepabeanan ini adalah Bea Cukai Batam.

”Kami serahkan kasus ini ke Bea Cukai,” ungkapnya.

Pantauan Batam Pos, KLM Jondra Putra tampak bersandar di pelabuhan rakyat di Tanjungsengkuang. Belasan polisi berpakaian sipil dan berseragam serta bersenjata laras panjang tampak berjaga-jaga di lokasi. Meski dijaga polisi, aktivitas pelabuhan itu tetap berlangsung. Puluhan warga tampak mengangkat sejumlah perabotan dan elektronik bekas dari atas kapal yang tengah diamankan. Ketika ditanya terkait penangkapan kapal, mereka enggan berkomentar.

Sementara Kantor Bea dan Cukai (BC) Batam mengklaim beras 30 ton diduga milik Haji Toyib, tak memiliki dokumen resmi. Sebab dari sepengetahuan Bea Cukai, Batam belum diberikan izin impor beras dari manapun. Akibat hal ini, Bea Cukai akan menjerat Haji Toyib dengan pasal 102 UU No 17 tentang Kepabeanan.

”Dengan hukuman penjara maksimal 10 tahun,” kata Kepala Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tipe B Batam, Nugroho Wahyu Widodo, saat dihubungi Batam Pos, Kamis (28/1).

Selain hukuman penjara, pasal itu juga akan meminta Haji Toyib membayar denda akibat tak miliki dokumen kepabeanan yang lengkap. ”Minimal dendanya itu Rp 50 juta, maksimal Rp 5 miliar,” ungkap Nugroho.

Ia menjelaskan untuk izin kepabeanan beras, tak bisa dari daerah saja yang mengeluarkannya. Sebab untuk beras, ada kebijakan tersendiri yang mengatur mengenai impornya. Keran impor beras, dikeluarkan langsung dari Kementrian Perdagangan.

”Yang jelas, beras itu tak miliki izin masuk dan impor sama sekali,” ucap Nugroho.

Haji Toyib Bungkam

Sebelum diserahkan ke Bea Cukai, Mabes Polri meminta keterangan dari Haji Toyib terlebih dahulu. Namun Haji Toyib yang diduga sebagai pemilik beras dan gula selundupan ini memilih diam seribu bahasa. ”Ia tak mau ngomong,” ungkap Kasubdit Gakkum Ditpol air Baharkam Polri, Kombes Yohannes Widodo.

Widodo mengatakan, Haji Toyib juga tak mengakui dari mana datangnya beras tersebut. Dan nilai beras ini dibeli dari luar negeri juga tak disebutkan oleh Haji Toyib.

Namun pihak polisi menduga beras ini didatangkan dari Thailand. Hal ini dilihat dari karakteristik beras tersebut. ”Kami menduga dari Thailand, tapi belum bisa dipastikan. Akan kami selidiki lebih lanjut,” paparnya.

Awasi Pelabuhan Tikus

Kapolres Barelang Kombes Pol Helmy Santika diberi tugas oleh Kapolda Kepri Brigjen Pol Sambudi Gusdian mengawasi keberadaan pelabuhan rakyat atau pelabuhan tikus di Batam. Seperti diketahui selama ini, banyak pihak tak bertanggungjawab memanfaatkan pelabuhan tersebut untuk memasukan barang-barang ilegal hingga narkoba dari luar negeri ke Indonesia.

”Saya siap,” ujar Helmy yang dihubungi Batam Pos, Kamis (28/1/2016).

Namun, lanjut Helmi, dirinya tak mungkin bekerja seorang diri. Ia butuh bantuan dari semua anggota Polri yang ada di Kepri khususnya Batam. Serta berharap dukungan dan kerjasama dari pemangku kepentingan di Batam.

”Pada prinsipnya tak bisa bekerja sendiri. Harus ada dukungan dan kerjasama, baik dari Polri maupun pemangku kepentingan di Batam,” terang Helmy.

Pemangku kepentingan itu melibatkan Pemerintah Kota Batam (Pemko dan BP Batam), TNI, Bea Cukai tipe B Batam, Imigrasi Batam, serta Syahbandar Batam. ”Ketika sudah ada kerjasama dari semuanya, maka kita bisa mengawasi Batam,” sebutnya.

Dikatakannya, saat ini pihaknya tengah menjalin silaturahmi dengan para pemangku kepentingan di Batam. Dia berharap dengan silaturahmi akan tercipta kerjasama yang baik. Sehingga Batam aman. Baik dari mafia penyelundupan hingga pelaku tindakan kriminal lainnya.

”Kita sedang rintis. Dan semoga kerjasama itu bisa cepat terjalin,” pungkas Helmy.

Buka Keran Impor

Maraknya aksi penyelundupan sembako, khususnya beras, ke Batam diduga karena tingginya permintaan beras di Batam. Sebab, selama ini masyarakat Batam sudah terbiasa mengonsumsi beras impor. Namun sejak tahun lalu, pemerintah menghentikan kebijakan impor beras.

”Dari dulu kita selalu mendorong agar kuota impor itu ada untuk Batam. Tapi tak ada juga sampai sekarang. Makanya akan tetap marak penyelundupan,” kata wakil ketua Komisi II DPRD Kota Batam, Sallon S.

Menurut Sallon, kebutuhan akan beras seharusnya bisa menjadi prioritas pemerintah. Di mana Batam selama ini selalu bergantung beras dari luar negeri. Harganya lebih murah, dan  distribusinya lebih cepat.

”Selama ini Batam itu makan beras dari luar. Kalau dari daerah lain, maka akan sangat mahal harganya dipasaran,” katanya.

Bahkan ia menuding pemerintah tidak serius dalam meminta agar kuota impor beras disetujui pusat. Menurutnya, ada oknum-oknum di pemerintah justru yang menginginkan agar kuota impor tersebut tidak ada dan tidak diberikan untuk Batam.

”Bahkan saya berpendapat, oknum dari pemerintahan ada yang setuju tetap ada penyelundupan. Mungkin ada kepentingan lain,” katanya.

Ketika ada penangkapan penyelundupan beras oleh pihak berwajib, maka itu sah-sah saja sesuai dengan ketentuan dan hukum yang berlaku. Tetapi kalau beras dari luar dihentikan, maka harga di pasaran akan melambung tinggi.

”Yang akan dirugikan adalah masyarakat karena harga yang tinggi. Saya sangat setuju tidak ada penyelundupan. Makanya saya berharap kuota impor diberikan, penyelundupan semuanya dibasmi,” katanya.

Direktur Promosi dan Humas BP Batam Purnomo Andiantono mengatakan kebijakan  impor beras ini bukan kewenangan BP Batam. Namun dia sependapat, jika Batam mendapat jatah kuota impor beras dari pusat, maka dengan sendirinya aktivitas penyelundupan akan berhenti.

”Ini kan kebijakan dari pemerintah pusat, kuotanya juga mereka yang tentukan. Kita hanya ikut saja. Kalau kami mendukung ada kuota langsung untuk Batam. Jadi tidak ada lagi penyelundupan,” katanya. (she/ska/ian)

January 29, 2016 - Posted by | Minangkabau Pagaruyung Sumbar

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: